Rabu, 17 Agustus 2022

Makna Kemerdekaan dalam Pandangan Sufi

Kemerdekaan dalam pandangan kaum sufi memiliki makna tersendiri. Makna kemerdekaan menurut mereka tergantung kepada tingkatan spiritualitas yang dilalui seorang hamba. 

Para penulis teori-teori tasawwuf ketika menjelaskan kebebasan dalam karya-karya mereka selalu dimulai dengan konsep hamba (al-abd) berikut dengan semua atribut kehambaan (al-ubudiyyah). 

Dalam penjelasan ini, yang tersisa dalam substansi dan identitas kesufian tidak lain hanyalah kehambaan atau dalam bahasa kaum sufi al-ubudiyyah.

Namun persoalan jadi lain ketika seorang hamba dalam perjalanan ruhaninya telah sampai kepada tingkat al-fana. Sampai di sini, pembahasan kaum sufi menjadi lain, tidak lagi soal kehambaan atau al-ubudiyyah tapi soal kebebasan atau al-hurriyyah. Lalu apa sebenarnya makna al-hurriyyah dalam pandangan kaum sufi?

Hakikat kebebasan, kata al-Qusyairi dalam ar-Risalah, terletak kepada kesempurnaan kebebasan (fi kamal al-hurriyyah). Secara lebih jauh lagi, al-Qusyairi mengutip pandangan al-Hallaj: al-Husain bin Mansur menjelaskan jika telah melewati tingkatan-tingkatan kehambaan (maqamat al-ubudiyyah) secara keseluruhan, seorang hamba akan terbebas dari beban kehambaan.

Karena dalam pandangan kaum sufi, setiap makna suatu kata itu selalu terbagi dua; makna untuk kalangan orang banyak atau kalangan awam dan makna untuk kalangan elite atau kalangan khassah, dan kadang dalam berbagai hal, ada makna lain yang ketiga, yakni makna untuk kalangan super elite (khasatul khassah), kebebasan pun selalui dimaknai menurut awam, khassah dan khassatul khassah.

Kebebasan untuk kalangan awam ialah kebebasan dari perbudakan nafsu dan syahwat (at-taharrur min ubudiyyat asy-syahawat). Kebebasan seperti ini hanya diperuntukan bagi para sufi pemula yang belum bisa dibedakan dari kalangan awam pada umumnya. Sedangkan kebebasan untuk kalangan khassah ialah kebebasan dari belenggu kehendak dan keinginan karena kehendak mereka sudah melebur atau fana dalam kehendak Yang Maha Benar (at-taharrur min riqqil muradat, lifanai iradatihim fi iradatil haqq).

Kebebasan jenis ini ialah kebebasan seorang sufi yang telah melewati semua tingkatan perjalanan spiritual dan telah mencapai tingkatan fana. Ketika sudah sampai ke tingkatan fana, sang sufi sudah terbebas dari belenggu-belenggu latihan spiritual, riyadah dan mujahadah.

Sedangkan jenis kebebasan yang ketiga, kebebasan yang dimiliki oleh kalangan khassatul khassah, kalangan super elite-nya para pendaki spritual menuju Allah, ialah kebebasan dari belenggu ibadah formal dan sunnah karena mereka telah terbius oleh manifestasi cahayanya cahaya (riqq ar-rusum wal atsar li inmihaqihim fi tajalli nur al-anwar).

Yang semakna dengan definisi kebebasan untuk kalangan khassatul khassah ini ialah sebagian kalangan sufi yang mengatakan: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kamu dalam kebebasan maka jadilah seperti dalam keadaan pertama kali kamu tercipta. (inna Allah kholaqaka hurran fa kun kama kholaqoka). Arti dari klausa jadilah seperti dalam keadaan pertama kali kamu tercipta.

Jadi makna kebebasan bagi kalangan khassatul khassah ialah terbebas dari rusum, yaitu ibadah formal (takalif syariyyah) yang menjadi objek kajian fikih. Sebagian kalangan sufi memberikan justifikasi terhadap kebebasan dari beban ibadah formal dengan menegaskan bahwa kalangan khasatul khassah itu qod tajahwaru, yang artinya bahwa jiwa-jiwa kalangan khassatul khassah telah menjadi suci sehingga mereka menjadi substansi murni.

Berangkat dari sini, riyadah dan mujahadah tidak perlu lagi bagi kalangan khassatul khassah karena kewajiban riyadhah dan mujahadah tujuannya ialah untuk menyucikan jiwa dan ketika jiwa sudah menjadi suci, untuk apalagi proses mujahadah. Untuk lebih memperjelas, kita coba kutipkan pandangan Ibnu al-Jauzy dalam kitabnya yang terkenal, Talbis Iblis, demikian:

“ومنهم من داوموا على الرياضة مدة، فرأوا أنهم قد تجهوروا فقالوا: لا نبالي الآن ما عملنا، وإنما الأوامر والنواهي للعوام، ولو تجهوروا لسقطت عنهم. قالوا: وحاصل النبوة ترجع إلى الحكمة والمصلحة. والمراد منها ضبط العوام ولسنا من العوام فندخل في حجر التكليف لأنا قد تجهورنا وعرفنا الحكمة.”

“Di kalangan kaum sufi, ada yang melakukan riyadhah sebentar lalu mengklaim bahwa mereka telah menjadi substansi (tajahwaru). Mereka mengatakan: kami tak peduli dengan amalan-amalan. Perintah dan larangan agama hanya untuk kalangan awam. Ketika sudah menjadi substansi murni, mereka mengklaim telah bebas dari beban kehidupan. Lebih jauh lagi, bagi mereka ajaran kenabian memang hanya diberlakukan untuk hikmah dan kemaslahatan.

Maksud dari ajaran kenabian ialah untuk mendidik kalangan awam sementara mereka mengklaim: “kami bukan kalangan awam sehingga tidak bisa masuk ke dalam beban kehidupan karena kami telah menjadi substansi murni dan kami telah mengetahui hikmah kehidupan di dunia”.

Sampai di sini, klaim tajahwur memiliki kaitan erat dengan terbebasnya mereka dari beban kehidupan. Tajahwur artinya proses ketika jiwa menjadi substansi murni setelah melewati tahapan-tahapan mujahadah dan riyadhah yang memakan waktu lama. Jadi makna kemerdekaan bagi kaum sufi yang sudah mencapai tingkatan khassatul khassah ialah kemerdekaan dan kebebasan dari berbagai beban kehidupan dunia.  (bincangsyariah.com)

Sabtu, 30 Juli 2022

Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah tahun ini jatuh pada Sabtu, 30 Juli 2022. Pada tahun baru ini pula terdapat ragam makna spesial bagi umat Muslim.

Bulan Muharram termasuk dalah satu dari empat bulan paling dimuliakan oleh Allah SWT atau disebut sebagai 'bulan haram' (al asyhurul harum) dalam Islam.

Hal ini bahkan tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 36 yang artinya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."


Allah SWT memberikan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada berupa keistimewaan dan kemuliaan. Perbuatan baik, seperti memperbanyak salat sunah, berzikir, bersedekah, dan lain sebagainya, yang dikerjakan pada empat bulan haram tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT.

Tahun baru Islam atau Hijriah memiliki makna tersendiri bagi umat Muslim. Bergantinya tahun baru Islam diperingati pada 1 Muharram, dan berbeda dengan penanggalan masehi.

Islam memang mengajarkan kepada kita bahwa sebagai umat Muslim, kita harus menyambut tahun baru memakai sistem penanggalan Hijriah dan memperingatinya dengan doa serta berzikir bersama.

Ada peristiwa penting yang terjadi sehingga muncul penanggalan hijriah, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Madinah ke Makkah.

Peristiwa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah bagi umat Muslim karena semenjak itu agama Islam berkembang pesat di sebagian besar daerah Jazirah Arab.

Penanggalan Hijriah yang diawali pada 1 Muharram digagas oleh sahabat nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, sebagai tanda hijrah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalam menyambut dan memperingati tahun baru Islam, umat Muslim diharapkan memaknainya dengan membuka lembaran baru serta mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan.

Lantas, sebenarnya apa saja makna tahun baru Islam yang perlu kita pahami? Berikut makna tahun baru Islam bagi umat muslim:

1. Momentum Pergantian Tahun

Makna tahun baru 1 Muharram bagi umat Muslim yang pertama adalah sebuah momentum adanya pergantian tahun. Tentu ini menandakan akan perubahan tahun Hijriyah dari tahun sebelumnya ke tahun yang baru.

Momen pergantian tahun baru Islam bagi beberapa umat sering dirayakan dengan berbagai aktivitas berbeda, seperti sembari membaca Al-Qur'an dan berzikir muji nama Allah SWT.

2. Memperingati Nabi Muhammad SAW Hijrah

Tahun baru Islam memiliki arti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju ke Madinah dan menjadi peristiwa penting lahirnya Islam sebagai agama yang berjaya.

Dari hijrah tersebut, Islam mulai mengalami perkembangan yang pesat dan makin luas sampai ke Makkaah dan beberapa daerah di sekitarnya.

Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah bukan tanpa alasan, namun karena memperoleh wahyu dan juga sebuah respons untuk menanggapi masyarakat Arab yang tidak terlalu berkenan dengan ajaran Islam.

Dengan hijrahnya Nabi Muhammad tersebut, Islam mulai mengalami peningkatan dalam menunjukkan diri dan menjadi negara Islam [Daulah Islamiyah] terbentuk. Daulah Islamiyah di zaman Nabi Muhammad sangat menjunjung tinggi toleransi yang termaktub dalam Piagam Madinah.

3. Semangat Perjuangan Tanpa Putus Asa

Makna tahun baru Islam yang berikutnya dapat diartikan sebagai semangat perjuangan tanpa mengenal rasa putus asa serta optimisme yang tinggi, yakni semangat hijrah dari hal buruk menuju hal yang lebih baik.

Rasulullah SAW serta para sahabatnya melawan rasa sedih dan takut saat hijrah, di mana mereka harus meninggalkan tanah kelahiran, saudara dan harta benda yang mereka miliki.

4. Bukti Betapa Maha Adilnya Allah SWT

Tidak seperti tahun Masehi di mana permulaan hari atau pergantian hari terjadi di jam 00:01, tahun baru Islam dimulai saat matahari terbenam atau munculnya bulan.

Inilah yang menyebabkan Tahun Masehi dari Isa Al Masih dalam Islam dinamakan Tahun Syamsyiah (matahari), sementara untuk tahun Hijriah atau tahun Islam dinamakan tahun Qimariah (bulan).

Bukti dari Maha Adil Allah SWT akan terlihat pada daerah dekat ekuator atau khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara Arab yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar, fluktuasi lamanya berpuasa untuk setiap tahun hampir tidak banyak memiliki perbedaan.

Hal ini tidak terjadi di beberapa belahan bumi lain di mana waktu berpuasa bisa lebih singkat atau lebih lama.

5. Momen Muhasabah atau Intropeksi Diri

Makna tahun baru Islam yang berikutnya adalah sebagai momen introspeksi diri atau muhasabah. Dengan memasuki tahun baru Islam atau Hijriah, kita akan memasuki 1 Muharram yang berarti sudah meninggalkan tahun yang sudah berlalu dan memasuki tahun yang baru.

Dalam menyambut tahun baru Islam, kita bisa merenungkan perbuatan kita di tahun-tahun sebelumnya dan merencanakan tujuan di tahun yang baru ini dengan resolusi-resolusi yang Anda tetapkan sendiri.

Tentunya resolusi ini merupakan resolusi yang baik dan harus diiringi oleh usaha yang tekun dan berdoa yang tanpa henti, berharap kepada Allah ta'ala.

6. Momen Menuju Kebaikan

Makna tahun baru Islam memiliki makna bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang.

Hal ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 218)

7. Pengingat akan Pentingnya Berakhlak Mulia

Makna tahun baru Islam yang selanjutnya adalah dapat menjadi pengingat dari pentingnya akhlak mulia. Tentu sering kita dengar bahwa berilmu saja tidak berguna jika Anda tidak berakhlak.

Akhlak mulia akan menjadi pendorong Anda untuk dapat terus berbuat baik dan menebar kebaikan kepada banyak orang, yang kemudian hasil kebaikan itu akan Andai tuai kembali di kemudian hari.

8. Menghindari Kultus Individu

Penentuan tahun baru Islam tidak didasari dengan kelahiran, namun pada peristiwa. Hal ini memperlihatkan Islam merupakan agama yang progresif, bergerak terus maju, tidak stagnan, dan bergerak dari satu peristiwa menuju ke peristiwa yang lainnya sesuai perkembangan zaman, kebutuhan tempat dan kebutuhan manusia yang hidup pada saat tersebut.
(Sumber: DalamIslam//dkmalmuhajirin/ankid/nas)

Rabu, 15 Juni 2022

Qurban dan Kedekatan dengan Allah

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

Diceritakan, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang panglima yang digelari “asadullah” (singa Allah), tubuhnya bergemuruh setiap mendengar genderang perang ditabuh. Badannya selalu terkoneksi dengan sinyal-sinyal ilahiah, atau yang dalam dunia tasawuf disebut “muraqabah”.

Sahabat, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi SAW ini adalah contoh manusia yang “Allah lebih dekat dari urat lehernya.” Seluruh molekul tubuh sosok yang berdua bersama Ali bin Abi Thalib pernah sukses memimpin perang Badar pada tahun 2 Hijriah ini, sudah terisi cahaya Allah. Hatinya (dalam dimensi batiniah disebut qalbu) senantiasa bergetar manakala mendengar Kalimah-Kalimah Suci.

Untuk orang-orang seperti ini Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal: 2).

Hamzah syahid dalam perang Uhud pada tahun 3 Hijriah. Ia bersama Muhammad menjadi target utama pembunuhan. Sebelumnya dalam perang Badar, ia pernah menghabisi ayah dari Hindun. Begitu dendamnya perempuan ini. Lalu ia mengupah dan melatih budaknya, Wahsyi bin Harb, untuk membunuh Hamzah.

Hamzah diintai. Dalam kegentingan perang yang amburadul karena pasukan muslim mengabaikan perintah Nabi, Hamzah berhasil ditombak dari belakang. Ia rubuh. Tubuhnya dicincang. Hatinya dirobek-robek dan dimakan Hindun. Paska perang, kaum muslim menelusuri mayat demi mayat untuk mencari Hamzah. Tak dikenali lagi, karena fisiknya sudah dirusak.

Secara heroik diriwayatkan. Untuk mengetahui kepingan tubuh Hamzah, kaum muslimin menabuh kembali genderang perang. Jika ada potongan jasad yang bergerak-gerak, itulah daging Hamzah. Tubuhnya masih mengalami muraqabah bahkan ketika sudah mati sekalipun. Spirit mujahadahnya tinggi sekali.

Cerita serupa kita temukan pada kisah-kisah sufi yang mati dibunuh. Siti Jenar, Hamzah Fansuri, dan ahli muraqabah lainnya. Katanya, begitu dipancung, darah mereka mengalir membentuk Kalimah Allah.

Bagi sebagian kita, ini terkesan mistis. Sulit dicerna. Tidak masuk akal. Saya pun demikian. Setidaknya kita dapat memahaminya dalam pengertian berbeda. Bahwa secara hakikat, orang-orang beriman itu senantiasa “hidup”. Tidak pernah mati. Kalimah Allah sudah menyatu dalam darah dan daging mereka.

Dikemudian hari juga ditemukan adanya jasad para syuhada yang tubuhnya masih utuh. Darahnya masih segar. Padahal sudah ratusan, bahkan ribuan tahun meninggal. Celah-celah dinding dan lantai kuburan imam Husain, misalnya, diketahui masih sering mengeluarkan bercak merah darah. Pun demikian dengan banyak makam syuhada, para pemimpin dan orang-orang shaleh lainnya. Bumi terkesan enggan menghancurkan tubuh-tubuh yang Nur Allah sudah bersemayam dalam diri mereka.

***

Salah satu tugas Nabi adalah mengisi Kalimah Allah ke dalam jiwa pengikutnya. Kalimah yang diisi haruslah Kalimah yang asli. Sebab, kalau sekedar membaca ayat suci, iblis juga bisa. Tapi masalahnya, kalimat itu tidak berasal dari dimensi yang tinggi. Sehingga pengaruhnya tidak ada.

Seorang arifbillah di Dayah Sufimuda Aceh, pernah mengilustrasikan ini dengan sebuah surat yang berisi kalimat-kalimat dari presiden, katakanlah Jokowi. Setiap orang bisa meniru surat itu. Namun, jika surat tersebut palsu, tetap tidak punya efek apapun. Sebab, sebuah surat dan kalimat yang asli, turun dari lembaran negara. Surat dan kalimat-kalimat inilah yang punya efek luar biasa, bisa menaikkan atau menurunkan harga BBM. Sementara surat-surat palsu tidak memiliki power semacam itu, walaupun kop dan tandatangannya persis sama.

Itulah mengapa resonansi bacaan kita terhadap kalimat-kalimat Tuhan lemah. Meskipun diayun-ayun dengan 1001 irama, ditambah fasahah yang sempurna, getaran ilahiah tetap tidak ada. Karena yang membaca itu dimensi “aku”, bukan “Dia.” Bukan unsur Tuhan yang membacanya. Tapi nafsu.

Kalau bacaannya berasal dari lembaran jiwa yang suci, pasti mampu mengobati berbagai penyakit, mengalahkan musuh-musuh, mengusir unsur-unsur setan, menjadi petunjuk dan menenangkan jiwa. Oleh sebab itu, kesucian jiwa menjadi prasyarat untuk berfungsinya semua Kalimah itu. Metodologi penyucian jiwa disebut tarekat (sufisme praktis). Tentu dengan bimbingan seorang mursyid yang memiliki kompetensi kewalian (waliyammursyida, QS. Alkahfi: 17).

***

Idul Adha dikenal dengan “Idul Qurban.” Makna dari “kurban” adalah kedekatan dengan Allah. Proses berkurban sejatinya membawa kita semakin dekat dengan Allah. Salah satu indikasi “dekat” dengan Allah adalah seperti disebutkan dalam QS. Al-Anfal ayat 2 di atas: “bergetar qalbunya kalau mengingat Allah.”

Apa hubungan penyembelihan hewan kurban dengan kedekatan kepada Allah?

Pertama, seperti sudah umum dijelaskan oleh banyak ulama tasawuf, penyembelihan hewan adalah simbol penyembelihan “diri” (ego, keakuan atau sifat-sifat kebinatangan). Ketika kita sudah bersedia mengorbankan segala yang paling kita cintai di jalan Tuhan, maka saat itulah Allah akan bersedia menghampiri kita. Syarat diterimanya kurban tentu ikhlas. 

Kedua, sesungguhnya, daging kurban itu sendiri jika dimakan akan mengantarkan kita semakin dekat dengan Allah. Sebuah sembelihan yang diawali dengan Kalimah Suci akan mentransfer cahaya ilahi ke dalam darah dan dagingnya. Masaru Emoto (2003) dari Hado Institute Tokyo telah menguji ini terhadap segelas air yang dibacakan kalimat-kalimat positif. Kristal air berubah menjadi baik. Tidak sekedar halal, jenis air yang baik seperti ini yang seharusnya sering kita minum.

Oleh sebab itu, air Zamzam menjadi berkah bukan karena sekedar unsurnya yang baik. Kristalnya juga terbentuk dari doa para nabi dan orang-orang shaleh. Dalam tasawuf, ini dikenal dengan “air tawajuh”. Air yang dizikirkan dengan Kalimah-Kalimah Suci. Konon lagi jika ditalqin oleh sosok nabi dan para imam/wali. Pun daging kurban yang dipotong dengan azan dan Kalimah-Kalimah Suci menjadi daging yang baik. Memakan daging yang mengandung unsur-unsur ilahiah ini akan membawa kita semakin kuat beribadah dan merasakan kehadiran Allah (muraqabah).

Menariknya, Kalimah-Kalimah Suci ini tidak hanya kita bacakan saat menyembelih sapi dan kambing. Selama empat hari tanpa henti; takbir, tahmid, tasbih dan tahlil terus dikumandangkan. Seharusnya, gema ini (jika Kalimahnya asli) mampu mentransfer energi positif ke relung jiwa kaum muslimin. Namun, semakin hari kalimat-kalimat suci yang kita alunkan terkesan semakin bermasalah. Suara azan sekalipun yang seharusnya ketika didengar bisa melembutkan qalbu-qalbu etnis Cina, justru semakin dimusuhi. Ada apa ini?

Pun wuquf di Arafah. Yang seharusnya hadir adalah Allah, kini yang datang justru angin ribut.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

 powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Hak yang Terputus: "Pensiunan Telkom dan Kezaliman Sistemik"

( Secangkir Anggur Merah, Edisi-62 ) Leaderline : Pandapotan Nasution. Pensiunan PT Telkom. Menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi pad...