Sabtu, 27 Juni 2026

Cerpen Absurditas: "HIDUP ADALAH PUISI YANG HARUS DIBACA DENGAN HATI"


Di hari ketujuh penciptaan, saat para dewa beristirahat, aku lahir ke dunia. Bukan dari rahim ibu, melainkan dari celah antara batu dan waktu, di sebuah lembah yang dilupakan peta. Aku tidak memiliki nama, karena nama adalah belenggu pertama bagi mereka yang ingin mengerti hakikat.

Sejak ingatan pertama, aku dikelilingi oleh pertanyaan. Mengapa daun-daun berguguran di musim yang sama setiap tahun? Mengapa sungai mengalir ke satu arah, seolah tahu tujuannya? 

Aku duduk di tepi tebing, menyaksikan burung-burung terbang dalam formasi yang teratur, dan bertanya pada angin, 

"Ke mana kau pergi?" Angin hanya membawa debu dan aroma tanah basah.

Di usia dua puluh tahun, aku bertemu seorang pengembara tua. Matanya seperti dua danau kering yang menyimpan hujan masa lalu. 

"Apa arti hidup?" tanyaku padanya. 

Dia tersenyum, memperlihatkan gigi yang keropos seperti batu karang.

 "Lihatlah pohon itu," katanya, menunjuk sebuah beringin purba. "Ia tidak bertanya mengapa ia harus berakar di sini. Ia hanya tumbuh."

Tapi jawaban itu tidak cukup. Aku pergi ke kota, tempat manusia berlomba-lomba mengisi waktu dengan kerja dan harta. 

Di sana aku bekerja sebagai penjaga malam di sebuah perpustakaan tua. Ribuan buku mengelilingiku, masing-masing berbisik dengan suara penulisnya yang telah mati. Aku membaca Plato, Nietzsche, dan Lao Tzu. Mereka semua berbicara tentang kebenaran, tapi masing-masing menunjukkan jalan yang berbeda.

Di malam-malam sunyi, aku menyaksikan tikus-tikus berlarian di antara rak-rak buku. Mereka tidak membaca, tidak bertanya, namun mereka hidup. 

Aku mulai iri pada kesederhanaan mereka. Tapi kemudian, seekor tikus tua mati di sudut ruangan. Tubuhnya kaku, matanya terbuka lebar seperti masih bertanya. Rekan-rekannya lewat tanpa peduli. Begitukah cara dunia bekerja?

Pada usia empat puluh, aku meninggalkan kota dan kembali ke lembah kelahiranku. Di sana aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang sedang memunguti kerikil di tepi sungai. 

"Untuk apa kerikil-kerikil itu?" tanyaku. 

Dia menatapku dengan mata jernih. 

"Mereka ingin dikumpulkan," jawabnya sederhana, tanpa keraguan.

Aku tertawa untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Mungkin, pikirku, jawabannya bukanlah sebuah kata, tapi sebuah tindakan. Bukan "apa", tapi "bagaimana". 

Aku duduk di bebatuan yang sama tempat aku pernah duduk empat puluh tahun lalu. Sungai masih mengalir ke arah yang sama. Burung-burung masih terbang dalam formasi yang sama. Hanya aku yang berubah, dari pertanyaan menjadi keheningan.

Di hari tuaku, aku tidak lagi bertanya. Aku hanya duduk dan mengamati. Aku melihat rumput tumbuh, awan bergerak, dan anak-anak bermain di kejauhan.

Mereka tidak bertanya mengapa mereka harus bermain, mereka hanya bermain. Mereka tidak bertanya mengapa mereka harus tertawa, mereka hanya tertawa.
Dan pada suatu malam, saat rembulan berbentuk sabit menggantung di atas lembah, aku mengerti. 

Hidup bukanlah pertanyaan yang harus dijawab, tapi sebuah puisi yang harus dibaca dengan hati. Bukan untuk dipahami, tapi untuk dirasakan. Aku tidak menemukan makna, aku menjadi makna itu sendiri. Aku menghembuskan nafas terakhirku dengan senyum, seperti beringin yang tidak pernah bertanya mengapa ia harus berakar di sini.

Dan jika suatu saat aku mati, lembah itu dipastikan tetap sunyi. Burung-burung masih terbang. Sungai masih mengalir. Dan seorang anak perempuan masih memunguti kerikil di tepi sungai. 

Mereka tidak menangis, karena mereka mengerti—aku tidak pergi. Aku hanya kembali menjadi bagian dari pertanyaan yang selalu aku tanyakan. Dan itulah jawaban sesungguhnya. Yah...Begitulah...!
(refleksivitas akhir Juni'26)

Wawancara Imaginer dengan Donald J.Trump: "KAU BILANG SAYA PEMBUNUH..!!"

Catatan : Berikut ini adalah wawancara imaginer (khayalan) antara Saya (Kang Nana Seorang Jurnalis Indonesia) dengan Presiden AS Donald J. T...