1. Hakikat Barzanji: Kitab Sastra dan Sejarah, Bukan Kitab Akidah.
Kitab Barzanji tak boleh dikupas secara kaku menggunakan kacamata hukum formal akidah. Kitab Barzanji adalah sebuah karya sastra (prosa liris/syai'r) yang berisi sejarah (siroh) Nabi Muhammad.
• Ekspresi Cinta (Mahabbah): Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa sastra Arab (balaghah) yang penuh dengan metafora (majas), pujian, dan rasa cinta yang mendalam. Menilai teks sastra dengan pendekatan tekstual-hukum tentu akan menghasilkan kesimpulan yang keliru.
• Kisah Luar Biasa (Irhas): Kejadian-kejadian luar biasa menjelang kelahiran Nabi (seperti hewan berbicara, kehadiran Sayyidah Maryam dan Asiyah) dalam tradisi Aswaja dipahami sebagai Irhas (tanda-tanda kenabian sebelum diutus), bukan sebagai hal yang mustahil bagi kuasa Allah.
2. Menjawab Tuduhan Ghuluw (Berlebihan).
Ada tuduhan dari sekte Wahabi bahwa Barzanji mengandung ghuluw yang menyekutukan Allah.
Aswaja Nusantara menolak tuduhan ini karena:
• Pujian kepada Nabi dalam Barzanji ditempatkan dalam posisi beliau sebagai Makhluk tertinggi dan Kekasih Allah, bukan sebagai Tuhan.
• Umat Islam yang membaca Barzanji sangat tahu bedanya menyembah Allah dan menghormati Nabi. Kita selalu mengucap "Asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu wa Rasuluhu" (Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya). Pujian setinggi apa pun kepada Nabi, selama tidak menuhankannya (seperti kaum Nasrani menuhankan Nabi Isa), adalah hal yang dibolehkan, bahkan dianjurkan sebagai bentuk syukur.
3. Dalil Berdiri Saat Maulid (Mahallul Qiyam).
Dalam Kacamata Aswaja, berdiri (Mahallul Qiyam) didasari oleh:
• Penghormatan (Ta'dzim): Penghormatan kepada ruhaniyah Rasulullah. Secara psikologis, ketika seseorang mengenang sang kekasih tertinggi hadir dalam sejarah dunia, sikap terbaik adalah berdiri sebagai bentuk sopan santun (adab).
• Para ulama besar terdahulu, termasuk Imam al-Subki, membolehkan bahkan memuji tradisi berdiri ini sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik) yang lahir dari rasa hormat yang tinggi kepada Nabi.
4. Bukti Cinta Nabi lewat Mahabbah
• Bukti Cinta Nabi adalah Mengikuti Sunnah + Ekspresi: Bagi Aswaja, cinta kepada Nabi tidak hanya lewat teori atau ibadah wajib saja, tetapi juga merawat emosi cinta (mahabbah) melalui syiar, pujian, dan perkumpulan positif (seperti majelis maulid).
• Majelis Barzanji di Nusantara terbukti menjadi benteng masyarakat untuk berkumpul, bershalawat, bersedekah, dan memperkuat tali silaturahmi antarwarga.
5. Ayat yang Disalahgunakan.
Menyoal kutipan Surah An-Nisa ayat 171 yang melarang ghuluw. Konteks ayat tersebut sebenarnya ditujukan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang menuhankan pemuka agama mereka dan menganggap Isa sebagai anak Tuhan.
Menyamakan umat Islam yang membaca pujian sastra untuk Nabinya dengan kaum yang menganggap Nabi sebagai anak Tuhan adalah lompatan logika yang cacat (fallacy).
Kesimpulannya adalah:
Tradisi membaca Barzanji, Diba', atau Burdah di Nusantara adalah warisan metodologi dakwah yang lembut dan kultural. Tradisi ini berhasil mengislamkan Nusantara tanpa pertumpahan darah.
Selama pembacaan Barzanji membuat kita semakin rindu kepada Nabi, membuat kita rajin bershalawat, dan menguatkan ukhuwah Islamiyah, maka amalkanlah dengan mantap.
Semoga dapat difahami dan bermanfaat...
