Narasi Pembuka: Setelah jiwa disucikan dan akhlak diperbaiki. Tasawuf mengantar sang salik menuju puncak perjalanan yang paling agung: taqarrub ilallah. Mendekatkan diri kepada Allah. Inilah tujuan ketiga. Yang menjadi inti dari seluruh laku tasawuf. Muara dari segala mujahadah. Dan puncak dari segala kerinduan. Sebab, penyucian jiwa melalui taubatan nasuha hanyalah pintu. Dan akhlak mulia hanyalah jembatan. Keduanya mengantar pada satu tujuan hakiki. Kedekatan dengan Sang Pencipta. Yang selama ini dirindukan oleh setiap jiwa yang fitrah.
Lebih Dekat dari Urat Leher
Namun, apa makna sebenarnya dari "mendekatkan diri kepada Allah"? Bukankah Allah Mahadekat? Lebih dekat dari urat leher kita sendiri?
Salah satu konsep paling indah dalam tasawuf tentang kedekatan ini adalah ma'rifah. Pengenalan yang mendalam terhadap Allah. Ma'rifah bukan sekadar pengetahuan teologis bahwa Allah itu Ada. Maha Kuasa. Dan Maha Pengasih.
Al-Qur'an menegaskan dalam Surah Qaf ayat 16: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Jika Allah sudah begitu dekat, mengapa masih ada perjalanan yang disebut taqarrub? Jawabannya terletak pada hijab. Tabir yang menutupi hati manusia. Sehingga meskipun Allah dekat. Manusia merasa jauh.
Tasawuf adalah seni merobek hijab itu. Membersihkan kaca hati agar cahaya Ilahi terpantul sempurna. Dan menyadarkan manusia bahwa jarak yang ia rasakan hanyalah ilusi yang diciptakan oleh egonya sendiri.
Para sufi mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan fisik. Melainkan perjalanan batin. Ia bukan tentang berpindah tempat. Melainkan tentang berpindah keadaan.
Para sufi mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan fisik. Melainkan perjalanan batin. Ia bukan tentang berpindah tempat. Melainkan tentang berpindah keadaan.
Ada tiga tahap yang biasanya dilalui. Taakhul (berakhlak dengan akhlak Allah). Tahaqquq (merealisasikan sifat-sifat Allah dalam diri). Dan tadalla (menikmati kedekatan dengan-Nya).
Semakin seseorang menapaki tahap-tahap ini. Semakin ia merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyut nadi. Dalam setiap helaan napas. Dalam setiap keputusan yang ia ambil.
Keindahan Ma'rifah
Keindahan Ma'rifah
Salah satu konsep paling indah dalam tasawuf tentang kedekatan ini adalah ma'rifah. Pengenalan yang mendalam terhadap Allah. Ma'rifah bukan sekadar pengetahuan teologis bahwa Allah itu Ada. Maha Kuasa. Dan Maha Pengasih.
Ma'rifah adalah pengenalan yang menembus dinding kata. Yang membuat hati bergetar ketika nama Allah disebut. Yang membuat mata menangis tanpa sebab. Yang membuat seseorang merasa hina di hadapan Keagungan-Nya. Namun sekaligus merasa dicintai oleh Kasih-Nya.
Imam Al-Ghazali menyebut ma'rifah sebagai cahaya yang Allah tanamkan dalam hati seorang hamba. Sehingga ia melihat segala sesuatu dengan mata batin yang jernih.
Dzikir Latihan Menghadirkan Allah
Dalam perjalanan ini, dzikir menjadi kendaraan utama. Dzikir bukan sekadar ritual. Melainkan latihan menghadirkan Allah dalam setiap keadaan. Ketika dzikir telah meresap. Seseorang akan merasakan bahwa tidak ada tempat yang sunyi dari Allah. Tidak ada waktu yang kosong dari-Nya.
Dzikir Latihan Menghadirkan Allah
Dalam perjalanan ini, dzikir menjadi kendaraan utama. Dzikir bukan sekadar ritual. Melainkan latihan menghadirkan Allah dalam setiap keadaan. Ketika dzikir telah meresap. Seseorang akan merasakan bahwa tidak ada tempat yang sunyi dari Allah. Tidak ada waktu yang kosong dari-Nya.
Ia akan mulai melihat jejak-jejak Allah di setiap sudut kehidupan. Dalam indahnya senja. Dalam lembutnya angin pagi. Dalam senyum seorang anak. Dalam tangis seorang ibu.
Dunia bukan lagi tabir yang menutupi. Melainkan cermin yang memantulkan. Inilah yang disebut musyahadah. Menyaksikan kehadiran Allah di balik segala sesuatu.
Berbagai Bentuk Kedekatan dengan Allah
Para sufi besar mengalami kedekatan ini dalam berbagai bentuk. Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Mencapai puncak kedekatan yang disebut qaba qausain au adna. Jarak dua busur panah atau lebih dekat lagi.
Berbagai Bentuk Kedekatan dengan Allah
Para sufi besar mengalami kedekatan ini dalam berbagai bentuk. Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Mencapai puncak kedekatan yang disebut qaba qausain au adna. Jarak dua busur panah atau lebih dekat lagi.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib menggambarkan hatinya tidak pernah menyembah kepada selain Allah.
Jalaluddin Rumi melukiskan cintanya kepada Allah sebagai api yang membakar seluruh keakuan. Hingga yang tersisa hanyalah Ana al-Haqq. Yang bukan berarti klaim ketuhanan. Melainkan peleburan diri dalam lautan Ketuhanan.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah bukanlah tentang seberapa banyak ibadah. Melainkan tentang seberapa besar hati telah kosong dari selain-Nya.
Beberapa Ujian harus Dilewati
Namun, perjalanan menuju kedekatan ini tidaklah mudah. Ada ujian-ujian yang harus dilewati. Ujian kesabaran ketika doa belum dijawab. Ujian ketawakalan ketika jalan terasa gelap. Ujian kerendahan hati ketika ilmu semakin bertambah namun amal terasa kurang.
Beberapa Ujian harus Dilewati
Namun, perjalanan menuju kedekatan ini tidaklah mudah. Ada ujian-ujian yang harus dilewati. Ujian kesabaran ketika doa belum dijawab. Ujian ketawakalan ketika jalan terasa gelap. Ujian kerendahan hati ketika ilmu semakin bertambah namun amal terasa kurang.
Semua itu adalah tempaan yang mengikis ego dan mendekatkan hati kepada Allah. Seperti kata pepatah sufi, "Tidak ada yang lebih jauh dari Allah selain hatimu yang engkau isi dengan selain-Nya."
Di tengah dunia yang semakin gemar mengukur segala sesuatu dengan angka dan prestasi. Tasawuf mengingatkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak bisa diukur dengan jumlah rakaat atau panjangnya dzikir. Ia adalah keadaan hati yang hanya diketahui oleh Allah dan dirasakan oleh hamba-Nya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin gemar mengukur segala sesuatu dengan angka dan prestasi. Tasawuf mengingatkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak bisa diukur dengan jumlah rakaat atau panjangnya dzikir. Ia adalah keadaan hati yang hanya diketahui oleh Allah dan dirasakan oleh hamba-Nya sendiri.
Seseorang bisa saja shalat lima waktu dengan rapi. Tetapi hatinya jauh dari Allah. Sebaliknya, seseorang yang hanya berdzikir singkat namun dengan sepenuh hati. Bisa merasakan kedekatan yang lebih dalam daripada ibadah yang dilakukan dengan pikiran melayang.
Allah tidak pernah Pergi
Pada akhirnya, mendekatkan diri kepada Allah adalah kerinduan terdalam setiap manusia. Bahkan mereka yang belum menyadarinya. Tasawuf memberikan peta. Kendaraan. Dan bekal untuk perjalanan itu.
Allah tidak pernah Pergi
Pada akhirnya, mendekatkan diri kepada Allah adalah kerinduan terdalam setiap manusia. Bahkan mereka yang belum menyadarinya. Tasawuf memberikan peta. Kendaraan. Dan bekal untuk perjalanan itu.
Ia mengajarkan bahwa Allah tidak pernah pergi. Dan yang perlu kita lakukan hanyalah berpaling. Dari kesibukan menuju kesyukuran. Dari keluhan menuju kebersamaan. Dari kegelapan menuju cahaya.
Sebab, sebagaimana sabda Nabi dalam hadis qudsi, "Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari."
Wallahu a'lam bish-shawab.
(Ikuti dan nantikan Serial Tasawuf-9)
