Narasi Pemicu: Malam itu, hujan turun kembali. Bukan hujan yang deras seperti malam-malam sebelumnya, Melainkan gerimis halus yang membasahi dedaunan tanpa suara. Para salik datang dengan pakaian yang sedikit basah. Tetapi wajah-wajah mereka bersinar. Yunus, yang beberapa malam lalu menangis karena kehilangan anaknya, kini duduk paling depan. Matanya masih sembab. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang mulai tumbuh di sana. Seperti tunas kecil yang menembus tanah setelah lama tertidur.
Guru Mursyid memandang Yunus dengan senyum tipis. "Engkau datang lebih awal malam ini, anakku."
"Aku tidak ingin melewatkan apa pun, Wahai Mursyid," jawab Yunus. "Engkau berkata bahwa ridha adalah maqam yang paling tinggi. Tetapi aku belum memahaminya sepenuhnya. Apakah ridha itu satu tingkatan saja. Atau ada tingkatan-tingkatan di dalamnya?"
Mursyid mengangguk. Seolah telah menunggu pertanyaan itu. "Engkau bertanya tentang sesuatu yang jarang ditanyakan orang, Yunus. Kebanyakan orang berhenti pada 'ridha' sebagai satu kata. Tanpa tahu bahwa di dalamnya ada tujuh anak tangga. Dan engkau, malam ini, akan menaiki tangga itu satu per satu."
Anak Tangga Pertama: Menerima dengan Sabar
Mursyid memulai dengan suara yang pelan. Seperti orang yang sedang membacakan kitab tua.
"Tingkatan pertama adalah ridha yang lahir dari kesabaran. Ini adalah tingkatan paling dasar. Engkau menerima musibah karena engkau tahu bahwa engkau harus bersabar. Engkau tidak mengeluh. Engkau tidak menyalahkan Allah. Engkau tidak berputus asa. Tetapi hatimu masih terasa berat. Engkau masih bertanya: 'Mengapa ini terjadi padaku?' Engkau masih menahan diri. Bukan menerima dengan lapang."
"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang meminum obat pahit. Ia tahu obat itu baik untuknya. Ia meminumnya tanpa membantah. Tetapi wajahnya tetap berkerut karena rasa pahitnya. Ia sabar. Tetapi belum ridha."
Yunus mengangguk. "Itulah yang aku rasakan, Wahai Mursyid. Aku telah bersabar. Tetapi hatiku masih terasa berat."
Mursyid tersenyum. "Dan itu sudah cukup untuk memulai, anakku. Tidak ada yang mencapai ridha tanpa melewati sabar."
Anak Tangga Kedua: Menerima dengan Lapang
"Tingkatan kedua adalah ridha yang lahir dari keikhlasan. Engkau menerima musibah bukan karena engkau terpaksa. Tetapi karena engkau ikhlas. Engkau tidak lagi bertanya mengapa. Karena engkau tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan mengubah apa pun. Engkau mulai melihat musibah sebagai bagian dari perjalanan. Bukan sebagai hukuman."
"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang meminum obat. Tetapi ia telah tahu bahwa obat itu akan menyembuhkannya. Wajahnya tidak lagi berkerut. Ia meminumnya dengan tenang. Karena ia percaya pada dokter yang meresepkannya."
Anak Tangga Ketiga: Menerima dengan Tenang
"Tingkatan ketiga adalah ridha yang lahir dari ketenangan. Engkau menerima musibah tanpa kegelisahan. Hatimu tenang. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau tahu bahwa sakit itu akan berlalu. Engkau seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tidak takut jembatan itu akan runtuh, meskipun ia belum melihat ujungnya."
Anak Tangga Keempat: Menerima dengan Syukur
"Tingkatan keempat adalah ridha yang lahir dari syukur. Ini adalah tingkatan yang lebih tinggi. Engkau tidak hanya menerima musibah dengan tenang. Tetapi engkau bersyukur atasnya. Engkau melihat musibah sebagai karunia. Bukan karena musibah itu menyenangkan. Tetapi karena engkau tahu bahwa di baliknya ada hikmah yang tidak engkau lihat."
"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang menemukan permata di dalam lumpur. Ia tidak membenci lumpur itu, karena lumpur itulah yang menyembunyikan permata."
Anak Tangga Kelima: Menerima dengan Cinta
"Tingkatan kelima adalah ridha yang lahir dari mahabbah. Engkau menerima musibah karena engkau mencintai Dzat yang memberikannya. Engkau tidak lagi memikirkan apakah musibah itu menyakitkan atau tidak. Yang engkau pikirkan hanyalah: 'Apakah Allah ridha kepadaku?' Jika Allah ridha. Maka segala sesuat, bahkan musibah, menjadi manis."
"Orang pada tingkatan ini seperti seorang kekasih yang menerima apa pun dari kekasihnya. Jika kekasihnya memberi bunga, ia bahagia. Jika kekasihnya memberi duri, ia tetap bahagia. Karena duri itu datang dari tangan yang dicintainya."
Anak Tangga Keenam: Menerima Sebelum Terjadi
"Tingkatan keenam adalah ridha yang mendahului musibah. Engkau tidak hanya ridha setelah musibah datang. Tetapi engkau telah ridha sebelum musibah itu terjadi. Engkau telah menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada Allah. Sehingga apa pun yang terjadi. Engkau sudah siap menerimanya."
"Orang pada tingkatan ini seperti seorang hamba yang telah menyerahkan kunci rumahnya kepada tuannya. Apa pun yang tuannya lakukan terhadap rumah itu. Apakah ia renovasi. Apakah ia ratakan dengan tanah. Hamba itu tidak keberatan. Karena rumah itu bukan miliknya."
Anak Tangga Ketujuh: Ridha yang Menjadi Hakikat
"Tingkatan ketujuh adalah ridha yang telah menjadi hakikat dirimu. Engkau tidak lagi merasa sedang ridha, karena ridha telah menyatu dengan jiwamu. Engkau tidak lagi merasa sedang menerima. Karena engkau tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Kehendakmu telah melebur dalam kehendak Allah. Engkau tidak lagi berkata 'aku ridha'. Karena tidak ada lagi 'aku' yang bisa ridha. Yang ada hanyalah Allah."
"Orang pada tingkatan ini seperti setetes air yang jatuh ke laut. Ia tidak lagi berkata 'aku adalah setetes air'. Ia telah menjadi laut."
Mursyid berhenti sejenak. "Inilah tingkatan tertinggi. Hanya segelintir orang yang mencapainya. Para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan para salihiin yang telah dipilih Allah."
Allah Akan Menuntunmu
Hujan telah berhenti. Awan mulai terbuka, dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya, membetulkan selimutnya, dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.
"Anak-anakku," ujarnya. "Engkau tidak perlu mencapai tingkatan tertinggi dalam semalam. Engkau hanya perlu menaiki satu anak tangga setiap hari. Mulailah dari sabar, lalu ikhlas, lalu tenang, lalu syukur, lalu cinta. Dan suatu hari. Ketika engkau menoleh ke belakang. Engkau akan menyadari bahwa engkau telah sampai di puncak. Bukan karena engkau kuat. Tetapi karena Allah telah menuntunmu."
"Ingatlah pesan ini: Ridha bukanlah tujuan yang engkau capai. Tetapi perjalanan yang engkau lalui. Engkau tidak akan pernah merasa 'sudah ridha'. Karena ridha selalu bisa lebih dalam. Engkau hanya bisa terus menaiki anak tangga itu. Satu per satu. Sampai engkau bertemu dengan Dzat yang telah menciptakan tangga itu. "
Mursyid menutup majelis dengan doa:
"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ridha yang Engkau ridhai. Naikkanlah kami dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain. Sampai kami mencapai tingkatan tertinggi. Ketika kehendak kami telah melebur dalam kehendak-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."
Yunus tersenyum. Ia masih berada di anak tangga pertama. Tetapi ia tahu bahwa ia sedang bergerak. Dan itu sudah cukup.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial Tasawuf-19, Buah-Buah Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari
Nantikan Serial Tasawuf-19, Buah-Buah Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari



