Senin, 17 Januari 2022

Sang Lentera Penerang: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Ketika Istighfar Nabi Adam tidak didengar selama puluhan tahun, lalu Nabi Adam teringat dengan tulisan nama Muhammad di pintu Arasy, lalu Adam berdoa, "Ya ALLAH ampunilah aku dengan haq Muhammad," maka ALLAH pun mengampuni Adam dan Hawa. Dalam Injil Barnabas ditulis bahwa Adam mengukir nama Muhammad di kuku jempolnya dan selalu diciumnya jempol tersebut.

Kelak di akhirat umat Nabi Nuh membantah jika Nuh pernah memberi peringatan dan berdakwah kepada mereka, lalu nabi Nuh meminta tolong kepada nabi Muhammad untuk menjadi saksinya. Nabi Muhammad pun menjadi saksi dengan membaca kisah Nuh di kitab al-Quran.

Setelah Nabi Ibrahim mengetahui jika dari keturunan anaknya Ismail akan lahir Nabi Muhammad, maka Nabi Ibrahim memohon agar namanya kelak selalu diucapkan oleh umatnya Muhammad, dan ALLAH pun menjadikan nama Ibrahim disebut dalam bacaan tasyahud di setiap sholat.

Ketika Nabi Yusuf dijebloskan kedalam sumur dan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya, Yusuf pun menangis dan merengek didalam sumur sendirian, lalu diperintahkan oleh malaikat Jibril agar Yusuf mengganti rengekannya dengan bershalawat kepada nabi Muhammad, dan esoknya Yusuf pun dikeluarkan dari sumur oleh rombongan kafilah yang lewat.

Nabi Musa mulanya menyangka jika umatnya adalah mayoritas, namun setelah diberitahukan jika umatnya Nabi Muhammad lebih utama dan mayoritas, maka nabi Musa menginginkan agar dijadikan umatnya nabi Muhammad, namun ALLAH menolaknya lalu menggantinya dengan nama Musa akan disebut lebih banyak di kitab Al-Quran.

Ketika Nabi Daud sedang bertasbih bersama burung-burung, Daud pun heran dan takjub mendengar suara dari seekor ulat di pohon yang sedang bershalawat untuk nabi Muhammad dan umatnya.

Impian Nabi Isa adalah ingin bisa membuka terompah (sandal) nabi Muhammad lalu membasuh kedua kakinya. Dan Isa bercerita kepada para sahabatnya, bahwa kelak di akhirat nabi Muhammad akan berbicara dengan ALLAH layaknya seorang teman.

Semoga sholawat dan salam dari Allah Subhanu Wata'ala Yang Maha Baik, Maka Kasih dan Penyayang, dari para malaikat yang dekat dengan-Nya, serta dari para nabi dan dari kaum shiddiqin, dari para syuhada dan dari kaum sholihin, juga dari semua yang bertasbih kepada-Mu, dilimpahkan kepada junjungan kami Muhammad bin Abdullah, penutup para nabi, pemimpin para rasul, imam kaum bertakwa, utusan Tuhan Pemelihara alam semesta, saksi yang memberikan kabar gembira, penyeru kepada-Mu dengan izin-Mu, sang lentera yang menerangi."

*آمـــــــــــين آمـــــــــــين*
*آمـــــــــــين يَآرَبْ العالمين*
.

Jumat, 14 Januari 2022

Naskah Khutbah Jum'at: Menjadi Penolong Agama Allah...!!!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
(QS Muhammad [47]: 7)

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, yang telah mengaruniakan kita semua Iman dan Islam. Dialah Yang MahaBenar dan MahaAdil. Yang menguasai alam semesta. Yang MahaMengetahui apa yang terjadi di muka bumi dan di langit.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, keluarga, sahabat, serta umatnya hingga Hari Kiamat.
Bertakwalah kepada Allah, kapan pun dan di mana pun Anda berada. Taati semua perintah Allah dan jauhi semua larangan-Nya. Insyaallah, siapa yang bisa melakukan itu, pasti Allah akan angkat derajatnya.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Penistaan agama tak kenal kata berhenti. Terus terjadi. Yang terakhir, ada seorang politikus menulis status di salah satu platform media sosial, ...*“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela.”

Ada sebagian kalangan yang membela dan mendukungnya. Mereka berpendapat bahwa Allah memang tak perlu dibela. Menurut mereka, Allah itu Mahaperkasa dan Mahakuat. Allah tak memerlukan pembelaan dari manusia yang lemah. Membela Allah sama artinya menganggap Allah itu lemah. Begitu opini mereka.

Perhatikan...!!!
Sikap seperti ini jelas salah besar. Kita, kaum Muslim harus bisa membedakan ...Ranah Akidah dengan Ranah Amal.

Dalam Ranah Akidah, setiap Muslim wajib mengimani bahwa Allah Mahakuat (Al-Qawiy), Mahaperkasa (Al-‘Azîz) juga Mahakokoh (Al-Matîn). *Tidak ada yang dapat mengalahkan kekuasaan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

مَا اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَا اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki, Pemilik Kekuatan Yang Mahakokoh (TQS Adz-Dzariyat [51]: 57-58).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa segala sesuatu pasti akan binasa, ...*kecuali Allah Subhanu Wa Ta'ala sendiri yang tidak binasa:*

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan (TQS al-Qashash [28]: 88).
*Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,*

Itu adalah ranah akidah atau keimanan. Namun, dalam Ranah Amal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslim untuk membela agama-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:*

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh Allah akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (TQS al-Hajj [22]: 40).

Allah Sbhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan kaum Muslim agar menjadi para penolong agama-Nya:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7).

Syaikh Ibrahim al-Qaththan dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini, ...*“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah—yakni dengan menolong syariah-Nya, menegakkan hak-hak Islam, berjalan sesuai dengan manhaj-nya yang lurus—niscaya Allah menolong kalian atas musuh-musuh kalian.

Inilah janji yang benar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh Dia telah melakukan demikian untuk kaum Mukmin yang shiddiq dari kalangan generasi sebelum kita. Karena itu sekarang kita pun dituntut untuk menolong agama Allah dan berjalan pada manhaj-Nya sampai Allah menolong kita dan mengokohkan kedudukan kita. Allah tidak pernah mengingkari janji.” (Al-Qathhan, Taysîr at-Tafsîr, 3/242).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga pernah berpesan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu agar menjaga agama Allah:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

Jagalah (agama) Allah, niscaya Dia menjaga kamu (HR at-Tirmidzi).
Berkaitan dengan hadis ini, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, “Maknanya, jagalah batas-batas-Nya, hak-hak-Nya dan larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu adalah dengan menepati perintah-perintah-Nya dengan ketundukan, menjauhi larangan-larangan-Nya, tidak melanggar batas-batas-Nya…” (Ibnu Rajab, Jâmi’ al-Ulûm wa al-Hikam, hlm. 462).

Jadi, wajib dipahami oleh umat bahwa membela Allah yang dimaksud dalam nas-nas di atas adalah membela kemuliaan agama-Nya dan syiar-syiar-Nya. Termasuk membela kemuliaan sifat-sifat Allah dari segala tindakan penistaan.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Dalam Sîrah Ibnu Hisyâm diriwayatkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memukul dengan keras wajah seorang pendeta Yahudi bernama Finhash karena dia mengolok-olok Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia menyebut Allah miskin, sedangkan kaum Yahudi kaya.

Ejekan ini berkaitan dengan perintah Allah kepada kaum Muslim untuk memberikan ‘pinjaman yang baik’ (qardh[an] hasan[an]) di jalan-Nya.

Atas pemukulan tersebut, Finhash mengadukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membela tindakan Abu Bakar dengan menurunkan firman-Nya:*

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ اْلأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Sungguh Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata, “Sungguh Allah itu miskin, sementara kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar. Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kalian azab yang membakar!” (TQS Ali Imran [3]: 181).

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Wahai kaum Muslim, bukankah Allah sudah menyeru Anda sekalian untuk senantiasa meletakkan agama ini di atas segalanya..!!!

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَا اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِه فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهۗ وَاللّٰهُ لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya serta rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik (TQS. at-Taubah [9]: 24).

Apakah ayat ini sudah Anda lupakan..? Ataukah Anda sedang menunggu datangnya ancaman Allah tersebut..? Wal ‘iyyâdzu bilLâh.

Munculkanlah ghirah Anda untuk membela agama Allah. Terapkan Syariah Allah di muka bumi.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

© 2020. All Right Reserved: Dewan Masjid Digital Indonesia (DMDI)

Jumat, 31 Desember 2021

Jangan Menutup Mata atas Kebenaran dan Kesalahan

Saudaraku,
Kita semestinya mengakui kebenaran seseorang tanpa menutup mata atas kesalahannya. Jangan sampai kebencian kita menutup mata kita tentang kebenaran orang lain. 

Demikian pula cinta, hanya karena cinta yang berlebihan menutup kesalahan orang yang dicintainya. Semuanya memiliki kebenaran dan kesalahan, karena itu bertindaklah dengan adil...

Salah satu tantangan berat yang sering menjadi persoalan kita adalah kecintaan dan kebencian secara berlebihan, seringkali dapat menyebabkan kita tidak dapat besikap adil hingga muncul perbuatan zalim...

Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya melarang kezaliman dalam bentuk apapun dan wajib untuk berbuat adil dalam segala sesuatu, Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al Maidah: 

Saudaraku,
Perbuatan zalim menyebabkan pelakunya mendapat keburukan di dunia dan di akhirat, di antaranya:

Orang yang berbuat zalim akan diqishash pada hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya,

أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para sahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. 

Kelak segala kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim no. 2581).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.”
(HR. Al-Bukhari no. 2449)

Orang yang berbuat zalim mendapatkan laknat dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَوْمَ لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.”
(QS. Ghafir: 52)

Orang yang berbuat zalim akan mendapatkan kegelapan di hari kiamat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

Jangan sekalipun berbuat zalim karena terancam oleh doa orang yang dizalimi. Doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla, termasuk jika orang yang terzalimi mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari no.1496, Muslim no.19)

Orang yang berbuat zalim akan jauh dari hidayah Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(QS. Al Maidah: 51)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah membuka mata atas kebenaran dan kesalahan, senantiasa berbuat adil dan menghindari kezaliman untuk meraih ridha-Nya...

Aamiin Ya Rabb.
Wallahua'lam bishawab...

Minggu, 19 Desember 2021

Penduduk Surga Pergi ke Pasar Setiap Jum'at

Terdengar aneh memang mendengar kalimat “Pasar Surga”. Iya jelas, karena kita masih berada di dunia.

Benarkah Ada Pasar di Surga? Seperti Apa Keadaan dan Keindahannya?
Keindahan dunia saja sudah membuat kita takjub, bagaimana dengan keadaan surga yang penuh kenikmatan dan keindahannya?

Alam surga bukanlah alam dunia, sehingga alamnya tak bisa dinalar dengan pemikiran manusia di dunia. Salah satu hal menakjubkan di surga – sebagaimana riwayat Rasulullah – adalah adanya pasar surga.

Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali RA, Rasulullah Saw pernah bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat pasar yang di dalamnya tidak ada pembeli dan penjual, kecuali beberapa bentuk (gambar-gambar) dari laki-laki dan perempuan. Ketika seseorang menginginkan bentuk (seseorang untuk dirinya), maka ia masuk di dalam pasar itu".

Bentuk dan keadaan dari surga-surga Allah Subhanahu wa ta'ala, sudah banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an dan As Sunnah. Gambaran didalamnya terdapat kenikmatan dan waktu yang tiada batas . Semua itu diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala semata-mata hanya untuk hamba-hamba-Nya yang pantas mendapatkannya.

Salah satu tempat indah yang ada di surga ini, ternyata adalah pasar. Tentang keberadaan pasar di surga dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Islam Al Kamil yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri.

Pasar di surga ini bahkan sudah disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang diriwayatkan shahabat Anas bin Malik, nabiyullah bersabda,

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim).

Lantas seperti apa pasar di surga ini? Apa yang diperjualbelikannya? Siapa pembeli dan penjualnya?

Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, yang dimaksud pasar dalam hadis nabi ialah tempat berkumpulnya penduduk surga. Di sana, para ahli surga berbincang dengan akrab. “Yang dimaksud pasar ialah tempat berkumpulnya manusia, sebagaimana manusia di dunia berkumpul di pasar,” jelas An Nawawi.

Dari penjelasan Imam An Nawawi tersebut, diketahui bahwasannya para penduduk surga saling bertemu di pasar surga. Mereka mengobrol dengan kerabat dan sahabat di dunia. Membicarakan tentang beratnya amal salih yang terbalas dengan surga.

Hal ini diperkuat dengan fatwa para ulama dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, “Pasar di surga adalah tempat bertemunya kaum muslimin satu sama lain supaya bertambah kenikmatan mereka. Mereka merasakan kelezatan saling berbincang, saling mengenang apa yang terjadi di dunia dan membicarakan apa yang mereka dapatkan di akhirat. Mereka bertemu setiap Jumat sebagaimana pada hadits, agar mereka bisa saling berjumpa satu sama lain,”

Namun, fungsi pasar di surga jelas tidak sama dengan pasar di dunia. Pasar surga bukanlah tempat jual beli. Ia merupakan tempat “nongkrong” para penduduk surga.
Namun terdapat perbedaan pendapat tentang hal ini.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa surga memang memiliki pasar, namun tidak ada transaksi di dalamnya. Penduduk surga boleh berbelanja bebas, mengambil barang yang diinginkan tanpa harus membayar.

Sebenarnya, para penduduk surga tak perlu berbelanja ke pasar. Mengingat apapun yang diinginkan di surga, dapat langsung memintanya. Namun bagi sebagian orang, berbelanja menjadi kenikmatan tersendiri dan kenikmatan tersebut akan didapatkan di surga.
Allah Ta’ala berfirman,

يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az Zukhruf: 71).

Menurut Imam Nawawi, bahwa hadis nabi disebutkan bahwa penduduk surga pergi ke pasar setiap hari Jum’at, hanyalah perkiraan waktu.

Pasalnya, di surga tidak mengenal siang dan malam, serta tidak ada matahari dan bulan.
“Maksud (ucapan nabi) ‘mereka mendatangi setiap hari Jumat’ ialah perkiraan lama waktu setiap Jumat atau sepekan. Tidaklah sepekan memiliki makna yang sebenarnya, karena tidak ada matahari, siang dan malam di surga,” jelas sang Imam dalam Syarh Muslim.

Rasulullah Saw juga menyebut tentang angin utara dalam hadis beliau tentang pasar di surga. Makna angin utara tersebut sesuai dengan budaya bangsa Arab yang terbiasa menanti angin utara dari arah Syam. Angin dari arah utara tersebut dinantikan bangsa Arab karena biasanya membawa air hujan.

Karena itulah angin utara dianggap sebagai kabar gembira. Angin sejuk menggembirakan itu, akan dirasakan penduduk surga saat mereka menjalin keakraban di pasar.
Itulah gambaran pasar surga yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw melalui Sabdanya.
Pasar tersebut hanya bisa dirasakan dan dinikmati bagi mereka yang memiliki amal baik dan Allah berikan rahmat untuk masuk ke surga. Sebaliknya tidak diperuntukan untu hamba Allah yang tidak menjalankan perintah dan tidak menjauhi larangan-Nya.

Bagaimana apakah kalian menginginkan berkunjung ke pasar surga yang sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw tersebut?

Jawabannya tidak ada lain kecuali harus mempertebal amal-amal baik agar diri kita pantas untuk dimasukkan ke surga-Nya.

Semoga Bermanfaat (KH. E. Sunidja)
16122021

Serial Tasawuf-36 Al-Hikam: Hikmah Ketiga, "Dinding Takdir yang Tak Terlampaui Tekad"

Malam itu, hujan turun rintik-rintik di atas Iskandariyah. Para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Membasuh wajah mereka dari air h...