Jumat, 24 Juli 2026

Maling Teriak Maling: Sebuah Simfoni Kepalsuan


(Secangkir Anggur Merah Edisi-22)

Di sebuah pasar tradisional yang sumpek, seorang lelaki bertopi tiba-tiba berteriak histeris. "Maling! Maling! Tangkap dia!" sambil menuding seorang pemuda polos yang sedang berbelanja. 

Dalam hitungan detik, massa geram bergerak bagai ombak. Mereka mengejar, meninju, dan menghakimi pemuda malang itu. 

Namun, ketika keriuhan mulai reda, sang lelaki bertopi justru menghilang. Bersama kantong uang yang sedari tadi disembunyikannya di balik jaket. 

Adegan klasik itu bukan sekadar dongeng pasar, melainkan cermin buram dari fenomena sosial yang kita kenal dengan pepatah lama: maling teriak maling.

Dalam kearifan lokal Nusantara, ungkapan ini menjadi peringatan tentang tipu daya paling dasar manusia: mengalihkan kesalahan dengan menjadi penuduh paling lantang. 

Namun, di era modern, seni kepalsuan ini telah berevolusi menjadi senjata pamungkas. Tidak hanya di pasar, tetapi juga di ruang rapat, panggung politik, institusi peradilan hingga linimasa media sosial. 

Mereka yang paling keras berteriak "pencuri" justru sering kali sedang menyembunyikan barang curian di balik punggungnya.

Psikologi di Balik Teriakan

Dalam ilmu psikologi, perilaku ini disebut sebagai proyeksi defensif. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau kejahatan, rasa bersalah membakar hati nurani seperti bara panas. Agar tidak hangus dimakan rasa malu, ia memproyeksikan ketakutannya kepada orang lain. 

Dengan menuduh pihak lain, ia menciptakan musuh bersama. Sorotan publik pun beralih. Si pencuri asli menarik napas lega karena panggung pertunjukan kini dipenuhi aktor pengganti. 

Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang primitif; mengorbankan sesama agar diri sendiri selamat dari hukuman.

Carl Jung pernah berkata bahwa bayangan diri (shadow self) adalah hal yang paling tidak ingin kita akui. Maka, ketika seseorang meneriaki orang lain sebagai "tidak bermoral", sering kali itu adalah cermin dari keburukan yang ia benci dalam dirinya sendiri. Teriakan itu menjadi tameng sekaligus tombak.

Panggung Kekuasaan dan Bisnis

Di ranah kekuasaan, strategi ini menjelma menjadi "serangan balik" yang terstruktur. Bayangkan seorang pejabat yang kasus korupsinya mulai tercium publik. Daripada menunduk dan mempertanggungjawabkan aliran dana, ia justru menggelar konferensi pers kilat. 

Dengan raut muka berapi-api, ia membongkar "skandal" lawan politiknya atau pihak yang akan dikorbankan. Mencari kambing hitam atau mengingkari hasil kejahatannya telah dijadikan strategi penyelamatan diri.

Media pun berlomba menyiarkan tuduhan balik tersebut. Masyarakat yang awalnya mempertanyakan kebocoran anggaran atau barang bukti kejahatan yang berlimpah, tiba-tiba terpecah menjadi kubu-kubu yang saling serang di kolom komentar.

Hal serupa terjadi di korporasi. Seorang boss yang gagal mencapai target sering kali tidak mau mengakui kesalahannya. Ia justru menuding tim bawahannya sebagai "bodoh",  "pemalas" atau "saboteur". 

Dengan berteriak paling nyaring di ruang evaluasi, ia berharap pimpinan akan melupakan kelalaiannya sendiri. Dalam dunia bisnis yang kejam, taktik ini sering berhasil karena para atasan lebih mudah percaya pada suara dominan daripada menelusuri data yang rumit.

Demokrasi Dunia Maya

Fenomena ini mencapai puncaknya di dunia maya. Medsos telah menjadi pasar raya digital di mana setiap orang bisa menjadi "polisi moral" dadakan. Kita sering menyaksikan akun-akun yang paling galak menghujat pembuli, namun di lain kesempatan mereka sendiri menjadi pelaku pembulian yang kejam dan tanpa tedeng aling-aling. 

Atau kita melihat seseorang menuduh kelompok lain sebagai "radikal", sementara ia sendiri menyebarkan ujaran kebencian yang barbar dan tidak kalah ekstrem.

Di sini, maling teriak maling menjelma menjadi budaya cancel. Orang lebih senang menghakimi daripada berintrospeksi. Satu tuduhan viral lebih dipercaya daripada seribu bantahan yang membosankan. 

Publik terjebak dalam permainan siapa yang bisa berteriak paling keras dan paling dramatis.

Celakanya, algoritma media sosial justru menghidupi pola ini. Konten provokatif via busser selalu mendapatkan lebih banyak tayangan daripada klarifikasi yang tenang.

Mengapa Kita Mudah Terkecoh?

Pertanyaan besarnya, mengapa kita sebagai masyarakat kerap menjadi massa di pasar tadi, yang begitu mudah terhasut? Jawabannya ada pada sifat dasar manusia yang menyukai drama dan musuh yang jelas. 

Kita cenderung malas berpikir kritis. Ketika seseorang menuding dengan penuh keyakinan, kita lebih memilih percaya daripada menyelidiki. Fenomena ini dalam psikologi sosial disebut confirmation bias; kita menerima tuduhan jika tuduhan itu sesuai dengan prasangka kita terhadap si tertuduh.

Kita juga sering lupa pada pertanyaan inti: Cui bono? Siapa yang diuntungkan dari keriuhan ini? Jika kita berhenti sejenak dan mengamati siapa yang diam-diam melangkah mundur di tengah keramaian, kita akan menemukan maling yang sesungguhnya.

Melawan Arus Keriuhan

Menghadapi fenomena maling teriak maling, kita dituntut untuk menjadi publik yang cerdas dan tidak mudah terprovokasi. Kebenaran sering kali tidak bersuara lantang; ia justru berbisik di sela-sela bukti yang terlupakan. 

Jangan biarkan telinga kita ditawan oleh decibel suara, karena teriakan paling nyaring sering kali berasal dari orang yang paling gemetar ketakutan akan pengungkapan.

Di tengah simfoni kepalsuan ini, penting bagi kita untuk melatih ketenangan. Berhentilah bergabung dengan kerumunan yang menghakimi tanpa bukti. Perhatikan tangan, bukan mulut. 

Karena percayalah, orang yang paling sibuk meneriakkan kata "maling" adalah mereka yang sedang mati-matian menyembunyikan barang curian di balik jas dan topeng mereka. 

Jangan sampai kita menjadi alat bagi pencuri untuk melarikan diri. Sementara orang yang tak bersalah harus menanggung malu dan derita.
(kolaborasi KGM-Deepseek/Juli-2026)

Maling Teriak Maling: Sebuah Simfoni Kepalsuan

(Secangkir Anggur Merah Edisi-22) Di sebuah pasar tradisional yang sumpek, seorang lelaki bertopi tiba-tiba berteriak histeris. "Maling...