Jumat, 14 Agustus 2026

Sajak Londo Ireng Part-5: "LONDO IRENG DI RUMAH RAKYAT"

(dari Ki Gempur, yang faham bahwa rakyat tak pernah bodoh)


Kulihat kau duduk di kursi empuk,
di gedung megah yang kau sebut rumah rakyat,
tapi rakyat tak pernah tinggal di sana
mereka hanya numpang lewat kilasan di layar televisi,
saat kau berdebat tentang anggaran yang kau sembelih,
tentang proyek yang kau kawal,
tentang dengar pendapat yang telah diatur
tentang negosiasi yang kau jual dan kau beli.

Kau disebut Londo Ireng bergaya baru,
karena kau datang dengan jas rapi dan dasi berkilau,
dengan kopiah atau kerudung di kepala saat kampanye,
tapi di sini, di ruang sidang ini,
kau mulai melepas semua topeng
dan yang tersisa hanya serigala berbulu domba.

Kau sumpah di atas kitab suci,
kau janji muliakan amanat rakyat,
tapi dimana amanat itu kau sembunyikan?

Bukankah amanat adalah rakyat yang kau tinggalkan,
yang mengantre sembako saat kau pesta gala,
yang kehilangan tanah saat kau bagi-bagi izin,
yang mati di rumah sakit saat kau ketiduran di kursi baru?

Wahai Londo Ireng legislatif!
Apa bedamu dengan penjajah dulu?
Dulu mereka menjajah dengan senapan
kini kau menjajah dengan pasal pilihan,
dengan keputusan fraksi, dengan voting yang kau atur,
dengan sidang paripurna yang kau bobol
hanya untuk mengesahkan yang menguntungkanmu.

Kau bilang kau wakil rakyat
sesungguhnya kau tak pernah mewakili perut lapar,
sesungguhnya kau tak pernah menyelami rakyat melarat dan teraniaya,
teraniaya pajak, bbm, dan harga-harga kebutuhan pokok.

kau hanya mewakili uang dingin yang mengalir
dari pengusaha yang kau sembunyikan namanya,
dari kontraktor yang kau titipkan proyeknya,
dari bandar yang kau amankan bisnisnya.

Aku lihat kau tertawa saat RAPBD dibahas,
tawa khas orang yang tahu rezeki sudah di kantong,
tawa yang mengundang tangis di kampung-kampung
saat subsidi dibantai,
saat pendidikan dijual,
saat kesehatan dipermainkan.

Wahai, Londo Ireng legislatif!
Kau pikir kursimu kekal selamanya?
Kau pikir rakyat tak punya mata dan telinga?
Kau pikir kelakuanmu hanya tayang di layar
dan hilang setelah iklan sabun mandi?

Tak ada rakyat yang buta,
hanya rakyat yang sabar.
dan kesabaran itu
seperti batang merang yang terbakar angin
sekali menyala, ia tak peduli siapa terbakar,
sementara kau tengah asyik bermain game di kursi empukmu.

Maka sekarang,
ketika kau sibuk bagi-bagi kursi,
ingatlah
di luar gedung ini,
di bawah terik matahari yang membakar kaum buruh dan mahasiswa,
bahwa sesungguhnya rakyat terus mencatat
setiap dustamu.

Dan suatu hari,
tak ada buku anggaran yang bisa menyelamatkanmu,
tak ada tembok tinggi yang bisa melindungimu,
karena rakyat
adalah pemilik sah rumah yang kau duduki.

Maka pergilah, Wahai Londo Ireng legislatif,
dan pulanglah, cepat atau lambat,
karena rumah ini tak akan pernah menjadi milikmu,
sampai kau merasakan
apa artinya tidur lapar tanpa nasi,
dan bangun tanpa harapan dan kepastian.

Sajak Londo Ireng Part-6: "LONDO IRENG BERKEDOK BUZZER"

(sebuah sajak kritik dalam narasi sastra klasik Ki Gempur) Hai, kau jelmaan Sangkuni zaman digital! Wajahmu seribu, tapi hatimu satu satu ji...