Pengantar: Musim kemarau telah benar-benar berlalu. Sumur kembali penuh. Tanah kembali hijau. Para salik kembali menjalani kehidupan mereka di luar zawiyah. Namun suatu hari, Mursyid mengumpulkan mereka dengan pesan yang tidak biasa.
Malam Ketika Zawiyah (Surau) Berpindah ke Kota
"Anak-anakku," ujarnya. "Malam ini kita tidak akan berkumpul di zawiyah. Kita akan turun ke kota."
Para salik saling memandang. Zaid mengangkat tangan. "Ke kota, Wahai Mursyid? Untuk apa?"
Mursyid tersenyum. "Untuk melihat buah-buah ridha. Selama ini kita membicarakannya di dalam ruangan. Di bawah lindungan dinding dan atap.
Malam ini kita akan melihatnya di pasar. Di jalan. Di tengah manusia yang sibuk dengan urusan mereka. Karena ridha bukanlah buah yang hanya tumbuh di zawiyah. Ia harus tumbuh di mana pun engkau berada."
Buah Pertama: Hati yang Tidak Gelisah
Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai meski malam telah larut. Di depan sebuah toko yang mulai tutup. Seorang pedagang tua tampak membereskan dagangannya dengan wajah muram. Barang dagangannya tidak terjual habis hari itu.
Mursyid berhenti dan menyapa lelaki itu. "Assalamu'alaikum, saudaraku. Mengapa wajahmu muram?"
Pedagang itu menghela napas. "Hari ini daganganku tidak laku. Aku sudah bekerja keras. Tetapi rezekiku sedikit. Aku takut besok lebih buruk lagi."
Mursyid menatap para salik. Lalu kembali kepada pedagang itu. "Saudaraku, apakah engkau telah berusaha?" tanyanya lembut.
"Tentu. Aku bangun sebelum subuh. Aku membuka toko paling awal. Aku melayani pembeli dengan ramah."
"Kalau begitu," ujar Mursyid. "Engkau telah melakukan bagianmu. Sisanya adalah bagian Allah. Apakah engkau percaya bahwa Allah mengetahui kebutuhanmu?"
Pedagang itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ya, aku percaya."
"Maka janganlah engkau gelisah. Rezeki bukan diukur dari berapa yang engkau dapat hari ini. Tetapi dari seberapa tenang hatimu menerimanya. Buah pertama ridha adalah hati yang tidak gelisah. Meski dompet kosong. Hati tetap lapang."
Buah Kedua: Lisan yang Tidak Mengeluh
Mereka melanjutkan perjalanan. Di sudut jalan, seorang perempuan tua duduk di bangku kayu. Mengeluh kepada siapa pun yang lewat tentang anaknya yang tidak pernah menengoknya.
Mursyid duduk di sampingnya tanpa diminta. Ia mendengarkan keluhannya dengan sabar. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Ketika perempuan itu selesai. Mursyid berkata, "Ibu, berapa lama engkau telah menunggu anakmu?"
"Lima tahun," jawabnya lirih.
"Dan selama lima tahun itu. Apakah engkau masih diberi kesehatan? Apakah engkau masih diberi makan? Apakah engkau masih bisa bangun setiap pagi?"
Perempuan itu mengangguk pelan.
"Maka syukurilah apa yang masih ada. Sebelum engkau mengeluhkan apa yang tidak ada. Buah kedua ridha adalah lisan yang tidak mengeluh. Bukan karena hidup ini tanpa luka. Tetapi karena lisan yang ridha memilih untuk menyebut nikmat daripada menuntut takdir."
Air mata perempuan tua itu jatuh. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menggenggam tangan Mursyid erat-erat.
Buah Ketiga: Amal yang Tidak Terhenti
Di depan sebuah masjid kecil. Seorang pemuda duduk termenung. Ia baru saja gagal dalam ujian yang ia impikan bertahun-tahun. Ia merasa hidupnya hancur.
Mursyid duduk di sampingnya. "Apa yang engkau lakukan setelah gagal?"
"Aku berhenti belajar," jawab pemuda itu. "Untuk apa? Usahaku tidak dihargai."
Mursyid menggeleng. "Engkau salah memahami ridha, anakku. Ridha bukan berarti berhenti berusaha. Ridha adalah tetap melangkah meski hasilnya bukan yang engkau inginkan. Orang yang ridha tidak menyerahkan masa depannya kepada keputusasaan. Ia menyerahkannya kepada Allah. Sambil tetap berjalan."
"Buah ketiga ridha adalah amal yang tidak terhenti. Engkau boleh gagal, tetapi jangan berhenti. Engkau boleh kecewa. Tetapi jangan mati. Bangkitlah. Serahkan hasilnya kepada Dzat yang tidak pernah salah menakar."
Buah Keempat: Cinta yang Tidak Bersyarat
Saat fajar mulai menyingsing. Mursyid mengajak para salik duduk di tepi sungai. Air mengalir tenang, dan burung-burung mulai berkicau.
"Buah terakhir ridha" ujar Mursyid. "Adalah cinta yang tidak bersyarat. Engkau mencintai Allah bukan karena Dia memberimu kesehatan. Bukan karena Dia memberimu rezeki. Bukan karena Dia memberimu kebahagiaan. Engkau mencintai-Nya karena Dia adalah Allah.
Buah Pertama: Hati yang Tidak Gelisah
Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai meski malam telah larut. Di depan sebuah toko yang mulai tutup. Seorang pedagang tua tampak membereskan dagangannya dengan wajah muram. Barang dagangannya tidak terjual habis hari itu.
Mursyid berhenti dan menyapa lelaki itu. "Assalamu'alaikum, saudaraku. Mengapa wajahmu muram?"
Pedagang itu menghela napas. "Hari ini daganganku tidak laku. Aku sudah bekerja keras. Tetapi rezekiku sedikit. Aku takut besok lebih buruk lagi."
Mursyid menatap para salik. Lalu kembali kepada pedagang itu. "Saudaraku, apakah engkau telah berusaha?" tanyanya lembut.
"Tentu. Aku bangun sebelum subuh. Aku membuka toko paling awal. Aku melayani pembeli dengan ramah."
"Kalau begitu," ujar Mursyid. "Engkau telah melakukan bagianmu. Sisanya adalah bagian Allah. Apakah engkau percaya bahwa Allah mengetahui kebutuhanmu?"
Pedagang itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ya, aku percaya."
"Maka janganlah engkau gelisah. Rezeki bukan diukur dari berapa yang engkau dapat hari ini. Tetapi dari seberapa tenang hatimu menerimanya. Buah pertama ridha adalah hati yang tidak gelisah. Meski dompet kosong. Hati tetap lapang."
Buah Kedua: Lisan yang Tidak Mengeluh
Mereka melanjutkan perjalanan. Di sudut jalan, seorang perempuan tua duduk di bangku kayu. Mengeluh kepada siapa pun yang lewat tentang anaknya yang tidak pernah menengoknya.
Mursyid duduk di sampingnya tanpa diminta. Ia mendengarkan keluhannya dengan sabar. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Ketika perempuan itu selesai. Mursyid berkata, "Ibu, berapa lama engkau telah menunggu anakmu?"
"Lima tahun," jawabnya lirih.
"Dan selama lima tahun itu. Apakah engkau masih diberi kesehatan? Apakah engkau masih diberi makan? Apakah engkau masih bisa bangun setiap pagi?"
Perempuan itu mengangguk pelan.
"Maka syukurilah apa yang masih ada. Sebelum engkau mengeluhkan apa yang tidak ada. Buah kedua ridha adalah lisan yang tidak mengeluh. Bukan karena hidup ini tanpa luka. Tetapi karena lisan yang ridha memilih untuk menyebut nikmat daripada menuntut takdir."
Air mata perempuan tua itu jatuh. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menggenggam tangan Mursyid erat-erat.
Buah Ketiga: Amal yang Tidak Terhenti
Di depan sebuah masjid kecil. Seorang pemuda duduk termenung. Ia baru saja gagal dalam ujian yang ia impikan bertahun-tahun. Ia merasa hidupnya hancur.
Mursyid duduk di sampingnya. "Apa yang engkau lakukan setelah gagal?"
"Aku berhenti belajar," jawab pemuda itu. "Untuk apa? Usahaku tidak dihargai."
Mursyid menggeleng. "Engkau salah memahami ridha, anakku. Ridha bukan berarti berhenti berusaha. Ridha adalah tetap melangkah meski hasilnya bukan yang engkau inginkan. Orang yang ridha tidak menyerahkan masa depannya kepada keputusasaan. Ia menyerahkannya kepada Allah. Sambil tetap berjalan."
"Buah ketiga ridha adalah amal yang tidak terhenti. Engkau boleh gagal, tetapi jangan berhenti. Engkau boleh kecewa. Tetapi jangan mati. Bangkitlah. Serahkan hasilnya kepada Dzat yang tidak pernah salah menakar."
Buah Keempat: Cinta yang Tidak Bersyarat
Saat fajar mulai menyingsing. Mursyid mengajak para salik duduk di tepi sungai. Air mengalir tenang, dan burung-burung mulai berkicau.
"Buah terakhir ridha" ujar Mursyid. "Adalah cinta yang tidak bersyarat. Engkau mencintai Allah bukan karena Dia memberimu kesehatan. Bukan karena Dia memberimu rezeki. Bukan karena Dia memberimu kebahagiaan. Engkau mencintai-Nya karena Dia adalah Allah.
Dan ketika engkau mencintai-Nya tanpa syarat. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia berikan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena cinta itu lebih besar dari sakit itu sendiri."
Zaid menunduk. "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai itu?"
Mursyid tersenyum, lalu berdiri. "Engkau tidak akan mencapainya hari ini. Atau besok. Atau tahun depan. Tetapi setiap kali engkau memilih untuk tidak mengeluh.
Zaid menunduk. "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai itu?"
Mursyid tersenyum, lalu berdiri. "Engkau tidak akan mencapainya hari ini. Atau besok. Atau tahun depan. Tetapi setiap kali engkau memilih untuk tidak mengeluh.
Setiap kali engkau memilih untuk tetap beramal. Setiap kali engkau memilih untuk mencintai Allah meski hatimu menangis. Engkau sedang menanam benih ridha. Dan suatu hari. Benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang. Tempat orang-orang berlindung dari panasnya dunia."
Ridha adalah Rumah
Matahari mulai terbit. Para salik kembali ke zawiyah. Di perjalanan pulang. Tidak ada yang berbicara. Mereka masing-masing merenungkan apa yang baru saja mereka lihat. Pedagang yang tidak gelisah. Perempuan tua yang berhenti mengeluh. Pemuda yang bangkit. Dan cinta yang tidak bersyarat.
Sesampainya di zawiyah, Mursyid berkata untuk terakhir kalinya dalam majelis panjang ini:
"Anak-anakku, engkau telah menempuh tujuh maqam. Taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, makrifat, dan ridha.
Ridha adalah Rumah
Matahari mulai terbit. Para salik kembali ke zawiyah. Di perjalanan pulang. Tidak ada yang berbicara. Mereka masing-masing merenungkan apa yang baru saja mereka lihat. Pedagang yang tidak gelisah. Perempuan tua yang berhenti mengeluh. Pemuda yang bangkit. Dan cinta yang tidak bersyarat.
Sesampainya di zawiyah, Mursyid berkata untuk terakhir kalinya dalam majelis panjang ini:
"Anak-anakku, engkau telah menempuh tujuh maqam. Taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, makrifat, dan ridha.
Ketahuilah, ridha bukanlah maqam terakhir. Ia adalah rumah tempat semua maqam itu bertemu. Di dalam ridha. Taubat menjadi manis. Sabar menjadi ringan. Zuhud menjadi indah. Tawakal menjadi tenang. Mahabbah menjadi sempurna. Dan makrifat menjadi cahaya."
"Ingatlah pesan terakhir ini. Orang yang ridha tidak pernah kehilangan. Karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah. Dan ia hanya menitipkannya. Ketika Allah mengambilnya. Ia tidak berduka. Karena ia tahu bahwa yang mengambil adalah Dzat yang lebih mencintainya daripada ia mencintai dirinya sendiri. "
Mursyid mengangkat tangan, dan para salik mengaminkan doa penutup:
"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang ridha. Ridha dengan takdir-Mu. Ridha dengan ketentuan-Mu. Ridha dengan segala yang Engkau berikan dan Engkau ambil. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang Engkau ridhai. Di tempat yang tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi keluhan. Dan tidak ada lagi perpisahan. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."
Matahari telah naik sepenuhnya. Dan para salik pulang dengan hati yang—untuk pertama kalinya—merasa seperti rumah yang telah lama mereka cari.
Wallahu a'lam bish-shawab.
"Ingatlah pesan terakhir ini. Orang yang ridha tidak pernah kehilangan. Karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah. Dan ia hanya menitipkannya. Ketika Allah mengambilnya. Ia tidak berduka. Karena ia tahu bahwa yang mengambil adalah Dzat yang lebih mencintainya daripada ia mencintai dirinya sendiri. "
Mursyid mengangkat tangan, dan para salik mengaminkan doa penutup:
"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang ridha. Ridha dengan takdir-Mu. Ridha dengan ketentuan-Mu. Ridha dengan segala yang Engkau berikan dan Engkau ambil. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang Engkau ridhai. Di tempat yang tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi keluhan. Dan tidak ada lagi perpisahan. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."
Matahari telah naik sepenuhnya. Dan para salik pulang dengan hati yang—untuk pertama kalinya—merasa seperti rumah yang telah lama mereka cari.
Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan serial Tasawuf-16, Wejangan Sheikh Abdul Qodir Al Jaelani)
