Alkisah, tatkala negeri itu dipanggil tanah air,
hiduplah para tuan pemuka dan paduka
yang bersumpah di bawah kitab suci...
Maka berhamburanlah kata: amanah, jujur, adil dan makmur...
Namun hati tuan pemuka dan paduka bagai gudang bocor
Uang rakyat mengalir ke pundi-pundi sendiri.
Setiap butir beras yang kau rampas,
akan menjadi batu koral di lehermu
Setiap tetes keringat rakyat yang kau hisap,
akan menjadi sungai darah di depan pengadilan abadi
Setiap janji yang kau khianati,
akan menjadi godam penghancur peti kekuasaanmu.
Tuan,
kekuasaanmu seperti asap dupa
wangi sebentar, lalu hilang
Namamu boleh terukir di marmer,
Namun bagai debu yang berserakan
Singgasanamu bisa kau lapisi emas,
tapi cacing tanah tetap mengintai di bawahnya.
Tuan,
kau bukan Tuhan.
Kau hanya bayang yang diberi kursi.
Kau hanya suara yang diberi mikrofon.
Kau hanya jari yang diberi cincin.
Tapi jari itu bisa kering,
suara itu bisa parau,
kursi itu bisa luluh lantak.
Maka dengar, Tuan,
sebelum senja jatuh di singgasana
Kuasa adalah titipan,
bukan tubuh yang bisa kau peluk selamanya.
Bila kau khianati,
bumi akan bersaksi,
langit akan bersaksi,
dan rakyat
rakyat adalah suara yang tak bisa kau kubur.
Di hadapan Yang Maha Adil,
kau bukan raja.
Kau bukan penguasa.
Kau bukan pemilik.
Kau hanya jiwa telanjang
yang harus mempertanggungjawabkan
setiap luka yang kau tanam,
setiap doa yang kau abaikan,
setiap harapan yang kau tikam.
Dan kami,
rakyat yang kau sebut kecil,
terus berjalan
membawa luka sebagai pelajaran,
membawa harapan sebagai ibadah,
sampai keadilan menjadi nyanyian
semua makhluk di bawah langit.
Sebab di hadapan Tuhan,
tidak ada mahkota
Yang ada hanya amal
Tidak ada istana.
Yang ada hanya hati
Tidak ada kuasa
Yang ada hanya pertanggungjawaban.
Tuan,
dengar!
Ini jeritan dua ratus juta luka.
Ini doa dua ratus juta napas.
Ini bukan sajak.
Ini suara bumi
yang kerap kau anggap bisu.
Maka berhamburanlah kata: amanah, jujur, adil dan makmur...
Namun hati tuan pemuka dan paduka bagai gudang bocor
Uang rakyat mengalir ke pundi-pundi sendiri.
Setiap butir beras yang kau rampas,
akan menjadi batu koral di lehermu
Setiap tetes keringat rakyat yang kau hisap,
akan menjadi sungai darah di depan pengadilan abadi
Setiap janji yang kau khianati,
akan menjadi godam penghancur peti kekuasaanmu.
Tuan,
kekuasaanmu seperti asap dupa
wangi sebentar, lalu hilang
Namamu boleh terukir di marmer,
Namun bagai debu yang berserakan
Singgasanamu bisa kau lapisi emas,
tapi cacing tanah tetap mengintai di bawahnya.
Tuan,
kau bukan Tuhan.
Kau hanya bayang yang diberi kursi.
Kau hanya suara yang diberi mikrofon.
Kau hanya jari yang diberi cincin.
Tapi jari itu bisa kering,
suara itu bisa parau,
kursi itu bisa luluh lantak.
Maka dengar, Tuan,
sebelum senja jatuh di singgasana
Kuasa adalah titipan,
bukan tubuh yang bisa kau peluk selamanya.
Bila kau khianati,
bumi akan bersaksi,
langit akan bersaksi,
dan rakyat
rakyat adalah suara yang tak bisa kau kubur.
Di hadapan Yang Maha Adil,
kau bukan raja.
Kau bukan penguasa.
Kau bukan pemilik.
Kau hanya jiwa telanjang
yang harus mempertanggungjawabkan
setiap luka yang kau tanam,
setiap doa yang kau abaikan,
setiap harapan yang kau tikam.
Dan kami,
rakyat yang kau sebut kecil,
terus berjalan
membawa luka sebagai pelajaran,
membawa harapan sebagai ibadah,
sampai keadilan menjadi nyanyian
semua makhluk di bawah langit.
Sebab di hadapan Tuhan,
tidak ada mahkota
Yang ada hanya amal
Tidak ada istana.
Yang ada hanya hati
Tidak ada kuasa
Yang ada hanya pertanggungjawaban.
Tuan,
dengar!
Ini jeritan dua ratus juta luka.
Ini doa dua ratus juta napas.
Ini bukan sajak.
Ini suara bumi
yang kerap kau anggap bisu.
