Narasi Pembuka: Guruh Soekarno Putra wafat pada 26 September 2026. Meninggalkan warisan seni yang membentang dari "Guruh Gipsy" hingga Mars PDI Perjuangan. Namun di balik gemuruh panggung kolosal dan lagu-lagu legendaris. Ada tersisa satu hal yang tak pernah ia selesaikan. Sebuah rancangan karya "Indonesia Memanggil". Bukan panggilan yang datang dari istana atau podium politik. Melainkan panggilan kebudayaan yang ia geluti sepanjang hidupnya. Dan yang hingga napas terakhir. Tak sempat ia wujudkan sepenuhnya.
Jalan yang Berbeda dari Sang Ayah
Guruh memilih jalan yang berbeda dari sang ayah. Jika Soekarno memimpin bangsa lewat orasi, Guruh mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat harkat bangsa melalui keindahan panggung seni.
Ia mendirikan Swara Mahardhika pada 1977. Merevolusi lanskap seni pertunjukan Indonesia dengan menggabungkan tari daerah. Musik pop. Hingga tata panggung kolosal.
Lewat pergelaran seperti "Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra" (1979), "Untukmu Indonesiaku!" (1980), "Cinta Indonesia" (1984), dan "Gilang Indonesia Gemilang" (1986).
Ia membuktikan bahwa seni tradisional bisa tampil megah dan modern. Namun, setiap panggung yang ia bangun selalu menyisakan ruang kosong. Ruang untuk sesuatu yang lebih besar. Yang selalu ia kejar tapi tak pernah ia gapai.
Mimpi Memiliki Gedung Teater Memadai
Mimpi Memiliki Gedung Teater Memadai
Salah satu panggilan yang paling menghunjam adalah mimpinya tentang gedung pertunjukan yang layak. Dalam persiapan "Sri Mimpi Indonesia" pada 2013, Guruh mengeluh dengan getir: "Kita sebagai bangsa besar, belum punya gedung pertunjukan teater yang memadai".
Ia menyebut TIM sebagai satu-satunya teater mumpuni di Jakarta. Tapi kapasitasnya minim. Kegelisahan ini bukan sekadar soal fasilitas. Ini adalah panggilan dari seorang seniman yang melihat bangsanya belum menyediakan ruang bagi karya-karya besar yang ia impikan.
"Sri Mimpi Indonesia" sendiri. Yang berarti mimpi kegemilangan. Adalah jawaban atas keresahan itu. Sebuah pagelaran tiga babak tentang cinta budaya. Cinta kasih manusia. Dan cinta tanah air.
Tapi bahkan dalam pergelaran itu, Guruh harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan. Panggilan Indonesia terdengar. Tapi jawabannya selalu setengah.
Yang paling menyayat adalah panggilan yang tak sempat ia jawab sama sekali. Bersama maestro tari A.A. Gde Oka Dalem. Guruh merancang Tari Legong Bebarisan sejak setelah pandemi Covid-19. Sejumlah gerakan dan tabuh sudah mulai mereka cari.
Yang paling menyayat adalah panggilan yang tak sempat ia jawab sama sekali. Bersama maestro tari A.A. Gde Oka Dalem. Guruh merancang Tari Legong Bebarisan sejak setelah pandemi Covid-19. Sejumlah gerakan dan tabuh sudah mulai mereka cari.
Legong Bebarisan yang Dibawa Mati
"Janjinya beliau. Ingin cepat sehat. Dan bisa segera ke Bali melanjutkan garapan itu," kenang Gung Oka. Harapan itu tak sempat terwujud. Legong Bebarisan adalah panggilan Bali. Panggilan leluhur. Panggilan estetika yang telah ia serap sejak kecil. Dan kini ia bawa mati bersama tubuhnya.
Guruh juga sempat mengungkapkan keinginannya kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menghidupkan kembali Guruh Soekarnoputra Production (GSP).
Guruh juga sempat mengungkapkan keinginannya kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menghidupkan kembali Guruh Soekarnoputra Production (GSP).
"Beliau masih bersemangat untuk bisa berkarya. Dan beliau masih berkeinginan untuk GSP itu bisa ditampilkan kembali," tutur Pramono.
Ini bukan sekadar rencana produksi seni. GSP adalah kendaraan yang ia gunakan untuk menjawab panggilan Indonesia. Panggung tempat ia menerjemahkan Pancasila ke dalam bahasa keindahan. Tempat ia mengajak anak-anak muda membawakan tarian Nusantara dengan bangga. Keinginan itu pupus bersamaan dengan kesehatannya yang terus menurun.
Bahkan karya yang berhasil pun menyimpan luka. Lagu "Indonesia Mahardika" berdurasi 15 menit lebih itu harus di-take hingga 200 kali. Sebelum akhirnya bisa direkam.
Bahkan karya yang berhasil pun menyimpan luka. Lagu "Indonesia Mahardika" berdurasi 15 menit lebih itu harus di-take hingga 200 kali. Sebelum akhirnya bisa direkam.
Proses penciptaannya pun lahir dari kebuntuan. Roni Harahap menemani Guruh di rumah Ibu Fatmawati. Dan setelah bermain piano, Guruh muncul mengamati. Lalu menulis liriknya.
Mahalnya Indoneia Mahardika
"Indonesia Mahardika" adalah panggilan yang akhirnya terjawab. Tapi dengan harga yang mahal. Berbulan-bulan kerja. Ratusan kali take. Dan sebuah komposisi yang bahkan terasa terpengaruh "Picture an at Exhibition" karya Mousorgsky.
Ini bukan sekadar lagu. Ini adalah perjuangan seorang seniman yang mendengar panggilan Indonesiaa. Tpi harus berkelahi dengan keterbatasan untuk menjawabnya.
Guruh bukan seniman yang berisik. Rano Karno mengenangnya dengan tepat. "Cinta Mas Guruh kepada Indonesia bukanlah cinta yang berisik dan gaduh. Ia menjadikannya lagu. Ia menjadikannya tarian. Ia menjadikannya warna. Ia menjadikannya panggung. Ia menjadikannya hidup".
Guruh bukan seniman yang berisik. Rano Karno mengenangnya dengan tepat. "Cinta Mas Guruh kepada Indonesia bukanlah cinta yang berisik dan gaduh. Ia menjadikannya lagu. Ia menjadikannya tarian. Ia menjadikannya warna. Ia menjadikannya panggung. Ia menjadikannya hidup".
Tapi cinta yang tenang itu justru menyimpan panggilan yang paling lantang. Panggilan yang tak pernah selesai. Karena Indonesia sendiri belum selesai menyediakan panggungnya.
Bangsa ini belum punya gedung pertunjukan yang memadai. Anak-anak muda belum sepenuhnya diberi ruang untuk membawa tradisi ke panggung dunia. Legong Bebarisan tak sempat dipentaskan. GSP tak sempat dihidupkan kembali.
Guruh Soekarno Putra wafat dengan membawa panggilan itu. Ia bukan gagal dalam arti tidak mampu. Ia gagal dalam arti bahwa Indonesia. Sebagai bangsa. Sebagai sistem. Sebagai ekosistem kebudayaan. Belum menjadi rumah yang cukup besar untuk mimpi-mimpinya.
Guruh Soekarno Putra wafat dengan membawa panggilan itu. Ia bukan gagal dalam arti tidak mampu. Ia gagal dalam arti bahwa Indonesia. Sebagai bangsa. Sebagai sistem. Sebagai ekosistem kebudayaan. Belum menjadi rumah yang cukup besar untuk mimpi-mimpinya.
Epitaf Seorang Seniman
"Indonesia Memanggil" bukanlah judul sebuah karya yang gagal. Itu adalah epitaf. Tulisan kenangan pada batu nisan. Bagi seorang seniman yang mendengar panggilan itu sepanjang hidupnya. Menjawabnya sebisanya. Tapi harus pergi sebelum jawabannya lengkap. Dan kini, panggilan itu menggema tanpa jawaban.
Selamat Jalan Bung GSP. Karya-karya Anda sangat memukau dan tetap abadi. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
