Jumat, 16 Oktober 2026

Serial Tasawuf-23 Syeikh Abdul Qodir Al Jailani: "Takhalliy-1, Syirik Lahir dan Syirik Batin"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Leaderline: Di serambi ribat yang lengang. Ketika fajar belum sepenuhnya membuka tabirnya. Seorang salik duduk bersimpuh di hadapan mursyidnya. Lampu minyak berkedip-kedip. Seakan turut berzikir dalam diam. Angin dari padang membawa bau tanah basah. Sementara burung-burung malam belum juga pulang ke sarangnya. Syekh Abdul Qadir al-Jailani duduk di atas sajadah tua yang warnanya telah pudar dimakan usia. memegang tasbih kayu yang butirannya mengkilap karena sering diusap.

Takhalliy, Pembersih Jiwa

"Hai anakku," ujar beliau sambil menatap wajah salik yang masih basah oleh air wudu. "Ketahuilah bahwa perjalanan pertama dalam takhalliy adalah membersihkan dirimu dari syirik. 

Tetapi syirik itu tidak satu. Ia ada dua: Syirik lahir dan syirik batin. Yang lahir tampak di permukaan. Yang batin bersembunyi di lipatan hati."

Salik mengangguk perlahan. Namun matanya menyiratkan kebingungan. "Tetapi Guru," katanya. "Aku sudah bersyahadat. Aku sudah shalat lima waktu. Aku sudah berpuasa. Apakah aku masih tersentuh syirik?"

Mursyid tersenyum tipis. "Syirik lahir tidak selalu berupa menyembah berhala batu. Ia bisa menjelma dalam keyakinan bahwa selain Allah ada yang mampu memberi manfaat atau mendatangkan mudarat dengan sendirinya, tanpa izin Allah. 

Ketahuilah, ketika engkau menggantungkan sembuhmu pada tabib atau dokter semata. Tanpa menembus pandang pada Yang Maha Menyembuhkan. Di situ syirik lahir menyelinap. Ketika engkau percaya bahwa rezekimu datang dari majikanmu. Bukan dari Allah yang menggerakkan hati majikanmu. Di situ syirik lahir mengetuk pintu."

Salik menunduk. Peluh dingin mulai menetes di pelipisnya.

"Ketahuilah, wahai salik." Lanjut Mursyid sambil mencoret pasir dengan tongkatnya. "Bahwa Allah itu Lā syarīka lahū. Tiada sekutu bagi-Nya. Maka barangsiapa yang memandang ada kuasa lain yang bekerja mandiri. Sungguh ia telah menodai tauhidnya. Ibrahim 'alaihissalam telah menghancurkan berhala-berhala  yang dibuat bapaknya. Engkau pun mesti menghancurkan berhala-berhala di dalam dadamu."

"Bagaimana caranya, Guru?"

"Pertama, ketahuilah bahwa setiap sebab yang engkau saksikan di alam ini hanyalah hijāb, tabir. Di balik tabir itu Allah-lah yang bertindak. 

Kedua, janganlah engkau memuji manusia secara berlebihan atas karunia yang Allah berikan melalui tangannyas. Sebab pujian yang berlebihan itu menempatkan manusia pada kedudukan yang bukan haknya. 

Ketiga, sucikan niatmu: bila engkau beribadah agar dipuji manusia. Maka engkau telah jatuh ke dalam syirik yang lebih halus daripada syirik lahir."

Salik mengangkat tangannya. Lalu berdoa dalam hati. Mursyid melanjutkan, "Syirik lahir itu ibarat karat yang menempel pada cermin. Selama karat itu ada. Wajahmu tak akan tampak di dalamnya. Maka bersihkanlah. Agar cermin hatimu memantulkan wajah Allah. Bukan wajah selain-Nya."

"Adakah tanda-tanda bahwa syirik lahir telah hilang dari diriku, Guru?"

"Tandanya ada tiga. Pertama, engkau tak lagi takut kepada makhluk melebihi takutmu kepada Allah. 

Kedua, engkau tak lagi berharap kepada makhluk melebihi harapanmu kepada Allah. 

Ketiga, engkau memandang seluruh alam ini sebagai fa'il yang digerakkan. Bukan sebagai fa'il yang menggerakkan. Bila ketiga tanda itu telah tampak. Maka pintu pertama takhalliy telah engkau buka."

Malam semakin larut. Lampu minyak hampir habis. Salik bangkit, mencium tangan gurunyaa. Laalu berjalan ke mihrab untuk bersujud. Di dalam sujudnya. Ia berbisik. "Ya Allah, bersihkanlah daku dari syirik lahir. Yang tampak maupun yang tersembunyi."

Namun belum sempat ia mengangkat kepala. Mursyid berkata lembut. "Jangan bergegas, anakku. Engkau baru membersihkan kulit. Masih ada isi yang lebih dalam: Syirik batin."

Salik duduk kembali. Dadanya berdebar.

"Syirik batin itu," lanjut Mursyid, "adalah menyekutukan Allah dalam sifat dan dzat-Nya. Ia adalah keyakinan tersembunyi di dalam hati bahwa ada kekuatan selain Allah yang berkuasa secara hakiki. Ia bisa berbentuk kesombongan rohani. Merasa bahwa amal ibadahmu adalah hasil usahamu sendiri. Bukan karunia Allah."

"Bukankah aku memang berusaha, Guru?"

"Engkau berusaha, benar. Tetapi siapa yang menciptakan kehendakmu untuk berusaha? Siapa yang memberi kekuatan pada otot-ototmu untuk bergerak? Siapa yang mengilhamkan pada hatimu untuk rindu kepada-Nya? 

Bila engkau memandang bahwa usaha itu berasal dari dirimu secara mandiri. Maka di situ engkau telah menyekutukan Allah dengan dirimu sendiri."

Salik terdiam. Ia teringat malam-malam ia bangun untuk tahajud. Dan diam-diam ia merasa bangga pada kesungguhannya.

"Syirik batin juga bisa berbentuk riya'. Beribadah agar dilihat manusia. Atau sum'ah, Beribadah agar didengar manusia. Atau 'ujub. Kagum pada diri sendiri. Atau hasad, Dengki pada karunia yang Allah berikan pada saudaramu. Semua itu adalah bentuk-bentuk syirik yang tersembunyi di lipatan hati."

"Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa syirik batin ada di dalam diriku, Guru?"

Mursyid tersenyum. "Ketahuilah, syirik batin itu seperti bau harum yang tersembunyi di dalam kain. Engkau tak bisa melihatnya. Tapi engkau bisa mencium baunya. 

Tandanya adalah. Engkau merasa senang bila amalmu dipuji Dan engkau merasa malas bila amalmu tidak dilihat orang. Engkau merasa tinggi di hadapan orang lain karena ilmu atau ibadahmu. Engkau merasa bahwa keselamatanmu terjamin karena amal-amalmu sendiri. Bukan karena rahmat Allah."

Salik mengakui bahwa ia sering merasa demikian.

"Wahai salik, ketahuilah bahwa syirik batin itu lebih berbahaya daripada syirik lahir. Sebab syirik lahir nampak di permukaan. Dan engkau bisa segera bertaubat. Adapun syirik batin tersembunyi di lubuk yang paling dalam, Engkau hanya bisa membersihkannya dengan murāqabah. Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasimu."

"Bagaimana caranya, Guru?"

"Biasakanlah dirimu untuk selalu merasa diawasi Allah. Bila engkau beribadah. Jangan pedulikan pandangan manusia. Bila engkau berbuat baik. Sembunyikanlah sebaik mungkin. Bila engkau dipuji. Ingatlah bahwa engkau hanya alat. Dan segala pujian hanya pantas bagi Allah. Bila engkau dicela. Bersyukurlah. Sebab celaan itu menghapus syirik batin dari hatimu."

Mursyid bangkit. Mengambil air dari kendi. Lalu menuangkannya ke telapak tangan salik. "Air ini," katanya, "seperti syirik batin. Ia bisa bersembunyi di sela-sela jari. Bila engkau tidak membukanya. Ia akan tetap tinggal. Maka bukalah hatimu lebar-lebar. Agar Allah membersihkannya dengan air taubat dan istigfar."

Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia beribadah bukan semata-mata untuk Allah, tetapi untuk dirinya sendiri, Untuk kepuasan rohaninya. Untuk ketenangan jiwanya. Dan itu, kata Mursyid, adalah bentuk halus dari syirik batin.

"Hai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa tauhid itu bukan hanya mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan lisan, tetapi menegaskannya dengan hati yang bersih dari segala sesuatu selain Allah. 

Bila engkau telah sampai pada keadaan itu. Maka engkau telah lolos dari syirik lahir dan syirik batin. Dan engkau telah memasuki pintu pertama dari takhalliy."

Salik menunduk, lalu berdoa dalam hati. Ia memohon agar Allah menyucikan hatinya dari syirik yang paling tersembunyi. Dari yang ia sendiri tak menyadarinya.

Matahari pun terbit. Menembus celah-celah jendela ribat. Cahayanya jatuh pada cermin tua di dinding. Dan salik melihat wajahnya sendiri di sana. Bukan wajah yang penuh karat. Melainkan wajah yang mulai jernih. Meski belum sepenuhnya bersih.

Ia tahu, perjalanan masih panjang. Tetapi ia juga tahu. Bahwa malam itu ia telah melewati satu pintu dari seribu pintu menuju Allah.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Takhalliy-2, 

Kamis, 15 Oktober 2026

Sunah yang Terangkat: "Ketika Tangan Menjadi Lidah bagi Jiwa"


Leaderline: Ada sebuah isyarat yang sering luput dari mata yang terburu-buru. Ia bukan gerakan besar yang mengguncang panggung. Melainkan gestur sunyi yang lahir dari kedalaman batin. Ia adalah saat seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit. Menengadahkan telapak yang kosong kepada Yang Maha Kaya. Seolah jemari-jemari itu adalah lidah yang tak mampu berkata. Namun justru paling fasih dalam menyampaikan rintihan jiwa. Inilah sunah yang agung. Sebuah adab dalam berdoa yang telah lama dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menjadi warisan ruhani bagi setiap mukmin yang merindukan kedekatan dengan Tuhannya.

Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar

Mengangkat tangan ketika berdoa bukanlah sekadar tradisi tanpa dasar. Melainkan ibadah yang memiliki pijakan yang kokoh dalam sumber-sumber otoritatif Islam.

Para ulama telah menegaskan bahwa perbuatan ini termasuk sunah yang dianjurkan. Bahkan menjadi salah satu adab utama agar doa dikabulkan. 

Imam al-Nawawi rahimahullah secara tegas menyatakan bahwa menghadap kiblat. Dan mengangkat kedua tangan semasa berdoa adalah mustahab. Yakni sesuatu yang disunahkan. 

Bahkan Imam al-Bukhari rahimahullah. Dengan kecerdasan fikihnya yang tajam. Mengabadikan anjuran ini sebagai bab tersendiri dalam kitab sahihnya yang monumental. Dengan judul Bāb Raf‘il-Aidī fid-Du‘ā’. Bab Mengangkat Kedua Tangan Semasa Berdoa. Ini bukan bab yang dibuat tanpa dasar. Melainkan kesaksian seorang ahli hadis terbesar bahwa praktik ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari sunah Nabi.

Dalil yang Melimpah

Dalil-dalil tentang sunah ini begitu melimpah. Seolah langit sendiri menjadi saksi atas setiap tetes pengharapan yang dipanjatkan. 

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika meminta air. Berwudu dengannya. Lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abi ‘Amir,” sehingga terlihatlah putih ketiak beliau. 

Dalam lanjutan doanya. Beliau memohon: “Ya Allah, jadikanlah dia di hari Kiamat antara orang yang terbaik daripada kalangan manusia”. 

Gambaran fisik ini. Terlihatnya bagian putih ketiak. Bukanlah detail yang sia-sia. Ia adalah potret keintiman seorang hamba yang begitu tenggelam dalam munajat. Hingga tubuhnya sendiri menjadi saksi atas kesungguhan doanya. 

Begitu pula riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat putih dua ketiak beliau. Hadis-hadis ini bukan sekadar catatan sejarah. Melainkan cermin yang memantulkan betapa seriusnya Nabi dalam memohon kepada Allah.

Namun, yang paling menukik ke dalam relung hati adalah hadis yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kamu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia. 

Dia malu kepada hamba-Nya sekiranya hamba-Nya itu mengangkat kedua tangan kepada-Nya. Lalu Dia membiarkannya pulang dengan tangan kosong”. 

Betapa agungnya janji ini. Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Menyatakan rasa malu untuk menolak hamba yang datang dengan tangan menengadah. Ini adalah jaminan yang membuat jiwa bergetar. Setiap tetes keringat di dahi. Setiap gemetar di bibir. Dan setiap jengkal tangan yang diangkat bukanlah usaha yang sia-sia. Langit tidak pernah diam terhadap tangan yang terbuka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan tuntunan praktis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila engkau memohon kepada Allah. Maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu. Dan jangan dengan bagian luarnya. 

Dan ketika kamu telah usai. Maka usaplah mukamu dengan keduanya”. Di sini, sunah mengangkat tangan bukan hanya soal posisi. Tetapi juga soal makna. Telapak tangan yang menghadap ke langit adalah isyarat kerendahan hati. Pengakuan bahwa segala sesuatu hanya bisa datang dari atas. Dari Dzat Yang Maha Tinggi. Ia adalah bahasa tubuh dari jiwa yang fakir. Yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali dari Sang Pemberi.

Para ulama kemudian merinci adab ini dengan penuh kasih sayang. Dalam kitab I‘ānatut-Thālibīn, disebutkan bahwa disunahkan mengangkat kedua tangan yang suci setinggi kedua bahu. Dan menyapu muka dengannya setelah berdoa. 

Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy menambahkan dengan bijak: “Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu. Kecuali apabila keadaan sudah amat kritis. Maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu”. 

Ini menunjukkan bahwa sunah ini bukan aturan yang kaku. Melainkan fleksibel mengikuti desakan keadaan. Ketika musibah datang menerjang. Ketika paceklik melanda. Ketika air mata tak lagi bisa dibendung. Tangan boleh diangkat lebih tinggi lagi. Sebagai ungkapan bahwa tiada lagi tempat berlindung selain Allah.

Mengingkari Sunah

Alangkah ironisnya. Di zaman yang serba canggih ini. Masih ada yang meragukan sunah yang begitu jelas. Mereka mempertanyakan keabsahannya. Seolah hadis-hadis sahih yang tak terhitung jumlahnya tidak cukup menjadi bukti. 

Padahal, Syaikh Muhammad bin Allan al-Siddiqi al-Syafi‘i dalam kitab al-Futūḥātur-Rabbāniyyah telah mengingatkan: “Telah ada hadis-hadis yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdoa. Barang siapa menganggap itu tidak ada. Maka ia telah keliru”. 

Keraguan seperti ini bukanlah hal baru. Ia telah disinggung oleh para ulama terdahulu sebagai penyakit yang lahir dari kelalaian terhadap warisan sunah.

Maka, ketika tangan diangkat dalam doa. Ia bukan sekadar gerakan mekanis. Ia adalah pernyataan tauhid bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan. Ia adalah pengakuan bahwa kita adalah pengemis di hadapan-Nya. Yang menengadahkan tangan bukan karena kita punya sesuatu untuk ditawarkan. Tetapi justru karena kita tidak punya apa-apa. 

Dan Allah, dengan sifat Maha Pemalu dan Maha Mulia. Berjanji untuk tidak membiarkan tangan itu kembali dalam keadaan kosong. Inilah sunah yang menukik. 

Sebuah janji dari Yang Maha Tinggi kepada hamba yang merendah. Bahwa langit akan selalu menjawab siapa saja yang berani mengangkat tangannya.

Keengganan mengangkat tangan saat berdoa. Adalah penyakit lahir dari kelalaian terhadap warisan sunah. Itu sama artinya dengan mengingkari sunah. Nah, masih meragukan?

Serial Tasawuf-22 al-Jailani: "Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Cermin Hati dari Debu Dunia"


Leaderline: Tahun 545 Hijriah. Usia Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menginjak senja. Jenggotnya memutih. Punggungnya mulai membungkuk. Tetapi matanya. Oh, matanya. Masih menyimpan cahaya yang membuat siapa pun yang memandangnya. Merasa sedang berdiri di hadapan lautan yang tak bertepi. Malam itu. Di madrasahnya di Babul Azaj, Baghdad. Beliau duduk di atas sajadah yang telah menemaninya lebih dari empat puluh tahun. Di hadapannya. Ratusan murid duduk bersila. Menunggu dengan hati yang berdebar.


Cermin yang Tertutup Debu

Seorang murid muda bernama Salman mengangkat tangan. "Wahai Syekh, aku telah menaiki tujuh maqam yang engkau ajarkan. Aku telah bertaubat, aku telah berzuhud, aku telah bertawakal. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Ada kotoran yang tidak bisa aku bersihkan. Ada noda yang tidak bisa aku hapus. Apa yang harus aku lakukan?"

Al-Jailani tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah berabad-abad. "Duduklah, anakku," ujarnya. Dengan suara yang dalam. Seperti gemuruh sungai di kejauhan. "Malam ini, aku akan bercerita tentang cermin yang tertutup debu."

Kisah Cermin di Dalam Rumah

"Ada seorang lelaki yang memiliki cermin antik warisan dari kakeknya. Cermin itu indah. Berbingkai emas. Konon katanya. Siapa pun yang melihat ke dalamnya. Akan melihat wajah sejatinya. Bukan wajah fisik. Melainkan wajah jiwanya."

"Lelaki itu menggantung cermin itu di dinding kamarnya. Setiap pagi, ia melihat ke dalamnya. Tetapi ia tidak melihat apa-apa. Hanya kabut. Hanya kegelapan. Hanya debu."

"Ia bertanya kepada ibunya: 'Ibu, mengapa aku tidak bisa melihat wajahku di cermin ini?'"

"Ibunya menjawab: 'Karena cermin itu tertutup debu, anakku. Engkau harus membersihkannya.'"

"Lelaki itu mengambil kain dan mengelap cermin itu. Tetapi debunya terlalu tebal. Ia mengelap lebih keras. Tetapi debunya sudah mengeras. Seperti kerak yang menempel bertahun-tahun. Ia mencoba air. Tetapi air tidak cukup. Ia mencoba sabun. Tetapi sabun tidak cukup. Ia mencoba segala cara. Tetapi cermin itu tetap gelap."

"Akhirnya, ia duduk di depan cermin itu dan menangis. 'Aku tidak bisa membersihkannya,' katanya. 'Aku tidak bisa melihat wajahku.'"

"Seorang bijak datang kepadanya dan berkata: 'Engkau tidak bisa membersihkan cermin itu sendiri. Engkau butuh seorang guru. Seorang yang telah membersihkan cerminnya sendiri. Dan yang tahu bagaimana membersihkan cerminmu.'"

Al-Jailani memandang Salman. "Hati adalah cermin. Dosa adalah debu. Dan engkau. Engkau tidak bisa membersihkan cermin hatimu sendiri. Engkau butuh tazkiyatun nafs. Penyucian jiwa. Dan engkau butuh seorang mursyid yang telah membersihkan cerminnya sendiri."

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Jiwa dari Akhlak Tercela

Al-Jailani kemudian menjelaskan hakikat tazkiyatun nafs. Menurut beliau, tazkiyatun nafs adalah ajaran yang berorientasi pada pembentukan sifat terpuji. Dan pembersihan diri dari sifat yang tercela. 

Semakin tinggi sifat terpuji manusia. Semakin menambah kesucian jiwanya. Beliau menegaskan bahwa tujuan dari penyucian jiwa adalah untuk mencapai kedudukan makrifat. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan untuk mencapai itu, seorang hamba harus melewati proses mujahadah. Perjuangan melawan hawa nafsu. Buah dari mujahadah adalah makrifat.

Tazkiyatun nafs dalam pandangan al-Jailani bukanlah sekadar teori. Melainkan ajaran praktis yang menekankan pada peningkatan amal di dunia yang berorientasi pada akhirat. Proses penjernihan hati melalui tazkiyatun nafs menjadi bagian yang mutlak untuk dilalui oleh seorang hamba.

"Ketahuilah, anak-anakku," ujar al-Jailani, "bahwa hati manusia itu seperti cermin yang sudah dipoles. Jika engkau biarkan debu menempel di atasnya. Ia akan kehilangan kilaunya. Jika engkau biarkan kotoran mengeras di permukaannya. Ia tidak akan lagi memantulkan cahaya. Tetapi jika engkau membersihkannya setiap hari. Ia akan menjadi cermin yang jernih. Engkau akan melihat wajah sejatimu di dalamnya."

Takhalliy, Tahalliy, Tajalliy: Tiga Tahap Penyucian

Al-Jailani kemudian membuka pintu yang lebih dalam. Beliau menjelaskan bahwa penyucian jiwa memiliki tiga tahap yang harus dilalui seorang salik: takhalliy, tahalliy, dan tajalliy.

Takhalliy adalah tahap pertama. Membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Ini adalah tahap yang paling berat. Karena manusia cenderung mencintai sifat-sifat buruknya. 

Al-Jailani menyebutkan bahwa dalam kitab Fathur Rabbani. Takhalliy terdiri dari delapan komponen: Syirik lahir dan syirik batin, cinta dunia, sombong, ujub, munafik, dusta, bakhil, dan zalim. Sifat-sifat ini adalah akhlak tercela yang harus dihindari oleh setiap pencari kebenaran.

Tahalliy adalah tahap kedua. Menghiasi diri dengan akhlak mulia. Setelah cermin dibersihkan. Ia harus dihiasi. 

Al-Jailani menyebutkan tiga belas macam akhlak mulia dalam Fathur Rabbani: taubat, wara', qana'ah, ridha, zuhud, tawakal, ikhlas, sabar, syukur, jujur, takwa, uzlah, dan khalwat.

Tajalliy adalah tahap ketiga. Merasakan pancaran cahaya Ilahi dalam kehidupan. Ini adalah buah dari takhalliy dan tahalliy. Ketika cermin hati telah dibersihkan dan dihiasi. Ia akan memantulkan cahaya Allah. Al-Jailani menyebutkan empat maqam dalam tahap ini: makrifat, 'arif billah, wali qutb, dan sufi.

"Takhalliy adalah kematian," ujar al-Jailani. "Tahalliy adalah kehidupan baru. Dan tajalliy adalah cahaya yang menerangi kehidupan baru itu."

Delapan Pilar Tasawuf

Al-Jailani kemudian mengungkapkan bahwa tasawuf dibangun di atas delapan pilar, masing-masing meneladani seorang nabi.

Pertama, dermawan. Meneladani Nabi Ibrahim AS. Beliau tidak pernah makan sendiri. Selalu mencari orang untuk diajak makan bersama. 

Kedua, ridha. Meneladani Nabi Ishaq AS. Ridha berarti menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang. 

Ketiga, sabar. Meneladani Nabi Ayyub AS. Beliau diuji sakit bertahun-tahun, kehilangan anak-anak. Harta. Tetapi tetap sabar dan tegar.

Keempat, isyarah (petunjuk batin). Meneladani Nabi Zakaria AS. Beliau diberi tanda oleh Allah untuk tetap beribadah meski dalam keterbatasan. 

Kelima, sederhana dalam berpakaian. Meneladani Nabi Musa AS. 

Keenam, keterasingan batin dari dunia. Meneladani Nabi Yahya AS. 

Ketujuh, mengembara. Meneladani Nabi Isa AS. 

Dan kedelapan, miskin dalam beragama. Meneladani Nabi Muhammad SAW. Yang sangat membutuhkan Allah dalam segala kehidupannya.

"Setiap nabi adalah cermin," ujar al-Jailani. "Engkau tidak bisa melihat wajahmu sendiri. Tetapi engkau bisa melihat wajah mereka. Dan ketika engkau melihat wajah mereka. Engkau akan melihat apa yang Allah ingin engkau menjadi."

Menuju Cermin yang Bersih

Malam semakin larut. Lampu-lampu minyak di madrasah mulai meredup. Tetapi mata para murid justru semakin bercahaya. Al-Jailani bangkit dari duduknya. Membetulkan serbannya. Berkata dengan suara yang menggema di seluruh ruangan:

"Anak-anakku. Tazkiyatun nafs bukanlah tujuan. Melainkan jalan. Ia bukanlah akhir. Melainkan awal. Ketika engkau telah membersihkan cermin hatimu. Engkau tidak berhenti. Engkau terus membersihkannya. Setiap hari. Setiap saat. Karena debu dunia tidak pernah berhenti menempel. Dan syaitan tidak pernah berhenti menggoda. "

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa membersihkan cermin hatimu sendiri. Engkau butuh Allah. Engkau butuh seorang mursyid yang telah membersihkan cerminnya sendiri. Maka carilah guru yang hatinya bersih. Dan bersihkanlah hatimu di hadapannya. "

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Salman menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. Ia kini mengerti. Kotoran yang mengganjal di hatinya bukanlah sesuatu yang bisa ia bersihkan sendiri. Ia butuh Allah. Ia butuh mursyid. Ia butuh tazkiyatun nafs.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang penyucian jiwa. Tetapi dengan tekad baru untuk membersihkan cermin hati mereka. Satu debu demi satu debu. Hingga mereka bisa melihat wajah sejati mereka. Wajah yang telah lama hilang. Wajah yang rindu untuk kembali kepada Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Tasawuf-23 al-Jailani, "Takhalliy, Membersihkan diri dari sifat tercela

Rabu, 14 Oktober 2026

Sikap FPP TNI Menyoal Kasus Gibran: Pengawal Konstitusi atau Bayang-Bayang Kekuasaan?



(Secangkir Anggur Merah, Edisi-61)

Spotlight: Forum Purnawirawan Prajurit (FPP) TNI tiba-tiba menjelma menjadi oposisi paling vokal di republik ini. Di tengah sikap dingin para elite politik yang memilih berlindung di balik tembok prosedur. Sekelompok jenderal dan perwira purnawirawan ini justru mengambil posisi yang jarang ditemui: Menuntut pertanggungjawaban konstitusional atas pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tidak pernah terbukti memiliki ijazah setara SMA. Namun, sikap FPP TNI ini tidak lahir di ruang hampa. Ia adalah produk dari kekecewaan yang menahun terhadap pembiaran elite. Sekaligus ujian bagi batas antara kenegarawanan dan politik kekuasaan.

Siapa Sebenarnya FPP TNI?

FPP TNI adalah forum yang beranggotakan purnawirawan. Bukan institusi TNI aktif. Perlu ditegaskan sejak awal: Purnawirawan bukan lagi bagian dari struktur kedinasan TNI. Sehingga pandangan politik mereka tidak dengan sendirinya dapat disebut sebagai sikap TNI sebagai institusi. 

Forum ini digerakkan oleh nama-nama besar. Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi (Mantan Wakil Panglima TNI dan Menteri Agama); Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD); Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto (Mantan KSAL); Marsekal TNI (Purn) Hanafie Asnan (Mantan KSAU). 

Mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang pernah memegang komando tertinggi di angkatan masing-masing. Yang tahu persis apa artinya sumpah prajurit dan kesetiaan pada konstitusi.

Surat Terbuka yang Menghunjam

Pada 9 Oktober 2026, FPP TNI melayangkan surat terbuka kepada tujuh lembaga negara: Presiden RI, Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua MK, Ketua MA, Jaksa Agung, dan Kapolri. 

Juru bicara mereka, Laksamana Pertama TNI (Purn) Moeryono Aladin, menyebut polemik ijazah Gibran sebagai “skandal bangsa” yang mempermalukan Indonesia di mata dunia. Ia menegaskan bahwa sesuatu yang sejak awal dianggap tidak sah tidak serta-merta menjadi sah hanya karena telah berlangsung dalam waktu lama. Ini adalah serangan langsung terhadap logika MK yang menyatakan cacat syarat pencalonan telah kedaluwarsa oleh pelantikan.

Surat terbuka itu bukan sekadar protes administratif. Ia adalah deklarasi bahwa konstitusi tidak boleh menjadi alat negosiasi politik. FPP TNI meminta seluruh penyelenggara negara menghormati dan melaksanakan putusan MK secara jujur, konsekuen, dan transparan. Mereka juga mengajak masyarakat menjaga ketertiban sambil tetap mengawal proses konstitusional.

Dari Desakan Mundur hingga Wacana Pemakzulan

FPP TNI tidak berhenti pada surat terbuka. Mereka secara terbuka mendesak Gibran mundur dari jabatan wakil presiden. “Gibran, Anda tidak pantas jadi wapres. Mengundurkan diri adalah jalan paling baik untuk Anda,” kata Moeryono Aladin. 

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. FPP TNI merencanakan penggalangan dukungan pemakzulan dengan berkirim surat kepada DPR, MPR, dan pimpinan partai politik, berlandaskan Pasal 7A UUD 1945. 

Perwakilan FPP TNI, Dwi Cahyo, menyatakan bahwa pengiriman surat resmi menjadi agenda utama. Sebelum menggelar pertemuan tatap muka dengan para ketua partai.

Lebih tajam lagi, dalam sebuah podcast, Moeryono menyebut jabatan Gibran sebagai wakil presiden sudah “haram” dan harus diganti. “Wapres tidak memenuhi syarat itu kan sudah haram. Harus diganti, harus diganti. Dan orang sudah tidak bisa hormat lagi,” ujarnya. 

Ia juga mempertanyakan mengapa tidak ada satu pun komentar dari petinggi negeri ini setelah putusan MK pada 6 Oktober 2026. Padahal persoalan itu menyangkut wakil presiden.

Kemarahan terhadap Respons Gibran

Yang membuat FPP TNI semakin geram adalah respons Gibran sendiri. Ketika ditanya soal ijazah SMA, Gibran menjawab dengan nada meremehkan: “Ya, kalau saya nggak lulus SMA, kan saya nggak mungkin bisa kuliah. Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura”. 

Jawaban itu dianggap sebagai bentuk arogansi intelektual yang mengabaikan fakta hukum. Moeryono Aladin merespons dengan kata-kata yang keras: “Itu goblok, bodoh, tidak punya rasa malu”. Ia menegaskan bahwa Gibran tidak pantas menjadi wakil presiden.

Kritik ini bukan semata soal emosi. Ada logika mendasar yang dilanggar Gibran. Bisa kuliah bukan bukti otomatis lulus SMA. Banyak jalur pendidikan tinggi yang tidak mensyaratkan ijazah SMA secara formal, terutama di luar negeri. Yang diminta publik bukanlah argumen “logis” dari Gibran. Melainkan dokumen. Dan dokumen itu, menurut MK sendiri, tidak pernah ditemukan.

Antara Kenegarawanan dan Bayang-Bayang Politik

Namun, sikap FPP TNI tidak bebas dari kecurigaan. Sebagian pihak menilai bahwa di balik retorika konstitusi, ada kepentingan politik yang lebih besar: Mendorong pemakzulan Gibran untuk melemahkan posisi Jokowi dan keluarganya. 

Analis politik menyebut bahwa jika Prabowo memang ingin menyingkirkan Jokowi secara penuh. Pasti akan dieksekusi melalui pemakzulan. Dan jika dia memakzulkan Gibran, PDIP akan mendukung. 

FPP TNI sendiri, dalam pertemuan dengan Mahfud MD, membahas delapan poin tuntutan. Termasuk pemakzulan Gibran. Ini menunjukkan bahwa isu ijazah bukan satu-satunya agenda mereka.

Pertanyaan kritisnya: Mengapa baru sekarang? Mengapa FPP TNI tidak sevokal ini ketika pencalonan Gibran pertama kali dipersoalkan pada 2023? Mengapa suara mereka baru mengeras setelah MK mengeluarkan putusan yang secara implisit mengakui cacat syarat pencalonan? Apakah ini murni gerakan moral, Atau ada momentum politik yang dimanfaatkan?

Jawabannya mungkin ada di antara keduanya. FPP TNI adalah produk dari sistem politik yang telah lama membiarkan standar ganda. Mereka adalah pengawal konstitusi yang terlambat bangun. Tetapi tetap lebih baik bangun daripada tidak sama sekali. 

Namun, publik berhak bertanya: Jika tujuan mereka adalah menegakkan konstitusi. Mengapa tidak ada suara yang sama kerasnya ketika konflik kepentingan Anwar Usman merusak integritas MK pada 2023?

Refleksi: Suara dari Masa Lalu, Ujian bagi Masa Depan

Sikap FPP TNI terhadap kasus Gibran adalah cermin dari kerapuhan demokrasi Indonesia. Ketika lembaga-lembaga negara yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi justru memilih diam atau berlindung di balik prosedur, purnawirawan militer. Yang secara formal tidak lagi memiliki kekuasaan. Justru mengambil peran yang seharusnya diisi oleh DPR, MPR, dan MK. Ini adalah ironi yang pahit.

Namun, FPP TNI juga bukan malaikat. Mereka adalah bagian dari elite yang pernah berkuasa. Dan sikap mereka tidak lepas dari kepentingan politik yang lebih luas. Yang dibutuhkan publik bukan sekadar suara keras. Melainkan konsistensi. 

Jika FPP TNI benar-benar mengawal konstitusi, mereka harus berlaku sama terhadap semua pelanggaran. Bukan hanya terhadap Gibran. Jika tidak, maka sikap mereka hanyalah politik kekuasaan. Yang dibungkus jubah kebangsaan. Dan republik ini sudah terlalu lelah dengan jubah-jubah semacam itu. Nuwun sewu, Jenderal...!!

Serial Tasawuf-21, Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qodir al-Jailani: "Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi"


Spotlight: Tahun berganti. Madrasah tua di Babul Azaj itu masih berdiri kokoh di tepi sungai Tigris. Namun malam itu, suasana berbeda. Al-Jailani tidak duduk di tempat biasanya. Ia berdiri di depan para muridnya. Memandang mereka satu per satu dengan mata yang dalam. Mata yang telah melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Mata yang telah menangis di hadapan Allah dalam kesunyian malam yang panjang.

Tujuh Maqam Menuju Allah

"Anak-anakku..!" Ujarnya dengan suara yang menggema. "Selama ini kita telah berbicara tentang syariat dan hakikat. Dua sayap yang tidak boleh terpisah. Malam ini. Aku akan membuka pintu yang lebih dalam. Aku akan menunjukkan kepadamu tujuh anak tangga yang harus engkau daki. Jika engkau ingin sampai kepada Allah."

Para murid terdiam. Angin malam berhembus melalui jendela yang terbuka. Membawa aroma tanah basah dari sungai. Al-Jailani membuka sebuah kitab tua. Al-Ghunyah Lithalibi Thoriqi al-Haq. Kitab yang ia tulis untuk para pencari kebenaran.

"Ketahuilah," lanjutnya, "bahwa aku tidak menyebut ini sebagai maqamat dalam kitabku. Aku menyebutnya sebagai tahapan-tahapan yang harus dilalui seorang hamba. Tetapi para ulama setelahku menyebutnya maqamat. Stasiun-stasiun spiritual yang harus dilalui seorang salik. Dalam perjalanannya menuju Allah."

Seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, apa sajakah tujuh tahapan itu?"

Al-Jailani tersenyum. Lalu menjawab dengan suara yang tenang namun berwibawa: "Taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, ridha, dan jujur."

Maqam Pertama: Taubat. Pintu Gerbang yang Terbuka

Al-Jailani memulai dengan taubat. "Taubat adalah langkah awal sebelum memulai perjalanan menuju Tuhan," ujarnya. "Ia adalah pintu gerbang pertama yang harus engkau lewati. Tanpa taubat, engkau tidak akan pernah bisa memasuki istana-Nya."

Beliau menjelaskan bahwa taubat bukanlah sekadar ucapan di lisan. Taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan ikatan dosa dari hati. Lalu melaksanakan setiap hak Tuhan. 

Taubat yang sejati memiliki unsur-unsur: Penyesalan dalam hati. Permohonan ampun. Meninggalkan perbuatan buruk. Dan niat sepenuh hati untuk tidak mengulanginya.

"Dalam pandanganku," kata al-Jailani. "Taubat ada dua macam. Pertama, taubat yang berkaitan dengan sesama manusia. Taubat ini tidak terealisasi kecuali dengan menghindari kezaliman. Memberikan hak kepada yang berhak. Dan mengembalikan kepada pemiliknya. 

Kedua, taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan selalu mengucapkan istighfar dengan lisan. Menyesal dalam hati. Dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang."

Beliau menatap para muridnya. "Ketahuilah, anak-anakku. Taubat bukanlah peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan yang berkelanjutan. Setiap kali engkau jatuh, bangkitlah. Setiap kali engkau berdosa, kembalilah. Pintu taubat tidak pernah tertutup selama ruh masih berada dalam raga."

Maqam Kedua: Zuhud, Melepaskan Dunia dari Hati

Setelah taubat, al-Jailani membahas zuhud. Namun ia segera mengoreksi kesalahpahaman yang umum. "Banyak orang menyangka zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Itu bukan zuhud yang aku maksud," ujarnya tegas.

Beliau menjelaskan bahwa zuhud ada dua macam. Pertama, zahid hakiki. Yaitu mengeluarkan dunia dari hati. Kedua, mutazahid shuwari. Yaitu zuhud lahir. Mengeluarkan dunia dari hadapan.

"Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang zahid hakiki menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya," lanjutnya. "Ia mengambilnya. Lalu menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah. Ia memiliki dunia di tangannya. Tetapi tidak di hatinya."

Al-Jailani menegaskan bahwa zuhud bukanlah penolakan total terhadap dunia. Zuhud adalah pengendalian hati agar tidak diperbudak oleh harta, kekayaan, dan kesenangan. "Dunia ini adalah jembatan. Lewatilah jembatan itu. Dan janganlah engkau membangun rumah di atasnya."

Beliau mengingatkan bahwa zuhud membawa kesucian kepada diri seorang salik. "Zuhud mengajarkan betapa engkau harus menahan hawa nafsu dan menolak semua tuntutannya. 

Ketahuilah bahwa hawa nafsulah puncak segala kecelakaan diri, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, nafsu tidak boleh dijadikan teman. Justru harus dianggap sebagai lawan dan pembinasa manusia."

Maqam Ketiga: Tawakal, Menyerahkan Segalanya kepada Allah

Al-Jailani kemudian membahas tawakal. "Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Tuhan dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan," ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa tawakal adalah salah satu gerbang utama dalam keimanan. "Seseorang yang benar-benar telah mengenal Tuhannya melalui makrifat yang telah dicapainya. Tidak mungkin sifat tawakal tersisih dari dirinya. Sebab, mustahil jika seseorang yang mengenal Tuhannya tidak memiliki jiwa tawakal."

"Tawakal bukanlah meninggalkan usaha," tegas al-Jailani. "Tawakal adalah menggantungkan hati kepada Allah. Setelah melakukan usaha semaksimal mungkin. Engkau berusaha dengan tanganmu. Tetapi hatimu bergantung kepada Allah. Engkau bekerja dengan tubuhmu. Tetapi jiwamu berserah kepada-Nya."

Beliau mengingatkan bahwa tawakal adalah buah dari tauhid. Pengakuan bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah. "Jika engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Engkau tidak perlu gelisah. Karena Allah tidak pernah tidur. Engkau tidak perlu takut. Karena Allah tidak pernah lalai."

Maqam Keempat: Syukur, Mengakui Nikmat dengan Hati, Lisan, dan Perbuatan

Al-Jailani melanjutkan ke maqam syukur. "Syukur adalah mengakui nikmat Allah dengan hati. Mengucapkannya dengan lisan. Dan menggunakannya untuk ketaatan dengan anggota badan."

Beliau menjelaskan bahwa syukur bukanlah sekadar ucapan "alhamdulillah". Syukur adalah kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Dan tindakan nyata yang menunjukkan kesadaran itu.

"Orang yang bersyukur tidak pernah merasa kurang," ujar al-Jailani. "Ia melihat apa yang ia miliki. Bukan apa yang ia tidak miliki. Ia bersyukur atas kesehatan sebelum sakit. Atas kekayaan sebelum miskin. Atas waktu luang sebelum sibuk. Ia tahu bahwa nikmat Allah tidak terhitung. Dan ia tidak pernah merasa cukup untuk bersyukur."

Beliau mengingatkan bahwa syukur adalah kunci kebahagiaan. "Jika engkau bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya kepadamu. Tetapi jika engkau kufur, azab Allah sangat pedih."

Maqam Kelima: Sabar, Fondasi Segala Kebaikan

Al-Jailani kemudian membahas sabar. Maqam yang ia sebut sebagai fondasi segala bangunan spiritual. "Bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifatullah, dan mahabbah," katanya. "Berdiri kokoh di atas fondasi kesabaran."

Beliau mengilustrasikan maqam spiritual sebagai bangunan yang memiliki struktur dan unsur-unsur yang membentuknya. "Tanpa fondasi, sebuah bangunan fisik tidak akan dapat berdiri. Hal yang sama juga terjadi pada bangunan spiritual."

Dalam kitab Al-Fathur Rabbani, al-Jailani berkata: "Jangan kau lari dari ujian, karena ujian yang dihadapi dengan kesabaran merupakan fondasi spiritual bagi setiap bangunan kebaikan. Fondasi atas bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifat, dan mahabbah adalah bala'. Jika kau tidak bersabar atas bala', maka kau tidak memiliki fondasi."

"Sabar bukanlah berdiam diri tanpa usaha," tegas al-Jailani. "Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah kepada selain Allah. Sambil tetap berusaha semaksimal mungkin. 

Sabar adalah tali yang mengikat jiwamu ketika musibah datang, sehingga engkau tetap tenang, tetap berhusnuzan kepada Allah, tetap yakin bahwa apa yang Dia berikan adalah yang terbaik."

Maqam Keenam dan Ketujuh: Ridha dan Jujur

Al-Jailani menutup majelis malam itu dengan membahas dua maqam terakhir: ridha dan jujur.

"Ridha adalah menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada. Ia adalah buah dari mahabbah, cinta kepada Allah. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dzat yang engkau cintai tidak akan pernah menyakitimu."

"Dan jujur (ash-shidq)," lanjutnya, "adalah kejujuran yang mencakup segala aspek. Jujur dalam perkataan. Jujur dalam perbuatan. Jujur dalam niat. Dan jujur dalam hubungan dengan Allah. Orang yang jujur tidak pernah berpura-pura. Ia adalah dirinya sendiri. Di hadapan manusia maupun di hadapan Allah."

"Ketahuilah," ujar al-Jailani dengan suara yang menggema, "tujuh maqam ini bukanlah tujuan. Mereka adalah jalan. Tujuan akhirnya adalah makrifat. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan makrifat tidak akan dicapai apabila syariat dilanggar."

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pengetahuan tentang tujuh maqam. Tetapi dengan tekad baru untuk menapaki jalan itu. Satu anak tangga demi satu anak tangga. Hingga mereka sampai kepada Dzat yang telah menciptakan tangga itu.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Serial-22: Tazkiyatun Nafs, Penyucian Jiwa dalam Tasawuf al-Jailani

Selasa, 13 Oktober 2026

Pendidikan gratis, Wacana Indah di Atas Kertas


Di ujung gang itu. Sebuah sekolah berdiri dengan atap yang bocor. Sejak tahun pertama republik ini merdeka. Ia bernama negeri. Tetapi tak seorang pun tahu siapa yang benar-benar memilikinya. 

Anak-anak datang dengan seragam yang lusuh. Sepatu yang bergantian dipakai kakak-beradik. Dan mata yang menyala. Mata yang percaya bahwa di balik pintu kelas. Ada sesuatu yang tak bisa dirampok oleh siapa pun: Pengetahuan.

Konon, pendidikan itu gratis. Konon, negara menjaminnya. Konon, konstitusi telah menuliskannya dengan tinta emas. Tetapi tinta emas. Rupanya, tak pernah sampai ke desa ini. Yang sampai hanyalah brosur. Spanduk. Dan janji-janji yang bertebaran seperti daun kering di musim kemarau.

Gratis, kata mereka. Tetapi lihatlah. Uang pangkal, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang ini, uang itu. Semuanya berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu komando. 

Orang tua di kampung ini menggarap sawah orang lain. Upahnya tak cukup untuk membeli sepatu. Apalagi membayar "sumbangan sukarela" yang nilainya lebih besar dari penghasilan sebulan. 

Pendidikan gratis? Ia adalah hantu yang menakut-nakuti dompet orang miskin.

Seorang ibu pernah berkata kepadaku. Sambil menumbuk padi. "Kalau sekolah itu gratis. Kenapa anakku harus berhenti di kelas empat? Apa karena kami miskin. Jadi kami tak berhak tahu?" Ia tidak menangis. 

Matanya kering seperti sawah di musim kemarau panjang. Dan aku tak punya jawaban. Hanya ada rasa malu yang menjalar. Sebab aku tahu. Negara ini punya uang untuk membangun gedung-gedung megah. Punya uang untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Punya uang untuk segala hal yang tak pernah menyentuh dapur orang miskin.

Pendidikan gratis adalah wacana yang indah di atas kertas. Ia adalah puisi yang dibacakan di seminar-seminar. Dikutip dalam pidato kenegaraan. Ditulis dalam naskah akademik. 

Tetapi di lapangan. Ia adalah rakyat yang berjuang sendiri. Guru-guru honorer yang digaji sebesar uang rokok. Mengajar dengan sepenuh jiwa. Lalu pulang ke rumah untuk menghadapi tagihan listrik. Yang tak bisa dibayar dengan idealisme. 

Kepala sekolah yang harus memutar otak mencari dana. Bukan untuk kesejahteraan. Tetapi agar sekolah tetap berdiri. Dan anak-anak. Anak-anak yang seharusnya menjadi masa depan. Terpaksa memilih: Sekolah atau makan?

Ada ironi yang menganga seperti luka. Negara ini kaya. Tanahnya subur. Lautnya luas. Tambangnya berlimpah. Tetapi kekayaan itu mengalir ke tempat yang salah. Ia menjadi gedung-gedung pencakar langit. Mobil-mobil mewah. Dan rekening-rekening di bank asing. 

Sementara itu. Di desa-desa. Di pinggiran kota. Di pelosok-pelosok yang tak tersentuh peta pembangunan. Anak-anak belajar di bawah langit yang retak. Dengan papan tulis yang sudah putih karena terlalu tua. Dan buku yang halamannya hilang dimakan zaman.

Pendidikan gratis bukanlah utopia. Negara-negara lain telah membuktikannya. Finlandia, Kuba, Jerman. Mereka tahu bahwa investasi terbaik adalah manusia. Mereka tak bertanya: "Apakah kita mampu?" Mereka bertanya, "Apakah kita mau?" Dan mereka mau. Mereka menganggap pendidikan sebagai hak. Bukan belas kasihan. Mereka menganggap anak-anak sebagai aset. Bukan beban.

Di negeri ini, kita terlalu sibuk bertanya: "Dari mana uangnya?" Padahal, uangnya ada. Korupsi merajalela. Anggaran bocor di mana-mana. Tapi ketika bicara pendidikan. Tiba-tiba kita menjadi pelit. 

Ada uang untuk membangun monumen. Tapi tak ada uang untuk membangun sekolah. Ada uang untuk membeli alutsista. Tapi tak ada uang untuk membeli buku. Ada uang untuk segalanya. Kecuali untuk masa depan.

Maka pendidikan gratis tetap menjadi wacana. Ia menjadi dongeng yang diceritakan dari generasi ke generasi. Seperti mitos tentang keadilan yang tak pernah datang. 

Sementara itu, di ujung gang. Sekolah itu masih berdiri. Atapnya masih bocor. Anak-anaknya masih datang. Dan mereka masih percaya. Karena itulah satu-satunya yang mereka punya.

Tetapi sampai kapan? Sampai kapan kita membiarkan mereka belajar di bawah langit yang retak? Sampai kapan kita menutup mata pada kenyataan. Bahwa pendidikan gratis hanyalah ilusi bagi mereka yang tak punya suara?

Jika negara ini benar-benar merdeka. Maka merdekanya harus dimulai dari ruang kelas. Bukan dari pidato. Bukan dari spanduk. Tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa pendidikan adalah hak. Bukan kemewahan. Dan bahwa selama satu anak saja masih berhenti sekolah karena miskin. Selama itu pula republik ini belum sepenuhnya merdeka.

Langit masih retak. Tetapi selama masih ada yang mau menambalnya. Harapan itu belum mati. 

Jangan jadikan pendidikan gratis terus-terusan menjadi wacana dan slogan politis. Kalau pada kenyataannya "an-sich nonsens". Hanya omong kosong belaka...!!

Serial Tasawuf-20: "Syariat dan Hakikat, Dua Sayap Tak Terpisahkan"


Pendahuluan: Tahun 521 Hijriah. Kota Baghdad. Pusat peradaban dunia. Tenggelam dalam cahaya lentera yang bergoyang ditiup angin Tigris. Di sebuah madrasah tua di Babul Azaj. Seorang lelaki duduk di atas sajadah yang telah lusuh dimakan usia. Wajahnya teduh. Namun matanya menyimpan kedalaman. Yang membuat siapa pun yang memandangnya merasa sedang berdiri di tepi samudra. Namanya Abdul Qadir al-Jailani. Lelaki yang kelak dijuluki Sulthan al-Auliya. Raja Para Wali.

Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Di hadapannya. Ratusan murid duduk bersila. Mereka datang dari berbagai penjuru. Dari Yaman. Dari Syam. Dari negeri-negeri yang jauh. Ada yang berilmu tinggi. Ada yang buta huruf. Ada yang kaya. Ada yang miskin. Tetapi semua datang dengan satu tujuan yang sama. Mencari jalan menuju Allah.

Malam itu, seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, aku telah mempelajari fiqih selama sepuluh tahun. Aku hafal Al-Qur'an. Aku tahu halal dan haram. Tetapi hatiku terasa kering. Apakah aku harus meninggalkan ilmu syariat untuk menempuh jalan tasawuf?"

Al-Jailani tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah berabad-abad. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara yang dalam. Seperti gemuruh sungai di kejauhan. "Malam ini, aku akan bercerita tentang dua sayap yang tidak boleh terpisah."

Kisah Burung yang Kehilangan Satu Sayap

"Ada seekor burung yang ingin terbang tinggi ke langit. Ia memiliki dua sayap. Sayap kanan dan sayap kiri. Suatu hari, ia berkata kepada dirinya sendiri: 'Sayap kananku terlalu berat. Aku akan memotongnya. Agar aku bisa terbang lebih ringan.'"

"Burung itu memotong sayap kanannya. Ia mencoba terbang. Tetapi ia hanya berputar-putar di tempat. Ia tidak bisa naik. Tidak bisa turun. Tidak bisa ke mana-mana. Ia jatuh ke tanah. Dan ia menangis."

"Seorang bijak datang kepadanya dan bertanya: 'Mengapa engkau menangis?'"

"Burung itu menjawab: 'Aku ingin terbang tinggi. Tetapi aku telah memotong sayapku.'"

"Bijak itu berkata: 'Engkau bodoh. Sayap kanan dan sayap kiri adalah satu kesatuan. Engkau tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap. Engkau harus memiliki keduanya.'"

Al-Jailani memandang para muridnya. "Syariat adalah sayap kanan. Hakikat adalah sayap kiri. Engkau tidak bisa terbang menuju Allah dengan hanya salah satunya. Engkau tidak bisa mengabaikan fiqih dan hanya berdzikir. Dan engkau tidak bisa hanya mempelajari hukum dan mengabaikan hatimu. Keduanya harus berjalan bersama."

Syariat Zahir, Hakikat Batin

Al-Jailani menegaskan bahwa syariat adalah aspek zahir (lahiriah) dari ibadah. Sedangkan tarekat atau hakikat adalah aspek batin-nya. Keduanya tidak boleh dipisahkan. 

Ia sendiri adalah pengikut mazhab Hanbali yang tegas dalam fiqih. Namun juga seorang sufi yang mendalam dalam spiritualitas. Ia menjembatani kesenjangan antara ulama fiqih yang sibuk dengan nash-nash. Dengan para sufi yang kadang melampaui batas dalam aspek rohani.

"Akidah yang benar adalah pondasi pertama," ujar al-Jailani. "Pada masa hidupnya. Beliau selalu mewanti-wanti pentingnya berakidah seperti generasi salaf. Yaitu Ahlussunnah wal Jamaah". 

Caranya adalah dengan bersungguh-sungguh memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan begitu, seseorang akan mendapatkan petunjuk dalam menapaki jalan menuju Allah.

Al-Jailani berkata kepada murid-muridnya: "Lihatlah dirimu dengan penglihatan yang penuh kasih sayang dan cinta. Jadikanlah Al-Qur'an dan Sunnah di depanmu. Lihatlah keduanya lalu kerjakan. Jangan terpedaya dengan perkataan orang."

Beliau juga menegaskan: "Ambilah nasihat dari Al-Qur'an dengan mengamalkannya. Bukan dengan menentangnya."

Tauhid yang Hidup

Menurut al-Jailani, tauhid bukan sekadar doktrin atau spekulasi rasional. Ia adalah bukti eksistensial yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah menjadi sumber inspirasi bagi aktivitas hidup yang dinamis. Sekaligus menanamkan nilai transendental pada setiap tindakan.

"Jika engkau benar-benar bertauhid," ujar al-Jailani, "engkau akan melihat Allah dalam setiap helaan napas. Dalam setiap detak jantung. Dalam setiap langkah kakimu. Engkau tidak akan pernah merasa sendirian. Karena engkau tahu bahwa Allah bersamamu. Engkau tidak akan pernah takut. Karena engkau tahu bahwa Allah melindungimu."

Dua Sayap yang Terbang Bersama

Malam semakin larut. Lampu-lampu minyak di madrasah mulai meredup. Tetapi mata para murid justru semakin bercahaya. Al-Jailani bangkit dari duduknya. Membetulkan serbannya. Dan berkata dengan suara yang menggema di seluruh ruangan:

"Anak-anakku, tasawuf tanpa syariat adalah bangunan tanpa pondasi. Syariat tanpa tasawuf adalah jasad tanpa ruh. Engkau harus memiliki keduanya. Engkau harus mempelajari fiqih. Tetapi engkau juga harus membersihkan hatimu. Engkau harus menjalankan shalat. Tetapi engkau juga harus khusyuk dalam shalatmu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mencapai Allah dengan hanya satu sayap. Engkau harus terbang dengan keduanya. Syariat dan hakikat. Agar engkau bisa naik ke langit yang tinggi. "

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman baru tentang tasawuf. Tetapi dengan kesadaran bahwa jalan menuju Allah adalah jalan yang seimbang. Antara zahir dan batin. Antara ilmu dan amal. Atara syariat dan hakikat.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Bersambung ke Serial-21: Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi.)

Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Kapolri Menjadi Khotib Shalat Jumat: "Pesan Moral Apa yang Ingin Disampaikan kepada Jajarannya?"


Narasi Pemicu: Di tengah badai kritik yang tak henti menghantam institusi Polri. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memilih jalan yang jarang ditempuh pendahulunya. Jumat, 9 Oktober 2026. Ia naik ke mimbar Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri. Bertindak sebagai khatib shalat Jumat. Sejatinya ada pesan moral yang ingin disampaikan Sang Jenderal kepada jajarannya. Pesan moral seperti apa?

Mengapa Momen Ini begitu Berarti

Pesannya sederhana namun menghunjam. Jadilah pribadi yang rendah hati, Jangan sombong, Dan jangan pernah merasa lebih hebat daripada orang lain. Apakah ini sekadar simbolisme religius? Atau benar-benar pertanda harapan baru bagi Polri?

Dalam khotbahnya. Ia menegaskan. Bahwa jabatan. Pangkat. Kedudukan. Dan harta. Bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. 

Kapolri menjadi khatib bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah pernyataan publik. Bahwa nilai-nilai keimanan harus diwujudkan dalam perilaku nyata, Bukan hanya dalam ibadah ritual. 

Kehadiran Suyudi di mimbar Jumat, setidaknya telah menunjukkan sosok religius. Yang ingin menyampaikan pesan moral langsung kepada jajarannya. 

Lebih dari itu. Pesan kerendahan hati yang disampaikan di hadapan anggota Polri memiliki bobot tersendiri. Selama ini, kritik yang paling sering dialamatkan kepada Polri adalah arogansi. Sikap merasa kebal hukum. Dan perilaku yang tidak mencerminkan pelindung masyarakat.

Suyudi sendiri menyadari hal ini. Ia bahkan mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari pangkat. Jabatanta. Au kekayaan. Melainkan dari akhlak. Ketulusan hati. Serta caranya memperlakukan orang lain. 

Itu adalah pengakuan implisit. Bahwa selama ini ada jarak antara citra yang ingin dibangun Polri dan realitas yang dirasakan masyarakat.

Reformasi yang Dijanjikan

Momen khatib ini bukanlah langkah tunggal. Sejak dilantik pada 1 Oktober 2026, Suyudi telah memaparkan agenda reformasi yang cukup komprehensif. Ia mengusung tema "Polisi Bersama Masyarakat". Menggantikan slogan "Presisi" era Listyo Sigit. Arahnya jelas. Polisi hadir untuk mendengar. Melayani. Dan bekerja bersama masyarakat.

Dalam uji kelayakan di Komisi III DPR, Suyudi memaparkan enam program prioritas transformasi. Penguatan kelembagaan. Pembinaan SDM dan rekrutmen. Penguatan pelayanan publik. Penguatan penegakan hukum. Penguatan pengawasan. Dan akuntabilitas anggaran. 

Ia secara eksplisit menyatakan bahwa tidak boleh ada ruang bagi titipan. Transaksi. Dan sponsorship dalam rekrutmen. Ia juga berkomitmen menghapus fenomena no viral no justice. Dimana laporan masyarakat baru ditindaklanjuti setelah ramai di media sosial.

Yang paling fundamental. Suyudi menyatakan bahwa hal paling mendasar dalam reformasi adalah transparansi dan keterbukaan terhadap kritik. Kritik berbasis fakta, katanya, adalah sistem peringatan dini yang harus segera ditindaklanjuti. 

Ini adalah pernyataan yang berani dari seorang Kapolri. Mengingat selama ini kritik terhadap Polri sering kali direspons dengan defensif atau bahkan represif.

Ujian Sesungguhnya Setelah Mimbar

Namun, di sinilah letak persoalannya. Menjadi khatib tidak otomatis membuat seseorang berintegritas sempurna. Fikih membedakan keabsahan khutbah dari penilaian moral terhadap khatib itu sendiri. 

Keteladanan seseorang tetap dinilai dari rekam jejak. Kejujuran. Dan perbuatannya. Mimbar bukan sertifikat otomatis menjadi manusia tanpa cela.

Al-Qur'an sendiri dalam Surah Ash-Shaff ayat 2-3 mengingatkan: "Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" 

Ayat itu cocok dipasang di setiap ruang rapat Polri. Bahkan di depan cermin setiap anggota. Karena itulah, publik patut mengapresiasi pesan Suyudi tanpa buru-buru mengangkatnya menjadi wali berjubah seragam. 

Ujian sesungguhnya ialah membuktikan nasihat tersebut bukan suara merdu yang menguap setelah salam penutup.

Reformasi kultural Polri adalah mandat rakyat yang belum tuntas. Watak pemimpin dan anggotanya harus humanis. Menghormati HAM. Membuang sikap arogan. Pamer harta. Koruptif. Tidak profesional. Dan kekerasan berlebih. 

Itu adalah daftar panjang persoalan. Yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu khotbah Jumat.

Anggota Komisi III DPR Benny K Harman menitipkan pesan yang sangat spesifik. Perkuat profesionalitas dan transparansi. Terapkan scientific crime investigation. Bentuk peradilan pidana independen untuk anggota Polri. Hentikan penggunaan UU ITE untuk membungkam kritik. 

Yang tidak kurang urgennya. Hapus jual beli jabatan Kapolres/Kapolda. Polri, adalah lembaga dengan anggaran Rp 120 triliun lebih. Publik berhak tahu bagaimana lelang jabatan di Polri berjalan secara transparan.

Harapan yang Harus Dibuktikan

Apakah ada harapan baru? Tentu ada. Kapolri yang mau turun dari podium konferensi pers ke mimbar masjid. Yang berbicara tentang kerendahan hati dan amanah di hadapan jajarannya sendiri. Adalah pemandangan yang menyegarkan.

Wajar jika Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas berharap. Masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat dapat ditanggulangi dengan lebih humanis dan berkeadilan. Sehingga Polri benar-benar dipercaya dan dicintai rakyat.

Namun, harapan itu tidak boleh berhenti pada kekaguman. Spanduk boleh baru. Desain boleh kinclong. Tetapi kalau pelayanan tidak berubah. Maka itu identik dengan renovasi kalimat. Bukan renovasi karakter. 

Bayangkan jika polisi benar-benar rendah hati, jujur, dan adil. Maka pengaduan masyarakat didengar. Korban memperoleh keadilan. Kritik yang tajam dan menghunjam tidak lagi dianggap serangan pribadi. Dan hukum tidak mendadak masuk angin ketika berhadapan dengan orang vokal dan berpengaruh.

Kapolri Suyudi telah menanam benih di mimbar Jumat. Tugasnya sekarang adalah memastikan benih itu tumbuh di setiap Polsek. Setiap Polda. Dan setiap anggota yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. 

Reformasi Polri bukan proyek seratus hari atau satu periode kepemimpinan. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi. Keberanian. Dan yang paling penting, keteladanan dari puncak komando. 

Khotbah Jumat kemarin, barulah sebagai pembuka. Babak sesungguhnya baru saja dimulai. Apakah khotbah Tuan Jenderal Suyudi di Shalat Jumat yang lalu, memiliki efek dahsyat terhadap perilaku dan moral jajarannya? Let's wait and see...!!

Serial Tasawuf-19: "Ridha, Buah-Buah Ketenangan dalam Kehidupan Sehari-hari"


Pengantar: Musim kemarau telah benar-benar berlalu. Sumur kembali penuh. Tanah kembali hijau. Para salik kembali menjalani kehidupan mereka di luar zawiyah. Namun suatu hari, Mursyid mengumpulkan mereka dengan pesan yang tidak biasa.

Malam Ketika Zawiyah (Surau) Berpindah ke Kota

"Anak-anakku," ujarnya. "Malam ini kita tidak akan berkumpul di zawiyah. Kita akan turun ke kota."

Para salik saling memandang. Zaid mengangkat tangan. "Ke kota, Wahai Mursyid? Untuk apa?"

Mursyid tersenyum. "Untuk melihat buah-buah ridha. Selama ini kita membicarakannya di dalam ruangan. Di bawah lindungan dinding dan atap. 

Malam ini kita akan melihatnya di pasar. Di jalan. Di tengah manusia yang sibuk dengan urusan mereka. Karena ridha bukanlah buah yang hanya tumbuh di zawiyah. Ia harus tumbuh di mana pun engkau berada."

Buah Pertama: Hati yang Tidak Gelisah

Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai meski malam telah larut. Di depan sebuah toko yang mulai tutup. Seorang pedagang tua tampak membereskan dagangannya dengan wajah muram. Barang dagangannya tidak terjual habis hari itu.

Mursyid berhenti dan menyapa lelaki itu. "Assalamu'alaikum, saudaraku. Mengapa wajahmu muram?"

Pedagang itu menghela napas. "Hari ini daganganku tidak laku. Aku sudah bekerja keras. Tetapi rezekiku sedikit. Aku takut besok lebih buruk lagi."

Mursyid menatap para salik. Lalu kembali kepada pedagang itu. "Saudaraku, apakah engkau telah berusaha?" tanyanya lembut.

"Tentu. Aku bangun sebelum subuh. Aku membuka toko paling awal. Aku melayani pembeli dengan ramah."

"Kalau begitu," ujar Mursyid. "Engkau telah melakukan bagianmu. Sisanya adalah bagian Allah. Apakah engkau percaya bahwa Allah mengetahui kebutuhanmu?"

Pedagang itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ya, aku percaya."

"Maka janganlah engkau gelisah. Rezeki bukan diukur dari berapa yang engkau dapat hari ini. Tetapi dari seberapa tenang hatimu menerimanya. Buah pertama ridha adalah hati yang tidak gelisah. Meski dompet kosong. Hati tetap lapang."

Buah Kedua: Lisan yang Tidak Mengeluh

Mereka melanjutkan perjalanan. Di sudut jalan, seorang perempuan tua duduk di bangku kayu. Mengeluh kepada siapa pun yang lewat tentang anaknya yang tidak pernah menengoknya.

Mursyid duduk di sampingnya tanpa diminta. Ia mendengarkan keluhannya dengan sabar. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Ketika perempuan itu selesai. Mursyid berkata, "Ibu, berapa lama engkau telah menunggu anakmu?"

"Lima tahun," jawabnya lirih.

"Dan selama lima tahun itu. Apakah engkau masih diberi kesehatan? Apakah engkau masih diberi makan? Apakah engkau masih bisa bangun setiap pagi?"

Perempuan itu mengangguk pelan.

"Maka syukurilah apa yang masih ada. Sebelum engkau mengeluhkan apa yang tidak ada. Buah kedua ridha adalah lisan yang tidak mengeluh. Bukan karena hidup ini tanpa luka. Tetapi karena lisan yang ridha memilih untuk menyebut nikmat daripada menuntut takdir."

Air mata perempuan tua itu jatuh. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menggenggam tangan Mursyid erat-erat.

Buah Ketiga: Amal yang Tidak Terhenti

Di depan sebuah masjid kecil. Seorang pemuda duduk termenung. Ia baru saja gagal dalam ujian yang ia impikan bertahun-tahun. Ia merasa hidupnya hancur.

Mursyid duduk di sampingnya. "Apa yang engkau lakukan setelah gagal?"

"Aku berhenti belajar," jawab pemuda itu. "Untuk apa? Usahaku tidak dihargai."

Mursyid menggeleng. "Engkau salah memahami ridha, anakku. Ridha bukan berarti berhenti berusaha. Ridha adalah tetap melangkah meski hasilnya bukan yang engkau inginkan. Orang yang ridha tidak menyerahkan masa depannya kepada keputusasaan. Ia menyerahkannya kepada Allah. Sambil tetap berjalan."

"Buah ketiga ridha adalah amal yang tidak terhenti. Engkau boleh gagal, tetapi jangan berhenti. Engkau boleh kecewa. Tetapi jangan mati. Bangkitlah. Serahkan hasilnya kepada Dzat yang tidak pernah salah menakar."

Buah Keempat: Cinta yang Tidak Bersyarat

Saat fajar mulai menyingsing. Mursyid mengajak para salik duduk di tepi sungai. Air mengalir tenang, dan burung-burung mulai berkicau.

"Buah terakhir ridha" ujar Mursyid. "Adalah cinta yang tidak bersyarat. Engkau mencintai Allah bukan karena Dia memberimu kesehatan. Bukan karena Dia memberimu rezeki. Bukan karena Dia memberimu kebahagiaan. Engkau mencintai-Nya karena Dia adalah Allah. 

Dan ketika engkau mencintai-Nya tanpa syarat. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia berikan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena cinta itu lebih besar dari sakit itu sendiri."

Zaid menunduk. "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai itu?"

Mursyid tersenyum, lalu berdiri. "Engkau tidak akan mencapainya hari ini. Atau besok. Atau tahun depan. Tetapi setiap kali engkau memilih untuk tidak mengeluh. 

Setiap kali engkau memilih untuk tetap beramal. Setiap kali engkau memilih untuk mencintai Allah meski hatimu menangis. Engkau sedang menanam benih ridha. Dan suatu hari. Benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang. Tempat orang-orang berlindung dari panasnya dunia."

Ridha adalah Rumah

Matahari mulai terbit. Para salik kembali ke zawiyah. Di perjalanan pulang. Tidak ada yang berbicara. Mereka masing-masing merenungkan apa yang baru saja mereka lihat. Pedagang yang tidak gelisah. Perempuan tua yang berhenti mengeluh. Pemuda yang bangkit. Dan cinta yang tidak bersyarat.

Sesampainya di zawiyah, Mursyid berkata untuk terakhir kalinya dalam majelis panjang ini:

"Anak-anakku, engkau telah menempuh tujuh maqam. Taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, makrifat, dan ridha. 

Ketahuilah, ridha bukanlah maqam terakhir. Ia adalah rumah tempat semua maqam itu bertemu. Di dalam ridha. Taubat menjadi manis. Sabar menjadi ringan. Zuhud menjadi indah. Tawakal menjadi tenang. Mahabbah menjadi sempurna. Dan makrifat menjadi cahaya."

"Ingatlah pesan terakhir ini. Orang yang ridha tidak pernah kehilangan. Karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah. Dan ia hanya menitipkannya. Ketika Allah mengambilnya. Ia tidak berduka. Karena ia tahu bahwa yang mengambil adalah Dzat yang lebih mencintainya daripada ia mencintai dirinya sendiri. "

Mursyid mengangkat tangan, dan para salik mengaminkan doa penutup:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang ridha. Ridha dengan takdir-Mu. Ridha dengan ketentuan-Mu. Ridha dengan segala yang Engkau berikan dan Engkau ambil. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang Engkau ridhai. Di tempat yang tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi keluhan. Dan tidak ada lagi perpisahan. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Matahari telah naik sepenuhnya. Dan para salik pulang dengan hati yang—untuk pertama kalinya—merasa seperti rumah yang telah lama mereka cari.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan serial Tasawuf-20, Wejangan Sheikh Abdul Qodir Al Jaelani)

Minggu, 11 Oktober 2026

Wawancara Imajiner-3, dengan Presiden Donald J. Trump: "Tentang Korupsi Indonesia"


Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu seperti air mata yang tidak diminta. Trump sudah duduk sebelum seorang Jurnalis Indonesia, KGM (Ki Gempur Mudharat) masuk. Kali ini tidak ada TV menyala. Tidak ada dokumen tebal di meja. Hanya ada selembar kliping koran Indonesia. Terjemahan bahasa Inggris. Dengan judul besar yang dicetak tebal.

"Daftar Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia (Berdasarkan Nilai Kerugian Negara)."


Trump: (menunjuk kliping saat aku duduk) Baca ini..!

KGM: Saya sudah membacanya, Mr. Presiden.

Trump: Baca lagi. (mendorong kliping itu ke arahku) Aku ingin kau tahu apa yang aku tahu.

(Aku membaca. Angka-angka itu. Ada triliunan rupiah, Ratusan nama. Puluhan tahun. Foto koruptor. Sebuah sistem yang tidak dibangun dalam semalam. Tetapi bertahan selama puluhan tahun.)

Trump: (bersandar) Kau tahu apa yang paling menggangguku? (berhenti) Bukan angkanya. Angka itu...(mengibaskan tangan)...angka itu tidak begitu berarti apa-apa bagiku. Yang menggangguku lihat wajah-wajahnya. (mengetuk kliping) Lihat, mereka semua tersenyum. Di foto-foto itu. Semua tersenyum dan ada yang melambaikan tangan ke wartawan. (menggeleng) Aku tahu senyuman dan lambaian tangan itu. Aku pernah melihatnya di New York. Di Atlantic City. Orang-orang yang mengambil uang orang lain. Lalu berfoto seolah-olah mereka pahlawan.

KGM: Anda menyebut korupsi sebagai masalah. Tapi banyak yang mengatakan perjanjian ART justru membuka celah baru untuk korupsi. Karena perusahaan AS bisa masuk tanpa divestasi. Tanpa transparansi penuh.

(Catatan: Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 menandai babak baru hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Perjanjian ini menekankan kedaulatan ekonomi, kemakmuran, serta ketangguhan rantai pasok.red.)

Trump: (mata menyipit) Transparansi. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa yang bicara tentang "transparansi"? Orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau orang yang ingin kau percaya bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. (berhenti) Dengar. Aku tidak datang ke Indonesia untuk memberantas korupsi kalian. Itu bukan tugasku. Itu tugas kalian. (mengetuk meja) Tapi aku tidak akan menambah masalah itu. Perjanjian kami punya klausul anti-suap. Punya klausul audit. Punya klausul pemutusan kalau ada pelanggaran.

KGM: Tapi klausul itu hanya berlaku untuk perusahaan Amerika. Bukan untuk pejabat Indonesia yang menerima suap.

Trump: (tertawa, tanpa humor) Oh, jadi sekarang aku yang harus mengawasi pejabat kalian? (menggeleng) Aku sudah mengawasi negaraku sendiri. Kau tahu berapa banyak orang yang kupecat karena korupsi? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan kau tahu apa yang terjadi? (berhenti) Mereka menulis buku. Mereka muncul di CNN. Mereka bilang aku "otoriter". (mengangkat tangan) Jadi maafkan aku kalau aku tidak terlalu bersemangat membersihkan rumah orang lain. Ketika rumahku sendiri masih penuh tikus.

KGM: Tapi Anda sendiri pernah mengatakan Indonesia adalah mitra strategis. Bukankah mitra seharusnya saling membantu?

Trump: (diam lama..untuk pertama kalinya dan terlihat benar-benar berpikir): Kau tahu apa arti "mitra" bagiku? (menatapku) Mitra berarti kau tidak menipuku. Kalau kau menipuku, kau bukan mitra. Kau musuh. (berhenti) Dan aku sudah melihat cukup banyak negara yang bilang "mitra" sambil menggelapkan uang bantuan. (menggeleng) Indonesia? Memang Aku belum melihat itu. Tapi aku juga belum mempercayai sepenuhnya.

KGM: Jadi Anda tidak percaya pada Indonesia?

Trump: Aku percaya pada Prabowo. (menunjuk) Dia datang ke sini. Dia menatap mataku. Dia bilang apa yang dia mau. Dan dia bilang apa yang dia tidak mau. (berhenti) Itu jarang. Sangat jarang. (diam) Tapi Prabowo bukan Indonesia. Prabowo adalah satu orang. Dan satu orang...(mengangkat bahu)...satu orang tidak bisa mengubah sistem yang sudah berkarat selama puluhan tahun.

(Hujan di luar semakin deras. Trump berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota Washington yang basah.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kusesalkan? (diam) Bukan perjanjian. Bukan tarif. (menoleh, matanya tajam) Aku menyesal tidak memasukkan klausul yang lebih keras. Klausul yang bilang: "Kalau kalian korupsi, kalian bayar." (berhenti) Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku lakukan itu, mereka tidak akan tanda tangan. (tertawa pahit) Itulah politik. Itulah dunia.

KGM: Jadi Anda tahu ada korupsi, Dan Anda tetap tanda tangan?

Trump: (kembali ke kursinya, duduk, menatapku langsung) Aku tanda tangan karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Kalau aku tidak tanda tangan, China yang akan tanda tangan. Dan China tidak peduli soal korupsi. China menggunakan korupsi. (mengetuk meja) Aku memilih kalah kecil daripada kalah besar. Itu namanya strategi.

KGM: Beberapa pihak menyebut itu "membiarkan".

Trump: (mengangkat alis) Membiarkan? (tertawa) Aku tidak membiarkan apa pun. Aku memilih. Itu berbeda. (mencondongkan tubuh) Dan kau tahu apa bedanya? Orang yang "membiarkan" tidak peduli. Tapi Aku peduli. Aku peduli karena kalau Indonesia runtuh karena korupsi, Amerika rugi. (menunjuk dirinya) Dan aku tidak suka rugi.

KGM: Satu pertanyaan terakhir. Jika Anda bisa berbicara langsung kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang yang setiap hari membayar harga dari korupsi. Apa yang akan Anda katakan?

(Trump menatap lama. Hujan berhenti di luar. Sinar matahari pertama menembus jendela, jatuh di meja, tepat di kliping itu.)

Trump: Aku akan bilang ini. (suaranya lebih pelan) Korupsi bukan masalah Amerika. Bukan masalah Trump. (berhenti) Itu masalah kalian. Dan hanya kalian yang bisa menghentikannya. (diam) Aku bisa menandatangani perjanjian. Aku bisa mengirim investasi. Aku bisa menekan Prabowo untuk membersihkan rumahnya. (menggeleng) Tapi aku tidak bisa memaksa kalian untuk memilih pemimpin yang jujur. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk berhenti menerima amplop. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk marah. (menatapku) Itu... itu pekerjaan kalian.

Trump: Kau tanya soal korupsi. Sudah Aku jawab. Tapi kau tidak tanya apa yang harus dilakukan Prabowo. (menaikkan alis) Itu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan sejak awal.

KGM: Baik. Jadi apa yang harus dilakukan Prabowo?

Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Pertama, berhenti berpura-pura. (mengetuk meja) Aku sudah melihat banyak pemimpin. Yang berhasil adalah yang bilang, "Ya, negara saya korup. Saya akan hadapi." Yang gagal adalah yang bilang, "Tidak, itu fitnah." (menggeleng) Prabowo bukan orang bodoh. Dia tahu. Tapi tahu saja tidak cukup. Dia harus mengatakannya. Di depan rakyatnya. Di depan dunia. (berhenti) Pemimpin yang tidak mengakui masalahnya. Tidak akan pernah menyelesaikannya.

KGM: Dan yang kedua?

Trump: Kedua, jangan lindungi kawan. (matanya tajam) Kau tahu kenapa korupsi bertahan di mana pun? Bukan karena orang jahat. Karena orang baik melindungi orang jahat. (mengetuk meja) "Dia teman saya." "Dia membantu saya waktu kampanye." "Dia dari partai saya." (menggeleng) Itu... itu kanker. Prabowo harus siap kehilangan koalisi. Kehilangan kursi. Kehilangan suara. Kalau dia tidak siap. Ia bukan pemimpin. Dia pedagang.

KGM: Itu berat secara politik.

Trump: (tertawa kering) Politik? (mencondongkan tubuh) Aku pernah kehilangan segalanya. Tiga kali bangkrut. Kau tahu apa yang kupelajari? Kalau kau takut kehilangan. Kau akan kehilangan segalanya. Prabowo harus berani. Bukan berani mati. Berani kehilangan.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, beri KPK gigi. (menunjuk) Bukan taring. Bukan cakar. Gigi. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada lembaga anti-korupsi yang lemah? Mereka jadi monumen. Bagus untuk foto. Tidak berguna untuk penjara. (menggeleng) Prabowo harus memastikan KPK punya anggaran. Punya perlindungan. Punya kebebasan. Kalau tidak. Dia sama saja dengan pendahulunya.

KGM: Sekarang KPK. Apa yang harus dilakukan lembaga anti-rasuah itu?

(Trump diam lama. Untuk pertama kalinya sejak wawancara ini dimulai, ia terlihat tidak nyaman.)

Trump: KPK. (mengulang kata itu dengan pelan) Kau tahu apa yang kupikirkan tentang KPK?

KGM: Apa?

Trump: Mereka berani. (mengangguk) Aku sudah baca. Mereka menangkap menteri. Menangkap gubernur. Menangkap hakim. (berhenti) Di negara mana pun, itu...itu bunuh diri politik. Dan mereka melakukannya. (diam) Aku menghormati itu. Aku tidak suka mereka. Karena mereka pernah menyelidiki hal-hal yang...(mengibaskan tangan)...tidak penting. Tapi aku menghormati mereka.

KGM: Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Trump: Pertama. Berhenti mengejar tikus kecil. (mengetuk meja) Aku dengar KPK menangkap pejabat desa. Pejabat kecamatan. (menggeleng) Itu bukan korupsi. Itu kelaparan. (berhenti) Kejar yang besar. Yang menandatangani kontrak triliunan. Yang punya rekening di Singapura. Yang anaknya kuliah di London. (menunjuk) Itu...Itu target yang sebenarnya.

KGM: Kedua?

Trump: Kedua, jangan main politik. (matanya tajam) KPK harus netral. Bukan alat pemerintah. Bukan alat oposisi. (berhenti) Kalau KPK menangkap orang karena dia oposisi — itu bukan penegakan hukum. Itu balas dendam. Dan rakyat tahu. (menggeleng) Rakyat selalu tahu.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, bekerja dengan kami. (mencondongkan tubuh) Amerika punya FBI. Punya CIA. Punya Treasury. Kami punya data. Kami punya jejak uang. (mengetuk meja) Kalau KPK mau, kami bisa membantu. Tapi KPK harus meminta. Jangan sombong. Jangan merasa bisa sendiri. (berhenti) Korupsi itu lintas negara. Uangnya lari ke Singapura, ke Swiss, ke Amerika. Kalau KPK tidak bekerja dengan kami. Mereka hanya menangkap bayangan.

KGM: Tapi ada kritik bahwa Amerika sendiri tidak serius memberantas korupsi. Bahwa Anda justru menerima uang dari oligarki.

Trump: (mata menyipit) Oligarki. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa oligarki? Orang yang punya uang. Dan orang yang punya uang... (mengangkat tangan) ...biasanya pintar. (tersenyum tipis) Aku tidak menerima uang dari oligarki. Aku menerima investasi. Itu berbeda. (berhenti) Dan kau tahu apa bedanya dengan korupsi Indonesia? Di sini, itu legal. (mengetuk meja) Kalau kalian mau uang kami. Kalian harus membuatnya legal. Bukan dengan amplop. Tapi dengan kontrak.

KGM: Itu terdengar seperti pembenaran.

Trump: (tertawa) Pembenaran? (menggeleng) Kau tahu apa itu pembenaran? Pembenaran adalah ketika kau bilang, "Semua orang melakukannya." (menunjuk dirinya) Aku tidak bilang begitu. Aku bilang, "Aku melakukannya. Dan itu legal." (berhenti) Kalau kalian tidak suka. Ubah hukumnya. Jangan salahkan aku.

(Hari mulai sore. Trump berdiri, berjalan ke jendela. Kali ini ia tidak menatap kota. Ia menatap langit.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kuharapkan dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Aku berharap...suatu hari nanti. Aku membaca berita dari Jakarta. Bukan tentang korupsi. Bukan tentang skandal. (berhenti) Tapi tentang seorang jenderal yang menolak amplop. Atau seorang menteri yang mengundurkan diri karena tidak mau berbohong. (menoleh, matanya aneh, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang lama hilang) Sesuatu seperti itu. Sesuatu yang...jujur.

KGM: Anda optimis?

Trump: (diam lama) Aku realistis. (kembali ke kursinya) Optimis adalah ketika kau berharap tanpa alasan. Realistis adalah ketika kau melihat data. (mengetuk meja) Dan datanya bilang. Indonesia punya semua yang dibutuhkan. Pemimpin yang berani. Lembaga yang bertaring. Rakyat yang...(berhenti)...Ah, rakyat. Rakyat yang selalu jadi korban. (menggeleng) Itu yang harus berubah.

(Ia mengambil pena. Menulis sesuatu di kliping itu. Lalu mendorongnya ke arahku.)

Aku membaca. Tulisannya besar. Tebal. Seperti perintah:

"PRABOWO: BERANI. KPK: NETRAL. RAKYAT: MARAH. — DJT"

Trump: Itu resepnya. (bersandar) Kau bisa mengutip aku. Kau bisa membenciku. Tapi kau tidak bisa bilang aku tidak peduli.

KGM: Apakah Anda peduli?

Trump: (menatapku lama. Untuk pertama kalinya. Ada sesuatu di matanya. Bukan kehangatan. Tapi sesuatu yang lebih tua): Aku peduli karena korupsi membuat negara lemah. Dan negara lemah...(berhenti)...negara lemah tidak bisa menjadi mitra. Negara lemah hanya bisa menjadi beban. (mengetuk meja) Dan aku tidak suka beban. Aku suka mitra.

(Ia berdiri. Mengulurkan tangan. Jabatan kali ini. Tidak kuat, tidak lemah. Hanya jujur.)

Trump: Sampaikan ini ke Prabowo. Dari aku. (berhenti) "Jangan jadi pemimpin yang dikenang karena apa yang dia ambil. Jadilah pemimpin yang dikenang karena apa yang dia tolak."

(Ia melepas tangan. Berjalan ke meja. Sudah kembali ke pekerjaannya. Telepon. Layar. Dunia yang tidak pernah tidur.)

(Tapi sebelum aku keluar. Ia sempat berucap. Tanpa menoleh. Hampir seperti bisikan):

Trump: Hey. Kalau kau bertemu orang KPK...bilang aku bilang "terima kasih". (berhenti) Mereka bertarung sendirian. Itu...itu berat.

Pintu menutup.

Di luar, matahari mulai tenggelam di atas Washington. Tetapi di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, di sebuah kantor di Jakarta, seseorang sedang membaca berkas — dan tidak tahu bahwa di Ruang Oval, seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja memberikan satu-satunya pujian tulus yang pernah ia berikan kepada lembaga asing.

(Aku sudah berdiri. Sudah memegang tas. Sudah setengah jalan menuju pintu. Trump menghentikanku.)

(Ia hanya berkata. Pelan, hampir ke udara:)

Trump: Tunggu dulu. Sepertinya kau belum tanya soal mereka.

KGM: Mereka?

Trump: (menoleh dari kursinya) Para koruptor. (berhenti) Kau tanya aku soal Prabowo. Soal KPK. Soal Amerika. (mengetuk meja) Tapi kau tidak tanya apa yang harus mereka lakukan. Para Koruptor. Padahal itu...Itu bagian yang paling penting.

(Aku meletakkan tas. Duduk kembali.)

KGM: Baik. Ada saran untuk para koruptor Indonesia?

Trump: (bersandar. Tersenyum tipis. Tapi matanya tidak): Saran? (tertawa pelan) Aku bukan pendeta. Aku bukan hakim. Aku tidak akan bilang, "Bertobatlah." (menggeleng) Itu omong kosong. Orang seperti mereka...Mereka tidak bertobat karena nasihat. Mereka bertobat karena takut.

KGM: Jadi saran Anda adalah ancaman?

Trump: Bukan ancaman. Kenyataan. (condong ke depan) Dengarkan aku. Aku sudah melihat ratusan orang seperti mereka. Di New York. Di Atlantic City. Di Washington. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada mereka semua pada akhirnya? (tidak menunggu jawaban) Tiga hal. Penjara. Kebangkrutan. Atau kematian yang menyedihkan. Tidak ada yang keempat.

KGM Itu terdengar seperti vonis.

Trump: Itu pengalaman. (mengetuk meja) Aku pernah bekerja dengan orang yang mengambil uang klien. Dia bilang, "Aku hanya pinjam." (menggeleng) Dia mati sendirian di apartemen sewaan. Aku pernah kenal seorang politisi yang korup. Dia pikir dia pintar. (berhenti) Sekarang dia di penjara. Dan anaknya tidak mau mengunjunginya. (menatapku) Itu...itu harga. Dan harganya selalu lebih mahal dari yang mereka kira.

KGM: Jadi saran pertama Anda untuk koruptor?

Trump: Berhenti sekarang. (mengangkat satu jari) Bukan besok. Bukan setelah pemilu. Sekarang. (berhenti) Kau tahu kenapa? Karena setiap hari kau terus. Kau menambah utang. Bukan utang uang. Utang nyawa. (mengetuk meja) Setiap amplop yang kau terima. Ada anak yang tidak dapat sekolah. Ada ibu yang tidak dapat obat. Ada jalan yang tidak dibangun. (diam) Kau tidak mencuri dari pemerintah. Kau mencuri dari orang-orang yang tidak bisa melawan.

KGM: Kedua?

Trump: Kembalikan. (mengangkat dua jari) Aku tahu. Aku tahu. Kau tidak akan mengembalikan semuanya. Tidak ada yang mengembalikan semuanya. (menggeleng) Tapi kembalikan sebagian. Diam-diam. Lewat perantara. Lewat yayasan. (berhenti) Aku tidak bilang itu cukup. Aku bilang itu lebih baik dari tidak sama sekali. Dan kadang...Kadang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan.

KGM: Itu terdengar seperti kompromi dengan kejahatan.

Trump: (tajam) Kompromi? (tertawa) Kau jurnalis tahu apa itu kompromi? Kompromi adalah ketika kau duduk dengan orang yang kau benci. Dan kau membuat kesepakatan yang tidak kau sukai. Karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Aku melakukannya setiap hari. Setiap. Hari. (menunjuk) Aku tidak bangga. Tapi aku realistis.

KGM Baik. Saran ketiga untuk koruptor?

(Trump diam lama. Kali ini, ia menatap keluar jendela. Ke kota Washington yang mulai gelap. Ke lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh.)

Trump: Ketiga, jangan ajari anakmu. (suaranya lebih pelan) Ini yang paling penting. (menoleh) Kau boleh korup. Kau boleh mengambil. Kau boleh berbohong. (berhenti) Tapi jangan wariskan itu. Jangan ajari anakmu bahwa itu normal. Jangan biarkan dia tumbuh berpikir bahwa mengambil uang rakyat adalah...cara hidup.

KGM: Mengapa itu yang paling penting?

Trump: Karena itu satu-satunya hal yang bisa mengubah Indonesia. (mengetuk meja) Bukan KPK. Bukan Prabowo. Bukan Amerika. (menggeleng) Anak-anak kalian. Kalau mereka tumbuh jujur. Dalam dua puluh tahun Indonesia akan berbeda. Kalau mereka tumbuh seperti kalian...(berhenti)...Dalam dua puluh tahun, Indonesia akan sama. Atau lebih buruk.

(Hening. Lampu ruangan berkedip sekali.)

KGM: Anda bilang Anda bukan pendeta. Tapi itu terdengar seperti khotbah.

Trump: (tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lain di matanya): Mungkin. (bersandar) Tapi kau tahu apa bedanya aku dengan pendeta? (berhenti) Pendeta bilang, "Tuhan akan mengampuni." (menggeleng) Aku bilang, "Aku tidak akan."

KGM: Tapi Anda kan bukan hakim.

Trump: Memang Aku bukan hakim. (mengangguk) Tapi aku presiden. Dan presiden...Presiden punya ingatan. (mengetuk meja) Kalau kau korup. Dan kau datang ke Amerika untuk berbisnis. Untuk menaruh uang. Untuk mengirim anakmu ke sekolah. (berhenti) Aku akan tahu. Dan aku tidak akan lupa.

KGM: Itu ancaman?

Trump: Itu informasi. (mengangkat bahu) Kau bisa mengabaikannya. Banyak orang mengabaikan. (diam) Mereka semua menyesal.

(Ia berdiri. Berjalan ke pintu. Membukanya sendiri. Sesuatu yang jarang ia lakukan.)

Trump: (berdiri di ambang pintu): Kau tahu apa yang paling kusuka dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Rakyatnya. (berhenti) Mereka sabar. Mereka tabah. Terlalu sabar dan tabah. (menggeleng) Mereka bisa memaafkan. Mereka bisa lupa. (menatapku) Itu kekuatan kalian. Tapi juga kelemahan kalian. (diam) Karena orang yang terlalu sabar...Akan selalu dimanfaatkan.

(Ia mengulurkan tangan. Jabatan terakhir. Kuat, singkat, seperti segel.)

Trump: Sampaikan ini ke mereka. Dari aku. Langsung. (berhenti) "Aku tidak akan mengejar kalian. Aku tidak akan menghukum kalian. Aku tidak akan mengirim FBI ke Jakarta." (menatap mataku) "Tapi ingat. Dunia mengecil. Dan pada akhirnya. Kalian akan bertemu seseorang yang tidak sabar."

(Ia melepas tangan. Masuk kembali. Pintu mulai menutup.)

(Tapi sebelum tertutup sepenuhnya. Suaranya masih terdengar. Dan, hampir seperti doa yang tidak ia akui:)

Trump: Semoga kalian tidak bertemu orang itu. Karena kalau kalian bertemu... (berhenti)...dia tidak akan sebaik aku.

(Pintu menutup.)

(Di luar, malam sudah penuh. Washington menyala seperti kota yang tidak pernah tidur dan tidak pernah jujur. Dan di suatu tempat. Ribuan kilometer jauhnya. Di sebuah rumah besar berpagar tinggi. Seseorang sedang menghitung uang dan emas batangan. Dan mereka tidak tahu bahwa di Ruang Oval. Seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja menulis wasiat untuk jiwanya.)

(Yang tersisa di mejanya. Tertinggal di bawah kliping koran:)

"BERHENTI. KEMBALIKAN. JANGAN WARISKAN. — DJT"

(Wawancara imajiner ini adalah karya fiksi sastra. Semua dialog adalah imajinasi. Tidak ada klaim faktual atas pernyataan Donald Trump atau Prabowo atau maupun pihak mana pun. Isu korupsi yang disebutkan berdasarkan laporan publik dan tidak menunjuk individu tertentu. )

== T A M A T ==
(Nantikan Wawancara Imajiner Berikutnya)


Serial Tasawuf-23 Syeikh Abdul Qodir Al Jailani: "Takhalliy-1, Syirik Lahir dan Syirik Batin"

Bismillāhirraḥmānirraḥīm Leaderline: Di serambi ribat yang lengang. Ketika fajar belum sepenuhnya membuka tabirnya. Seorang salik duduk ber...