(Suasana: Hampa. Bukan gelap, bukan terang. Hanya ada keheningan yang berdenting di telinga. Di hadapan Saya duduk seorang sosok dengan raut tenang namun mata yang menyimpan kobaran purba. Ia bertanduk, berwujud merah menyala. Ia tampak bagai seorang yang tampak lelah, menyandarkan punggungnya pada singgasana asap. Itulah dia: IBLIS.)
KGM: “Selama ribuan tahun Engkau diberi umur panjang untuk menyesatkan anak cucu Adam. Dari sekian milyar jiwa yang telah Kau bawa ke jurang kenistaan, siapakah menurut-Mu manusia yang paling celaka di akhirat nanti? Apakah pembunuh berdarah dingin? Atau para tiran yang menindas umat? Para politisi bajingan? Para koruptor? Tukang selingkuh? Para bajingan legislatif? Para penyeleweng keadilan?”
IBLIS: (Tersenyum sinis, menyilangkan jari-jari tangannya yang pucat) “Kau bertanya seperti seorang pemula, anak manusia. Kalian selalu terpaku pada dosa besar yang kasat mata. Darah, harta, kaum bajingan dan perselingkuhan. Sungguh membosankan. Tanyakan pada malaikat pencatat amal, mereka akan katakan bahwa para pembunuh, perampok dan para bajingan itu tahu persis apa yang mereka perbuat. Saat neraka menyambar tubuh mereka, mereka hanya menerima konsekuensi dari kenikmatan duniawi yang sudah mereka rasakan. Mereka menderita, tapi hati mereka tahu mengapa. Yang paling celaka, bukanlah mereka.”
KGM: “Lalu siapa? Orang yang berbuat syirik? Orang yang meninggalkan shalat?”
IBLIS: (Tertawa kecil, suaranya bergema seperti derak bara api) “Syirik? Itu adalah kegelapan yang kasat. Tapi tahukah kau, anak Adam, bahwa aku tidak pernah berhasil menggoda Nabi-Nabi, para Syeikh, para Kyai, para Ustadz untuk menyembah berhala? Yang aku tanamkan jauh lebih halus. Yang paling celaka di akhirat kelak adalah orang yang beribadah kepada-Ku tanpa menyadarinya, sementara ia mengira dirinya sedang beribadah kepada Tuhanmu.”
KGM: “Apa maksudmu, wahai penyesat umat?”
IBLIS: “Aku akan ceritakan padamu tentang seorang lelaki. Sebut saja dia Fulan. Di dunia, Fulan adalah seorang alim. Jenggotnya lebat, air matanya deras saat membaca ayat-ayat suci. Ia mendirikan masjid, memberi makan anak yatim, dan hafal kitab suci di luar kepala. Setiap Jumat ia berdiri di mimbar, suaranya menggema memperingatkan umat akan siksa neraka. Masyarakat memujanya. Para wanita menyebutnya Syeikh atau Kyai, dan kaum lelaki berebut duduk di dekatnya. Namun, di sela-sela kesibukannya, Fulan menyimpan racun kecil dalam hatinya: Ia benci pada seorang tetangganya yang miskin. Bukan karena si miskin jahat, tapi karena si miskin itu cuwek padanya. Fulan merasa penghormatan yang ia terima dari orang banyak adalah haknya, dan si miskin itu telah mencuri haknya dengan tidak memujanya. Fulan tetap memberi sedekah pada si miskin, namun ia melakukannya dengan gerutu dalam hati: ‘Dasar tidak tahu budi, sudah kuberi makan masih saja tidak mencium tanganku.’”
(KGM terdiam. Iblis melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar, seakan menikmati setiap detailnya.)
IBLIS: “Fulan meninggal dunia. Ia dihisab dengan perhitungan yang sangat teliti. Amal shalatnya berjajar rapi, sedekahnya bertumpuk, hafalannya sempurna. Namun ketika timbangan kebaikan dan keburukan diletakkan, malaikat berkata: ‘Wahai Fulan, semua amalmu telah sempurna. Namun, ke mana perginya niat? Ke mana perginya keikhlasan? Ketika kau mengajar, kau ingin disebut Syeikh, Kyai atau Ustadz. Ketika kau memberi, kau ingin dipuji ‘Dermawan’. Ketika kau shalat di baris pertama, kau ingin dilihat orang betapa ‘khusyuk’ dirimu. Dan yang paling fatal: di setiap sudut hatimu, kau menyimpan kebencian pada saudaramu yang miskin karena ia tidak mengagung-agungkanmu.’”
KGM: “Lalu?”
IBLIS: “Fulan digiring ke neraka. Bukan ke neraka yang penuh nyala api seperti yang dibayangkan orang-orang. Ia digiring ke sebuah lembah yang gelap, sunyi, dan dingin menusuk tulang. Di sana tidak ada iblis yang menyiksanya, tidak ada belerang yang membakar kulitnya. Yang ada hanyalah kesadaran total. Bayangkan, anak Adam—mengetahui bahwa seluruh hidupmu adalah tipuan, bahwa Tuhanmu melihat isi hatimu yang busuk, bahwa semua orang yang kau pimpin ternyata selamat karena mereka menirumu secara lahiriah tapi mereka ikhlas, sedangkan kau—sang guru—justru celaka. Itulah siksaan yang paling mengerikan: kesendirian di tengah keramaian amal yang sia-sia.”
KGM: (Mencoba menelan ludah, tapi tenggorokannya kering. KGM bertanya lagi) “Apakah itu yang engkau cari? Apakah itu tujuanmu menyesatkan manusia?”
IBLIS: (Berdecak dengan senym sinis) “Aku tidak menyesatkan Fulan. Aku hanya membisikkan satu kalimat kecil di telinganya setiap pagi: ‘Kau lebih baik dari mereka.’ Dan Fulan dengan senang hati menerima bisikan itu. Sebab, bukankah manusia suka dibisiki bahwa dirinya istimewa? Aku tidak pernah memerintahkannya untuk membenci si miskin. Aku hanya membuatnya mencintai pujian. Dan cinta pada pujian adalah racun yang memabukkan. Ia akan melakukan semua kebaikan, namun tujuannya adalah dirinya sendiri, bukan Tuhanmu. Di akhirat, Tuhanmu berfirman: ‘Pergilah kepada orang yang dulu kau cari ridhonya, lihatlah apakah mereka bisa memberi syafaat bagimu sekarang?’ Dan Fulan menoleh ke kanan-kiri; yang ia lihat hanyalah wajah-wajah manusia yang dulu memujinya, kini justru menjauh dan memaki dirinya sebagai orang munafik.”
KGM: “Berarti orang munafik adalah yang paling celaka?”
IBLIS: “Bukan munafik biasa. Karena Fulan tidak menyekutukan Tuhan secara terang-terangan. Ia justru paling getol menyebut nama Tuhan. Yang paling celaka adalah orang yang memiliki ilmu tinggi namun hatinya mati karena sombong. Merasa kau lebih baik dari yang lain. Merasa lebih paling menjalankan sunah dan tidak bertoleransi pada amaliah yang lain. Aku akan katakan padamu, anak Adam. Jika engkau masuk neraka karena maksiat, engkau masih punya harapan akan belas kasih Tuhan, karena engkau mengakui dosamu. Tetapi jika engkau masuk neraka karena amalmu sendiri—karena kau menyangka bahwa amalmu sudah cukup untuk membeli surga, lalu kau lupa bahwa surga adalah milik Tuhan, bukan milik hasil jerih payahmu—maka di mana letak harapanmu? Kau sudah menganggap dirimu ‘lunas’ dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih celaka daripada orang yang berutang budi pada-Nya, padahal semua amalnya hanyalah hak-Nya yang harus ia tunaikan. Padahal engkau selamat di akhirat bukan karena amalmu tapi karena Rahmat dari Tuhan-Mu.”
(Ia berhenti sejenak. Matanya menyorot KGM dengan tajam.)
IBLIS: “Tahukah kau mengapa aku, Iblis, juga celaka? Karena aku sombong. Aku melihat Adam dari tanah liat, lalu memandang diriku dari api. Aku mengklaim kelebihanku di hadapan Tuhan. Fulan melakukan hal yang persis sama. Ia melihat orang miskin yang tidak pandai bicara, lalu memandang dirinya yang pandai berceramah. Ia mengklaim kelebihannya. Di akhirat, Fulan akan merasakan siksaan yang sama yang kurasakan setiap detik: melihat orang-orang yang ia hinakan duduk di surga, sementara ia terhempas ke bawah. Celaka, bukan karena siksaannya, melainkan karena rasa iri yang abadi terhadap mereka yang berhasil lolos masuk surga.”
KGM: “Jika Engkau tahu bahwa akhirmu dan akhir Fulan adalah celaka, lalu mengapa tidak bertobat? Mengapa terus melanjutkan permusuhan ini sampai akhir zaman?”
(Iblis terdiam. Untuk pertama kalinya, rautnya terlihat retak. Ada kepiluan dan kesedihan yang sangat tua di sana, namun segera tertutup oleh tawa getir yang menggema.)
IBLIS: “Karena Keagungan-Nya begitu besar, sehingga kehinaanku pun terasa manis bagiku. Aku telah terlalu jauh. Dan bagi Fulan-fulan yang kubawa itu ke jurang laknat itu, mereka tidak akan bertobat di akhirat, karena di sana kejujuran telah terungkap. Mereka tidak bisa lagi berbohong pada diri mereka sendiri. Di dunia, mereka bisa membungkam hati nurani dengan dalil-dalil dan pujian manusia. Di akhirat, semua dalil runtuh, yang tersisa hanya hati telanjang yang penuh bangkai kesombongan.”
(KGM menggigil. Ruang hampa itu terasa semakin dingin. KGM bertanya satu pertanyaan terakhir.)
KGM: “Jika suatu saat aku bertemu Fulan di akhirat, apa yang harus aku katakan padanya?”
IBLIS: (Bangkit berdiri, tubuhnya mulai memudar menjadi kabut). “Katakan padanya: ‘Celakalah engkau, karena engkau memiliki semua tanda keselamatan di wajahmu, namun engkau kehilangan satu hal yang paling mendasar: rasa butuh yang tulus kepada-Nya. Engkau datang ke hadirat-Nya dengan penuh kebanggaan, membawa setumpuk amal, lalu engkau meminta upah. Celakalah engkau, karena engkau menjadikan Tuhanmu sebagai majikan yang harus membayar gajimu, bukan sebagai Kekasih yang engkau rindukan.’”
(Iblis pun menghilang. Suara tawanya yang getir masih berdenyut di udara, lalu padam.)
(KGM terbangun dengan keringat dingin. Di keheningan malam, KGM memegang dadanya. Ia bertanya pada diri sendiri: Apakah selama ini aku beribadah karena cinta, atau karena kebiasaan, gengsi atau hanya ingin dipandang sebagai orang sholeh? Apakah hatiku bersih dari benci pada sesama, atau justru aku mencari kehormatan di atas kerendahan orang lain?)
(Pertanyaan itu tajam menggantung, lebih tajam dari pedang, dan saya tahu—jawabannya akan menentukan apakah saya akan menjadi seperti Fulan, atau menjadi seseorang yang di akhirat nanti hanya bisa tersenyum karena satu-satunya yang ia cari di dunia hanyalah Wajah-Nya.)
(eskpresionis dialog imajiner kgm/kolaborasi-asisten digital/juli-2026)
