Selasa, 10 Maret 2026

Lansia Berhak Hidup Bahagia


Dr. Hideki Wada, seorang psikiater berusia 61 tahun yang ahli dalam kesehatan mental LANSIA, baru-baru ini menerbitkan buku berjudul “Tembok Berusia 80 Tahun.” Begitu buku ini diluncurkan, penjualannya langsung meledak—lebih dari 500.000 eksemplar terjual, dan diprediksi akan menembus 1 juta kopi. 

Buku ini kemungkinan besar akan menjadi buku terlaris di Jepang tahun ini.
Berikut ini 44 pesan bijak dari Dr. Wada yang patut dibaca dan dibagikan, terutama kepada orang tua tercinta:

1. Tetaplah berjalan setiap hari, walau pelan-pelan.
2. Saat kesal, tarik napas panjang dan tenangkan diri.
3. Lakukan gerakan ringan agar tubuh tidak kaku.
4. Kalau pakai AC di musim panas, perbanyak minum air.
5. Jangan malu pakai popok jika perlu - justru itu mem bantu kita lebih bebas bergerak.
6. Banyak mengunyah bikin otak dan tubuh lebih aktif.
7. Lupa bukan karena usia, tapi karena otak jarang dipakai.
8. Tidak semua masalah harus diatasi dengan banyak obat.
9. Jangan terlalu memaksa menurunkan tekanan darah dan gula darah.
10. Sendiri bukan berarti kesepian, bisa jadi itu waktu bersantai
11. Malas-malasan itu wajar, apalagi kalau memang lelah.
12. Kalau sudah tidak bisa nyetir aman, lebih baik berhenti daripada celaka.
13. Lakukan hal yang kamu sukai, hindari yang bikin stres.
14. Umur boleh tua, tapi keinginan alami tetap bisa dirasakan.
15. Jangan cuma diam di rumah - cari udara segar dan lihat dunia luar.
16. Makanlah yang kamu suka, asal tidak berlebihan. Sedikit gemuk tidak apa-apa.
17. Lakukan segala hal dengan perlahan dan hati-hati.
18. Jauhi orang yang membuatmu merasa tidak nyaman.
19. Kurangi waktu di depan TV dan HP.
20. Kadang lebih baik berdamai dengan penyakit daripada memaksakan sembuh.
21. "Selalu ada jalan" - kalimat ini bisa jadi kekuatan saat kita merasa buntu.
22. Makan buah dan sayur segar itu penting.
23. Mandi tidak perlu lama-lama, cukup 10 menit.
24. Kalau tidak bisa tidur, jangan dipaksakan.
25. Hal-hal yang bikin hati bahagia bisa menjaga otak tetap aktif.
26. Jangan terlalu memendam, katakan saja apa yang ingin dikatakan.
27. Cari dokter keluarga yang kamu percaya sejak dini.
28. Tidak perlu selalu mengalah. Kadang jadi “orang tua nakal” itu sehat.
29. Tidak apa-apa kalau kadang pendapat kita berubah.
30. Demensia di akhir hidup bisa jadi cara Tuhan membuat kita tenang.
31. Kalau berhenti belajar, kita cepat menua.
32. Tidak perlu kejar kehormatan - yang ada saat ini sudah cukup.
33. Kepolosan itu keistimewaan orang tua.
34. Hidup kadang merepotkan, tapi justru itu yang membuatnya menarik.
35. Berjemur di bawah matahari bisa bikin hati senang.
36. Berbuat baik pada orang lain itu membawa kebaikan juga buat kita.
37. Jalani hari ini dengan santai.
38. Punya keinginan itu pertanda kita masih hidup dan punya semangat.
39. Selalu berpikir positif.
40. Tarik napas dengan lega, hidup tak perlu diburu-buru.
41. Kamu yang menentukan bagaimana kamu ingin menjalani hidupmu.
42. Terima segala hal yang terjadi dengan hati tenang.
43. Orang yang ceria biasanya disukai banyak orang.
44. Senyuman bisa membawa banyak berkah.

Silakan bagikan pesan ini kepada semua ORANG TUA dan LANSIA yang Anda kenal.

Karena mereka berhak untuk hidup bahagia, sehat, dan menikmati masa tuanya dengan damai. 

Salam Sehat Selalu 

Senin, 09 Maret 2026

Melanggengkan Dimensi Spiritual Tasawuf


Tasawuf atau sufisme, adalah cabang ilmu dalam Islam yang menekankan penyucian jiwa, pembersihan hati dari hawa nafsu, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dimensi spiritual dan batiniah, bukan sekadar ritual lahiriah.

Jenis-Jenis Tasawuf: Para ahli membagi tasawuf menjadi beberapa jenis utama berdasarkan pendekatan dan perkembangannya.

Berikut pembagian yang umum:

• Tasawuf Akhlaki: Berfokus pada pembentukan moralitas dan akhlak mulia melalui penyucian hati dari sifat tercela, seperti menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menyebutnya sebagai pemurnian hati lewat taubat dan ikhlas.

• Tasawuf Amali: Menekankan praktik zikir, khalwat (sendirian), dan riyadhah (latihan spiritual) untuk mengendalikan nafsu dan mendekati ridha Allah.

• Tasawuf Falsafi: Menggabungkan tasawuf dengan pemikiran filsafat rasional tentang Tuhan, manusia, dan hubungan keduanya, sering dikembangkan oleh sufi-filsuf.

Apakah Tasawuf atau Sufisme Diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Jawabannya: Tasawuf atau sufisme sebagai istilah belum ada pada masa Nabi, tetapi substansi atau hakikat tasawuf jelas diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk memahami hal ini, ada dua hal penting yang perlu dibedakan:

1. Tasawuf sebagai istilah: Kata “tasawuf” belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Ia mulai populer beberapa abad kemudian ketika para ulama menamai perjalanan spiritual mendalam seorang Muslim dengan istilah tersebut.
Jadi, istilahnya memang tidak diajarkan oleh Nabi.

2. Tasawuf sebagai praktik (substansi)

Walaupun istilahnya belum ada, ajaran-ajaran inti tasawuf justru berasal dari Rasulullah SAW. Inilah yang disebut sebagai hakikat tasawuf.

Berikut unsur-unsur tasawuf yang diajarkan Nabi:

a. Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs): Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Rasulullah mempraktikkannya melalui: memperbanyak istighfar, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati dari sombong, riya’, iri, dan dengki. Ini adalah inti tasawuf.

b. Kehadiran hati dan muraqabah: Rasulullah SAW bersabda ketika menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Konsep ihsan inilah yang menjadi fondasi tasawuf: kesadaran batin bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabah).

c. Zuhud, qana’ah, dan sederhana:Rasulullah hidup: sederhana, tidak bergantung pada dunia, tetapi tetap bekerja dan berusaha. Ini identik dengan nilai-nilai tasawuf.

d. Dzikir dan kedekatan spiritual: Nabi SAW mengajarkan berbagai bentuk dzikir: 
dzikir pagi-sore, dzikir setelah salat, istighfar, tahlil, tahmid, takbir, tasbih. Para sufi kemudian mengembangkan disiplin dzikir ini sebagai jalan penyucian hati.

e. Muhasabah dan introspeksi: Nabi bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya.” (HR. Tirmidzi). Inilah praktik inti tasawuf: memeriksa hati dan memperbaiki diri.

Kesimpulan Utama:

➤ Tasawuf sebagai istilah: tidak diajarkan Nabi.

➤ Tasawuf sebagai inti ajaran spiritual (ihsan, tazkiyah, dzikrullah): jelas diajarkan Nabi dan menjadi bagian dari Islam.

Para ulama hanya memberi nama “tasawuf” untuk disiplin ilmu yang berisi nilai-nilai: penyucian hati, kedekatan dengan Allah, akhlak mulia, pengendalian nafsu,
hidup sederhana, dzikrullah. Semua itu bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
Kapan tasawuf mulai dikenal, siapa yang memunculkannya, serta siapa yang membawa tasawuf ke Indonesia dan kapan?

1. Sejak Kapan Tasawuf Mulai Dikenal? Tasawuf mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriah (± abad ke-8 Masehi).

Pada masa Nabi dan para sahabat: belum ada istilah tasawuf, tetapi praktik kesalehan batin, zuhud, dan penyucian jiwa sudah ada.

Setelah masa sahabat, umat Islam mulai menghadapi kemewahan dunia dan ekspansi kekuasaan. Sejumlah ulama yang cinta akhirat kemudian menekankan kehidupan sederhana dan fokus hati kepada Allah. Dari sinilah muncul gerakan zuhud yang menjadi cikal-bakal tasawuf.

2. Siapa yang Pertama Kali Memunculkan Tasawuf? Tidak ada satu tokoh tunggal yang “menemukan” tasawuf. Ia tumbuh secara alami dari ajaran Islam. Namun, tokoh-tokoh generasi awal yang dianggap sebagai pelopor tasawuf klasik antara lain:

a. Hasan al-Bashri (642–728 M / abad 1–2 H), ulama besar dari Basrah. Menekankan zuhud, tawakal, dan takut kepada Allah. Sering dianggap sebagai peletak dasar ajaran tasawuf.

b. Rabi’ah al-Adawiyah (w. 801 M) Tokoh terkenal dari Basrah. Memperkenalkan konsep mahabbah (cinta murni kepada Allah). Memberi warna spiritual yang sangat kuat dalam dunia tasawuf.

c. Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Fudhail bin Iyadh. Tokoh-tokoh zuhud abad 2 Hijriah.

d. Junaid al-Baghdadi (w. 910 M), disebut “Imam Kaum Sufi”. Merumuskan tasawuf secara ilmiah dan seimbang antara syariat dan hakikat.
Setelah abad ke-3 H, tasawuf berkembang menjadi disiplin ilmu yang lebih sistematis dan melahirkan banyak tarekat besar.

3. Siapa yang Membawa Tasawuf ke Indonesia? Kapan? 

Tasawuf masuk ke Nusantara melalui para ulama dan pedagang sufi dari: Arab, Persia, India (Gujarat), dan Yaman. Ini terjadi pada periode abad 13–16 M, meskipun pengaruh awal mungkin sudah muncul sejak abad 11–12 M.

Tokoh-tokoh yang membawa tasawuf ke Nusantara:

a. Syekh Ismail dari Arab (abad ke-13 M)
Disebut sebagai salah satu ulama awal yang mengajarkan Islam bercorak tasawuf di Samudera Pasai.

b. Hamzah Fansuri (abad ke-16 M)
Tokoh sufi pertama dari Nusantara yang meninggalkan karya tertulis. Membawa ajaran tasawuf falsafi.

c. Syamsuddin as-Sumatrani
Pengganti Hamzah Fansuri. Menguatkan tasawuf falsafi di kerajaan Aceh.

d. Nuruddin ar-Raniri (abad ke-17 M). Sufi dari Hadhramaut (Yaman). Membawa tasawuf sunni (asy’ari & syafi’i). Mengoreksi ajaran tasawuf falsafi sebelumnya.

e. Walisongo (abad 15–16 M).
Walisongo adalah penyebar Islam di Jawa yang sangat kuat dengan metode tasawuf: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, dan lainnya. Mereka menggunakan pendekatan: akhlak, budaya, simbol, dakwah bil-hikmah, yang berakar pada metode tasawuf.

4. Kapan Tasawuf Tersebar Luas di Indonesia? Pada era Walisongo (abad 15–16 M), tasawuf menjadi inti dakwah Islam di Jawa dan kemudian tersebar ke seluruh Nusantara. 

Tasawuf mudah diterima masyarakat karena: lembut, menekankan akhlak, menghargai budaya lokal, cocok dengan spiritualitas masyarakat Nusantara.
(Sharing: Muchtar AF)

Minggu, 08 Maret 2026

Boneka di Atalase Kaca


Di etalase kaca, boneka berpakaian sutra
Matanya porselen, rambutnya ikal sempurna
Sementara di luar, jemari kecil mengelap kaca
Napasnya membeku, membentuk gumpalan asap yang luka

Di meja panjang, hidangan berlapis porselen
Aroma truffle bersaing dengan saus barbeque lenyap dalam sekejap
Sementara di dapur belakang, seorang ibu memilah tulang
Mengais sisa, untuk anaknya yang menunggu di gubuk bambu lapuk

Di koridor kampus, laptop terbaru berderet rapi
Diskusi tentang startup dan go public bergemuruh riuh
Sementara di bawah jembatan, kardus basah jadi atap
Seorang kakek mengajar cucunya membaca
dengan cahaya lampu tol yang kedap-kedip

Tuhan, apakah Engkau sengaja menciptakan dua jenis tangan?
Satu untuk menandatangani kontrak, satu untuk mengais nasi?
Atau kami yang lupa bahwa semua jemari ini
kelak akan kembali menjadi tanah
yang sama dinginnya?

Di negeri ini,
ada yang sibuk menghitung untung
ada yang sibuk menghitung utang
ada yang bingung memilih menu makan malam
ada yang bingung apakah hari ini akan makan...

Keadilan seperti burung aneh
katanya ada, tapi jarang hinggap
dan ketika hinggap
ia lebih suka di bahu yang wangi
daripada di bahu yang luka dan perih

Maka jika kau temui puisi ini
di sela-sela waktu luangmu
jangan kau hapus air mata di pipiku
tapi ajari aku caranya
membagi roti dan mimpi
tanpa harus menunggu malaikat turun
membawa timbangan yang adil.
(KGM/Ramadhan/2026)

Sabtu, 07 Maret 2026

Ramadhan Mengajarkan Sifat Muraqabah



Bismillahhirrohmannirrohhiim*
Assalammualaikum warohmatullohi wabarokaatuh


Pengantar AI: Muraqabah adalah sikap mental atau kesadaran hati seorang Muslim yang senantiasa merasa diawasi, dilihat, dan didampingi oleh Allah SWT dalam segala situasi, baik lahir maupun batin. Ini adalah prinsip akhlak dan ajaran tasawuf yang menghasilkan sifat ihsan (beribadah seakan melihat Allah atau yakin dilihat-Nya), mendorong kehati-hatian dalam bertindak, serta menjauhkan diri dari maksiat.

Ibadah shaum Ramadhan mengajarkan kita memiliki sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah. Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan tidak berani makan dan minum atau memperturutkan syahwatnya meski sedang berada di tempat yang sepi, tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya. Kenapa demikian? Karena ia merasa diawasi oleh Allah.

Terkait dengan Muraqabah ini Allah berfirman :

Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur'an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya." (QS. Yunus :61)

Muraqabah sangat penting dalam kehidupan setiap muslim. Muraqabah akan menjadikan kita senantiasa hati-hati dalam berbuat karena kita selalu merasa diawasi oleh Allah dalam seluruh gerak langkah kita.

Seorang muslim yang memiliki sifat muraqabah tidak akan berani melanggar perintah Allah, meski sedang menyendiri. Sebaliknya jika tidak ada sifat muraqabah dalam diri, maka kita akan serampangan dalam berbuat, tidak lagi memperdulikan halal dan haram, akibatnya akan terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan.

Muraqabah akan menghantarkan diri shaaimin dan shaaimat pada ketaqwaan. Karena salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah berhati-hati dalam berbuat.
Sudahkah shaum kita menjadikan kita selalu merasa diawasi oleh Allah? Sudahkah shaum kita menjadikan kita selalu waspada?

Semoga shaum kita tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Tapi juga bisa menjadikan kita orang yang bertaqwa. Yaitu orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. 
Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Aalamiin...

Wawancara dengan Musuh Abadi: Siapa Manusia Paling Celaka di Mata Iblis

Pengantar: Berikut wawancara imajiner Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan Iblis, yang berlangsung di sebuah ruang hampa di antara alam mimpi dan...