Di ujung gang itu. Sebuah sekolah berdiri dengan atap yang bocor. Sejak tahun pertama republik ini merdeka. Ia bernama negeri. Tetapi tak seorang pun tahu siapa yang benar-benar memilikinya.
Anak-anak datang dengan seragam yang lusuh. Sepatu yang bergantian dipakai kakak-beradik. Dan mata yang menyala. Mata yang percaya bahwa di balik pintu kelas. Ada sesuatu yang tak bisa dirampok oleh siapa pun: Pengetahuan.
Konon, pendidikan itu gratis. Konon, negara menjaminnya. Konon, konstitusi telah menuliskannya dengan tinta emas. Tetapi tinta emas. Rupanya, tak pernah sampai ke desa ini. Yang sampai hanyalah brosur. Spanduk. Dan janji-janji yang bertebaran seperti daun kering di musim kemarau.
Gratis, kata mereka. Tetapi lihatlah. Uang pangkal, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang ini, uang itu. Semuanya berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu komando.
Konon, pendidikan itu gratis. Konon, negara menjaminnya. Konon, konstitusi telah menuliskannya dengan tinta emas. Tetapi tinta emas. Rupanya, tak pernah sampai ke desa ini. Yang sampai hanyalah brosur. Spanduk. Dan janji-janji yang bertebaran seperti daun kering di musim kemarau.
Gratis, kata mereka. Tetapi lihatlah. Uang pangkal, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang ini, uang itu. Semuanya berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu komando.
Orang tua di kampung ini menggarap sawah orang lain. Upahnya tak cukup untuk membeli sepatu. Apalagi membayar "sumbangan sukarela" yang nilainya lebih besar dari penghasilan sebulan.
Pendidikan gratis? Ia adalah hantu yang menakut-nakuti dompet orang miskin.
Seorang ibu pernah berkata kepadaku. Sambil menumbuk padi. "Kalau sekolah itu gratis. Kenapa anakku harus berhenti di kelas empat? Apa karena kami miskin. Jadi kami tak berhak tahu?" Ia tidak menangis.
Seorang ibu pernah berkata kepadaku. Sambil menumbuk padi. "Kalau sekolah itu gratis. Kenapa anakku harus berhenti di kelas empat? Apa karena kami miskin. Jadi kami tak berhak tahu?" Ia tidak menangis.
Matanya kering seperti sawah di musim kemarau panjang. Dan aku tak punya jawaban. Hanya ada rasa malu yang menjalar. Sebab aku tahu. Negara ini punya uang untuk membangun gedung-gedung megah. Punya uang untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Punya uang untuk segala hal yang tak pernah menyentuh dapur orang miskin.
Pendidikan gratis adalah wacana yang indah di atas kertas. Ia adalah puisi yang dibacakan di seminar-seminar. Dikutip dalam pidato kenegaraan. Ditulis dalam naskah akademik.
Pendidikan gratis adalah wacana yang indah di atas kertas. Ia adalah puisi yang dibacakan di seminar-seminar. Dikutip dalam pidato kenegaraan. Ditulis dalam naskah akademik.
Tetapi di lapangan. Ia adalah rakyat yang berjuang sendiri. Guru-guru honorer yang digaji sebesar uang rokok. Mengajar dengan sepenuh jiwa. Lalu pulang ke rumah untuk menghadapi tagihan listrik. Yang tak bisa dibayar dengan idealisme.
Kepala sekolah yang harus memutar otak mencari dana. Bukan untuk kesejahteraan. Tetapi agar sekolah tetap berdiri. Dan anak-anak. Anak-anak yang seharusnya menjadi masa depan. Terpaksa memilih: Sekolah atau makan?
Ada ironi yang menganga seperti luka. Negara ini kaya. Tanahnya subur. Lautnya luas. Tambangnya berlimpah. Tetapi kekayaan itu mengalir ke tempat yang salah. Ia menjadi gedung-gedung pencakar langit. Mobil-mobil mewah. Dan rekening-rekening di bank asing.
Ada ironi yang menganga seperti luka. Negara ini kaya. Tanahnya subur. Lautnya luas. Tambangnya berlimpah. Tetapi kekayaan itu mengalir ke tempat yang salah. Ia menjadi gedung-gedung pencakar langit. Mobil-mobil mewah. Dan rekening-rekening di bank asing.
Sementara itu. Di desa-desa. Di pinggiran kota. Di pelosok-pelosok yang tak tersentuh peta pembangunan. Anak-anak belajar di bawah langit yang retak. Dengan papan tulis yang sudah putih karena terlalu tua. Dan buku yang halamannya hilang dimakan zaman.
Pendidikan gratis bukanlah utopia. Negara-negara lain telah membuktikannya. Finlandia, Kuba, Jerman. Mereka tahu bahwa investasi terbaik adalah manusia. Mereka tak bertanya: "Apakah kita mampu?" Mereka bertanya, "Apakah kita mau?" Dan mereka mau. Mereka menganggap pendidikan sebagai hak. Bukan belas kasihan. Mereka menganggap anak-anak sebagai aset. Bukan beban.
Di negeri ini, kita terlalu sibuk bertanya: "Dari mana uangnya?" Padahal, uangnya ada. Korupsi merajalela. Anggaran bocor di mana-mana. Tapi ketika bicara pendidikan. Tiba-tiba kita menjadi pelit.
Pendidikan gratis bukanlah utopia. Negara-negara lain telah membuktikannya. Finlandia, Kuba, Jerman. Mereka tahu bahwa investasi terbaik adalah manusia. Mereka tak bertanya: "Apakah kita mampu?" Mereka bertanya, "Apakah kita mau?" Dan mereka mau. Mereka menganggap pendidikan sebagai hak. Bukan belas kasihan. Mereka menganggap anak-anak sebagai aset. Bukan beban.
Di negeri ini, kita terlalu sibuk bertanya: "Dari mana uangnya?" Padahal, uangnya ada. Korupsi merajalela. Anggaran bocor di mana-mana. Tapi ketika bicara pendidikan. Tiba-tiba kita menjadi pelit.
Ada uang untuk membangun monumen. Tapi tak ada uang untuk membangun sekolah. Ada uang untuk membeli alutsista. Tapi tak ada uang untuk membeli buku. Ada uang untuk segalanya. Kecuali untuk masa depan.
Maka pendidikan gratis tetap menjadi wacana. Ia menjadi dongeng yang diceritakan dari generasi ke generasi. Seperti mitos tentang keadilan yang tak pernah datang.
Maka pendidikan gratis tetap menjadi wacana. Ia menjadi dongeng yang diceritakan dari generasi ke generasi. Seperti mitos tentang keadilan yang tak pernah datang.
Sementara itu, di ujung gang. Sekolah itu masih berdiri. Atapnya masih bocor. Anak-anaknya masih datang. Dan mereka masih percaya. Karena itulah satu-satunya yang mereka punya.
Tetapi sampai kapan? Sampai kapan kita membiarkan mereka belajar di bawah langit yang retak? Sampai kapan kita menutup mata pada kenyataan. Bahwa pendidikan gratis hanyalah ilusi bagi mereka yang tak punya suara?
Jika negara ini benar-benar merdeka. Maka merdekanya harus dimulai dari ruang kelas. Bukan dari pidato. Bukan dari spanduk. Tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa pendidikan adalah hak. Bukan kemewahan. Dan bahwa selama satu anak saja masih berhenti sekolah karena miskin. Selama itu pula republik ini belum sepenuhnya merdeka.
Langit masih retak. Tetapi selama masih ada yang mau menambalnya. Harapan itu belum mati.
Tetapi sampai kapan? Sampai kapan kita membiarkan mereka belajar di bawah langit yang retak? Sampai kapan kita menutup mata pada kenyataan. Bahwa pendidikan gratis hanyalah ilusi bagi mereka yang tak punya suara?
Jika negara ini benar-benar merdeka. Maka merdekanya harus dimulai dari ruang kelas. Bukan dari pidato. Bukan dari spanduk. Tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa pendidikan adalah hak. Bukan kemewahan. Dan bahwa selama satu anak saja masih berhenti sekolah karena miskin. Selama itu pula republik ini belum sepenuhnya merdeka.
Langit masih retak. Tetapi selama masih ada yang mau menambalnya. Harapan itu belum mati.
Jangan jadikan pendidikan gratis terus-terusan menjadi wacana dan slogan politis. Kalau pada kenyataannya "an-sich nonsens". Hanya omong kosong belaka...!!
