Senin, 13 November 2023

Apakah Semua Umat Manusia Ditanya Malaikat di Alam Kubur?

Munkar dan Nakir adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah untuk menguji keimanan setiap individu di dalam kubur. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan mencakup keyakinan seseorang terhadap Allah, Nabi, dan agama.

Pertanyaan Munkar dan Nakir tidak hanya sekadar menilai pengetahuan, tetapi juga menguji kedalaman keyakinan dan amal perbuatan yang dilakukan selama hidup.

Lantas, apakah seluruh umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir di Alam Kubur? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini!

Apakah Seluruh Umat Manusia Ditanyai oleh Munkar dan Nakir di Alam Kubur?
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apakah seluruh umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir di alam kubur.

Ada yang berpendapat pertanyaan tersebut hanya ditujukan untuk umat Islam saja, ada pula yang berpendapat sejatinya semua manusia ditanyai termasuk orang kafir. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan berikut.

Pendapat Bahwa Hanya Umat Islam yang Ditanyai di Alam Kubur

Menurut Abu Abdullah At-Tirmidzi dikutip dari buku Perjalanan Ruh, "Pertanyaan pada mayit hanya berlaku pada umat ini saja. Sebab umat-umat sebelum kita setiap kali mereka mengabaikan rasul-rasul yang datang membawa risalah kepada mereka, mereka pun segera diazab setelah rasul-rasul mereka diungsikan terlebih dahulu."

Di samping itu, menurut Abu Umar Bin Abdil Bar dalam kitabnya At-Tamhid, "Berbagai atsar menunjukkan bahwa ujian atau pertanyaan di dalam kubur hanya ditujukan kepada orang mukmin atau munafik, yaitu orang-orang terkait dengan ahli kitab dan Islam yang mengucapkan syahadat.

Adapun orang kafir yang membangkang dan menentang, tidak termasuk mereka yang mendapat pertanyaan tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Pertanyaan semacam ini hanya ditujukan kepada orang Islam. Allah meneguhkan orang-orang beriman dan orang-orang ingkar akan gemetar."

Penjelasan tersebut menyiratkan bahwa pertanyaan oleh Munkar dan Nakir hanya akan ditanyakan kepada umat muslim saja.

Pendapat bahwa Orang Kafir dan Munafik juga Ditanyai di Alam Kubur

Berbeda dengan pendapat sebelumnya, ada pula pendapat ulama yang mengatakan bahwa semua umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir.

Dikutip dari buku Hakekat Ruh, di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Anas bin Malik, Nabi bersabda, "Sesungguhnya, jika hamba diletakkan di liang lahat dan keluarganya sudah meninggalkannya, ia bisa mendengar suara sandal mereka."

Lalu, Al-Bukhari menambahkan, "Sedangkan orang munafik dan orang kafir maka ditanyakan kepadanya: 'Apa yang kamu katakan tentang orang ini?' Ia menjawab 'Aku tidak tahu. Aku mengatakan seperti yang dikatakan orang-orang.'

Maka dikatakan kepadanya: 'Kamu memang tidak tahu dan kamu tidak pernah membaca.' Lalu, ia dipukul dengan palu besi hingga ia menjerit kesakitan yang didengar oleh makhluk yang ada di sekitarnya, kecuali manusia dan jin'."

Selain itu, masih dikutip dari buku yang sama, Abu Sa'id Al-Khudri menghimpun dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Amir Al-Aqdi, berkata, "Kami diberitahu Ibad bin Rasyid, dari Dawud bin Abu Hindun, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa'id, ia berkata"

'Kami menghadiri jenazah bersama Rasulullah, lalu ia menyebutkan hadisnya hingga beliau bersabda: 'Jika ia orang kafir atau munafik maka malaikat bertanya kepadanya: 'Apa yang engkau katakan tentang orang ini?' Ia menjawab: 'Aku tidak tahu'."

Penjelasan tersebut berarti jelas sekali bahwa pertanyaan di alam kubur juga akan ditanyakan kepada orang kafir dan munafik tidak hanya umat muslim saja.

Pendapat yang Netral

Terdapat ulama yang mengambil posisi netral seperti Abu Umar bin Abdul-Barr dikutip dari buku Roh yang menyatakan bahwa dalam hadits Zaid bin Tsabit disebutkan dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, "Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya."

Ada golongan yang menganggap hadits di atas tidak menunjukkan kekhususan bagi umat ini semata, tanpa umat yang lain. Umat yang dimaksudkan bisa umat manusia tetapi juga bisa umat binatang.

Maka kata "diuji" menurut lafaz ini bisa berarti hanya ditujukan kepada umat ini secara khusus. Akan tetapi, masalah ini tidak bisa diputuskan begitu saja.

Para ulama yang mengambil posisi netral memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan mengenai hal ini dan mengembalikannya sebagai rahasia Allah. Hanya Allah SWT yang lebih tahu. Wallahualam.

Siapa yang Tidak Ditanya oleh Munkar dan Nakir?

Terdapat pendapat ulama yang menyatakan bahwa beberapa golongan manusia diberi kemudahan oleh Allah di alam kubur sehingga lolos dari pertanyaan Munkar dan Nakir.

Dilansir dari buku Islam Kafah Bukan Ajaran Penuh Amarah, menurut Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Hidayatul Murid, terdapat tujuh orang yang tidak ditanya Munkar dan Nakir, yakni:

Orang yang beruzlah atau menyendiri di gua untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam jangka waktu tertentu.

Orang yang mati syahid di medan perang untuk mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.

Orang yang mempercayai kebesaran Allah SWT baik zahir maupun batin.
Orang yang membaca surah Al-Mulk secara istiqomah setiap malam.
Orang yang meninggal sebab busung lapar.
Orang yang meninggal pada malam Jumat.
Orang yang meninggal sebab bencana alam.

Demikian penjelasan mengenai pertanyaan mengenai apakah seluruh umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir di alam kubur?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Jadi, kembali kepada keyakinan detikers masing-masing. Namun, yang pasti Allah yang lebih tahu. Hal yang paling penting adalah mempersiapkan diri dengan amal ibadah sebelum menghadapi kematian. Wallahu a'lam.
(Fida Afra/Detik Hikmah)

Jumat, 20 Oktober 2023

Tasawuf Rasa Abu Yazid Al-Busthami

Untuk memahami konsep "Al-Ittihad" dalam perjalanan rohani Abu Yazid al-Busthami, kita bisa meneliti konsep-konsep ketuhanannya yang terangkum dalam peristilahan (syatahat) yang sering disampaikannya. 

Misalnya, kata-kata Ana al-Haqq (Akulah Kebenaran). Ketika membawa rombongan haji ke tanah suci, para jamaah harus mengikuti dan menuruti apa yang dilakukan sang mursyid selaku pembimbingnya. Seketika itu, berucaplah Abu Yazid: "Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku". Bahkan, ada beberapa syatahat yang sulit dipahami orang-orang biasa, namun hanya dapat ditangkap oleh pemahaman orang yang kualitas kesufiannya sudah tinggi. 

Ketika Abu Yazid ditanya oleh salah seorang sahabatnya, ia hanya mengatakan: "Bukan aku yang mengucapkan, tetapi Tuhan berbicara melalui lidahku dalam keadaan fana." Jadi, kata-kata yang terucap itu dalam keadaan dirinya mengalami "ittihad" atau penyatuan diri dengan Sang Khalik. 

Tetapi, sebagian ahli fiqih tak bisa menerima pernyataan itu secara hukum syariat, karena diibaratkan orang yang sedang mengkhayal, mengigau atau mabuk. Di sisi lain, Abu Yazid sendiri mengaku dalam keadaan "fana" dan tenggelam dalam diri-Nya. Dalam hubungannya dengan Sang Khalik, Abu Yazid juga memakai istilah al-isyq (rindu berat), bahkan juga as-sakar (dimabuk cinta). 

Menurut Abu Yazid, karena Tuhan itu Maha Suci, maka unsur dari manusia yang dapat berjumpa dengan-Nya haruslah disucikan terlebih dahulu. Untuk itu, ia akan dapat bersatu hanya dalam keadaan suci, setelah menyucikan dirinya. "Ruh manusia harus suci. Karena yang dapat mendekati Yang Maha Suci adalah yang suci pula. Ruh yang memasuki tubuh yang bernafsu, bisa dibuat kotor oleh hawa nafsu. 

Karenanya, ruh harus disucikan dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat pada dirinya," demikian ujar Abu Yazid. Diskursus kesufian Menurut Abu Bakar Atjeh, ada tahapan-tahapan tersendiri untuk memuluskan rohani hingga mencapai derajat kesufian, di antaranya mempelajari pengetahuan dan pendalaman akan ilmu tasawuf, mencari mursyid atau bersahabat dengan teman-teman sependirian, rajin melakukan zikir dan wirid untuk mewujudkan hudlur (kehadiran), mengekang diri dari kecenderungan nafsu duniawi, serta konsisten untuk menjaga diri dari ketersestan. 

Adapun jalan yang ditempuh Abu Yazid adalah pelatihan dan riyadlah selama puluhan tahun hingga mencapai kefanaan dan penyatuan diri dengan Sang Khalik, bahkan merasa diri hancur-lebur (fana) untuk bersatu dengan-Nya. 

Dalam konteks kehilangan akan kesadaran diri, hingga melebur dalam kesadan-Nya, seorang analis sufi William James pernah menulis dalam bukunya The Varieties of Religion Experience sebagai berikut: "Pengalaman mistis Abu Yazid al-Bustami sulit diuraikan dengan kata-kata yang memadai untuk bisa mengisahkannya. 

Kualitas kesufian semacam itu harus dialami secara langsung, karena pengertian cinta dan rindu yang dialaminya sulit terjamah oleh cinta manusia biasa. Jadi, ada semacam perasaan yang sulit diungkap dengan kata-kata, kecuali oleh orang yang mendapatkan wawasan tentang kedalaman hakikat kebenaran. 

Hal tersebut sulit termaknai oleh kemampuan intelektual yang bersifat diskursus. William James memknai proses kefanaan Abu Yazid, dikondisikan oleh faktor kesengajaan dan penuh kesadaran. Datangnya situasi mistik bisa dikondisikan dengan pemusatan pikiran yang fokus dalam konsentrasi tinggi. 

Ia memerlukan gerakan tubuh atau bacaan-bacaan tertentu. Kemudian, saat kesadaran akan penyatuan dirinya muncul, sang mistikus merasa bahwa untuk sementara hasratnya menghilang, dan ia merasa dikuasai oleh Kekuatan Yang Maha Tinggi. Secara teoritis, sebenarnya Abu Yazid sendiri tak pernah menggunakan istilah "al-ittihad" melalui konsep sufistik yang dipraktikkannya. Ia hanya menjalani amalan yang disukainya dalam praktek kesufian, hingga kemudian membentuk ajaran yang dinamakan "al-ittihad". 

Jadi, sulit untuk ditemukan kalimat yang menjelaskan bahwa Abu Yazid adalah pelopor yang menunjukkan jalan "al-ittihad" secara teoritis. Adapun mengenai turunnya wahyu sebagai kalam ilahi, hal tersebut hanya dialami oleh para nabi dan rasul pilihan-Nya. Apabila sampai seseorang berkat karunia Allah pada tingkatan pewahyuan, inilah yang disebut "ittihad" sebagai wahyu Allah yang disampaikan melalui perantaraan hamba yang dicintai-Nya. 

Sedangkan yang diajarkan Abu Yazid kelak akan membentuk thariqoh atau jalan yang dilalui olehnya, untuk dapat mencapai kebenaran-Nya. Jadi, konsep "ittihad" itu dimunculkan oleh para sufi generasi sesudahnya, yang diilhami dari ucapan-ucapan alam bawah sadar (syatahat) yang dialami Abu Yazid sendiri. 

Rasa bertasawuf "Siapa yang tidak mengalaminya secara langsung, maka sulit baginya untuk mengerti," demikian ungkapan sebagian ahli tasawuf mengenai teori dan praktek mistisisme dalam dunia tasawuf. Karena biasanya sang guru (mursyid) hanya akan menunjukkan jalan dan tempatnya, adapun perkara pengalaman yang dirasakannya sulit terbahasakan, kecuali jika dijalani dan dirasakan langsung oleh para muridnya. 

Abdurrahman Siddiq Safat mengungkap jalan yang ditempuh Abu Yazid, konon ia sering merasakan adanya ikat pinggang yang melilit di tubuhnya, hingga ketika tiba saatnya berjumpa dengan Allah, maka ikat pinggang itu terputus dari lilitan tubuhnya. Oleh karena itu, menjelang akhir hayatnya Abu Yazid melaksanakan salat dengan ikat pinggang dan baju wol yang terbalik dikenakan dalam tubuhnya. 

Kemudian, ia bermunajat dan menyampaikan kata-kata terakhirnya: "Ya Allah, aku tidak membanggakan kesalehanku selama ini. Aku tidak membanggakan puasa, tahajud, bahkan seberapa kali aku mengkhatamkan Alquran sepanjang hidupku. Aku tak pernah mengatakan pengalaman spiritualku sebagai unik dan langka yang tak pernah dialami oleh orang lain. Aku tak mau membanggakan doa, munajat dan kedekatanku dengan-Mu. Saat ini, kukatakan pada-Mu bahwa aku malu dengan segala perbuatanku. Semua yang kulakukan itu semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Mu kepadaku sebagai hamba yang hina dina ini. Aku telah menapaki jalan berliku selama 70 tahun sehingga rambut memutih karena kebodohan dan kejahilanku. Di sepanjang padang pasir aku tertatih-tatih dengan ikat pinggang terlilit di tubuhku. Namun, baru saat inilah aku memahami apa yang disebut Islam dan kepasrahan diriku kepada-Mu. Baru sekarang inilah aku dapat mengucapkan syadahat di hadapan-Mu."

Di akhir hayatnya, Abu Yazid al-Busthami mulai menyadari bahwa Allah dapat melakukan dan memutuskan segala perkara tanpa memerlukan sebab apapun. Allah tidak menjadikan kekasih-Nya disebabkan ketaatan dan kepatuhannya. Juga Allah tidak menjauhi hamba lantaran kekufuran dan keingkarannya. Abu Yazid menyadari bahwa segala daya-upaya yang dilakukannya selama ini hanyalah noktah debu belaka. 

"Untuk setiap kelakuan dan kesombonganku selama ini," ujar Abu Yazid, "aku mohon dilimpahkan ampunan-Mu, ya Allah. Basuhlah debu keingkaran di dalam diriku, karena aku pun telah membasuh debu keangkuhan dan kesombongan, lantaran mengaku telah mematuhi segala perintah-Mu, ya Allah, Allah, Allah...." Setelah mengucap lafadz "Allah" tiga kali, Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 261 Hijriyah. 

Makamnya terletak di tengah kota Bustam (Iran) dan menarik banyak pengunjung dari berbagai pelosok negeri. Pada prinsipnya, ia menyadari bahwa kehidupan Rasulullah sebagai pengemban risalah, adalah teladan bagi semua kalangan, baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, bahkan dapat menjadi cermin bagi semua mazhab dan aliran keagamaan, baik yang konservatif, modern, hingga kaum sufistik sekalipun.

(Sumber:nu.or.id/penulis:Hafis Azhari/Penulis buku Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

Rabu, 30 Agustus 2023

Dari Muktamar Sufi Dunia di Pekalongan

Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (Jatman) menggelar perhelatan World Sufi Assembly di Kota Pekalongan. Acara tersebut berlangsung mulai hari ini Selasa (29/8/2023) dan berakhir Kamis (31/8/2023).

Muktamar Sufi Internasional II itu secara resmi dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo dan akan ditutup Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin.

Sekretaris Jendral (Sekjend) Jatman KH Mashudi menjelaskan, acara sufi dunia atau World Sufi Assembly (WSA) Conference ini dihadiri 68 Masyayeikh dari luar negeri, 1.500 ulama dan habib dalam negeri, serta para tokoh masyarakat.

"Untuk pemondokan tamu kami libatkan banyak hotel di Kota Pekalongan dan siapkan rumah masyarakat yang tersebar di Kota dan Kabupaten Pekalongan," ujarnya.

Kiai Mashudi menerangkan, dalam acara tersebut juga akan dilakukan sejumlah kajian. Di antaranya mengkaji pendidikan sufi agar betul-betul meresap di hati masyarakat dunia. Juga kajian tentang ekonomi, sosial, hingga soal teknologi dan peradaban untuk dunia.

Selain kegiatan utamanya berupa muktamar, panitia juga telah menggelar kegiatan penunjang yakni kirab Merah Putih dan silaturahim Mursyid Tariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) pada Senin (28/8/2023).

"Acara dimulai tanggal 28 Agustus. Tanggal 28 Agustus ada rangkaian kirab merah putih serta bazar, tanggal 29 Agustus dibuka oleh RI 1 dan diikuti Masyayikh luar negeri, sampai 31 Agustus penutupan," katanya.

Untuk diketahui, acara Multaqo Sufi Al-Alamy ini yang kedua kalinya digelar di Kota Pekalongan. Adapun yang pertama digelar pada 2019, yang menetapkan Habib Luthfi bin Yahya sebagai Ketua Forum Sufi Dunia yang kini berubah nama menjadi Majelis Sufi Dunia atau World Sufi Assembly.

Sementara itu untuk pengamanan, disiapkan sebanyak 1.500 personil gabungan (TNI, Polri dan Banser). Apel kesiapan pengamanan telah dilakukan di Lapangan Mataram, Kota Pekalongan, pada Jumat lalu.

Dibuka Presiden RI

Muktamar Sufi Internasional 2023 resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Rencananya, penutupan konferensi ini akan turut dihadiri oleh Wapres Ma'ruf Amin.

Muktamar Sufi Internasional tersebut digelar pada 29-31 Agustus 2023 di Sahid International Convention Center, Pekalongan, Jawa Tengah. Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto ditunjuk sebagai Ketua Umum Pusat Muktamar Sufi Internasional, sementara Habib Luthfi merupakan Panitia Pelaksananya.

Melalui pidato pembukanya, Jokowi mengapresiasi pelaksanaan Muktamar Sufi Internasional yang dinilai penting bagi Indonesia sebagai contoh Islam moderat sekaligus menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia bukan lagi berada di pinggiran.

"Pelaksanaan muktamar ini sangat penting bagi Indonesia, akan membuat Indonesia semakin dikenal sebagai contoh Islam moderat, akan meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia, dan membuat Indonesia semakin diperhitungkan," tutur Jokowi, dikutip dari laman Setkab RI, Rabu (30/8/2023).

Menurut Jokowi, Islam di Indonesia mempunyai peran yang sangat strategis dengan berkontribusi untuk membangun peradaban dunia yang damai dan harmonis.

"Muktamar ini mengejawantahkan nilai-nilai luhur tasawuf, thariqah, mendekatkan tasawuf dan thariqah kepada negara masing-masing," ujarnya.

Jokowi juga mengingatkan tentang sikap moderat dan saling berinteraksi untuk bersatu dalam menghadapi keberagaman. Khususnya bagi Indonesia dengan 270 juta penduduk yang beragam etnis hingga agama.

"Alhamdulillah kita terus kokoh bersatu, alhamdulillah kita bisa menjaga stabilitas politik kita. Semua ini berkat karakter moderat bangsa Indonesia yang menjaga toleransi dan persatuan," ucapnya.

Meski demikian, Jokowi mengakui kerap ditemukan masih adanya kasus intoleransi. Untuk itu, menurutnya, tasawuf hingga Islam yang moderat memiliki peran penting dalam persatuan dan kesatuan.

"Saya percaya amalan tasawuf punya peran penting yang selalu hadir dengan nilai-nilai humanisme yang universal dengan prinsip Islam wasathiyah, Islam yang moderat yang akan semakin memperkokoh toleransi, persatuan, dan kesatuan," tukasnya.

Ketua panitia Multaqo Sufi Al-Alamy atau Muktamar Sufi Internasional Prabowo Subianto menyebut pembukaan acara itu dihadiri dua tokoh yang masuk dalam daftar 500 muslim berpengaruh di dunia. Kedua tokoh tersebut adalah Presiden Jokowi dan anggota Wantimpres Habib Luthfi bin Yahya.

"Kita merasa sangat beruntung dalam ruangan ini ada dua tokoh yang masuk dalam daftar 500 muslim berpengaruh di dunia," kata Prabowo, dikutip dari detikJateng.

"Pertama adalah Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Haji Joko Widodo (Jokowi) dan yang kedua Maulana Habib Luthfi. Ya, dua putra Indonesia yang dihormati di seluruh dunia ini bukti konkret bagaimana ulama dan umaroh di Indonesia bersatu bergandengan tangan bahu-membahu membangun negeri tercinta," lanjut dia lagi.

Prabowo juga mengatakan, Muktamar Sufi Internasional ini dihadiri oleh 73 ulama dari 38 negara. Para sufi ulama mancanegara tersebut akan membahas empat bidang terkait pendidikan sufi dan pengaruhnya dalam penyucian jiwa, ekonomi dan pembangunan berkelanjutan, industri media dan opini publik, serta peran penting tasawuf dalam membangun manusia dan mengembangkan peradaban.

Muktamar Sufi Internasional 2023 yang digelar di Pekalongan, Jawa Tengah ini dibuka oleh Jokowi dengan memukul beduk di atas panggung sebagai tanda dimulainya acara. Pejabat yang mendampingi Jokowi turut bertepuk tangan.

Sejumlah pihak mendampingi Jokowi saat pemukulan beduk itu. Mereka adalah Habib Luthfi bin Yahya, Menteri Pertahanan RI sekaligus ketua panitia acara Prabowo Subianto, Mensesneg RI Pratikno hingga Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo.

Jumat, 25 Agustus 2023

Makna Kemerdekaan dalam Pandangan Sufi

Kemerdekaan dalam pandangan kaum sufi memiliki makna tersendiri. Makna kemerdekaan menurut mereka tergantung kepada tingkatan spiritualitas yang dilalui seorang hamba. 

Para penulis teori-teori tasawwuf ketika menjelaskan kebebasan dalam karya-karya mereka selalu dimulai dengan konsep hamba (al-abd) berikut dengan semua atribut kehambaan (al-ubudiyyah). Dalam penjelasan ini, yang tersisa dalam substansi dan identitas kesufian tidak lain hanyalah kehambaan atau dalam bahasa kaum sufi al-ubudiyyah.

Namun persoalan jadi lain ketika seorang hamba dalam perjalanan ruhaninya telah sampai kepada tingkat al-fana. Sampai di sini, pembahasan kaum sufi menjadi lain, tidak lagi soal kehambaan atau al-ubudiyyah tapi soal kebebasan atau al-hurriyyah. Lalu apa sebenarnya makna al-hurriyyah dalam pandangan kaum sufi?

Hakikat kebebasan, kata al-Qusyairi dalam ar-Risalah, terletak kepada kesempurnaan kebebasan (fi kamal al-hurriyyah). Secara lebih jauh lagi, al-Qusyairi mengutip pandangan al-Hallaj: al-Husain bin Mansur menjelaskan jika telah melewati tingkatan-tingkatan kehambaan (maqamat al-ubudiyyah) secara keseluruhan, seorang hamba akan terbebas dari beban kehambaan.

Karena dalam pandangan kaum sufi, setiap makna suatu kata itu selalu terbagi dua; makna untuk kalangan orang banyak atau kalangan awam dan makna untuk kalangan elite atau kalangan khassah, dan kadang dalam berbagai hal, ada makna lain yang ketiga, yakni makna untuk kalangan super elite (khasatul khassah), kebebasan pun selalui dimaknai menurut awam, khassah dan khassatul khassah.

Kebebasan untuk kalangan awam ialah kebebasan dari perbudakan nafsu dan syahwat (at-taharrur min ubudiyyat asy-syahawat). Kebebasan seperti ini hanya diperuntukan bagi para sufi pemula yang belum bisa dibedakan dari kalangan awam pada umumnya. Sedangkan kebebasan untuk kalangan khassah ialah kebebasan dari belenggu kehendak dan keinginan karena kehendak mereka sudah melebur atau fana dalam kehendak Yang Maha Benar (at-taharrur min riqqil muradat, lifanai iradatihim fi iradatil haqq).

Kebebasan jenis ini ialah kebebasan seorang sufi yang telah melewati semua tingkatan perjalanan spiritual dan telah mencapai tingkatan fana. Ketika sudah sampai ke tingkatan fana, sang sufi sudah terbebas dari belenggu-belenggu latihan spiritual, riyadah dan mujahadah.

Sedangkan jenis kebebasan yang ketiga, kebebasan yang dimiliki oleh kalangan khassatul khassah, kalangan super elite-nya para pendaki spritual menuju Allah, ialah kebebasan dari belenggu ibadah formal dan sunnah karena mereka telah terbius oleh manifestasi cahayanya cahaya (riqq ar-rusum wal atsar li inmihaqihim fi tajalli nur al-anwar).

Yang semakna dengan definisi kebebasan untuk kalangan khassatul khassah ini ialah sebagian kalangan sufi yang mengatakan: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kamu dalam kebebasan maka jadilah seperti dalam keadaan pertama kali kamu tercipta. (inna Allah kholaqaka hurran fa kun kama kholaqoka). Arti dari klausa jadilah seperti dalam keadaan pertama kali kamu tercipta ialah jadilah hamba yang bebas dari beban ibadah (ghoir mukallaf).

Jadi makna kebebasan bagi kalangan khassatul khassah ialah terbebas dari rusum, yaitu ibadah formal (takalif syariyyah) yang menjadi objek kajian fikih. Sebagian kalangan sufi memberikan justifikasi terhadap kebebasan dari beban ibadah formal dengan menegaskan bahwa kalangan khasatul khassah itu qod tajahwaru, yang artinya bahwa jiwa-jiwa kalangan khassatul khassah telah menjadi suci sehingga mereka menjadi substansi murni.

Berangkat dari sini, riyadah dan mujahadah tidak perlu lagi bagi kalangan khassatul khassah karena kewajiban riyadhah dan mujahadah tujuannya ialah untuk menyucikan jiwa dan ketika jiwa sudah menjadi suci, untuk apalagi proses mujahadah. Untuk lebih memperjelas, kita coba kutipkan pandangan Ibnu al-Jauzy dalam kitabnya yang terkenal, Talbis Iblis, demikian:

“ومنهم من داوموا على الرياضة مدة، فرأوا أنهم قد تجهوروا فقالوا: لا نبالي الآن ما عملنا، وإنما الأوامر والنواهي للعوام، ولو تجهوروا لسقطت عنهم. قالوا: وحاصل النبوة ترجع إلى الحكمة والمصلحة. والمراد منها ضبط العوام ولسنا من العوام فندخل في حجر التكليف لأنا قد تجهورنا وعرفنا الحكمة.”

“Di kalangan kaum sufi, ada yang melakukan riyadhah sebentar lalu mengklaim bahwa mereka telah menjadi substansi (tajahwaru). Mereka mengatakan: kami tak peduli dengan amalan-amalan. Perintah dan larangan agama hanya untuk kalangan awam. Ketika sudah menjadi substansi murni, mereka mengklaim telah bebas dari beban agama. Lebih jauh lagi, bagi mereka ajaran kenabian hanya diberlakukan untuk hikmah dan kemaslahatan.

Maksud dari ajaran kenabian ialah untuk mendidik kalangan awam sementara mereka mengklaim: “kami bukan kalangan awam sehingga tidak bisa masuk ke dalam ritual ibadah karena kami telah menjadi substansi murni dan kami telah mengetahui hikmah”.

Sampai di sini, klaim tajahwur memiliki kaitan erat dengan terbebasnya mereka dari beban syariat. Tajahwur artinya proses ketika jiwa menjadi substansi murni setelah melewati tahapan-tahapan mujahadah dan riyadhah yang memakan waktu lama. Jadi makna kemerdekaan bagi kaum sufi yang sudah mencapai tingkatan khassatul khassah ialah kemerdekaan dan kebebasan dari beban syariat dan karena itu mereka terlepas dari kewajiban melakukan ibadah formal.

(BincangSyariah.com//Abdul Aziz/Dosen UNPAM, Lulusan S-2 Linguistik UGM yang pernah nyantri di Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences)

Serial Tasawuf-3: "Tentang Karomah yang Dipertontonkan"

Narasi Pembuka : Ada pertanyaan yang menghantui setiap pencari spiritual. Jika Allah mengaruniakan karomah kepadaku, bolehkah aku menceritak...