Kulihat kau duduk di kursi tahta,
toga hitam membalut tubuhmu
bagai berselimut kafan,
palu kau ketuk, bukan untuk menegakan keadilan,
tapi untuk merobohkan yang tak sanggup bayar.
Kau disebut Londo Ireng zaman kemerdekaan,
tapi kau bukan londo ireng sang pejuang,
kau adalah londo ireng yang dijahit kesepakatan,
yang dibayar dengan janji-janji sejumlah cuan.
Kau begitu fasih tentang pasal-pasal,
Tapi lidahmu begitu kelu ketika mencabik-cabik pesakitan miskin,
matamu tajam dalam menggali kesalahan,
tapi buta saat melihat uang berhambur di meja tuan.
Di mana keadilanmu, wahai kau yang bertoga?
Di mana amanah yang kau ikrarkan di atas kitab undang-undang?
Kau lebih suka menegakkan tiang gantungan
bagi si pencuri ayam dan buah-buahan,
sementara kepada si pencuri negeri
kau dudukkan dia di kursi nyaman bersama hidangan.
Sejarah acapkali mencatat pengadilan panggung,
di mana yang benar divonis bersalah
dan yang bersalah terbebas bersama pujian dan tepuk tangan.
palu kau ketuk, bukan untuk menegakan keadilan,
tapi untuk merobohkan yang tak sanggup bayar.
Kau disebut Londo Ireng zaman kemerdekaan,
tapi kau bukan londo ireng sang pejuang,
kau adalah londo ireng yang dijahit kesepakatan,
yang dibayar dengan janji-janji sejumlah cuan.
Kau begitu fasih tentang pasal-pasal,
Tapi lidahmu begitu kelu ketika mencabik-cabik pesakitan miskin,
matamu tajam dalam menggali kesalahan,
tapi buta saat melihat uang berhambur di meja tuan.
Di mana keadilanmu, wahai kau yang bertoga?
Di mana amanah yang kau ikrarkan di atas kitab undang-undang?
Kau lebih suka menegakkan tiang gantungan
bagi si pencuri ayam dan buah-buahan,
sementara kepada si pencuri negeri
kau dudukkan dia di kursi nyaman bersama hidangan.
Sejarah acapkali mencatat pengadilan panggung,
di mana yang benar divonis bersalah
dan yang bersalah terbebas bersama pujian dan tepuk tangan.
Ah, kau layaknya meneruskan tradisi itu,
dengan bahasa hukum jlimet dan berbelit,
bagai ular menggigit ekornya sendiri.
Wahai Londo Ireng bertoga!
Kau pikir hitammu bisa membuatmu suci dan mulia?
Kau pikir pasal-pasalmu lebih kebal dihantam peluru?
Keliru! Wahai kau Londo Ireng bertoga!
Keadilan sejati tak kenal toga,
dia telanjang walau harus penuh luka,
dia mengemis di kantor pengadilanmu,
namun kau lempari dia dengan janji-janji palsu.
Aku melihat
rakyat di luar sana menggigil,
bukan karena dingin,
tapi karena mereka tahu:
di ruanganmu yang ber-AC,
keputusan sudah dibeli sebelum sidang dimulai.
Toga hitammu bukan simbol kehormatan,
tapi seragam baru para neo penjajah.
Dan kau
Bagai penjaga kedaulatan mereka,
yang kerjaannya memungut pajak dari tangis rakyat jelata dan kaum janda,
Namun suatu hari,
palu itu akan patah di tanganmu.
palu itu akan patah di tanganmu.
toga itu akan lapuk dimakan ngengat.
Dan saat itu,
rakyat akan berdiri di depan gedungmu,
tanpa pengacara, tanpa terdakwa, tanpa saksi ahli,
hanya dengan berpegang kebenaran yang selama ini tergenggam erat.
Maka sebaiknya pergilah, Wahai Londo Ireng bertoga
kembalikan pasal-pasalmu ke perpustakaan berdebu.
Karena di ruang sidang yang sesungguhnya
yang bernama hati nurani
kau tak pernah menang...
Dan saat itu,
rakyat akan berdiri di depan gedungmu,
tanpa pengacara, tanpa terdakwa, tanpa saksi ahli,
hanya dengan berpegang kebenaran yang selama ini tergenggam erat.
Maka sebaiknya pergilah, Wahai Londo Ireng bertoga
kembalikan pasal-pasalmu ke perpustakaan berdebu.
Karena di ruang sidang yang sesungguhnya
yang bernama hati nurani
kau tak pernah menang...