Rabu, 12 Agustus 2026

Sajak Londo Ireng (Part-3): "LONDO IRENG ZAMAN KIWARI"

(untuk Ki Gempur, yang tahu warna sejati)

Kau berdiri di atas podium,
lembaran pidatomu menyengat bagai gigitan kalajengking,
lalu dengan mudahnya, kau lepas kata-kata yang lebih tajam dari belati 
dan lebih runcing dari bayonet.

Kau bilang, "Londo Ireng masih ada."
Tapi kini, katamu, mereka berganti baju
wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.

Ah, rupanya, Kau tuding mereka dengan sejarah yang kau ambil 
dari buku lapuk berdebu,
sejarah yang kau jahit ulang untuk membungkam si pengolah kata.

Aku bertanya:
apa dosa jurnalis?

Karena menyoroti sekolah rusak saat kau bangga pada jumlah yang diperbaiki?
Atau karena menggugat harga beras dan minyak goreng saat rakyat lapar?
Ataukah dosa mereka hanya karena mereka tidak membisikkan pujian di telingamu?

Tapi biar aku tanya balik
siapa yang membayar pidatomu?
Siapa yang membayar kursi kekuasaanmu?
Bukankah rakyat, melalui pajak yang mengalir dari tetesan keringatnya?

Lalu mengapa kau tak pernah bertanya pada mereka yang benar-benar mencuri,
yang benar-benar menjual negeri ini dengan harga tak seberapa?

Kau sebut mereka "pengkhianat",
tapi pengkhianat macam apa
yang bekerja untuk kebenaran?
Pengkhianat macam apa
yang menulis agar yang lemah tak tertindas?
Penghianat macam apa yang menulis dengan kritis, tajam dan menohok?

Aku tahu
Barangkali kau takut.
Takut pada mata yang melihat,
takut pada semburat kata yang tak bisa kau hapus,
takut pada suara-suara yang tak bisa kau redam dengan senjata.

Londo Ireng...
kau pakai istilah itu seperti tameng,
seperti kau sedang perang melawan hantu.

Tapi lihatlah,
di luar sana rakyat bertanya
"Jika mereka Londo Ireng, lalu siapa kau?"

Jangan tuduh mereka dengan Londo Ireng
Mereka bukan Londo Ireng,
mereka adalah cermin.

Boleh jadi kau benci cermin,
karena cermin tak pernah bisa berbohong.

Maka pergilah dari podiummu,
lepaslah topeng yang kau pakai,
karena di balik senyummu,
tampak ada sejumput candaan
semoga demikian adanya.

Biarkan jurnalis bekerja.
Biarkan mereka menulis.
Karena ketika kau mencoba membungkam mereka,
maka sesungguhnya
kau membungkam sejarah itu sendiri
dan sejarah,
terus bergerak ke depan,
tak pernah diam untukmu.

Sajak Londo Ireng (Part-3): "LONDO IRENG ZAMAN KIWARI"

(untuk Ki Gempur, yang tahu warna sejati) Kau berdiri di atas podium, lembaran pidatomu menyengat bagai gigitan kalajengking, lalu dengan mu...