Narasi Pembuka: Ada pertanyaan yang menghantui setiap pencari spiritual. Jika Allah mengaruniakan karomah kepadaku, bolehkah aku menceritakannya? Pertanyaan ini bukan pertanyaan sederhana. Ia menyentuh inti dari adab seorang hamba di hadapan Tuhannya. Dan jawabannya. Dalam tradisi ortodoks Islam, jauh lebih keras dari yang mungkin kita duga.
Karomah adalah "Aurat" yang Harus Dilindungi
Ketua RMI NU Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki, dengan jelas menyatakan: "Karomah itu aurat. Jadi ngapain dipertontonkan."
Beliau menjelaskan, karomah adalah karunia di luar jangkauan nalar manusia biasa. Tidak dapat ditiru atau dipelajari. Menunjukkannya secara terbuka hanya akan melemahkan semangat bekerja orang lain. Dan membuat mereka tidak produktif.
Tradisi salaf. Generasi awal Islam. Adalah berusaha menyembunyikannya. Para sahabat sendiri tidak suka membicarakan pengalaman luar biasa seperti itu. Sebabnya sangat mudah difahami. Apabila seseorang membicarakan karomahnya, hatinya mudah condong kepada kesombongan (ujub) dan riya'.
Tradisi salaf. Generasi awal Islam. Adalah berusaha menyembunyikannya. Para sahabat sendiri tidak suka membicarakan pengalaman luar biasa seperti itu. Sebabnya sangat mudah difahami. Apabila seseorang membicarakan karomahnya, hatinya mudah condong kepada kesombongan (ujub) dan riya'.
Karomah yang Allah kurniakan kepadanya. Seharusnya disimpan antara dirinya dengan Allah saja. Agar pahalanya lebih besar.
Mungkin Bukan Karomah, Tetapi Istidraj
Tidak semua fenomena luar biasa berasal dari Allah sebagai karomah. Syaitan juga akan membantu orang yang disesatkannya memamerkan keajaiban-keajaiban tertentu. Istidraj adalah apabila Allah membiarkan seseorang yang sesat melakukan keajaiban. Sebagai ujian. Sehingga dia semakin jauh dari kebenaran.
Mungkin Bukan Karomah, Tetapi Istidraj
Tidak semua fenomena luar biasa berasal dari Allah sebagai karomah. Syaitan juga akan membantu orang yang disesatkannya memamerkan keajaiban-keajaiban tertentu. Istidraj adalah apabila Allah membiarkan seseorang yang sesat melakukan keajaiban. Sebagai ujian. Sehingga dia semakin jauh dari kebenaran.
Karomah sejati tidak boleh datang dengan sendirinya apabila seseorang menghendakinya. Wali yang benar meyakini dengan teguh bahwa penciptaan dan urusan semuanya berada di tangan Allah.
Al-Quran dengan jelas menyatakan: "Katakanlah: 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.'" (Al-A'raf 7:188).
Istiqamah Lebih Penting daripada Karomah
Syeikh Abu Yazid al-Bustami berkata: "Jika kamu melihat seseorang boleh terbang atau berjalan di atas air, jangan takjub sebelum kamu melihat bagaimana dia mematuhi syariat."
Istiqamah Lebih Penting daripada Karomah
Syeikh Abu Yazid al-Bustami berkata: "Jika kamu melihat seseorang boleh terbang atau berjalan di atas air, jangan takjub sebelum kamu melihat bagaimana dia mematuhi syariat."
Karomah adalah buah istiqamah. Bukan matlamat itu sendiri. Menyibukkan diri dengan cerita-cerita karomah sambil mengabaikan kewajipan menuntut ilmu syariat adalah perbuatan yang tidak wajar.
Apalagi jika suatu karomah sampai dikontenkan. Sudah pasti itu sangat meragukan kekaromahannya. Wali sejati sangat merahsiakannya. Seperti perempuan merahsiakan darah haid. Karomah adalah peristiwa ajaib yang tidak sepatutnya ditunjukkan kepada khalayak ramai.
Menyebarkan Karomah: Pengkhianatan atau Kealpaan?
Apakah menyebarkan karomah secara terbuka dapat disebut sebagai "pengkhianatan terhadap Allah"? Mungkin frasa itu terlalu berat. Tetapi menyebarkan karomah secara terbuka memang bertentangan dengan ajaran tasawuf.
Apalagi jika suatu karomah sampai dikontenkan. Sudah pasti itu sangat meragukan kekaromahannya. Wali sejati sangat merahsiakannya. Seperti perempuan merahsiakan darah haid. Karomah adalah peristiwa ajaib yang tidak sepatutnya ditunjukkan kepada khalayak ramai.
Menyebarkan Karomah: Pengkhianatan atau Kealpaan?
Apakah menyebarkan karomah secara terbuka dapat disebut sebagai "pengkhianatan terhadap Allah"? Mungkin frasa itu terlalu berat. Tetapi menyebarkan karomah secara terbuka memang bertentangan dengan ajaran tasawuf.
Ini menunjukkan bahwa orang tersebut: Tidak memahami hakikat karomah. Padahal ia adalah pemberian. Bukan keajaiban yang boleh dipamerkan. Mungkin juga terperangkap dalam riya' dan kesombongan;
Atau mungkin juga tidak dapat membedakan antara karomah sejati dengan istidraj atau perbuatan syaitan.
Yang lebih tepat, ini adalah kealpaan. Kelalaian seorang hamba yang lupa bahwa segala kurnia adalah amanah. Bukan bahan pertunjukan. Dan kealpaan yang dibiarkan boleh berkembang menjadi pengkhianatan.
Atau mungkin juga tidak dapat membedakan antara karomah sejati dengan istidraj atau perbuatan syaitan.
Yang lebih tepat, ini adalah kealpaan. Kelalaian seorang hamba yang lupa bahwa segala kurnia adalah amanah. Bukan bahan pertunjukan. Dan kealpaan yang dibiarkan boleh berkembang menjadi pengkhianatan.
Pengkhianatan terhadap amanah ilmu. Terhadap adab seorang salik (orang yang sedang merintis perjalanan menuju Tuhan). Dan terhadap kepercayaan masyarakat awam yang menaruh harapan kepada para pemimpin spiritual.
Antara Tiang Gantungan dan Layar Ponsel
Al-Hallaj mati karena mengucapkan Ana al-Haqq di ruang publik. Syekh Siti Jenar mati karena mengajarkan manunggaling kawula-Gusti yang mengancam tatanan sosial. Kiai Abdullah Arrosyi dari Jember mungkin hanya akan berurusan dengan hukum positif.
Antara Tiang Gantungan dan Layar Ponsel
Al-Hallaj mati karena mengucapkan Ana al-Haqq di ruang publik. Syekh Siti Jenar mati karena mengajarkan manunggaling kawula-Gusti yang mengancam tatanan sosial. Kiai Abdullah Arrosyi dari Jember mungkin hanya akan berurusan dengan hukum positif.
Tetapi ada satu benang merah yang menghubungkan ketiganya. Klaim spiritual yang tidak dikawal oleh adab dan syariat akan selalu berakhir dengan kehancuran. Baik kehancuran fisik, sosial, maupun spiritual.
Di era ketika setiap orang bisa menjadi "kiai" di TikTok. Ketika karomah bisa menjadi konten. Dan ketika ma'rifat bisa ditukar dengan views. Kita perlu kembali kepada pertanyaan paling dasar: Untuk apa aku berbicara tentang karunia Allah? Apakah untuk memuliakan-Nya. Atau untuk memuliakan diriku sendiri?
Ya Allah, lindungilah kami dari riya' yang menyamar sebagai syukur. Dan dari istidraj yang menyamar sebagai karomah. Aamiin Ya Robbal Aalamin.
Di era ketika setiap orang bisa menjadi "kiai" di TikTok. Ketika karomah bisa menjadi konten. Dan ketika ma'rifat bisa ditukar dengan views. Kita perlu kembali kepada pertanyaan paling dasar: Untuk apa aku berbicara tentang karunia Allah? Apakah untuk memuliakan-Nya. Atau untuk memuliakan diriku sendiri?
Ya Allah, lindungilah kami dari riya' yang menyamar sebagai syukur. Dan dari istidraj yang menyamar sebagai karomah. Aamiin Ya Robbal Aalamin.
