Kamis, 08 Oktober 2026

Prestasi ASEAN Game Aichi Nagoya: "Hentikan Rayakan Kemenangan..!"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-59)

Narasi Pemicu: Maka berakhirlah sudah pesta olahraga terbesar Asia itu. Di Paloma Mizuho Stadium, Nagoya. Api Asian Games 2026 padam pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kontingen Indonesia pulang dengan 39 medali. Lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Chef de Mission Todotua Pasaribu menyebutnya sebagai capaian terbaik. Melampaui target empat emas yang ditetapkan Kemenpora. Namun di balik angka-angka itu. Ada pertanyaan yang menganga seperti luka yang belum sembuh. Mengapa targetnya begitu rendah? Dan mengapa peringkat kita justru turun?

Terpuruknya Prestasi

Di Hangzhou 2022, Indonesia berada di posisi ke-12 dengan tujuh emas. Kini, di Aichi-Nagoya, kita terpuruk di peringkat ke-16. Todotua berdalih bahwa sejumlah nomor yang dahulu menyumbang emas. Seperti menembak 10 meter running target dan dragon boat 1000 meter putra, tidak lagi dipertandingkan. 

Dalih itu benar. Tetapi tidak cukup. Sebab pertanyaan sesungguhnya bukanlah mengapa nomor itu hilang. Melainkan mengapa kita tidak pernah benar-benar hadir di nomor-nomor lain. Kita hanya kuat di kolam yang dangkal. Dan ketika kolam itu dikeringkan. Kita kelimpungan. Kehilangan pijakan.

Namun, janganlah kita menjadi bangsa yang hanya bisa mengeluh. Di tengah kabut itu. Memang ada nyala yang pantas dicatat. Rahmat Erwin Abdullah mengangkat 366 kilogram dan mencatatkan namanya sebagai pemegang rekor dunia kelas 75 kilogram. 

Desak Made Rita Kusuma Dewi memecahkan rekor Asia nomor speed putri dengan waktu 6,062 detik. Tim bulu tangkis putra mengalahkan China di final. Mengakhiri penantian 28 tahun untuk emas Asian Games. 

Nurisa Dian Ashrifah mempersembahkan emas pertama Indonesia dari panahan. Mengalahkan wakil Filipina dengan skor tipis 139-137. Ini bukan prestasi kecil. Ini adalah sejarah yang ditulis dengan keringat dan air mata.

Rasio yang Memilukan

Tetapi sejarah juga menuntut kejujuran. Lima emas kita berasal dari cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Itu kabar baik. Artinya, kita memiliki atlet yang mampu bersaing di panggung tertinggi. 

Namun, 39 medali dari 432 atlet yang dikirim ke 35 cabang olahraga adalah rasio yang memilukan. Sebagian besar atlet kita pulang dengan tangan kosong. Mereka berjuang. Tetapi perjuangan tanpa ekosistem yang menopang. Hanyalah lilin yang menyala sebentar lalu padam.

Cabang-cabang baru seperti teqball, padel, MMA, dan esports menyumbang medali perak dan perunggu. Itu secercah harapan. Tetapi juga cermin. Kita menang di pinggiran karena kita belum mampu menembus pusat. 

Esports, yang baru dipertandingkan secara resmi. Memberi medali pertama kita. Apakah kita akan serius membangunnya. Ataukah kita hanya akan menunggu keberuntungan datang lagi?

Cara Memaknai Angka

Yang paling mengusik bukanlah angka. Melainkan cara kita memaknai angka itu. Kita terlalu cepat berpuas diri dengan target yang rendah. Empat emas ditetapkan. Lima emas diraih. Maka kita bersorak kegirangan. 

Padahal, target yang rendah adalah pengakuan terselubung. Bahwa kita tidak percaya pada kemampuan sendiri. Jepang, tuan rumah, mengumpulkan 83 emas. China 169 emas. Korea Selatan 39 emas. Kita berada di bawah Taiwan, di atas Filipina. Itulah peta kekuatan olahraga Asia. Dan kita masih duduk di kursi penonton. Sedih rasanya..!

Menyoal Mentalitas Atlit

Pekerjaan rumah kita bukan hanya soal teknis. Ia soal mentalitas. Kita perlu berhenti merayakan kemenangan di pinggiran. Seolah-olah itu adalah puncak dunia. 

Kita perlu membangun sistem yang tidak bergantung pada satu-dua atlet berbakat. Tetapi pada ribuan anak yang belajar berolahraga dengan benar sejak dini. 

Kita perlu akademi. Pelatih bersertifikat. Kompetisi usia muda yang jujur. Dan fasilitas yang layak di kota maupun desa. Tanpa itu, rekor dunia Rahmat Erwin akan menjadi monumen yang sunyi. Dan emas bulu tangkis akan menjadi kenangan yang perlahan pudar.

Mendidik Anak Bangsa Cinta Olahraga 

Maka, di tengah sorotan podium yang mulai meredup. Satu kebenaran harus ditulis dengan tinta yang tidak mudah luntur. Mendidik anak bangsa menjadi atlet yang piawai dan handal adalah investasi yang paling terlambat. Dan akan terus lebih mahal jika kita terus menundanya. 

Atlet tidak lahir dari sorak penonton. Ia lahir dari lapangan yang keras. Dari pelatih yang sabar. Dari sekolah yang menghargai olahraga. Dari kecintaanya pada olahraga. Bukan hanya sebagai pelengkap pendidikan jasmani. Melainkan sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri. Yang mengarah pada prestasi mendunia.

Anak-anak perlu diajari disiplin. Strategi. Kerja sama. Dan ketangguhan mental. Mereka perlu belajar kalah tanpa kehilangan martabat. Dan menang tanpa kehilangan kerendahan hati. 

Negara wajib hadir bukan hanya ketika atlet sudah berdiri di podium. Tetapi ketika seorang anak berusia sembilan tahun sedang belajar melempar lembing, melempar bola basket, berlari dengan cepat atau mengayun raket untuk pertama kalinya. 

Bangunlah sekolah olahraga di setiap kabupaten. Hadirkan pelatih profesional. Berikan beasiswa bagi bakat dari keluarga miskin. Dan ciptakan kompetisi yang bersih dari politik dan kecurangan.

Mendidik atlet adalah mendidik bangsa. Dan bangsa yang belajar berolahraga dengan benar. Adalah bangsa yang belajar menang dengan cara yang benar. Semoga dapat dibenarkan oleh pak Menpora..!!!

Prestasi ASEAN Game Aichi Nagoya: "Hentikan Rayakan Kemenangan..!"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-59) Narasi Pemicu : Maka berakhirlah sudah pesta olahraga terbesar Asia itu. Di Paloma Mizuho Stadium, Nagoya...