Sabtu, 15 Agustus 2026

Sajak Londo Ireng Part-6: "LONDO IRENG BERKEDOK BUZZER"

(sebuah sajak kritik dalam narasi sastra klasik Ki Gempur)

Hai, kau jelmaan Sangkuni zaman digital!
Wajahmu seribu, tapi hatimu satu
satu jiwa kelam yang diisi benci penuh dendam.

Kau duduk berongkang kaki di balik layar digital,
seperti dukun yang meracik fitnah di lumpang,
kata-katamu meluncur pedas,
kau campur ramuan fitnah dan rekayasa,
lalu kau tebarkan ke seluruh negeri,
seolah kau dewa kebenaran,
padahal kau hanyalah buzzer bayaran.

Kau sebut dirimu pengawal juragan jungjunan,
tapi kau sungguh bukan pengawal sejati
pengawal sejati berani mati untuk kehormatan,
sedang kau berani mati-matian membela,
karena ada amplop tebal di balik jasa.

Kau berdiri di atas timbunan fitnah,
sambil bersiul dan bernyanyi tentang keadilan
tapi keadilanmu adalah neraca sungsang,
yang kau miringkan ke siapa pun si pembayar.

Wahai Londo Ireng berkedok buzzer!
kau lebih licik dari ular di Mahabharata,
lebih beracun dari mulut raksasa,
karena ular dan raksasa tak pernah bersembunyi,
sedang kau
kau menyamar bersama ribuan akun,
bak pahlawan pembela kebenaran,
padahal kau adalah pengkhianat yang menyusup,
yang membunuh karakter musuh lewat jentikan jari.

Kau fitnah juga jurnalis yang kerja di bawah terik,
kau sebut mereka Londo Ireng,
padahal kau-lah Londo Ireng yang sesungguhnya
karena Londo Ireng bukan soal warna kulit,
tapi soal nurani yang tergadaikan,
soal hati yang diganjar dengan sejumlah uang,
soal pedang lidah yang disewa untuk menusuk lawan.

Aku lihat kau di grup-grup terbuka,
kau bagi-bagi narasi seperti sedekah,
siapa pun yang berani serang jungjunan, kau gagahi dengan cacian.
siapa pun yang kritik kebijakan? kau hajar dengan hujatan.
siapa yang tanya tentang kezaliman? kau sebut mereka anti toleran.

Kau juga bercokol di birokrat fitnah,
yang sidangnya di kolom komentar,
dan vonisnya adalah pembunuhan karakter.

Kemunafikanmu lebih busuk daripada bangkai di pinggir kali,
karena bangkai hanya bau satu minggu,
sedang kemunafikanmu tetap abadi
bau selamanya di ingatan sejarah.

Kau berteriak Indonesia Raya paling gagah di siang hari,
tapi di malam hari kau bisik-bisik dengan iblis bernama kekuasaan,
kau tawar-menawar harga,
kau jual angan rakyat,
kau beli suara-suara kecil,
lalu kau sebut itu kebebasan berdemokrasi.

Hai buzzer, berkedok Londo Ireng!
Kau kira akun-akun palsumu abadi?
Kau kira setiap retweet membuatmu besar?
kau keliru!

Kau hanyalah bayangan di layar,
yang hanya dengan satu sentuhan saja akan lenyap,
sedang rakyat di luar sana
yang tak pernah kau jangkau dengan unggahanmu
mereka tetap ada,
mereka tetap lapar,
mereka tetap menunggu keadilan yang tak pernah kau sentuh.

Maka dengarlah, hai pengkhianat digital
Sastra klasik mengajariku,
bahwa Duryudana jatuh karena kesombongan,
bahwa Sangkuni binasa karena tipu daya,
bahwa semua topeng akan terkoyak oleh waktu,
dan yang tersisa hanyalah kebenaran.

Maka dengarlah, hai penghianat kata
sastra modern mengajariku tentang kebenaran
yang meskipun kau kubur ribuan kali,
ia akan tetap bangkit,
seperti api yang tak bisa kau padamkan dengan fitnah.

Pergilah, hai Londo Ireng!
bawa pulang upah kotormu,
karena rakyat di sini
yang benar-benar berdarah
tak pernah membutuhkan duta dusta.

Mereka hanya butuh keadilan
Mereka hanya butuh kebenaran
dan kata-kata yang menjanjikan harapan.

Sajak Londo Ireng Part-6: "LONDO IRENG BERKEDOK BUZZER"

(sebuah sajak kritik dalam narasi sastra klasik Ki Gempur) Hai, kau jelmaan Sangkuni zaman digital! Wajahmu seribu, tapi hatimu satu satu ji...