Jumat, 08 Maret 2024

Mengapa Umat Muslim Ramai Baca Al Qur'an di Bulan Ramadhan

Huruf dalam Alquran

Sejak 1200 tahun silam, ketika dunia blm mengenal KOMPUTER atau alat hitung sejenis,
Maka IMAM SYAFI'I telah mampu mendata JUMLAH masing-masing HURUF dalam AL-QURĀN secara detail dan tepat.

IMAM SYAFI'I dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur'an di susun sesuai dgn banyaknya:

o ا Alif : 48740 huruf,
o ل Lam : 33922 huruf,
o م Mim : 28922 huruf,
o ح Ha ’ : 26925 huruf,
o ي Ya’ : 25717 huruf,
o و Waw : 25506 huruf,
o ن Nun : 17000 huruf,
o لا Lam alif : 14707 huruf,
o ب Ba ’ : 11420 huruf,
o ث Tsa’ : 10480 huruf,
o ف Fa’ : 9813 huruf,
o ع ‘Ain : 9470 huruf,
o ق Qaf : 8099 huruf,
o ك Kaf : 8022 huruf,
o د Dal : 5998 huruf,
o س Sin : 5799 huruf,
o ذ Dzal : 4934 huruf,
o ه Ha : 4138 huruf,
o ج Jim : 3322 huruf,
o ص Shad : 2780 huruf,
o ر Ra ’ : 2206 huruf,
o ش Syin : 2115 huruf,
o ض Dhadl : 1822 huruf,
o ز Zai : 1680 huruf,
o خ Kha ’ : 1503 huruf,
o ت Ta’ : 1404 huruf,
o غ Ghain : 1229 huruf,
o ط Tha’ : 1204 huruf dan terakhir
o ظ Dza’ : 842 huruf.

Jumlah semua huruf dalam al-Quran sebanyak .. (satu juta dua puluh tujuh ribu).

Setiap kali kita khatam Al-Quran, kita telah membaca lebih dari 1 juta huruf.
Jika 1 huruf = 1 kebaikan dan 1 kebaikan = 10 pahala, maka kira-kira 10 juta pahala kita dapatkan.

Di bulan Ramadhan ALLAH gandakan lagi 70x kebaikan...Jadi, silahkan hitung atau kira-kiralah sendiri... 

Mudah-mudahan ini menjadi motivasi kita untuk terus membaca Al-Quran, bertadarrus dan kalau mampu memahami maknanya.

Wallahu a'lam..

SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM KUBUR

Semoga kita termasuk di dalam golongan orang orang ini...Aamiin !!!

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur.

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia di masukkan ke dalam syurga.”

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.
-Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
-Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609).

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Yaa Allah… terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.
Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhana wa Ta'ala Aamiin..
(Oleh: Prof.DR. Ahmad Sathori Ismail)

Jumat, 16 Februari 2024

Makna Puasa dan Idul Fitri Menurut Sufi Nusantara (Bag-2// habis)

Kupat adalah ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (empat laku). Misalnya, sungkeman adalah bentuk pengakuan yang indah karena biasanya dilakukan kepada orang tua dan orang-orang lain yang lebih tua.

Ini mengajarkan penghormatan, berbakti, rendah hati, dan memohon keikhlasan dan maaf dari orang tua, dengan harapan orang tua mendoakan anak-anaknya agar diampuni; doa orang tua, seperti kita tahu, lebih ijabah dalam pengertian ini.

Sedangkan laku papat adalah lebaran, luberan, leburan dan laburan. Lebar dalam bahasa jawa berarti ”selesai”, sebagai tanda berakhirnya bulan ramadhan, dan terbukanya pintu ampunan. Luberan adalah melimpah, sebagai simbol ajaran untuk melimpahkan rezeki, baik yang wajib maupun sunnah: zakat, sedekah kepada keponakan-keponakan, tetangga (dengan mengirim atau bertukar makanan, dan sebagainya) – yang secara umum adalah bentuk kepedulian sosial.

Leburan adalah melebur, yakni meleburkan dosa dan kesalahan diri kita dan orang lain dengan saling memaafkan, agar ”energi negatif kolektif” berupa dendam, benci, dan amarah, diubah menjadi ”energi positif kolektif” – kasih sayang, saling berbuat baik, dan seterusnya. Dan laburan adalah ”melabur” dengan kapur, yakni memutihkan – berarti memutihkan hati dan menjaganya agar tetap putih (bersih).

Tidak heran jika dalam tradisi di jawa kita pada masa lebaran sering mendengar ungkapan semacam ”parikan” yakni ”kupat santen, kawulo lepat nyuwun ngapunten.”

Jadi, apapun kualitas puasa kita, entah puasa awam atau khusus dan sangat khusus, Allah tetap memberikan balasan dan peluang untuk memperbaiki diri melalui puasa lantaran Rahmat dan Kasih-Sayang-Nya. Yang penting adalah, meski kita masih berpuasa ala kadarnya.

Paling tidak tumbuh kesadaran melalui pendidikan ruhani via puasa dan idul fitri, yang terus diulang setiap tahun selama kita masih hidup dan mampu, bahwa puasa dan kebajikan sosial adalah dua hal yang melambangkan tajalli dari tindakan-Nya dan sifat-sifat-Nya, mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya apapun yang kita lakukan tidak akan pernah lepas dari-Nya, baik dalam ibadah individu maupun sosial, baik dalam kesalehan individu maupun kesalehan sosial.

Jika kesadaran ini terus dilatih, maka seseorang insya Alah, dengan izin-Nya, akan selalu mengembalikan segala urusan kepada-Nya, selalu mengingat-Nya, yang berarti orang secara tak langsung diajak berzikir dalam setiap tindakan tanpa dia sadari.

Pada akhirnya, jika istiqomah melatih kesadaran ruhani melalui puasa wajib dan sunah, orang akan memahami bahwa inna lillahi wa inna ilaihi rojiun bukan hanya soal kematian, tetapi juga dalam soal kehidupan; kanjeng Nabi bersabda, ”Matilah sebelum engkau mati.”

Maka, bagi orang yang berpuasa (dengan benar) ia akan menemui dua kegembiraan: “di saat berbuka dan bertemu dengan Tuhannya.” Manusia “berbuka puasa” dalam arti bahwa dengan berlatih menghilangkan hijab-hijab kedirian agar hati menjadi bersih melalui tindakan menahan hawa-nafsu, sehingga sampai terbuka mata hati dan ruhaninya, menyaksikan kebesaran Allah dan sifat-sifat Allah dalam setiap ciptaan, dan pada gilirannya ia akan bertemu dengan Tuhannya, dalam keadaan sebagaimana pertama kali ia diciptakan, yakni dalam keadaan fitrah. Wa Allahu a’lam. (islami.co//habis)

Jumat, 09 Februari 2024

Makna Puasa dan Idul Fitri Menurut Sufi (Bag-1)

Dalam hadis dinyatakan bahwa puasa adalah milik-Nya, maka pada hakikatnya ibadah puasa adalah ”tanpa-laku.” Ini bukan dalam makna lahir atau fisik, namun mengacu pada makna ruhani dari ”tanpa laku” – yakni diam, hening. Yaitu, mengheningkan batin dengan cara menahan keinginan lahiriah bahkan termasuk yang halal dan menahan keinginan batiniah terutama yang buruk-buruk, seperti keinginan berdusta, mengeluh, ghibah, bertikai, memusuhi dan yang semacam itu.

Puasa dalam makna ini hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang, golongan elit menurut Imam al-Ghazali, yakni puasanya ”orang khusus dari yang khusus.” Ketika ”haal” (keadaan ruhani) seseorang telah menyatukan ”laku” dengan ”tanpa laku”, yang berarti sudah menisbahkan semua tindakannya kepada Allah, menyatukan tanzih (transendensi) dan tasybih (imanensi), maka Allah sendirilah yang akan mengekspresikan atau mengejawantahkan Diri-Nya melalui orang yang berpuasa secara khusus ini: ”… Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, penglihatannya yang dengannya dia melihat ..” dan seterusnya seperti tertera dalam Hadis Qudsi yang masyhur di kalangan sufi.

Jika demikian keadaannya, maka seseorang berarti telah kembali kepada keadaannya yang semula, fitrah – atau dalam ungkapan umum ”aidil fitri,” kembali ke keadaan sebenarnya melalui puasa. Manusia kembali kepada keadaan bahwa dirinya bukan apa-apa karena, sebagaimana puasa, manusia adalah milik-Nya. Karenanya, kewajiban dalam berpuasa secara syariat adalah menahan diri melakukan tindakan-tindakan yang haram maupun halal selama ia berpuasa, dan melakukan tindakan-tindakan ibadah wajib dan sunnah sesuai perintah-Nya, agar terbit kesadaran hakiki tentang ”la haula wa quwwata illa billah,” tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali dari Allah, yaitu kesadaran bahwa meski orang makan, namun sesungguhnya orang kenyang bukan karena makan melainkan karena Allah, bahwa orang beribadah bukan karena dirinya sendiri mampu beribadah melainkan karena diizinkan dan diberi kekuatan oleh Allah, dan seterusnya. Karena itu dalam pengertian ini seseorang melalui ibadah puasa yang adalah ”milik-Nya” itu kembali kepada-Nya bukan melalui dirinya sendiri tetapi melalui sesuatu yang merupakan milik Allah.

Pada gilirannya, karena ia secara ruhani menyerahkan hakikat ibadahnya kembali kepada Sang Pemilik, maka dirinya ridho untuk dikendalikan oleh Sang Pemilik sehingga ia berhak menyandang amanah sebagai ”khalifah Allah di muka bumi.”

Ini dilambangkan dengan Idul Fitri, kembali kepada kesuciannya, yakni mensucikan segala sesuatu yang dinisbahkan secara semu kepada klaim dirinya sendiri, sebab segala sesuatu adalah milik Allah. 

Karenanya, pada malam idul fitri disunnahkan bertakbir, mengagungkan Allah, bukan dalam arti membesarkan Allah dibandingkan dengan yang lain, sebab Allah jelas tiada bandingan, tetapi dalam arti bahwa Allah memang Maha Besar tiada bandingan sehingga tak sepatutnya orang yang sudah kembali kepada-Nya melihat kebesaran semu dalam dirinya sendiri, karena dirinya pada hakikatnya tidak punya apa-apa, bahkan nyawanya sendiri pun bukan miliknya. 

 Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahilhamd, Maha Besar Allah dan Segala Puji adalah Kepada-Nya, karena kebagusan akhlak dan kebeningan ruhani setelah berpuasa sesungguhnya adalah anugerah-Nya juga.


Karena itu sepatutnya manusia pada hari raya Idul Fitri justru lebih banyak bersyukur dan meminta maaf kepada manusia, sebab tindakan meminta maaf secara kolektif berarti semua orang yang terlibat dalam puasa melakukan ”pengakuan massal” bahwa mereka telah punya salah kepada sesama manusia, yang semuanya sama-sama makhluk Allah yang tidak punya apa-apa. Sekiranya kita belum sampai pada kondisi puasa amat khusus itu, maka permintaan maaf kita adalah menutupi kekurangan adab ruhani kita.

Meminta maaf kepada sesama berarti menyambung kembali tali silaturahim ruhani yang ternoda oleh gesekan-gesekan ego/nafsu dan dosa pada manusia dan pada Tuhan. Ketika orang bersalah kepada manusia, misalnya melakukan fitnah dan dusta, maka pada saat yang sama ia bersalah kepada Tuhannya karena melanggar larangan-Nya. 

Karena Kasih-Sayang-Nya, dan Dia Maha Tahu bahwa tak semua orang mampu berpuasa sebagaimana seharusnya, maka Allah memberi jalan pengampunan melalui tali silaturahim dan permintaan maaf kolektif, paling tidak membuat kita sadar bahwa kita sesama Muslim adalah saudara, dan sama-sama hamba Allah yang punya salah, sehingga diharapkan bisa mengikis salah satu dosa terbesar, yakni kesombongan, merasa paling benar sendiri, dan merasa lebih baik dari orang lain.

Maka dari itu, para arifbillah menunjukkan melalui simbol-simbol, bahwa puasa dan perayaan Idul Fitri pada hakikatnya adalah bentuk pendidikan ruhani juga; yang masyhur adalah simbol ketupat (aslinya adalah dari kata kupat) yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo. [islami.co//bersambung]

Kamis, 30 November 2023

Sembilan Rekomendasi Hasil Muktamar Sufi Internasional 2023 di Pekalongan

World Sufi Assembly Conference 2023 atau Muktamar Sufi Internasional yang berlangsung pada 29 hingga 31 Agustus 2023 resmi ditutup. 

Konferensi sufi internasional ke-4 yang menghadirkan lebih dari 70 tokoh dari berbagai belahan dunia ini menghasilkan 9 rekomendasi penting mulai dari bidang tasawuf sampai bidang pendidikan, ekonomi, dan pembangunan. 

“Para ulama dan peneliti yang hadir telah menyampaikan paparan dan rekomendasi dalam 4 tema dan 8 sesi, yakni bidang pendidikan Sufi dan dampaknya pada penyucian jiwa sejumlah 10 paparan,” kata Habib Ali Hasan Al-Bahr dan Syech Riadh Baso dalam pembacaan rekomendasi hasil Muktamar di Sahid Convention Center, Pekalongan, Jawa Tengah, pada Kamis (31/8/2023). 

“Ekonomi dan pembangunan berkelanjutan sebanyak 5 paparan. Media dan pembentukan opini publik dan Universitas Al-Ihsan sejumlah 10 paparan, dan peran utama tasawuf dalam membangun manusia dan peradaban sebanyak 10 paparan,” ujar Habib Ali pada muktamar yang dihadiri para cendikiawan, syekh tarekat, akademisi, ekonom, pakar media, serta partisipasi luas tarekat sufi dan tokoh agama dari dalam dan luar negeri ini.

Berikut paparan-paparan 9 rekomendasi muktamar yang mengangkat tema Karya Sufi Kontemporer di Dunia yang Dinamis dikutip dari laman Jatman. Rekomendasi ini mencakup aspek pendidikan, perilaku, investasi, pembangunan, pertanian dan kemandirian:

1. Para peserta muktamar menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Yang Mulia Presiden Republik Indonesia yang telah mensponsori konferensi ini dan kepada Habib Lutfi bin Ali bin Yahya Ketua Umum Majelis Sufi Dunia atas penyelenggaraan forum ini dan atas keberhasilannya dalam memilih tema muktamar ini, serta untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Pekalongan pada khususnya atas sambutan hangat dan keramahtamahan mereka, tidak lupa ucapan terima kasih ditujukan kepada semua orang yang telah berusaha untuk menyukseskan kegiatan konferensi yang efektif ini. 

2. Muktamar ini menyerukan pengintegrasian, pengaturan, dan institusionalisasi upaya-upaya tarekat Sufi, serta membentuk divisi yang bertugas membuat perencanaan, kajian, strategi-strategi kerja sufi kontemporer, memverifikasi asal-usul tarekat dan mendokumentasikannya. 

3. Muktamar ini mengajak tarekat-tarekat Sufi untuk mengembangkan metodologi investasi di bidang pertanian, proyek pembangunan berkelanjutan dan program energi terbarukan untuk mencapai swasembada ekonomi, serta menyerukan kesadaran untuk mengurangi polusi yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. 

4. Muktamar menyeru tarekat-tarekat Sufi untuk berkontribusi secara efektif pada pembentukan pasar ekonomi bersama dan bekerjasama secara terbuka dengan kamar dagang, dan sektor industri dan pertanian, serta melakukan koordinasi yang baik di antara mereka, yang mengarah pada upaya saling melengkapi dan kemajuan ekonomi. 

5. Muktamar menyeru tarekat-tarekat Sufi agar berkontribusi dalam bidang pendidikan dan pengajaran (sekolah dan universitas) untuk menambahkan sentuhan keimanan bernafaskan sufistik dan untuk menempuh segala hal yang dapat membantu generasi dalam mendapatkan pengetahuan agama dari sumber murni Islam dengan empat dimensinya (Islam, Iman, Ihsan, Fiqih Realitas dan Perubahan) untuk menghadapi perilaku dan penyimpangan yang dihadapi anak-anak muda akibat pengaruh media dan media sosial. Baca Juga Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Tasawuf dan Sufi 

6. Para peserta muktamar menyerukan untuk mempertahankan pelaksanaan muktamar ini setiap tahun di negara yang menjadi kantor pusat Majelis Sufi Dunia dan mengajak berkontribusi secara kolektif untuk mendukung majelis, menyelenggarakan muktamar turunan (serupa) di berbagai wilayah Islam lainnya, berkontribusi dan berpartisipasi dalam muktamar Sufi yang diadakan oleh pihak lain. 

7. Peserta muktamar menyeru pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan norma-norma keluarga dan masyarakat, dan menentang segala bentuk propaganda global berupa hal-hal yang bertentangan dengan fitrah yang suci dan mengubah ciptaan Tuhan, seperti LGBT, penyimpangan seksual, dan sejenisnya. 

8. Muktamar memutuskan untuk mendirikan kantor-kantor cabang di setiap benua, berdasarkan kebutuhan yang bertugas memperkenalkan Majelis Sufi Dunia, mengembangkan investasi di bidang ekonomi, dakwah, pendidikan dan media, serta membentuk portofolio investasi untuk mendukung proyek-proyek majelis. Konferensi juga memutuskan untuk membentuk komite khusus yang bertugas menindaklanjuti segala sesuatu yang berkaitan dengan pendirian Universitas Al-Ihsan, serta mencari sumber pendanaan untuk tujuan ini. Selain itu, juga membentuk komite yang bertugas; mempelajari pendirian lembaga media yang dapat dipergunakan untuk memproduksi publikasi media dan menyebarluaskan nilai-nilai tasawuf, mendirikan stasiun TV satelit, dan mencari sumber dana untuk terlaksananya tujuan ini. 

9. Muktamar menyerukan saudara-saudara kita di Sudan, Nigeria, Libya, Yaman, Suriah dan negara-negara lain yang menderita kerusuhan internal untuk mengedepankan dialog dan kepentingan nasional, menghindari chaos, penggunaan senjata, bentuk-bentuk kekerasan dan (politik) pecah belah, serta memberikan kesempatan kepada bijak bestari dan cendekiawan untuk menyelesaikan masalah yang dipersengketakan melalui dialog. 

Konferensi juga menyeru tarekat-tarekat sufi untuk mengerahkan seluruh daya dan upayanya guna memperbaiki hubungan dan menyebarkan koeksistensi damai di antara komponen masyarakat. 

Terakhir, tentunya terus-menerus berupaya untuk memberikan solusi bagi problematika besar dunia Islam di Yerusalem dan Palestina.
(Sumber: nu.or.id//editor:muhammadfaizin)

Membaca Makna Kehadiran Menlu Singapura di Jakarta (Bag-2, Habis)

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-71) Narasi Pemicu : Kehadiran Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, di Jakarta pada 27 Oktober ...