Jumat, 14 Agustus 2026

Belenggu Pemahaman Dangkal tentang Hadis 73 Golongan


Pengantar: Dada seorang muslim bergetar, tatkala mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang termasyhur itu. Sebuah riwayat yang kerap kali membakar semangat sekaligus mengeraskan hati. Disebutkan bahwa umat Islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Tiada yang selamat dari siksaan Illahi Rabbi melainkan hanya satu golongan. Lalu golongan manakah yang selamat? Disinilah rupanya saling mengklaim sebagai yang paling selamat dan merasa sebagai si pemilik surga. Sementara yang lain terancam neraka. Astaghfirullah...!!!


Jangan Jadi Penebas Tali Persaudaraan

Betapa mirisnya, ketika sabda yang hakikatnya adalah pelita peringatan justru kerap menjelma menjadi pedang bermata dua. Sebagai penebas tali persaudaraan. Tentu saja ini efek dari pemahaman cetek bin dangkal. Di sinilah sejatinya kita perlu menepis debu kesalahpahaman yang melekat. 

Kalau begitu, mari kita selami lautan makna hadis ini dengan pendekatan  nalar para ulama terdahulu. Agar yang tadinya tajam menusuk keimanan dan harapan, kembali menjadi teduh menyejukkan.

Beberapa kekeliruan itu terjadi, yakni:

Pertama, kekeliruan mendasar yang menjangkiti akal sehat kita adalah memaknai kata firqah (golongan) dalam pengertian zahiriah semata. Seolah-olah yang dimaksud adalah organisasi, jamaah, atau entitas fisik yang memiliki bendera, atribut, dan rapor keanggotaan. 

Andai saja kita menoleh pada kitab-kitab karya Imam asy-Syahrastani, niscaya kita dapati penjelasan nan jernih. Bahwa firqah dalam hadis mulia ini mengacu pada pemahaman tentang ushuluddin (fondasi pokok keimanan), bukan pada cabang-cabang fiqhiyyah yang bersifat teknis. Seperti tata cara bacaan dalam shalat atau hitungan tasbih. 

Memahami firqah sebagai entitas kelompok tertentu adalah kekeliruan tingkat tinggi,. Para salafus shalih sendiri berbeda pendapat dalam masalah furu' namun tetap saling mencintai dan menghormati. Mereka tidak pernah saling melemparkan tuduhan sesat hanya lantaran perbedaan qunut, ziarah kubur atau rakaat tarawih. 

Maka, menyempitkan makna firqah pada label organisasi modern adalah bentuk kebutaan epistemologis yang mengerikan. Sebuah penafisran yang jauh menyimpang dari maksud syariat yang luhur.

Kedua, kelalaian kita terhadap keberagaman jalur periwayatan hadis ini telah menelantarkan kita pada kubangan klaim kebenaran tunggal. Para perawi hadis, yang notabene adalah bintang-bintang di cakrawala periwayatan, telah menyampaikan redaksi yang berbeda-beda. 

Di antara riwayat, terdapat versi yang tidak menyebutkan ancaman neraka secara gamblang bagi 72 golongan. Bahkan Imam al-Ghazali dalam karyanya yang bernas, Faishal al-Tafriqah, mengutip sebuah riwayat kontradiktif yang menyatakan bahwa seluruh golongan itu berada dalam surga, kecuali golongan zindiq (para penyeleweng akidah yang ekstrem). 

Meskipun sanad riwayat ini diperselisihkan dan menuai kritik tajam dari Ibnu Hajar al-Asqalani, yang mencapnya sebagai ikhtisar mujhif (penyimpulan yang merusak), keberadaan riwayat ini cukup bagi seorang yang berakal sehat untuk tidak tergesa-gesa menghakimi. 

Mengabaikan ragam sanad dan lebih memilih satu redaksi mentah-mentah sebagai senjata pembenaran diri adalah kelancangan ilmiah yang melampaui batas. Ia adalah produk dari nalar yang malas. Yang hanya ingin menegaskan pihak lain tanpa mau bersusah payah menelaah khazanah periwayatan secara utuh.

Ketiga, dan inilah yang paling menggores hati nurani. Manakala hadis ini dipolitisasi dan dikomersialkan untuk kepentingan gengsi kelompok. Amat menyayat hati menyaksikan bagaimana setiap firqah mengklaim dirinya sebagai al-Firqah an-Najiyah dengan penuh arogansi, seolah-olah mereka telah menerima fatwa langsung dari langit. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri, sebagai sumber aliran hikmah, ketika ditanya siapa golongan selamat itu, tidak menyebut nama organisasi atau kelompok spesifik. Beliau hanya menjawab dengan lugas: "Apa yang aku berada di atasnya hari ini dan para sahabatku." 

Jawaban Rasulullah sarat pesan: Keselamatan adalah urusan keistiqamahan di atas jalan kebenaran yang jelas. Bukan sekadar urusan manhaj atau status keanggotaan.

Siapa Ahlussunnah wal Jama'ah?

Mayoritas ulama klasik memang berpandangan bahwa yang selamat adalah Ahlussunnah wal Jama'ah. Namun, dan ini penting digarisbawahi, Ahlussunnah bukanlah nama sebuah partai atau yayasan. Ia adalah seluruh mukmin yang senantiasa merujuk pada Al-Qur'an dan sunnah Rasul-Nya, Tentunya dengan memahami keduanya melalui kacamata para sahabat generasi perdana. 

Bila ukurannya adalah ketakwaan dan keikhlasan, maka tiada seorang pun, betapapun sempurnanya amaliah kelompoknya, berhak mengklaim dengan pasti bahwa dirinya adalah satu-satunya penghuni surga. Sementara yang lain adalah bahan bakar neraka. Karena surga dan neraka sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah Yang Maha Mengetahui isi hati.

Akhirnya, hadis nan agung ini, jika direnungkan dengan sastra klasik dan kedalaman ruhani, adalah peringatan dan kabar gembira sekaligus. Peringatan agar kita senantiasa waspada terhadap penyimpangan akidah yang fundamental. Dan kabar gembiranya bahwa siapa pun yang konsisten menapaki jalan kenabian, yang penuh kasih dan jauh dari kebencian, akan digolongkan dalam barisan orang yang selamat. 

Maka, sudah saatnya kita mengakhiri perang klaim yang melelahkan ini. Taruhlah pedang penyesatan, dan raihlah tali Allah secara bersama-sama. Karena jika kebenaran hanya milik satu kelompok yang sempit, niscaya rahmat Islam tidak akan pernah meluas ke seluruh penjuru dunia. 

Semoga Allah mempertemukan kita semua di telaga Rasul kelak, tanpa memandang firqah dan label organisasi, melainkan memandang ketulusan hati dan ketaatan kita pada syariat-Nya. 

Sintetis Menakjubkan Imam Al-Ghazali

Kembali pada pendapat Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya' Ulumuddin. Tidak sekadar mengulang redaksi hadis perpecahan umat secara mentah. Beliau dengan keberanian ilmiah yang langka justru memaparkan adanya riwayat-riwayat yang kontradiktif, lalu menawarkan sintesis yang menakjubkan. 

Dalam Ihya' Ulumuddin, beliau menyatakan:

“Terdapat beberapa riwayat hadis itu dengan teks yang berbeda. Satu riwayat menyebutkan: 'Umatku akan berpecah menjadi lebih dari tujuh puluh firqah, satu di antaranya selamat.' Dalam riwayat lain juga disebutkan: 'Semua firqah itu masuk surga kecuali satu firqah, yaitu kaum zindiq (yang masuk neraka).'”

Lebih lanjut, Al-Ghazali menegaskan bahwa kedua riwayat ini dimungkinkan sama-sama sahih, sehingga yang “benar-benar binasa dan kekal dalam neraka” hanyalah satu firqah saja, yaitu kaum zindiq, yakni para penyeleweng akidah yang ekstrem.

Adapun yang “benar-benar selamat” tanpa hisab dan tanpa syafaat hanyalah satu firqah pula, yaitu mereka yang paling istimewa di sisi Allah. Sementara itu, golongan-golongan lainnya, meskipun tergolong dalam 72 firqah, tetaplah akan masuk surga setelah menjalani proses hisab (perhitungan amal) atau setelah mendapatkan syafaat dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Keterangan ini senada dengan apa yang beliau tulis dalam kitabnya yang lain, Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah, di mana beliau mengutip sebuah riwayat yang redaksinya berbunyi: "Umatku akan terpecah menjadi 70 lebih golongan, mereka semua ada dalam surga kecuali orang zindiq."

Tinggalkan Sikap Takfir

Kutipan di atas menjadi kunci untuk membuka pemahaman yang selama ini terkunci. Al-Ghazali, dengan kearifan sufistiknya, telah mengajarkan bahwa ancaman neraka dalam hadis 73 golongan tidaklah bersifat mutlak dan menyeluruh. Ia hanyalah peringatan keras bagi mereka yang menyimpang secara fundamental hingga keluar dari rel keimanan (zindiq). Bukan vonis kebinasaan bagi seluruh umat Islam yang berbeda pendapat dalam masalah cabang.

Dengan demikian, roh dari ajaran Al-Ghazali dalam Ihya' adalah mengajak kita meninggalkan sikap takfir dan klaim keselamatan sepihak. Sebab, rahmat Allah begitu luas, dan syafaat Nabi pun terbentang untuk umatnya. 

Yang terpenting adalah tetap berpegang pada jalan yang lurus, saling menghormati, dan tidak menyempitkan rahmat Ilahi hanya untuk kelompok sendiri. Nah, kalau begini kan gak perlu lagi ada klaim merasa pemilik kunci surga. Macam surga punya neneknya saja...!!! Wew, ach...!!

Wallahu a'lam bish-shawab.

Belenggu Pemahaman Dangkal tentang Hadis 73 Golongan

Pengantar : Dada seorang muslim bergetar, tatkala mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang termasyhur itu. Sebuah riwayat yang ...