Disclaimer: Berikut ini adalah sebuah Cerita Pendek Semi Fiksi. Bertutur tentang akhir hidup seorang kepala rumah tangga (Karumga) bernama Sutrimo. Sutrimo telah bekerja puluhan tahun di Rumah Majikannya, Febrie Adriansyah, mantan Jampidsus, yang tengah tersandung kasus hukum. Kisah ini mengalir tanpa harus menyudutkan pihak manapun. Nama, tempat dan peristiwanya sebagai latar dramatisasi. Semoga dapat mencerahkan dan menghibur atas sebuah peristiwa tentang akhir hidup Sutrimo yang masih mengundang misteri ini.
Angin malam mengusik dedaunan kering di pekarangan Klinik Mordent. Rumah sakit itu telah lama kehilangan denyutnya. Maklum, sejak wabah Covid-19, Klinik ini mulai terbengkalai. Kondisinya mengenaskan. Kini menjadi sarang laba-laba, lengkap dengan hadirnya bisikan-bisikan gaib tak bertuan. Di sanalah Sutrimo, seorang abdi yang setia pada tuannya, menghabiskan sisa-sisa malamnya yang kelak menjadi pengakhiran riwayatnya.
Ada Bayangan Mengintai
Hati Sutrimo gundah bagai ombak di laut yang tidak pernah reda. Sejak tiga hari lepas, ia merasa ada bayang-bayang yang mengintainya dari balik rimbun pohon. Telepon-telepon misterius kerap memecah kesunyian kamarnya. Suara berat di ujung sambungan memintanya berdiam tentang proyek batu bara yang melibatkan kerabat majikannya, Febrie Adriansyah.
Sedangkan di bilik televisi tua, berita tentang penggeledahan rumah sang majikan terus berulang. Tujuh puluh empat kilogram emas, enam puluh tujuh miliar rupiah tunai disita petugas Kepolisian. Angka-angka itu berdentum di kepalanya seperti genderang perang.
Pada pukul satu lewat tiga puluh, malam itu terasa sunyi amat. Sutrimo duduk bersila di atas dipan usang, menggenggam tasbih butiran kayu yang telah lusuh. Bibirnya komat-kamit, memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Pada pukul satu lewat tiga puluh, malam itu terasa sunyi amat. Sutrimo duduk bersila di atas dipan usang, menggenggam tasbih butiran kayu yang telah lusuh. Bibirnya komat-kamit, memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Namun pintu kayu yang rapuh itu tiba-tiba terdorong tanpa salam. Dua lelaki bertubuh kekar melangkah masuk; langkah mereka berat, seperti membawa beban dosa yang tak terucapkan. Wajah mereka terselubung kain hitam, hanya sorot mata yang tajam bagai mata elang tengah malam. Tanpa sepatah kata, mereka menatap Sutrimo.
"Pak Sutrimo?" suara parau dan dingin dari salah seorang di antaranya.
Belum sempat Sutrimo menjawab, dadanya ditimpa rasa sakit yang maha hebat, seakan-akan gunung runtuh menimpa ulu hatinya. Ia terbatuk-batuk; busa putih meleleh dari sudut bibirnya, dan tubuhnya menggigil keras.
"Pak Sutrimo?" suara parau dan dingin dari salah seorang di antaranya.
Belum sempat Sutrimo menjawab, dadanya ditimpa rasa sakit yang maha hebat, seakan-akan gunung runtuh menimpa ulu hatinya. Ia terbatuk-batuk; busa putih meleleh dari sudut bibirnya, dan tubuhnya menggigil keras.
Di dalam gelap itu, ia merasakan jemari dingin meraba lengannya. Lelaki kedua mengeluarkan sebuah jarum kecil yang berkilauan disinari cahaya remang lampu minyak. Sutrimo hendak berteriak, tetapi suaranya hanya parau, hilang ditelan malam.
"Ayah Pulanglah..!"
"Ayah Pulanglah..!"
Ia ingat akan istrinya, anak-anaknya yang menunggu di kampung. Ia ingat pesan terakhir dari anak bungsunya: "Ayah, pulanglah." Namun pintu ke kampung halaman kini tertutup rapat. Ia merasakan kabut kematian secara perlahan tengah menghampiri.
Di luar pagar, dua lelaki lainnya menunggu dalam mobil pikup tanpa plat. Bunyi mesin menderu bagaikan raungan binatang buas. Sutrimo dibopong ke jok belakang.
Temannya yang kebetulan lelap dalam rumah di seberang jalan terbangun oleh keributan. Ia menjerit melihat Sutrimo tergeletak dengan busa di mulut. Lelaki-lelaki bertopeng itu berteriak, "Bawa ke rumah sakit!" Namun setir mobil justru berbelok kembali menuju Klinik Mordent yang telah mati suri. Mereka menghempaskan tubuh Sutrimo di halaman rumput ilalang, lalu melesat pergi bagai jin yang dikejar fajar.
Ketika Sutrimo tiba di Rumah Sakit Umum, nyawanya telah melayang ke hadirat Ilahi. Namun anehnya, busa di mulutnya lenyap, tiada bekas. Catatan medis kosong melompong. Dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menggumamkan kata "serangan jantung." Namun hatinya sendiri tidak yakin. Tak ada catatan medis.
Hormat Yang Aneh
Ketika Sutrimo tiba di Rumah Sakit Umum, nyawanya telah melayang ke hadirat Ilahi. Namun anehnya, busa di mulutnya lenyap, tiada bekas. Catatan medis kosong melompong. Dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menggumamkan kata "serangan jantung." Namun hatinya sendiri tidak yakin. Tak ada catatan medis.
Hormat Yang Aneh
Peristiwa ganjil terus berlanjut. Pada siang harinya, sebuah ambulans tanpa nomor polisi tiba bagai hantu di siang bolong. Tiga lelaki berperawakan tegap, yang gerak-geriknya persis serdadu terlatih, mengusung keranda Sutrimo dengan hormat yang aneh. Seperti memberi penghormatan pada seorang pahlawan. Atau mungkin kepada sebuah rahasia yang harus tetap terkubur.
Jenazah itu telah dimandikan, dikafani, dan dibungkus rapi. Harum cendana dan kapur barus menyebar, tetapi di balik kain putih itu tiada seorang pun tahu apa yang tersembunyi. Keluarga di kampung hanya menerima secarik kertas bertuliskan singkat: "Kuburkan segera, Jangan sekali-kali membuka kain kafan."
Sedangkan telepon genggam, dompet, dan segala barang pribadi Sutrimo tidak pernah kembali. Semuanya raib, seakan-akan Sutrimo tidak pernah membawa apa pun dari dunia fana ini.
Misteri Sehelai Kertas
Misteri Sehelai Kertas
Di atas dipan yang ditinggalkannya, keesokan paginya ditemukan sehelai kertas kumal yang tertulis dengan tinta pudar: "Mereka tahu aku tahu." Tulisan itu miring, tergesa-gesa, seakan-akan ditulis di ambang maut.
Maka terkuburlah Sutrimo di tanah kelahirannya. Di tengah riuh rendah gemerlap kota yang berlumuran emas dan uang tunai, hanya ada satu keluarga yang duduk pilu di atas tanah basah sambil bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi pada malam kelam itu? Siapa gerangan para lelaki bayangan itu? Dan apakah Sutrimo mati karena takdir semata, atau karena ia adalah sekeping saksi yang terlalu banyak tahu?
Klinik Mordent kini kembali sunyi. Lampu yang pernah menyala itu padam. Namun di setiap desiran angin yang melintas, seakan-akan terdengar bisikan Sutrimo—sebuah peringatan bahwa di dunia ini, kebenaran terkadang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.
Bahwa seorang abdi kecil, sekalipun tak berdaya, dapat menjadi duri dalam daging bagi para penguasa. Misteri itu tetap menggantung di angkasa. Tak terpecahkan, bagai bulan yang terkunci di balik awan hitam.
(expresionis semi fiksi kgm/kolaborasi asisten digital/akhir juli-2026)
