Minggu, 11 Oktober 2026

Serial Tasawuf-18: "Tujuh Anak Tangga Menuju Ketenangan Jiwa"


Narasi Pemicu: Malam itu, hujan turun kembali. Bukan hujan yang deras seperti malam-malam sebelumnya, Melainkan gerimis halus yang membasahi dedaunan tanpa suara. Para salik datang dengan pakaian yang sedikit basah. Tetapi wajah-wajah mereka bersinar. Yunus, yang beberapa malam lalu menangis karena kehilangan anaknya, kini duduk paling depan. Matanya masih sembab. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang mulai tumbuh di sana. Seperti tunas kecil yang menembus tanah setelah lama tertidur.

Guru Mursyid memandang Yunus dengan senyum tipis. "Engkau datang lebih awal malam ini, anakku."

"Aku tidak ingin melewatkan apa pun, Wahai Mursyid," jawab Yunus. "Engkau berkata bahwa ridha adalah maqam yang paling tinggi. Tetapi aku belum memahaminya sepenuhnya. Apakah ridha itu satu tingkatan saja. Atau ada tingkatan-tingkatan di dalamnya?"

Mursyid mengangguk. Seolah telah menunggu pertanyaan itu. "Engkau bertanya tentang sesuatu yang jarang ditanyakan orang, Yunus. Kebanyakan orang berhenti pada 'ridha' sebagai satu kata. Tanpa tahu bahwa di dalamnya ada tujuh anak tangga. Dan engkau, malam ini, akan menaiki tangga itu satu per satu."

Anak Tangga Pertama: Menerima dengan Sabar

Mursyid memulai dengan suara yang pelan. Seperti orang yang sedang membacakan kitab tua.

"Tingkatan pertama adalah ridha yang lahir dari kesabaran. Ini adalah tingkatan paling dasar. Engkau menerima musibah karena engkau tahu bahwa engkau harus bersabar. Engkau tidak mengeluh. Engkau tidak menyalahkan Allah. Engkau tidak berputus asa. Tetapi hatimu masih terasa berat. Engkau masih bertanya: 'Mengapa ini terjadi padaku?' Engkau masih menahan diri. Bukan menerima dengan lapang."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang meminum obat pahit. Ia tahu obat itu baik untuknya. Ia meminumnya tanpa membantah. Tetapi wajahnya tetap berkerut karena rasa pahitnya. Ia sabar. Tetapi belum ridha."

Yunus mengangguk. "Itulah yang aku rasakan, Wahai Mursyid. Aku telah bersabar. Tetapi hatiku masih terasa berat."

Mursyid tersenyum. "Dan itu sudah cukup untuk memulai, anakku. Tidak ada yang mencapai ridha tanpa melewati sabar."

Anak Tangga Kedua: Menerima dengan Lapang

"Tingkatan kedua adalah ridha yang lahir dari keikhlasan. Engkau menerima musibah bukan karena engkau terpaksa. Tetapi karena engkau ikhlas. Engkau tidak lagi bertanya mengapa. Karena engkau tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan mengubah apa pun. Engkau mulai melihat musibah sebagai bagian dari perjalanan. Bukan sebagai hukuman."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang meminum obat. Tetapi ia telah tahu bahwa obat itu akan menyembuhkannya. Wajahnya tidak lagi berkerut. Ia meminumnya dengan tenang. Karena ia percaya pada dokter yang meresepkannya."

Anak Tangga Ketiga: Menerima dengan Tenang

"Tingkatan ketiga adalah ridha yang lahir dari ketenangan. Engkau menerima musibah tanpa kegelisahan. Hatimu tenang. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau tahu bahwa sakit itu akan berlalu. Engkau seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tidak takut jembatan itu akan runtuh, meskipun ia belum melihat ujungnya."

Anak Tangga Keempat: Menerima dengan Syukur

"Tingkatan keempat adalah ridha yang lahir dari syukur. Ini adalah tingkatan yang lebih tinggi. Engkau tidak hanya menerima musibah dengan tenang. Tetapi engkau bersyukur atasnya. Engkau melihat musibah sebagai karunia. Bukan karena musibah itu menyenangkan. Tetapi karena engkau tahu bahwa di baliknya ada hikmah yang tidak engkau lihat."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang menemukan permata di dalam lumpur. Ia tidak membenci lumpur itu, karena lumpur itulah yang menyembunyikan permata."

Anak Tangga Kelima: Menerima dengan Cinta

"Tingkatan kelima adalah ridha yang lahir dari mahabbah. Engkau menerima musibah karena engkau mencintai Dzat yang memberikannya. Engkau tidak lagi memikirkan apakah musibah itu menyakitkan atau tidak. Yang engkau pikirkan hanyalah: 'Apakah Allah ridha kepadaku?' Jika Allah ridha. Maka segala sesuat, bahkan musibah, menjadi manis."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang kekasih yang menerima apa pun dari kekasihnya. Jika kekasihnya memberi bunga, ia bahagia. Jika kekasihnya memberi duri, ia tetap bahagia. Karena duri itu datang dari tangan yang dicintainya."

Anak Tangga Keenam: Menerima Sebelum Terjadi

"Tingkatan keenam adalah ridha yang mendahului musibah. Engkau tidak hanya ridha setelah musibah datang. Tetapi engkau telah ridha sebelum musibah itu terjadi. Engkau telah menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada Allah. Sehingga apa pun yang terjadi. Engkau sudah siap menerimanya."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang hamba yang telah menyerahkan kunci rumahnya kepada tuannya. Apa pun yang tuannya lakukan terhadap rumah itu. Apakah ia renovasi. Apakah ia ratakan dengan tanah. Hamba itu tidak keberatan. Karena rumah itu bukan miliknya."

Anak Tangga Ketujuh: Ridha yang Menjadi Hakikat

"Tingkatan ketujuh adalah ridha yang telah menjadi hakikat dirimu. Engkau tidak lagi merasa sedang ridha, karena ridha telah menyatu dengan jiwamu. Engkau tidak lagi merasa sedang menerima. Karena engkau tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Kehendakmu telah melebur dalam kehendak Allah. Engkau tidak lagi berkata 'aku ridha'. Karena tidak ada lagi 'aku' yang bisa ridha. Yang ada hanyalah Allah."

"Orang pada tingkatan ini seperti setetes air yang jatuh ke laut. Ia tidak lagi berkata 'aku adalah setetes air'. Ia telah menjadi laut."

Mursyid berhenti sejenak. "Inilah tingkatan tertinggi. Hanya segelintir orang yang mencapainya. Para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan para salihiin yang telah dipilih Allah."

Allah Akan Menuntunmu

Hujan telah berhenti. Awan mulai terbuka, dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya, membetulkan selimutnya, dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya. "Engkau tidak perlu mencapai tingkatan tertinggi dalam semalam. Engkau hanya perlu menaiki satu anak tangga setiap hari. Mulailah dari sabar, lalu ikhlas, lalu tenang, lalu syukur, lalu cinta. Dan suatu hari. Ketika engkau menoleh ke belakang. Engkau akan menyadari bahwa engkau telah sampai di puncak. Bukan karena engkau kuat. Tetapi karena Allah telah menuntunmu."

"Ingatlah pesan ini: Ridha bukanlah tujuan yang engkau capai. Tetapi perjalanan yang engkau lalui. Engkau tidak akan pernah merasa 'sudah ridha'. Karena ridha selalu bisa lebih dalam. Engkau hanya bisa terus menaiki anak tangga itu. Satu per satu. Sampai engkau bertemu dengan Dzat yang telah menciptakan tangga itu. "

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ridha yang Engkau ridhai. Naikkanlah kami dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain. Sampai kami mencapai tingkatan tertinggi. Ketika kehendak kami telah melebur dalam kehendak-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Yunus tersenyum. Ia masih berada di anak tangga pertama. Tetapi ia tahu bahwa ia sedang bergerak. Dan itu sudah cukup.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial Tasawuf-19, Buah-Buah Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari



Sabtu, 10 Oktober 2026

Humor Kaum Bajingan Pengadilan


Pengantar: Berikut ini adalah paket humor kaum bajingan pengadilan. Tentu saja ini merupakan fiksi satire. Sebuah jurnalistik rekayasa. Jadi, ya, jangan ditiru. Lalu kalau mirip? Berarti pengadilan kita sejatinya sedang tidak humor.

Paket 1: Keadilan Express

Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Minta keadilan? Boleh-boleh saja. Tapi harap antre dulu..!"
Terdakwa: "Antreannya berapa lama Yang Mulia?"
Hakim: "Tergantung."
Terdakwa: "Tergantung apa?"
Hakim: "Tergantung siapa yang mengantar dan berapa nominalnya."
Terdakwa: "Kalau saya hanya sendiri dan gak bawa apa-apa??"
Hakim: "Bisa saja. Tapi jangan harap."
Terdakwa: "Jangan harap apa?"
Hakim: "Jangan harap dilayani dengan cepat. Harap berbekal sabar tak terbatas."
Terdakwa: "Duh, nasib orang kecil.."

(Punchline: Di negeri ini, keadilan bukan buta. Cuma pura-pura tidak melihat.)

Paket 2: Lelang Pasal

Jaksa: "Pasal yang cocok untuk Anda ada tiga paket: 2 tahun, 5 tahun, atau 10 tahun."
Terdakwa: "Saya pilih yang 2 tahun, pak Jaksa."
Jaksa: "Boleh. Itu namanya paket hemat. Tapi ada biaya tambahan."
Terdakwa: "Berapa?"
Jaksa: "Tergantung kecepatan putusan."
Terdakwa: "Kalau saya mau cepat?"
Jaksa: "Berarti di-upgrade ke paket express. Sidang pagi. Vonis siang, Sore bebas."
Terdakwa: "Kalau nggak bayar?"
Jaksa: "Itu paket reguler. Lama sidang lima bulan. Vonis lima menit. Penjara lima tahun."

(Punchline: Pasal bisa dipilih seperti menu restoran. Yang mahal bukan makanannya. Tapi diskonnya.)

Paket 3: Amplop Kenangan

Hakim: "Catat..! Saya tidak menerima suap..!"
Terdakwa: "Keren, Yang Mulia. Saya juga tidak berniat untuk menyuap."
Hakim: "Lalu ini apa?"
Terdakwa: "Ini...cuma kenang-kenangan Yang Mulia."
Hakim: "Kenang-kenangan apa?"
Terdakwa: "Agar Yang Mulia ingat saya."
Hakim: "Loh, Saya sudah ingat kok.."
Terdakwa: "Tapi belum cukup Yang Mulia. Jangan sampai lupa saat putusan."
Hakim: "Saya tidak pernah lupa pasal."
Terdakwa: "Saya tahu Yang Mulia. Tapi kan yang sering terjadi. Begitu lupa amplopnya, otomatis pasalnya jadi lupa."

(Punchline: Kadang hakim lupa pasal, tapi tidak lupa kado.)


Paket 4: Mediasi Damai


Pengacara A: "Kita sudahi dengan damai saja."
Pengacara B: "Damai bagaimana?"
A: "Klien saya bayar, Klien Anda terima. Perkara hilang."
B: "Itu bukan damai. Itu transaksi."
A: "Sama saja. 
B: "Lalu bedanya apa?"
A: "Bedanya,  kalau  damai ada berita acaranya."
B: "Kalau transaksi?"
A: "Nggak ada berita acara. Tapi ada rekaman dan tanda terima."
B: "Rekaman?"
A: "Iya. Rekaman...Kalau nanti ada yang tidak beres dan tidak puas."

(Punchline: Di pengadilan, damai bisa berarti kedua pihak sepakat untuk tidak jujur.)


Paket 5: Kasasi Express

Terdakwa: "Saya mau kasasi."
Pengacara: "Boleh. Ada dua jalur. Jalur hukum atau jalur cepat."
Terdakwa: "Bedanya?"
Pengacara: "Jalur hukum butuh bukti. Jalur cepat butuh kenalan."
Terdakwa: "Saya pilih yang jalur kenalan dan cepat saja."
Pengacara: "Bagus. Tapi kalau ketahuan, kita ganti nama jadi upaya hukum luar biasa ya..."
Terdakwa: "Maksudnya luar biasa apa?"
Pengacara: "Luar biasa...muahal..."

(Punchline: Kasasi bisa lambat, bisa cepat. Tergantung siapa yang dihubungi dan berapa besaran nominalnya.)

Paket 6: Keadilan Masih Tersedia

Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Siap. Kebetulan keadilan masih tersedia. Tapi ada biaya administrasinya."
Terdakwa: "Administrasi apa?"
Hakim: "Administrasi...dalam rangka mempercepat proses."
Terdakwa: "Kalau tidak bayar?"
Hakim: "Prosesnya tetap jalan terus."
Terdakwa: "Bagus dong."
Hakim: "Iya. Tapi arahnya pake baju orange ke penjara."
Terdakwa: "Kalau bayar?"
Hakim: "Arahnya ke rumah sakit. Nominalnya bikin sakit perut dan mencret mendadak."

Bonus 
Punchline: 

Di pengadilan, yang disebut negeri bisa berarti tempat berjuang membela hukum. Atau tempat jual beli hukum.

Bonus Pantun:

Pergi ke pasar beli kacamata
Beli juga sepasang selop
Bajingan itu setengah buta,
Mata ijo lihat amplop

Serial Tasawuf-17: "Ridha, Ketika Hati Berdebat dengan Takdir"


Pengantar: Hujan telah berlalu, dan sumur di belakang zawiyah kembali terisi. Namun malam itu, langit kembali gelap. Bukan karena awan. Melainkan karena gerhana yang menelan bulan. Para salik duduk di serambi. Memandangi langit yang kehilangan cahayanya. Di antara mereka, seorang salik bernama Yunus menangis tanpa suara. Ia baru saja kehilangan anaknya yang masih bayi. Dan hatinya masih bergulat dengan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Ketika Bulan Tersembunyi di Balik Awan

Mursyid duduk di sampingnya. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya di pundak Yunus. Membiarkan kehangatan itu berbicara lebih dari seribu kalimat.

Setelah lama terdiam. Mursyid akhirnya berbicara dengan suara yang pelan. Seperti bisikan angin di antara dedaunan.

"Yunus, anakku. Malam ini bulan tertutup. Tetapi ia tidak hilang. Cahayanya masih ada. Hanya tersembunyi di balik awan. Begitu pula hikmah dari apa yang engkau alami. Engkau tidak melihatnya sekarang. Tetapi ia ada. Dan ia akan muncul. Ketika engkau siap melihatnya."

Yunus mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Wahai Mursyid, bagaimana aku bisa menerima ini? Bagaimana aku bisa ridha ketika hatiku hancur?"

Mursyid menghela napas. "Itulah pertanyaan yang paling berat, anakku. Dan jawabannya adalah maqam yang paling tinggi: Ridha."

Kisah Seorang Ayah dan Dua Anaknya

Mursyid memulai kisahnya malam itu dengan suara yang dalam. Seperti air yang mengalir di bawah tanah.

"Ada seorang ayah yang memiliki dua anak. Ketika ayah itu sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit jauh. Ia memanggil kedua anaknya. Kepada anak pertama. Ia berkata: 'Aku akan pergi untuk waktu yang lama. Jagalah rumah. Rawatlah ibumu. Dan janganlah engkau berhenti berdoa untukku.'"

"Anak pertama menangis. Tetapi ia berkata: 'Baik, Ayah. Aku akan melakukan apa yang engkau minta.'"

"Kepada anak kedua. Ayah itu berkata hal yang sama. Tetapi anak kedua menjawab: 'Ayah, mengapa engkau harus pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami? Apakah engkau tidak mencintai kami? Aku tidak mau engkau pergi. Aku akan melakukan apa pun agar engkau tetap di sini.'"

Mursyid berhenti sejenak. "Anak pertama menerima keputusan ayahnya dengan ridha. Anak kedua menolaknya dengan keluh kesah. Keduanya mencintai ayah mereka. Tetapi hanya anak pertama yang memahami bahwa cinta sejati bukanlah memaksa kehendak sendiri. Melainkan menerima kehendak yang dicintai."

"Ayah itu pergi juga. Ia tidak bisa tinggal hanya karena anaknya menangis. Tetapi ketika ia kembali, setelah sembuh, ia memeluk anak pertama dengan erat dan berkata: 'Engkau telah membuatku bangga. Engkau telah menunjukkan cinta yang sejati.'"

Mursyid menatap Yunus. "Allah adalah Ayah kita yang sejati. Ia mengambil sesuatu dari kita bukan karena Ia tidak mencintai kita. Tetapi karena Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Ridha adalah ketika kita menerima keputusan-Nya. Meskipun kita tidak memahaminya."

Hakikat Ridha yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Bilal mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah ridha berarti kami tidak boleh bersedih? Apakah ridha berarti kami harus tersenyum ketika hati kami menangis?"

Mursyid menggeleng pelan. "Tidak, anakku. Itu bukan ridha. Itu kemunafikan."

"Ridha bukanlah tidak adanya kesedihan. Ridha adalah ketenangan hati di tengah kesedihan. Nabi Muhammad SAW menangis ketika anaknya, Ibrahim, meninggal. Beliau bersabda: 'Mata ini menangis. Dan hati ini bersedih. Tetapi kami tidak mengatakan apa pun yang tidak diridhai Allah.'"

"Perhatikanlah, Nabi SAW tidak mengatakan bahwa beliau tidak sedih. Beliau bersedih. Tetapi beliau tidak mengeluh. Beliau tidak menyalahkan Allah. Beliau tidak berputus asa. Itulah ridha. Kesedihan yang tidak melahirkan kedurhakaan."

Mursyid menjelaskan, "Imam al-Ghazali, mengajarkan bahwa ridha adalah buah dari mahabbah. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dzat yang engkau cintai tidak akan pernah menyakitimu."

"Ridha bukanlah pasrah yang buta. Ridha adalah kepercayaan yang total. Engkau tidak tahu mengapa Allah melakukan sesuatu. Tetapi engkau tahu bahwa Allah tidak pernah salah. Engkau tidak tahu apa hikmah di balik musibah. Tetapi engkau tahu bahwa Allah selalu ingin yang terbaik untukmu."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang ridha."

"Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (karunia) yang besar." (Al-Maidah: 119)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "ridha itu timbal balik. Jika engkau ridha kepada Allah, Allah akan ridha kepadamu. Dan keridhaan Allah adalah karunia yang paling besar. Lebih besar dari surga. Lebih besar dari segala kenikmatan."

"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh. Niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah benar-benar ridha terhadap mereka. Dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (karunia) yang besar." (Al-Mujadilah: 22)

"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai." (Al-Fajr: 27-28)

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Allah tidak memanggil jiwa itu dengan 'hai jiwa yang sabar' atau 'hai jiwa yang zuhud'. Ia memanggilnya dengan 'hai jiwa yang tenang'. Ketenangan adalah buah dari ridha. Ketika engkau ridha. Jiwamu menjadi tenang. Tidak lagi gelisah. Tidak lagi memberontak. Tidak lagi bertanya-tanya."

"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (Ibrahim: 42)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya.' (HR. Muslim)

"Perhatikanlah, Nabi SAW menyebutkan bahwa orang mukmin selalu dalam kebaikan. Tetapi ada satu tingkatan yang lebih tinggi dari syukur dan sabar. Yaitu ridha. Orang yang ridha tidak hanya bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Ia ridha dalam segala keadaan."

'Barangsiapa yang ridha. Maka ia mendapat keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka. Maka ia mendapat murka Allah.' (HR. Tirmidzi)

Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:

'Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan "Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku ini, dan gantilah untukku dengan yang lebih baik," melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik.' (HR. Muslim)

"Ridha," ujar Mursyid, "bukanlah sekadar menerima musibah. Ridha adalah yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Jika bukan di dunia, maka di akhirat."

Ridha Maqam Paling Berat

Malam semakin larut. Gerhana telah berlalu. Dan bulan kembali menampakkan wajahnya yang pucat namun indah. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan sarungnya. Memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya. "Ridha adalah maqam yang paling tinggi. Tetapi juga yang paling berat. Ia bukan dicapai dengan kekuatan. Tetapi dengan cinta. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dia tidak akan pernah menyakitimu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa memahami hikmah di balik setiap kejadian. Tetapi engkau bisa mempercayai Dzat yang mengetahui hikmah itu. Engkau tidak bisa melihat masa depan. Tetapi engkau bisa mempercayai Dzat yang menciptakan masa depan. Engkau tidak bisa mengubah takdir. Tetapi engkau bisa ridha dengan takdir. Dan ridha itu akan mengubah hatimu menjadi taman yang penuh kedamaian."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang ridha—hati yang tidak berdebat dengan takdir, hati yang tidak mengeluh atas musibah, hati yang tidak gelisah atas masa depan. Jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau ridhai, dan berikanlah kami keridhaan-Mu, karena keridhaan-Mu adalah kebahagiaan yang sejati. Amin."

Yunus mengusap air matanya. Ia belum bisa ridha sepenuhnya. Tetapi ia mulai memahami. Anaknya tidak hilang. Ia hanya dipanggil pulang oleh Dzat yang lebih mencintainya daripada ia sendiri. Dan suatu hari, ia akan bertemu lagi.

Malam itu, para salik pulang dengan hati yang lebih lapang. Mereka belum mencapai ridha. Tetapi mereka telah melihatnya. Dan melihatnya adalah langkah pertama.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial-18: "Tujuh Tingkatan Ridha"

Jumat, 09 Oktober 2026

Wacana Penarikan Kembali Purbaya: "Idealnya di Posisi Mana?


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-60)

Pengantar: Angin politik di Kabinet Merah Putih kembali berembus kencang. Isu yang mencuat belakangan ini bukanlah sekadar perombakan biasa. Melainkan wacana menarik kembali sosok Purbaya Yudhi Sadewa. Tentu saja ke dalam lingkaran inti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Jika benar terjadi. Idealnya di posisi mana beliau berkiprah kembali?

Pencopotan Efek Gesekan Politis

Nama mantan Menteri Keuangan yang dicopot secara mendadak pada September 2026. Kini kembali menjadi buah bibir. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah ia akan ditarik. Melainkan di posisi mana penempatannya akan paling tepat dan  ideal. Terutama demi menjawab tantangan ekonomi ke depan.

Pencopotan Purbaya dari kursi bendahara negara memang menyisakan tanda tanya besar. Pengamat politik menilai bahwa keputusan tersebut tidak semata-mata didasari oleh evaluasi kinerja. Melainkan juga sarat akan kepentingan politik. Ada gesekan kebijakan dengan program prioritas presiden. 

Meski demikian, rekam jejak Purbaya selama satu tahun menjabat tidak bisa dinafikan. Ia dikenal sebagai teknokrat yang berani. Blak-blakan. Dan memiliki pandangan tajam terhadap perekonomian nasional. 

Di bawah kepemimpinannya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada pada laju tercepat dalam tiga tahun. Meskipun di sisi lain defisit anggaran melebar. Dan arus modal keluar sempat menekan rupiah.

Wacana Penarikan Kembali

Wacana penarikan kembali Purbaya ke dalam kabinet. Sebenarnya bukanlah isapan jempol belaka. Pendiri Great Institute, Syahganda Nainggolan, secara eksplisit memprediksi bahwa Presiden Prabowo dapat kembali memanggil Purbaya untuk menempati posisi strategis. 

Menurut analisisnya, pencopotan tersebut tidak berkaitan dengan penilaian buruk terhadap kinerja Purbaya. Justru sebaliknya, Presiden mengapresiasi capaian yang telah diraihnya. 

Pencopotan itu dinilai sebagai langkah pragmatis untuk meredam instabilitas akibat manajemen konflik. Terutama terkait langkah agresif Purbaya dalam menertibkan skandal pajak korporasi. Dan menolak intervensi lembaga keuangan global.

Lalu, jika benar ia ditarik kembali. Posisi manakah yang paling ideal? Beberapa opsi mengemuka. Salah satu yang paling kuat adalah posisi Gubernur Bank Indonesia (BI). 

Syahganda menilai posisi ini sebagai yang paling sesuai dengan kapasitas dan pengalaman Purbaya. Latar belakangnya sebagai mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi modal penting dalam menangani persoalan sektor perbankan yang dinilai masih "tambal sulam". 

Pengalaman tersebut membuatnya paham betul bank-bank atau lembaga keuangan mana yang perlu dibenahi atau bahkan ditutup. Penempatan Purbaya di BI diprediksi akan diterima dengan baik. Dan ia disebut sebagai teknokrat yang fokus menjalankan tugas institusional. Tanpa manuver politik pencitraan.

Opsi lain yang sempat beredar adalah posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Namun, tawaran ini sepertinya kurang mengakomodasi kekuatan utama Purbaya di bidang ekonomi dan keuangan. 

Purbaya sendiri secara tegas menolak wacana kembali menjadi menteri setelah dicopot. Dengan nada bercanda ia menyatakan, "Baru dipecat, masa jadi menteri lagi". 

Ia bahkan lebih memilih untuk menikmati masa pensiun. Memancing di kolam belakang rumahnya. Sambil menepis rumor penempatan di posisi lain. Seperti Gubernur Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII).

Sebuah Paradoks Menarik

Dengan demikian, narasi penarikan kembali Purbaya ke kabinet menyisakan paradoks menarik. Di satu sisi, kapasitasnya sebagai teknokrat ekonomi tidak perlu diragukan lagi. 

Ia memiliki visi pro-growth yang kuat dan berani mengambil langkah-langkah tidak konvensional. Seperti penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara untuk mendorong likuiditas dan pertumbuhan kredit. 

Di sisi lain, kepribadiannya yang keras dan cenderung "koboi" dalam mengambil kebijakan. Mungkin menjadi bumerang dalam ekosistem kabinet yang membutuhkan harmoni dan stabilitas.

Posisi paling tepat dan ideal bagi Purbaya

Jika memang ia ditarik kembali. Bukanlah di kursi menteri yang bersifat politis. Melainkan di posisi yang menuntut kemurnian teknis dan keberanian dalam pengambilan keputusan berbasis data. 

Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter yang independen. Adalah rumah yang tepat. Di sana, ia dapat melanjutkan misi mulianya dalam membenahi sektor keuangan. Mengidentifikasi bank-bank bermasalah. Dan menjaga stabilitas sistem keuangan tanpa harus terbelit dalam intrik politik kabinet yang rumit.

Pada akhirnya, wacana penarikan kembali Purbaya adalah cerminan dari pencarian sosok yang tepat. Untuk mengawal ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. 

Jika Presiden Prabowo benar-benar ingin memanfaatkan kembali kapasitas emas Purbaya, maka Gubernur BI adalah jawabannya. Sebuah posisi yang tidak hanya menghargai kecerdasan dan integritasnya. 

Tetapi juga memberikan ruang bagi Purbaya untuk berkontribusi secara maksimal bagi negeri ini. Tanpa harus kembali merasakan getirnya intrik kursi menteri.

Persoalannya terpulang pada kebijakan Presiden Prabowo sendiri. Mau gak memanfaatkan doktor ekonomi lulusan luar negeri yang pemberani dan berotak encer ini?

Lakon Greenpeace di Bundaran Hotel Indonesia

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-65) Alkisah, pada suatu pagi yang hening di penghujung Oktober, tatkala embun masih menggantung di dedaunan d...