Jumat, 09 Oktober 2026

Wacana Penarikan Kembali Purbaya: "Idealnya di Posisi Mana?


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-60)

Pengantar: Angin politik di Kabinet Merah Putih kembali berembus kencang. Isu yang mencuat belakangan ini bukanlah sekadar perombakan biasa. Melainkan wacana menarik kembali sosok Purbaya Yudhi Sadewa. Tentu saja ke dalam lingkaran inti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Jika benar terjadi. Idealnya di posisi mana beliau berkiprah kembali?

Pencopotan Efek Gesekan Politis

Nama mantan Menteri Keuangan yang dicopot secara mendadak pada September 2026. Kini kembali menjadi buah bibir. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah ia akan ditarik. Melainkan di posisi mana penempatannya akan paling tepat dan  ideal. Terutama demi menjawab tantangan ekonomi ke depan.

Pencopotan Purbaya dari kursi bendahara negara memang menyisakan tanda tanya besar. Pengamat politik menilai bahwa keputusan tersebut tidak semata-mata didasari oleh evaluasi kinerja. Melainkan juga sarat akan kepentingan politik. Ada gesekan kebijakan dengan program prioritas presiden. 

Meski demikian, rekam jejak Purbaya selama satu tahun menjabat tidak bisa dinafikan. Ia dikenal sebagai teknokrat yang berani. Blak-blakan. Dan memiliki pandangan tajam terhadap perekonomian nasional. 

Di bawah kepemimpinannya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada pada laju tercepat dalam tiga tahun. Meskipun di sisi lain defisit anggaran melebar. Dan arus modal keluar sempat menekan rupiah.

Wacana Penarikan Kembali

Wacana penarikan kembali Purbaya ke dalam kabinet. Sebenarnya bukanlah isapan jempol belaka. Pendiri Great Institute, Syahganda Nainggolan, secara eksplisit memprediksi bahwa Presiden Prabowo dapat kembali memanggil Purbaya untuk menempati posisi strategis. 

Menurut analisisnya, pencopotan tersebut tidak berkaitan dengan penilaian buruk terhadap kinerja Purbaya. Justru sebaliknya, Presiden mengapresiasi capaian yang telah diraihnya. 

Pencopotan itu dinilai sebagai langkah pragmatis untuk meredam instabilitas akibat manajemen konflik. Terutama terkait langkah agresif Purbaya dalam menertibkan skandal pajak korporasi. Dan menolak intervensi lembaga keuangan global.

Lalu, jika benar ia ditarik kembali. Posisi manakah yang paling ideal? Beberapa opsi mengemuka. Salah satu yang paling kuat adalah posisi Gubernur Bank Indonesia (BI). 

Syahganda menilai posisi ini sebagai yang paling sesuai dengan kapasitas dan pengalaman Purbaya. Latar belakangnya sebagai mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi modal penting dalam menangani persoalan sektor perbankan yang dinilai masih "tambal sulam". 

Pengalaman tersebut membuatnya paham betul bank-bank atau lembaga keuangan mana yang perlu dibenahi atau bahkan ditutup. Penempatan Purbaya di BI diprediksi akan diterima dengan baik. Dan ia disebut sebagai teknokrat yang fokus menjalankan tugas institusional. Tanpa manuver politik pencitraan.

Opsi lain yang sempat beredar adalah posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Namun, tawaran ini sepertinya kurang mengakomodasi kekuatan utama Purbaya di bidang ekonomi dan keuangan. 

Purbaya sendiri secara tegas menolak wacana kembali menjadi menteri setelah dicopot. Dengan nada bercanda ia menyatakan, "Baru dipecat, masa jadi menteri lagi". 

Ia bahkan lebih memilih untuk menikmati masa pensiun. Memancing di kolam belakang rumahnya. Sambil menepis rumor penempatan di posisi lain. Seperti Gubernur Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII).

Sebuah Paradoks Menarik

Dengan demikian, narasi penarikan kembali Purbaya ke kabinet menyisakan paradoks menarik. Di satu sisi, kapasitasnya sebagai teknokrat ekonomi tidak perlu diragukan lagi. 

Ia memiliki visi pro-growth yang kuat dan berani mengambil langkah-langkah tidak konvensional. Seperti penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara untuk mendorong likuiditas dan pertumbuhan kredit. 

Di sisi lain, kepribadiannya yang keras dan cenderung "koboi" dalam mengambil kebijakan. Mungkin menjadi bumerang dalam ekosistem kabinet yang membutuhkan harmoni dan stabilitas.

Posisi paling tepat dan ideal bagi Purbaya

Jika memang ia ditarik kembali. Bukanlah di kursi menteri yang bersifat politis. Melainkan di posisi yang menuntut kemurnian teknis dan keberanian dalam pengambilan keputusan berbasis data. 

Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter yang independen. Adalah rumah yang tepat. Di sana, ia dapat melanjutkan misi mulianya dalam membenahi sektor keuangan. Mengidentifikasi bank-bank bermasalah. Dan menjaga stabilitas sistem keuangan tanpa harus terbelit dalam intrik politik kabinet yang rumit.

Pada akhirnya, wacana penarikan kembali Purbaya adalah cerminan dari pencarian sosok yang tepat. Untuk mengawal ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. 

Jika Presiden Prabowo benar-benar ingin memanfaatkan kembali kapasitas emas Purbaya, maka Gubernur BI adalah jawabannya. Sebuah posisi yang tidak hanya menghargai kecerdasan dan integritasnya. 

Tetapi juga memberikan ruang bagi Purbaya untuk berkontribusi secara maksimal bagi negeri ini. Tanpa harus kembali merasakan getirnya intrik kursi menteri.

Persoalannya terpulang pada kebijakan Presiden Prabowo sendiri. Mau gak memanfaatkan doktor ekonomi lulusan luar negeri yang pemberani dan berotak encer ini?

Seraial Tasawuf-14 (3): "Buah Ma'rifatullah , Ketika Hati Mengenal Tuhannya"


Narasi Pemicu: Apa yang terjadi ketika seseorang benar-benar mengenal Allah? Apakah hidupnya menjadi tanpa masalah? Apakah ia terbang di udara atau berjalan di atas air? Tidak. Buah ma'rifatullah bukanlah kemampuan supranatural. Melainkan perubahan yang mengakar dalam jiwa. Sebuah transformasi yang membuat seseorang memandang dunia dengan mata baru. Merasakan hidup dengan hati baru. Dan menjalani hari-hari dengan kesadaran baru. 

Menuju Hidup Penuh Makna

Ma'rifatullah tidak mengubah apa yang ada di luar. Melainkan mengubah cara seseorang melihat apa yang ada di luar. Ia adalah cahaya yang menerangi seluruh ruang kehidupan. Sehingga yang dulunya gelap menjadi terang. Yang dulunya berat menjadi ringan. Dan yang dulunya hampa menjadi penuh makna.

Buah pertama ma'rifatullah adalah ketenangan jiwa. 

Al-Qur'an berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Ketika seseorang mengenal Allah. Ia tahu bahwa tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa izin-Nya. Ia tahu bahwa rezeki telah dijamin. Ajal telah ditetapkan. Dan segala sesuatu berjalan sesuai rencana yang sempurna. 

Pengetahuan ini melahirkan ketenangan yang tidak bisa diguncang oleh badai kehidupan. Orang yang mengenal Allah tidak panik ketika kehilangan pekerjaan. Tidak putus asa ketika gagal dalam ujian. Tidak gelisah ketika masa depan tampak tidak pasti. Sebab ia mengenal Allah sebagai Al-Mudabbir. Maha Pengatur. Yang tidak pernah salah dalam mengatur urusan hamba-Nya.

Buah Kedua Mahabbah

Buah kedua adalah mahabbah. Cinta kepada Allah yang mengalahkan segala cinta. Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Keluarganya. Hartanya. Dan seluruh dunia. 

Cinta ini bukan cinta yang menuntut. Melainkan cinta yang memberi. Bukan cinta yang mengeluh. Melainkan cinta yang bersyukur. 

Rabi'ah al-Adawiyah menggambarkan cinta ini sebagai api yang membakar seluruh keinginan selain Allah. Ibnu Arabi melukiskan cinta ini sebagai lautan yang tidak memiliki tepi. Di mana setiap tetesnya menghanyutkan diri ke dalam kekasih. Cinta ini melahirkan ketaatan yang mudah. Ibadah yang nikmat. Dan pengorbanan yang ringan. Sebab cinta tidak pernah merasa berat untuk memberi.

Buah ketiga, khauf dan raja'

Buah ketiga adalah khauf dan raja'. Rasa takut dan harapan yang seimbang. Orang yang mengenal Allah akan takut kepada-Nya bukan karena takut hukuman. Melainkan karena takut kehilangan cinta-Nya. 

Ia akan berharap kepada-Nya. Bukan karena ingin surga. Melainkan karena ingin melihat wajah-Nya. Takut dan harapan ini menjaga seseorang dari kelalaian dan keputusasaan. Ia tidak merasa aman dari murka Allah. Tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat-Nya. 

Inilah keseimbangan yang melahirkan kehati-hatian dalam melangkah dan keberanian dalam berharap. Dua sayap yang mengantar seseorang terbang menuju Allah.

Buah Keempat Tawadhu'

Buah keempat adalah tawadhu'. Kerendahan hati. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya. Ia tidak lagi merasa sombong dengan ilmunya. Tidak lagi merasa tinggi dengan amalnya. Tidak lagi merasa suci dengan ibadahnya. 

Sebab ia tahu bahwa segala kebaikan berasal dari Allah. Dan segala keburukan berasal dari dirinya sendiri. Tawadhu' membuat seseorang mudah memaafkan. Mudah meminta maaf. Dan mudah mengakui kesalahan. 

Ia tidak sibuk menilai orang lain. Karena ia sibuk memperbaiki diri. Ia tidak sibuk mencari pengakuan. Karena ia telah mendapat pengakuan dari Allah. Dan itu sudah cukup.

Buah Kelima, Musyahadah

Buah kelima adalah musyahadah. Menyaksikan kehadiran Allah di balik segala sesuatu. Orang yang mengenal Allah tidak lagi melihat dunia sebagai tujuan. Melainkan sebagai cermin yang memantulkan kebesaran Allah. 

Ia melihat senja bukan sekadar senja. Melainkan lukisan Allah yang Maha Indah. Ia mendengar burung berkicau bukan sekadar suara. Melainkan tasbih Allah yang Maha Suci. Ia merasakan sakit bukan sekadar derita. Melainkan kasih sayang Allah yang Maha Penyayang. 

Kesadaran ini membuat hidupnya penuh keajaiban. Penuh syukur. Dan penuh cinta. Tidak ada hari yang kosong dari kehadiran Allah. Tidak ada momen yang sunyi dari cinta-Nya.

Pada akhirnya, buah ma'rifatullah adalah kehidupan yang telah berubah. Bukan dari luar. Melainkan dari dalam. Ia adalah hati yang tenang di tengah badai. Cinta yang membara di tengah dinginnya dunia. Harapan yang menyala di tengah gelapnya masa depan. 

Ma'rifatullah tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Tetapi menjanjikan hati yang tidak goyah ketika masalah datang. Ia tidak menjanjikan dunia yang sempurna. Tetapi menjanjikan cara memandang dunia yang membuatnya terasa sempurna. Karena kehadiran Allah di dalamnya. 

Dan pada akhirnya, ma'rifatullah adalah pintu menuju kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tidak tergantung pada apa yang dimiliki. Melainkan pada siapa yang dikenal. 

Allahumma inni as'aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba 'amalin yuqarribuni ila hubbik—Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu. Dan cinta amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. 

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial Tasawuf-15 (1): "Ridha, Ketika Malam Terbelah Awan"

Kamis, 08 Oktober 2026

Prestasi ASEAN Game Aichi Nagoya: "Hentikan Rayakan Kemenangan..!"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-59)

Narasi Pemicu: Maka berakhirlah sudah pesta olahraga terbesar Asia itu. Di Paloma Mizuho Stadium, Nagoya. Api Asian Games 2026 padam pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kontingen Indonesia pulang dengan 39 medali. Lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Chef de Mission Todotua Pasaribu menyebutnya sebagai capaian terbaik. Melampaui target empat emas yang ditetapkan Kemenpora. Namun di balik angka-angka itu. Ada pertanyaan yang menganga seperti luka yang belum sembuh. Mengapa targetnya begitu rendah? Dan mengapa peringkat kita justru turun?

Terpuruknya Prestasi

Di Hangzhou 2022, Indonesia berada di posisi ke-12 dengan tujuh emas. Kini, di Aichi-Nagoya, kita terpuruk di peringkat ke-16. Todotua berdalih bahwa sejumlah nomor yang dahulu menyumbang emas. Seperti menembak 10 meter running target dan dragon boat 1000 meter putra, tidak lagi dipertandingkan. 

Dalih itu benar. Tetapi tidak cukup. Sebab pertanyaan sesungguhnya bukanlah mengapa nomor itu hilang. Melainkan mengapa kita tidak pernah benar-benar hadir di nomor-nomor lain. Kita hanya kuat di kolam yang dangkal. Dan ketika kolam itu dikeringkan. Kita kelimpungan. Kehilangan pijakan.

Namun, janganlah kita menjadi bangsa yang hanya bisa mengeluh. Di tengah kabut itu. Memang ada nyala yang pantas dicatat. Rahmat Erwin Abdullah mengangkat 366 kilogram dan mencatatkan namanya sebagai pemegang rekor dunia kelas 75 kilogram. 

Desak Made Rita Kusuma Dewi memecahkan rekor Asia nomor speed putri dengan waktu 6,062 detik. Tim bulu tangkis putra mengalahkan China di final. Mengakhiri penantian 28 tahun untuk emas Asian Games. 

Nurisa Dian Ashrifah mempersembahkan emas pertama Indonesia dari panahan. Mengalahkan wakil Filipina dengan skor tipis 139-137. Ini bukan prestasi kecil. Ini adalah sejarah yang ditulis dengan keringat dan air mata.

Rasio yang Memilukan

Tetapi sejarah juga menuntut kejujuran. Lima emas kita berasal dari cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Itu kabar baik. Artinya, kita memiliki atlet yang mampu bersaing di panggung tertinggi. 

Namun, 39 medali dari 432 atlet yang dikirim ke 35 cabang olahraga adalah rasio yang memilukan. Sebagian besar atlet kita pulang dengan tangan kosong. Mereka berjuang. Tetapi perjuangan tanpa ekosistem yang menopang. Hanyalah lilin yang menyala sebentar lalu padam.

Cabang-cabang baru seperti teqball, padel, MMA, dan esports menyumbang medali perak dan perunggu. Itu secercah harapan. Tetapi juga cermin. Kita menang di pinggiran karena kita belum mampu menembus pusat. 

Esports, yang baru dipertandingkan secara resmi. Memberi medali pertama kita. Apakah kita akan serius membangunnya. Ataukah kita hanya akan menunggu keberuntungan datang lagi?

Cara Memaknai Angka

Yang paling mengusik bukanlah angka. Melainkan cara kita memaknai angka itu. Kita terlalu cepat berpuas diri dengan target yang rendah. Empat emas ditetapkan. Lima emas diraih. Maka kita bersorak kegirangan. 

Padahal, target yang rendah adalah pengakuan terselubung. Bahwa kita tidak percaya pada kemampuan sendiri. Jepang, tuan rumah, mengumpulkan 83 emas. China 169 emas. Korea Selatan 39 emas. Kita berada di bawah Taiwan, di atas Filipina. Itulah peta kekuatan olahraga Asia. Dan kita masih duduk di kursi penonton. Sedih rasanya..!

Menyoal Mentalitas Atlit

Pekerjaan rumah kita bukan hanya soal teknis. Ia soal mentalitas. Kita perlu berhenti merayakan kemenangan di pinggiran. Seolah-olah itu adalah puncak dunia. 

Kita perlu membangun sistem yang tidak bergantung pada satu-dua atlet berbakat. Tetapi pada ribuan anak yang belajar berolahraga dengan benar sejak dini. 

Kita perlu akademi. Pelatih bersertifikat. Kompetisi usia muda yang jujur. Dan fasilitas yang layak di kota maupun desa. Tanpa itu, rekor dunia Rahmat Erwin akan menjadi monumen yang sunyi. Dan emas bulu tangkis akan menjadi kenangan yang perlahan pudar.

Mendidik Anak Bangsa Cinta Olahraga 

Maka, di tengah sorotan podium yang mulai meredup. Satu kebenaran harus ditulis dengan tinta yang tidak mudah luntur. Mendidik anak bangsa menjadi atlet yang piawai dan handal adalah investasi yang paling terlambat. Dan akan terus lebih mahal jika kita terus menundanya. 

Atlet tidak lahir dari sorak penonton. Ia lahir dari lapangan yang keras. Dari pelatih yang sabar. Dari sekolah yang menghargai olahraga. Dari kecintaanya pada olahraga. Bukan hanya sebagai pelengkap pendidikan jasmani. Melainkan sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri. Yang mengarah pada prestasi mendunia.

Anak-anak perlu diajari disiplin. Strategi. Kerja sama. Dan ketangguhan mental. Mereka perlu belajar kalah tanpa kehilangan martabat. Dan menang tanpa kehilangan kerendahan hati. 

Negara wajib hadir bukan hanya ketika atlet sudah berdiri di podium. Tetapi ketika seorang anak berusia sembilan tahun sedang belajar melempar lembing, melempar bola basket, berlari dengan cepat atau mengayun raket untuk pertama kalinya. 

Bangunlah sekolah olahraga di setiap kabupaten. Hadirkan pelatih profesional. Berikan beasiswa bagi bakat dari keluarga miskin. Dan ciptakan kompetisi yang bersih dari politik dan kecurangan.

Mendidik atlet adalah mendidik bangsa. Dan bangsa yang belajar berolahraga dengan benar. Adalah bangsa yang belajar menang dengan cara yang benar. Semoga dapat dibenarkan oleh pak Menpora..!!!

Serial Tasawuf-14 (2): "Menuju Ma'rifatullah via Tangga Pendakian Ruhani"


Pengantar: Setiap perjalanan memiliki peta. Dan setiap pendakian memiliki tangga. Ma'rifatullah, sebagai puncak tertinggi perjalanan ruhani. Bukanlah tujuan yang dapat diraih dengan sekali lompatan. Ia menuntut kesabaran. Disiplin. Dan kerendahan hati seorang pendaki. Yang tahu bahwa gunung yang ia daki tidak pernah benar-benar selesai. 

Jejak Pendakian via Maqamat

Para sufi telah meninggalkan jejak-jejak pendakian ini dalam bentuk maqamat. Stasiun-stasiun spiritual yang harus dilalui satu per satu. Seperti anak tangga menuju ruang terdalam dari rumah hati. 

Dan setiap tangga. Meskipun tampak sederhana. Menyimpan rahasia yang hanya terbuka. Bagi mereka yang menapakinya dengan sungguh-sungguh.

Tangga pertama menuju ma'rifatullah adalah taubat. Bukan sekadar penyesalan. Melainkan kesadaran yang mengguncang. Bahwa selama ini manusia telah hidup dalam kelalaian. Sibuk dengan dunia tetapi lupa kepada Yang Menciptakan dunia.

Taubat adalah momen ketika seseorang berbalik. Bukan hanya dari dosa. Tetapi dari seluruh cara hidup yang berpusat pada diri sendiri. Menuju hidup yang berpusat pada Allah. 

Imam Nawawi menyebut taubat sebagai awal dari segala awal. Karena tanpa taubat, hati masih tertutup oleh debu-debu maksiat. Yang menghalangi cahaya ma'rifat. Taubat yang sejati melahirkan ishlah. Perbaikan. Istiqamah. Keteguhan. Yang menjadi bekal perjalanan panjang.

Setelah taubat, sang salik menapaki tangga zuhud. Tidak diperbudak oleh dunia. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Melainkan menempatkan dunia di tangan. Bukan di hati. 

Nabi Sulaiman yang memiliki kerajaan megah tetap zuhud karena hatinya tidak terikat pada istana. Nabi Isa yang tidak memiliki tempat tinggal tetap zuhud karena hatinya tidak bergantung pada dunia. 

Zuhud mengajarkan bahwa ma'rifatullah membutuhkan hati yang kosong dari selain Allah. Sebab hati yang penuh dengan cinta dunia tidak akan memiliki ruang untuk cinta Ilahi. Seperti kata pepatah sufi, "Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan. Dan meninggalkannya adalah pangkal segala kebaikan."

Tangga berikutnya adalah sabar. Dalam perjalanan menuju ma'rifat. Ujian adalah keniscayaan. Ada saat-saat ketika doa terasa tidak dijawab. Ketika usaha terasa sia-sia. Ketika jalan terasa gelap. 

Di sinilah sabar menjadi kunci. Sabar bukanlah pasrah tanpa usaha. Melainkan keteguhan hati untuk terus melangkah meskipun langit tampak tertutup awan. 

Al-Qur'an menyebut sabar sebagai ma'iyyah. Kebersamaan Allah: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." 

Dan kebersamaan dengan Allah adalah pintu menuju ma'rifat. Semakin seseorang bersabar. Semakin ia merasakan kehadiran Allah dalam setiap kesulitan. Dan semakin ia mengenal betapa bijaksana Allah dalam setiap takdir yang ia jalani.

Kemudian datang tangga tawakal. Berserah diri kepada Allah. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Melainkan menyandarkan hasil kepada Allah setelah melakukan segala upaya. 

Tawakal adalah pengakuan bahwa manusia hanyalah hamba yang menjalankan peran. Sementara Allah adalah Sutradara yang mengatur segala sesuatu. Dalam tawakal. Seseorang belajar bahwa kekhawatiran tidak menambah rezeki. Dan ketenangan tidak mengurangi usaha. 

Tawakal melahirkan ketenangan yang dalam. Karena ia tahu bahwa apa pun yang terjadi. Allah adalah sebaik-baik pelindung. Inilah salah satu buah ma'rifat. Mengenal Allah sebagai Al-Wakil. Maha Mewakili. Yang mengurus segala urusan hamba-Nya dengan sempurna.

Tangga puncak berikutnya adalah ridha. Kerelaan terhadap segala ketentuan Allah. Ridha adalah keadaan di mana hati tidak lagi berkeluh kesah. Tidak lagi mempertanyakan takdir. Tetapi menerima dengan lapang dada apa pun yang Allah berikan. 

Ridha bukan berarti tidak memiliki keinginan. Melainkan menyerahkan keinginan kepada kehendak Allah. Seorang yang ridha akan merasakan kebahagiaan bahkan dalam kesempitan. Karena ia tahu bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. 

Ridha adalah gerbang terakhir sebelum ma'rifat. Karena hati yang belum ridha masih memiliki hijab yang menutupi pandangan dari melihat hikmah di balik setiap ketentuan.

Namun, maqamat ini bukanlah tangga mekanis yang bisa dilalui dengan hitungan. Ia adalah pengalaman hidup yang mengalir. Terkadang naik. Terkadang turun. Tetapi selalu bergerak menuju Allah. 

Yang terpenting bukanlah seberapa cepat seseorang sampai. Melainkan seberapa tulus ia melangkah. Sebab ma'rifatullah bukanlah tujuan yang bisa diklaim. Melainkan anugerah yang Allah berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya.

Tugas kita hanyalah membersihkan hati. Melangkah dengan sabar. Dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Wa ma taufiqi illa billah. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dari Allah. 

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial Tasawuf-14 (3): "Buah Ma'rifatullah"

Wawancara Imajiner-3, dengan Presiden Donald J. Trump: "Tentang Korupsi Indonesia"

Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu s...