Minggu, 13 Oktober 2013

Hakikat Idul Adha dan Idul Qurban

Setiap manusia yang dilahirkan diatas dunia ini, membawa sifat dasar yang disebut dengan sifat fithrah. Salah satu sifat fithrah tersebut adalah hasrat atau keinginan yang kuat untuk kembali ke tempat dimana ia berasal. Ketika kita bertanya ke dalam diri, dari manakah aku berasal ? Maka kita diperintahkan untuk mengenal diri, Siapakah aku ini ? Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Wa fil ardhi aayaatul lil muuqiniin. Wa fi anfusikum afala tubshiruun.

Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan ? ( QS Adz Dzariyat 51 : 20-21 )

Barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya ( Al Hadits )

Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dengan berpasang-pasangan. Misalnya adalah alam lahir dan alam bathin, lelaki dan perempuan, siang dan malam, baik dan buruk, negatif dan positif dan sebagainya.

Wa min kulli syai-in kholaqnaa zaujaini la’allakum tadzakkarun

Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya kamu mendapat pengajaran. ( QS Adz Dzariyat 51 : 49 )

Dalam ajaran Islam, diri kita dibagi menjadi minimal dua bangunan utama yaitu bangunan jasmani dan bagunan rohani. Hasil interaksi antara jasmani dan rohani akan menimbulkan gejala kejiwaan. Dengan kata lain, dari hasil perkawinan antara rohani dan jasmani maka lahirlah “ anak” yang bernama jiwa atau nafsani. Jika dilihat dari asalnya, maka jasmani berasal dari bapak ibu kandungnya, yang juga berasal dari garis keturunannya sampai ke asal nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Sedangkan rohani manusia berasal dari Allah dan Nabi Muhammad.

Tsumma sawwaahu wa nafakho fiihi ruhihi wa ja’ala lakumus sam’a wal abshooro wal af idata qoliilam maa tasykuruun

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya Roh-Nya dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Sedikit sekali kamu bersyukur (QS. As Sajadah 32 : 9).

Anna minnallohi wal mu’minu minni

Aku adalah yang dijadikan pertama kali oleh Allah dan seluruh orang mu’min itu dijadikan dari padaku. (Al-Hadits)

Awalu ma kholaqollohu ta’ala nuuri

Pertama-tama yang dijadikan Allah adalah Cahayaku. (Al Hadits)

Dalam diri jasmani dan rohani, masing-masing mempunyai hasrat atau keinginan yang kuat untuk kembali menemui asalnya masing-masing. Tetapi keinginan yang kuat untuk kembali menemui asal tersebut tidak semuanya terpenuhi dengan baik dan benar. Oleh karena itu agama Islam memberikan tuntunan bagaimana keinginan atau hasrat untuk kembali menemui asal kita dapat terpenuhi dengan cara yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, yaitu dengan diperintahkannya umat Islam untuk merayakan dua hari raya besar, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha lengkap dengan ritual keagamaan yang mendahuluinya, sesuai dengan hadits Nabi :

Jabir ra. Berkata: Rasulullah saw datang ke Madinah, sedangkan bagi penduduk Madinah ada dua hari yang mereka bermain-main padanya dan merayakannya dengan berbagai permainan. Maka Rasulullah saw bertanya : Apakah hari yang dua ini? Penduduk Madinah menjawab adalah kami di masa jahiliah bergemberi ria padanya. Kemudian Rasulullah bersabda : Allah telah menukar dua hari ini dengan yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fithri. (HR. Abu Dawud).

Sebelum merayakan hari raya Idul Fithri, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan yang ke sembilan yaitu Ramadhan dan pada tanggal 1 syawal kita merayakan hari raya Idul Fithri dengan penuh kegembiraan. Di negara kita hari raya Idul Fithri dirayakan dengan tradisi mudik atau pulang kembali ke asalnya masing-masing untuk bertemu dengan bapak dan ibunya di tempat tinggalnya masing-masing. Dan saat bertemu dengan bapak dan ibunya tersebut kita melaksanakan tradisi sungkem atau salim atau salaman untuk memohon ampunan atas segala dosa yang kita perbuat. Dalam tradisi tersebut, kita melihat bahwa umat Islam di Indonesia telah mempunyai tradisi untuk memenuhi hasrat atau keinginan setiap manusia untuk kembali ke asal jasmaninya, yaitu untuk kembali menemui kedua orang tuanya dan bersalim kepada keduanya.

Untuk memenuhi hasrat atau keinginan rohani untuk kembali kepada asalnya, Allah memerintahkan setiap umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji. Pada hakikatnya proses ritual ibadah haji merupakan proses perjalanan setiap manusia untuk pulang kembali ke asalnya baik secara jasmani maupun secara rohani. Jasmani manusia jika ditelusuri asalnya, semuanya berasal dari nenek moyang yang satu yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa, sedangkan semua rohani manusia berasal dari Allah. Dalam ritual ibadah haji yang menjadi puncaknya adalah wuquf di padang Arafah yang merupakan tempat pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa ketika diturunkan di atas dunia. Dari pertemuan itu maka lahirlah keturunan dari mereka berdua, yang sekarang jumlahnya telah mencapai kurang lebih 5 milyar. Setiap umat Islam mempunyai keinginan atau hasrat yang kuat untuk kembali menapaktilasi atau menulusuri asalnya yaitu dengan berkunjung ke padang Arafah untuk merenungkan proses terjadinya pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa tepatnya di Jabal Rahmah.

Sedangkan secara rohani setiap manusia juga mempunyai hasrat atau keinginan untuk kembali kepada asalnya yaitu Allah SWT. Keinginan ini disalurkan melalui proses ibadah haji dengan cara Wuquf di padang Arafah untuk mengenal dan bertemu dengan Allah. ( wuquf = menghentikan. Sedang arafah = mengenal. Jadi hakekat wuquf dipadang arafah adalah proses ritual untuk menghentikan aktifitas jasmani untuk mengenal dan bertemu dengan Asal kita yaitu Allah SWT ). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

Wa adzdzin fin naasi bil hajji ya’tuuka rijaalaw wa ‘alaa kulli dhaamiriy ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiq

Dan serulah manusia untuk melaksanakan haji, niscaya mereka datang kepada engkau dengan berjalan kaki dan mengendarai unta-unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj 22 : 27).

Secara jasmani tujuan melaksanakan ibadah haji, adalah melaksanakan rukun haji dengan sempurna, yang merupakan simbol dari gerak kembali ke asal-usul kejadian jasmani kita. Sedangkan secara rohani bertujuan untuk kembali menemui asalnya yaitu Allah. Hal ini berarti bahwa setiap umat Islam yang melakukan ibadah haji harus kembali menemui asal rohaninya yaitu Allah, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

Wa aniibuu ilaa robbikum wa aslimuu lahu min qobli ay ya’tiyakumul ‘adzaabu tsumma la tunshoruun

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. (QS Az-Zumar 39 : 54)

Maka segeralah kamu kembali menghadap kepada Allah , sesungguhnya aku pemberi peringatan yang terang dari Allah kepada kamu “. ( QS Adz Dzariyat 51 : 50 )

Yaa ayyuhal insaanu innaka kaadihun illa ribbika kadhan fa mulaaqiih

Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan usaha yang keras untuk menemui Tuhan dikau, sampai engkau bertemu dengannya. (QS Al-Insyiqaq 84 : 6)

Qul innamaa a’izhukum bi waahidatin an taquumuu lillahi matsnaawa furoodaa tsuma tatafakkaru maa bi shoohibikum min jinnatin in huwa illa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabin syadiid

Katakanlah : sesungguhnya aku hanya mengajarkan kepada kamu satu ajaran saja yaitu bahwa kamu menghadap Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan tiadalah sahabat kamu itu gila, dia tiada lain hanyalah pemberi peringatan kepada kamu sebelum datang azab yang sangat keras ( QS Saba 34 : 46 )

Berdasarkan ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk mengadakan pertemuan atau perjumpaan dengan Allah sewaktu masih hidup di dunia, dengan melaksanakan ibadah haji. Jadi Idul Adha merupakan sarana untuk merayakan kembalinya seorang manusia yang berhasil bertemu dengan Tuhannya. Kata Id berasal dari bahasa Arab, yang artinya kembali, sedangkan kata Adha seakar dengan kata Dhuha yang artinya Terangnya Cahaya Siang, sehingga Idul Adha dapat diartikan sebagai proses kembalinya seorang manusia yang pulang ke asalnya yaitu Cahaya Allah Yang Terang Benderang dengan melakukan prosesi Wuquf di padang Arafah. Wukuf artinya berhenti atau menghentikan segala aktifitas jasmani dan inderawi dalam rangka mengenal (Arafah) Allah Yang Padang (Terang), sesuai dengan hadits Nabi SAW : “Al Hajju arofah” = Bukti itu adalah mengenal. Mengenal siapa ? tentunya adalah mengenal Allah atau Ma’rifatullah.

Dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, Hari Raya Idul Adha sering juga disebut dengan Istilah ‘Idul Qurban. Kata tersebut bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu “Id” dari kata “aada - ya’uudu”, yang bermakna “kembali”. Sedangkan kata “Qurban”, berasal dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al-Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’.

Secara hakikat “Idul Qurban” mempunyai makna sebagai sebuah hari dimana kita belajar untuk kembali merenungi apa saja yang membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Cahaya.

Secara syariat, terdapat banyak cara bagi setiap hamba utnuk dapat mendekati Allah (Taqarrub ilaLlah). Salah satu caranya adalah dengan mengorbankan sebagian hartanya yang ditukarnya dengan daging kambing atau sapi, dengan harapan Allah akan menarik mereka semakin dekat pada-Nya, dan berharap Allah akan menerima qurban mereka sebagaimana Allah menerima qurban-nya putra Nabi Adam As yang bernama Habil.

Tentu yang kita kurbankan adalah harta yang memang terasa berat untuk dilepas, bukan harta yang kita keluarkan dengan ringan hati, disebabkan masih sangat banyaknya sisa harta yang kita miliki. Artinya, kita yang bergaji empat puluh lima juta rupiah perbulannya, dengan mengeluarkan dana hanya satu juta untuk seekor kambing bisa jadi belum disebut ‘berkurban’, karena tidak ada rasa pengorbanan yang membuat dia sulit mengeluarkannya. Bisa kita bayangkan bagaimana ‘rasa taqarrub‘ seorang Ibrahim a.s., atau Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang bisa mengurbankan ratusan ekor unta pada hari qurban-nya.

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (Al-Birr), sebelum kamu menginfakkan (tunfiquu) bagian (harta) yang kamu cintai (mimma tuhibbuun). Dan apa saja yang kamu infakkan (tunfiquu), maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran 3 : 92)

”Bukanlah Al Birr itu menghadapkan wajah kamu kea rah timur dan barat, tetapi Al Birr itu adalah barang siapa yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang terlantar dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta, dan membebaskan perbudakkan, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan orang-orang yang memenuhi janjinya bila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesengsaran, penderitaan dan pada waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bershodaqo dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS Al Baqarah 2 : 177)

Jika kita yang bergaji empat puluh lima juta rupiah perbulan, kemudian dikeluarkan satu juta rupiah setiap tahun sekali saja untuk ‘kurban’ kita, sebagai sarana transformasi jiwa kita, apakah itu sudah sampai pada tingkat ‘menginfakkan bagian yang dicintai’ sebagaimana tersebut dalam ayat di atas? Akan sampaikah kita pada Al-Birr?

Tentu logika pemikiran kita perlu diajak untuk memaknai, mengapa akhirnya kita mafhumi banyak sekali umat Islam, para saudara kita yang setiap tahun berhasil mengeluarkan sebagian dananya untuk berkurban, namun tidak ada apapun yang berhasil mereka peroleh dari penyisihan sebagian uangnya itu, selain hal tersebut lewat begitu saja dengan tidak membawa perubahan sedikitpun kedalam dirinya. Itu menunjukkan bahwa makna Idul Qurban belum berhasil diperolehnya. Ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak menjadi semakin halus dan bersih, dan jasad tidak semakin beramal baik, maka kita sebenarnya tidak mendapat manfaat dari nilai-nilai Idul Qurban. Padahal sebenarnya melalui Idul Qurban itu, kita dapat menemukan, bukan saja amal baik, tetapi bisa jadi Allah berkenan menuntun kepada amal shalih-nya masing-masing. Sehingga pada akhirnya ‘Idul Qurban, sebagaimana maknanya, juga menjadi sebuah pintu ke arah tangga transformasi diri seorang hamba untuk menjadi ‘Al-Muqarrabuun’.

Mungkin, karena kita belum berhasil menemukan makna Idul Adha, sebagai nama lain dari Idul Qurban itu sendiri. (‘Adha’ memiliki makna terang dan penyembelihan). Ada yang harus kita ’sembelih’ di dalam diri kita ini pada setiap perayaan ‘Idul Adha. Demikian pula, pada dasarnya, tidak menjadi soal apakah kita memiliki uang yang cukup untuk berkurban, atau tidak.

Ketika kita belum memilki kemampuan untuk menyisihkan sebagian dana yang kita miliki dalam rangka belajar ber-qurban, mengorbankan harta kita, dan untuk menyembelih hewan kurban, sebenarnya Allah telah memberi kemampuan melakukan penyembelihan lain yaitu menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang ada dalam diri kita yaitu berupa dominasi aspek hawa nafsu dan syahwat kita.

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu dan keluarlah dari kampungmu,” niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya jikalah mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian adalah lebih baik bagi mereka, dan lebih menguatkan.” (QS An Nisa 4 : 66).

Sudah waktunya sekarang, pada saat kita memasuki pergantian tahun baru ini, dan pergantian perilaku yang baru ini, marilah kita sama-sama belajar untuk ‘membunuh diri’ yaitu belajar untuk menyembelih dominasi aspek kedengkian, aspek ketakaburan, aspek buruk sangka, aspek kemalasan, aspek keinginan pengakuan bahwa diri ini begitu berharga dimata orang lain, aspek kecintaan kita pada uang dan harta benda, dan segala aspek lainnya dalam diri kita yang memang perlu disembelih, untuk kemudian mempersembahkan hasilnya, yaitu diri kita yang telah ‘tersembelih’ dari aspek-aspek tersebut, kepada Allah Yang Maha Qorib.

Sudah waktunya pula kita belajar untuk ‘keluar dari kampung’ kita yaitu belajar untuk keluar dan memerdekakan diri dari dominasi jasadiyah terhadap jiwa kita yang sejati, dan belajar untuk keluar dari dunia fisikal dan jasadiyah ini. Kerena sesungguhnya masih ada dunia lain, di luar ‘kampung’ kita ini yang lebih Indah dan Damai.

“Sekali-kali tidaklah daging-daging dan darahnya itu dapat mencapai Allah, melainkan ketaqwaan yang dilakukan Ruhani kamu (yang dapat mencapai-Nya)… ” (QS Al hajj 22 : 37)

Bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan uangnya. Tetapi ketaqwaan yang dilakukan oleh ruhani kita yang dapat mencapai-Nya. Mampukah kita ber-qurban atau ber-infaq hingga pada titik yang kita benar-benar merasa berat, karena kita mencintai qurban sejumlah itu ?

Memang tidak mudah menyembelih semua dominasi syahwat dan hawa nafsu ini. Untuk belajar menghargai waktu saja bukanlah hal yang sederhana, untuk belajar memaafkan orang lain pun juga bukanlah hal remeh, apalagi kita mencoba berjuang menemukan amal-amal shalih kita…

Tapi yang membuat kita senantiasa memiliki harapan kuat, adalah, karena Allah tidak pernah merasa bosan menerima dan menerima terus, setiap penyesalan kita, setiap kesadaran diri bahwa kita lemah, setiap pengakuan dosa kita, dan setiap keinginan taubat kita. Semoga pengakuan ini menjadi tanda bahwa kita memang butuh dan selalu membutuhkan Dia Sang Maha Pengayom dan Pembuka Jalan. Semoga kita berhasil merayakan Idul Qurban atau Idul Adha kita dengan bersama-sama membangun kesadaran diri.

Ya Allah, semoga pengorbanan hamba demi taqarrub kepada-Mu Engkau terima, semoga Engkau beri pula hamba kekuatan untuk dapat menyembelih setiap dominasi hawa nafsu dan syahwat yang senantiasa menenggelamkan hamba.
sumber : Hakikat Idul Adha dan Idul Qurban Sebagai Sarana Menemui Allah 

*SELAMAT BAGI ANDA YANG SUDAH DAPAT BERQURBAN *

Minggu, 18 Agustus 2013

Krisis Mesir: Buah Revolusi Yang Gagal

Sebuah kudeta yang disponsori militer Mesir—berkerjasama dengan kelompok sekular liberal, dengan dukungan Kristen koptik dan Syaikh Ahmad ath-Thayib dari al-Azhar—telah menumbangkan Mursi dari jabatan presiden Mesir. Mursi yang terpilih secara demokratis mendapatkan kenyataan pahit: Partai an-Nur yang berlatarbelakang salafi justru mendukung kudeta yang dilakukan militer Turki.

Beberapa negara-negara Arab kaya, secara memalukan, mengucapkan selamat atas kudeta ini dan memuji keberanian militer Mesir. Raja Arab Saudi Abdullah mengirimkan ucapan selamat kepada pemimpin baru Mesir. “Atas nama rakyat Arab Saudi, saya mengucapkan selamat kepada Anda karena mengambil-alih kepemimpinan Mesir pada saat kritis ini dalam sejarah Mesir,” ujar Raja Abdullah dalam pesannya seperti dilansir kantor berita AFP,Kamis (4/7/2013).

Raja Abdullah juga memberikan pujian kepada militer Mesir dan pemimpinnya Jenderal Abdel Fattah al-Sisi karena menggunakan “kebijaksanaan” dalam membantu menyelesaikan krisis ini dan menghindari “konsekuensi yang tak terbayangkan”.

Tidak hanya itu, negara-negara Arab ini berjanji akan memberikan bantuan kepada rezim baru Mesir bentukan militer. Khawatir rezim militer Mesir yang didukung Amerika Serikat kembali jatuh, para penguasa kaya negara Arab berjanji memberikan bantuan 12 miliar dolar untuk Mesir. Bantuan dari negara-negara kaya Arab di Teluk Persia merupakan hal yang penting bagi para pemimpin Mesir yang didukung militer, agar dapat bernafas lega untuk melakukan pembayaran impor pangan dan bahan bakar. Namun, manfaat bantuan itu hanya untuk sementara, karena ekonomi Mesir yang rusak tetap tidak diperbaiki.

Buah ‘Revolusi’ Mesir yang Gagal

Penggulingan Mursi bisa disebut merupakan buah ‘revolusi’ Mesir yang gagal. Pertama: perubahan yang terjadi di Mesir sebagai imbas dari ‘Arab Spring’ hanya terjadi pada pergantian figur Mubarak dan orang-orang yang dianggap dekat dengannya. Adapun rezim militer yang selama puluhan tahun menjadi pemain utama panggung politik Mesir tidak berubah. Rezim militer masih memiliki peran sentral dalam perpolitikan Mesir. Dalam kenyataannya, militer merupakan pemegang kekuasaan riil di Mesir hingga saat ini.

Mursi yang dipilih secara demokratis harus menghadapi kenyataan ini. Mursi tidak bisa berbuat banyak karena harus berhadapan dengan dominasi militer penguasa riil Mesir. Presiden yang berasal dari Ikhwan al-Muslimin ini, dibatasi oleh kepentingan-kepentingan militer.

Bisa jadi militer Mesir yang korup dan berada dalam kendali penuh Amerika Serikat. Meskipun pada awalnya terpaksa menerima Mursi, belakangan militer melihat Mursi sebagai ancaman kepentingan mereka baik itu kepentingan bisnis korup militer atau kepentingan ideologi Amerika Serikat yang menjadi tuan besar militer selama ini.

Militer Mesir memang dikenal bengis terhadap lawan-lawan politiknya dan korup. Militer dengan kekuasaan tunggal memiliki banyak bisnis. Tidak ada yang tahu persis berapa sektor ekonomi yang mereka kuasai. Perwira-perwira tinggi militernya memilik banyak perusahaan termasuk produsen laptop, tv, pemasok peralatan medis, air minum, real estate termasuk bisnis parawisata di tepi Pantai Sharm El Sheikh. Sebagian gubernur di berbagai kawasan di Mesir juga merupakan pensiunan perwira tinggi militer. Bisa jadi beberapa kebijakan Mursi seperti penunjukkan gubernur dari kelompok Ikhwan dan kebijakan parawisata dianggap mengancam bisnis militer. Seperti yang sering dijadikan alasan kelompok oposisi, Mursi melakukan ‘ikhwanisasi’.

Secara ideologis, Amerika punya tiga kepentingan besar di Timur Tengah, termasuk Mesir.Pertama: menjamin suplay energi murah untuk Amerika terutama minyak. Kedua: terjaminnya eksistensi entitas zionis Yahudi. Ketiga: membendung gerakan-gerakan Islam politik yang ingin menegakkan Daulah Islam atau Khilafah yang jelas-jelas mengancam kepentingan Amerika.

Dalam konteks ini, bagaimanapun bagi negara adidaya ini, keberadaan penguasa Mesir dari kelompok liberal sekular dengan dukungan militer jauh lebih aman dibandingkan dengan penguasa yang berasal dari kelompok Islam. Meskipun rezim Mursi sendiri berupaya menampilkan sosok ‘islam moderat’ yang pluralis dan demokratis, kecurigaan bahwa kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin memiliki agenda tersembunyi ingin menegakkan syariah Islam masih ada.

Apalagi pasca tumbangnya Husni Mubarak, seruan-seruan penegakan syariah Islam semakin kencang dilakukan di tengah-tengah masyarakat, khutbah-khutbah Jumat dan ceramah-ceramah keagamaan. Seruan-seruan jihad membebaskan Palestina pun semakin terbuka dilakukan. Para demonstran secara berani menyerbu Kedubes Israel di Kairo. Ini tentu saja sangat mengkhawatirkan Amerika Serikat dan sekutu militernya.

Tidak mengherankan kalau Amerika Serikat terus-menerus memilihara militer meskipun selama puluhan tahun melakukan kekejaman hingga sekarang ini dan korup. Selama lebih dari 30 tahun, pemerintah demi pemerintah yang berkuasa di Gedung Putih, terus menyalurkan sejumlah besar bantuan militer ke Mesir. Bantuan ini merupakan bantuan kedua terbesar yang dikeluarkan Negara Paman Sama ini setelah bantuan ke Israel; termasuk bantuan mesin perang dan jet-jet tempur F-16. Selain itu terdapat 500 pejabat militer Mesir yang menempuh pascasarjana militer di Amerika setiap tahun. Bahkan pria yang memimpin militer dan menggulingkan Mursi adalah alumni US Army War College di Pennsylvania. Melihat kedekatan militer Mesir dengan Amerika Serikat hampir bisa dipastikan seluruh tindakan militer Mesir termasuk dalam penggulingan Mursi tetap dalam restu negara imperialis Amerika Serikat.

Perubahan yang hanya sebatas figur Husni Mubarak ini tentu saja tidak membawa perubahan yang sifatnya ideologis dan sistemik. Sistem yang diterapkan di Mesir tetap saja sekular, jauh dari syariah Islam. Ini pulalah yang menyebabkan mengapa ekonomi Mesir tidak banyak berubah. Pasalnya, pangkal persoalan ekonomi Mesir justru karena negara itu masih tunduk pada kebijakan-kebijakan ekonomi Barat. Pada masa Mursi, negara itu masih bekerjasama dengan lembaga-lembaga ekonomi global seperti IMF dan Bank Dunia yang menjadi organ global penjajahan Barat. Kondisi ekonomi yang belum mememuaskan masyarakat inilah yang digunakan oleh kelompok sekular dan militer untuk memprovokasi rakyat menentang Mursi.
Masa Depan Mesir

Untuk perbaikan yang nyata bagi Mesir ke depan, tidak ada pilihan lain kecuali menghilangkan penyebab-penyebab kegagalan ‘revolusi’ yang berhasil menumbangkan Husni Mubarak. Untuk masa depan Mesir ada beberapa agenda penting yang harus dilakukan. Pertama: tidak cukup perubahan figur atau rezim, tetapi harus terjadi perubahan sistem. Sistem sekular yang menjadi pangkal persoalan di Mesir selama ini harus diganti dengan sistem Islam yang menerapkan seluruh syariah Islam di bawah naungan Khilafah.

Kedua: militer Mesir yang memiliki posisi strategis harus mengubah loyalitas mereka dari menghamba kepada Amerika menjadi semata-mata mengabdi kepada Allah SWT; dari melayani kepentingan penjajahan Amerika menjadi benar-benar melayani kepentingan rakyat untuk kebaikan rakyat. Inilah yang memberikan jalan kebaikan bagi milter.

Ketiga: harus diputus secara total bentuk hubungan dengan Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk organ-organ politik dunia mereka seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia. Sikap menerima bantuan Amerika dan berkerjasama dengan negara itu telah mengokohkan intervensi dan penjajahan Amerika di Mesir dan Dunia Islam. Amerikalah musuh sejati umat Islam, bukan sesama umat Islam.

Untuk itu umat Islam Mesir maupun negeri-negeri Islam lainnya tidak memiliki pilihan lain kecuali berjuang bersama untuk menegakkan Khilafah Islam sebagai sebuah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT. Dengan Khilafah Islam, seluruh syariah Islam akan ditegakkan, persatuan umat Islam sejati akan kokoh, kebaikan di dunia maupun di akhirat bisa diraih. Inilah jalan satu-satunya. Tidak ada yang lain. []/hizbut-tahrir.or.id

Kamis, 01 Agustus 2013

Booming Properti

Gemuruh derap pembangunan properti di kota-kota besar, terutama kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek), mengundang decak kagum tapi sekaligus menimbulkan perasaan cemas. Mengagumkan karena gedung-gedung jangkung dan rumah-rumah mewah begitu cepat terbangun, dan laris manis. Orang dibuat terkaget-kaget melewati jalur Kasablanka, Jakarta, yang begitu cepat disulap bak Orchard Road Singapura. 

Rumah-rumah kelas menengah-atas, apalagi kategori mewah, selalu saja diserbu pembeli. Orang-orang kaya bahkan sudah memesan pada periode prelaunching. Yang lebih mencengangkan, kenaikan harga properti menengah- atas sangat signifikan, baik di pasar primer maupun sekunder.

Namun, justru harga yang naik cepat dan pembangunannya yang kelewat ekspansif itulah yang kemudian mengundang kekhawatiran banyak pihak. Bank Indonesia sudah cukup lama mengingatkan soal kredit property yang dinilai cukup agresif dan dapat memicu terjadinya gejala ekonomi yang terlalu panas (overheating). Sebagian kalangan mulai cemas, dan menganggap sektor properti sudah bubble.

Namun semua kekhawatiran itu diredam oleh para pelaku bisnis properti. Mereka mengklaim bahwa pasar properti memang sedang bagusbagusnya, berada dalam periode booming, karena permintaan yang cukup tinggi. Harga yang ditawarkan masih wajar, bahkan cenderung lebih murah dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Mengacu pada riset PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI) beberapa waktu lalu, Jakarta masuk di urutan pertama Asia Pasifik sebagai pilihan investasi utama sektor properti, mengalahkan Shanghai, Singapura, Sydney, dan Kuala Lumpur. Jakarta juga menempati posisi ke-11 besar dunia. Kedua lembaga itu memproyeksikan pasar properti Indonesia bakal masuk peringkat ketujuh dunia pada 2021.

Jakarta menjadi magnet utama di sektor properti karena melambatnya perekonomian Tiongkok dan India, di samping mulai terbatasnya peluang pasar di Jepang dan Australia. Tiga pengembang asal Australia, Selandia Baru, dan Hong Kong mulai membidik pasar properti Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia.

Bila ditelaah lebih mendalam, ke depan prospek properti di Indonesia akan kian cemerlang. Permintaan yang ada begitu tinggi, tak sebanding dengan pasokan. Saat ini terjadi kekurangan rumah (backlog) sekitar 13,6 juta unit. Rata-rata permintaan residensial setiap tahun mencapai 700-800 ribu unit, namun kapasitas pengembang hanya mampu menyediakan pasokan maksimum 400 ribu unit setiap tahun.

Dengan permintaan yang timpang tersebut, jelas prospek properti masih sangat bagus. Indonesia kini memiliki 50 juta orang kelas menengah, yang 1.000 di antaranya memiliki aset di atas Rp 300 miliar. Properti di Indonesia juga menarik karena negeri ini menjadi penghasil sumber daya alam potensial yang luar biasa.

Seiring kian banyaknya perjanjian perdagangan bebas, serta mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (AEC) 2015, kebutuhan property bagi orang asing juga makin besar. Terlebih lagi investasi asing ke depan juga makin berlipat, termasuk relokasi industri dari Tiongkok akibat makin tingginya upah buruh dan biaya produksi di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pembangunan infrastruktur besarbesaran yang direncanakan pemerintah lewat Masterplan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI), tentu akan membawa efek domino luar biasa. Dengan infrastruktur yang kian bagus, otomatis kebutuhan property juga bakal meningkat.

Dari ilustrasi di atas terbaca jelas bahwa sektor properti masih jauh dari tanda-tanda bubble. Permintaan masih tinggi, pasokan masih terbatas. Harga juga masih dalam batas wajar. Dari sisi kredit, rasio kredit properti terhadap total kredit perbankan masih 14%, jauh dibanding krisis 1998 yang mencapai 21%. Kredit bermasalah di sektor ini juga masih rendah, kurang dari 5%.

Rasio KPR terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kurang dari 3%, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 27%, Singapura 45%, dan AS 68%. Namun demikian, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah, yakni peraturan kepemilikan asing yang belum juga beres hingga saat ini. Masalah lain yang juga mesti dituntaskan adalah status hukum tanah yang kerap tidak jelas dan tumpang tindih, serta perizinan yang masih berbelit.

Lebih dari itu, ekspansi property yang agresif mesti perlu dipantau agar tetap berada dalam koridor kehatihatian. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus memberikan sinyal yang tegas bila memang sector ini sudah mendekati ambang bahaya. Pengalaman membuktikan bahwa krisis ekonomi kerap diawali oleh ambruknya sektor properti. (www.investor.co.id)

Sabtu, 06 Juli 2013

Menyambut Bulan Suci Ramaadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Muhammad bin ‘Abdillah, serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tulisan ini ditujukan untuk semua muslim yang akan bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar dapat memanfaatkan bulan tersebut dalam ketaatan pada Allah Ta’ala. Semoga melalui tulisan ini dapat menjadi sarana untuk membangkitkan semangat di dalam jiwa seorang mu’min dalam beribadah kepada Allah di bulan yg mulia ini. Maka penulis memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufik dan jalan yang lurus serta menjadikan amal ini ikhlas hanya karena mengharap WajahNya Yang Mulia semata. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat atas junjungan kita, Muhammad, dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.

Bagaimanakah Seharusnya Kita Menyambut Ramadhan?

Pertanyaan: Apa saja cara-cara yang benar untuk menyambut bulan yang mulia ini?

Seorang muslim seharusnya tidak lalai terhadap momen-momen untuk beribadah, bahkan seharusnya ia termasuk orang yang berlomba-lomba dan bersaing (untuk mendapatkan kebaikan) didalamnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ )المطففين : 26)

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berloma-lomba.” (QS. Al-Muthaffifiin:26)

Maka bersemangatlah wahai saudara-saudara muslim dalam menyambut Ramadhan dengan cara-cara yang benar sebagaimana berikut ini:

1. Berdo’a agar Allah mempertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat, serta dalam keadaan bersemangat beribadah kepada Allah, seperti ibadah puasa, sholat dan dzikir.

Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa dia berkata, adalah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa,

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Catatan: Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkan hadits ini dalam kitab Dha’if al-Jaami‘ (4395) dan tidak mengomentarinya dalam kitab Al-Misykaah.

Demikian juga generasi terbaik terdahulu (as-salaf ash-shalih) berdoa agar Allah menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan dan menerima amal-amal mereka.

Maka apabila telah tampak hilal bulan Ramadhan, berdoalah pada Allah:

الله أكبر اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام , والتوفيق لما تحب وترضى ربي وربك الله

“Allah Maha Besar, ya Allah terbitkanlah bulan sabit itu untuk kami dengan aman dan dalam keimanan, dengan penuh keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai dan diridhai oleh Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dishahihkan oleh Ibnu Hayyan)

2. Bersyukur pada Allah dan memuji-Nya atas dipertemukannya dengan bulan Ramadhan.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkaar,

“Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau dihindarkan dari kemurkaan Allah, untuk bersujud syukur kepada Allah Ta’ala, atau memuji Allah (sesuai dengan apa yg telah diberikan-Nya).”

Dan sesungguhnya di antara nikmat yang paling besar dari Allah atas seorang hamba adalah taufiq untuk melaksanakan ketaatan. Selain dipertemukan dengan bulan Ramadhan, nikmat agung lainnya adalah berupa kesehatan yang baik. Maka ini pun menuntut untuk bersyukur dan memuji Allah Sang Pemberi Nikmat lagi Pemberi Keutamaan dengan nikmat tersebut. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan pantas bagi keagungan Wajah-Nya dan keagungan kekuasaan-Nya.

3. Bergembira dan berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan.

Telah ada contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dahulu memberi berita gembira pada para sahabatnya dengan kedatangan Ramadhan. Beliau bersabda,

جاءكم شهر رمضان, شهر رمضان شهر مبارك كتب الله عليكم صيامه فيه تفتح أبواب الجنان وتغلق فيه أبواب الجحيم… الحديث

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa didalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu neraka….” (HR. Ahmad)

Dan sungguh demikian pula as-salaf ash-shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in, mereka sangat perhatian dengan bulan Ramadhan dan bergembira dengan kedatangannya. Maka kebahagiaan manakah yang lebih agung dibandingkan dengan berita dekatnya bulan Ramadhan, moment untuk melakukan kebaikan serta diturunkannya rahmat?

4. Bertekad serta membuat program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan.

Kebanyakan dari manusia, bahkan dari kalangan yang berkomitmen untuk agama ini (beragama Islam), membuat program yang sangat serius untuk urusan dunia mereka, akan tetapi sangat sedikit dari mereka yang membuat program sedemikian bagusnya untuk urusan akhirat. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran terhadap tugas seorang mu’min dalam hidup ini, dan lupa atau bahkan melupakan bahwa seorang muslim memiliki kesempatan yang banyak untuk dekat dengan Allah untuk mendidik jiwanya sehingga ia bisa lebih kokoh dalam ibadah.

Di antara program akhirat adalah program menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah. Seharusnya seorang muslim membuat rencana-rencana amal yang akan dikerjakan pada siang dan malam Ramadhan. Dan tulisan yang anda baca ini, membantu anda untuk meraih pahala Ramadhan melalui ketaatan pada-Nya, dengan ijin Allah Ta’ala.

5. Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pahala di bulan Ramadhan sertamenyusun waktunya (membuat jadwal) untuk beramal shalih.

Barangsiapa yang menepati janjinya pada Allah maka Allah pun akan menepati janji-Nya serta menolongnya untuk taat dan memudahkan baginya jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ )محمد : 21(

“Maka seandainya mereka benar-benar beriman pada Allah, maka sungguh itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad:21)

6. Berbekal ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum di bulan Ramadhan.

Wajib atas seorang yang beriman untuk beribadah kepada Allah dilandasi dengan ilmu, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Di antara kewajiban itu adalah puasa di bulan Ramadhan. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim belajar untuk mengetahui perkara-perkara puasa serta hukum-hukumnya sebelum ia melaksanakannya (sebelum datang bulan Ramadhan), agar puasanya sah dan diterima Allah Ta’ala.

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) الأنبياء :7(

“Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’:7)

7. Wajib pula bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi.

Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat. Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapankah lagi ia akan bertaubat? Allah Ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ) النور : 31(

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

8. Mempersiapkan jasmani dan rohani dengan membaca dan menelaah buku-buku serta tulisan-tulisan, serta mendengarkan ceramah-ceramah islamiyah yang menjelaskan tentang puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa siap untuk melaksanakan ketaatan di bulan Ramadhan.

Demikian pulalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan jiwa-jiwa para sahabat untuk memanfaatkan bulan ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat bersabda pada akhir bulan Sya’ban,

جاءكم شهر رمضان … إلخ الحديث

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan…(sampai akhir hadits).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).[1]

9. Mempersiapkan dengan baik untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, melalui:

Menghadiri pertemuan-pertemuan serta bimbingan-bimbingan dan menyimaknya dengan baik agar dapat disampaikan di masjid di daerah tempat tinggal.
Menyebarkan buku-buku kecil, tulisan-tulisan serta nasehat-nasehat tentang hukum yang berkaitan dengan Ramadhan kepada orang-orang yang shalat serta masyarakat sekitar.
Menyiapkan “hadiah Ramadhan” sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Hadiah tersebut dapat berupa paket yang didalamnya terdapat kaset-kaset dan buku kecil, yang kemudian pada paket tersebut dituliskan “hadiah Ramadhan”.
Memuliakan fakir dan miskin dengan memberi sedekah serta zakat untuk mereka.

10.Menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran putih yang baru, yang akan diisi dengan:

Taubat sebenar-benarnya kepada Allah Ta’ala.
Ta’at pada perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meninggalkan apa yang dilarangnya.
Berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, saudara, istri atau suami serta anak-anak.
Berbuat baik kepada masyarakat sekitar agar menjadi hamba yang shalih serta bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الناس أنفعهم للناس

“Seutama-utama manuia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”[2]

Demikianlah seharusnya seorang muslim menyambut Ramadhan, seperti tanah kering yang menyambut hujan, seperti si sakit yang membutuhkan dokter untuk mengobatinya dan seperti seseorang yang menanti kekasihnya.

“Ya Allah pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Khalid bin ‘Abdirrahman ad-Durwaisy

Sumber: http://saaid.net/mktarat/ramadan/22.htm


[1] Hal ini disebutkan dalam Lathoif Al Ma’arif (kitab karya Ibnu Rajab Al-Hambali-ed).
[2] Dalam lafadz lain disebutkan,

أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(Hadits shahih dishahihkan Syaikh Al-Bani dalam Al-Hadits Ash-Shahihah No.906 -red)

Penerjemah: Ummu Ahmad Juwita Laila Ramadhan
Murojaah: Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslimah.or.id

Islam ala Prabowo: "Upaya Memasung Agama Ilahi"

Pengantar : Ada sebuah ironi yang menusuk nurani ketika sebuah buku diterbitkan bertajuk "Islam ala Prabowo". Mungkin maksudnya ad...