Narasi Pembuka: Jika penyucian jiwa adalah akar. Maka akhlak adalah buah yang tampak dari pohon tasawuf. Tidak ada pohon yang sehat. Yang menghasilkan buah yang pahit. Dan tidak ada jiwa yang benar-benar bersih. Yang melahirkan perilaku buruk. Inilah tujuan kedua tasawuf yang tak kalah penting: tahdzibul akhlak. Yakni, memperbaiki dan meningkatkan kualitas akhlak. Tasawuf tidak berhenti pada keheningan malam dan dzikir yang khusyuk. Ia harus turun ke pasar. Ke rumah. Ke media sosial. Dan ke setiap ruang kehidupan. Menjelma menjadi tutur kata yang santun. Sikap yang adil. Dan hati yang penuh kasih.
Mengubah Akhlak Menjadi Lebih Baik
Rasulullah SAW bersabda, "Innamā bu'itstu li utammima makārim al-akhlāq". Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Hadis ini bukan sekadar pujian terhadap pribadi Nabi. Melainkan peta bagi setiap Muslim yang ingin menempuh jalan tasawuf.
Sebab, apa artinya shalat malam yang panjang jika hati masih menyimpan dendam? Apa artinya puasa sunnah yang rajin jika lisan masih gemar menista?
Tasawuf mengajarkan bahwa kualitas spiritual seseorang tidak diukur dari banyaknya amalan lahir. Melainkan dari seberapa besar amalan itu mengubah akhlaknya menjadi lebih baik.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa akhlak bukanlah sekadar perilaku yang tampak. Melainkan kondisi batin yang stabil. Yang melahirkan perbuatan dengan mudah dan tanpa paksaan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa akhlak bukanlah sekadar perilaku yang tampak. Melainkan kondisi batin yang stabil. Yang melahirkan perbuatan dengan mudah dan tanpa paksaan.
Orang yang berakhlak mulia tidak perlu berpikir panjang untuk bersikap jujur. Karena kejujuran telah menjadi darah dagingnya. Ia tidak perlu menahan diri untuk tidak berbohong. Karena kebohongan telah hilang dari dalam jiwanya.
Inilah yang disebut tahalli. Menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji setelah takhalli. Mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.
Perjalanan peningkatan akhlak dalam tasawuf dimulai dari kesadaran akan aib sendiri. Seorang salik dilatih untuk melihat kekurangan diri. Sebelum sibuk mencari kekurangan orang lain.
Perjalanan peningkatan akhlak dalam tasawuf dimulai dari kesadaran akan aib sendiri. Seorang salik dilatih untuk melihat kekurangan diri. Sebelum sibuk mencari kekurangan orang lain.
Ia belajar bahwa setiap kali ingin menghakimi. Ada cermin yang harus dibersihkan terlebih dahulu. Dari kesadaran ini, lahirlah sifat-sifat mulia. Sabar ketika diuji. Syukur ketika diberi. Tawakal ketika tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan ridha ketika rencana tidak berjalan sesuai keinginan.
Semua ini bukan hasil instan, melainkan buah dari latihan panjang yang disebut riyadhah. Olah spiritual yang mengasah jiwa seperti besi ditempa api.
Tiga Dimensi Akhlak
Tiga Dimensi Akhlak
Akhlak dalam tasawuf memiliki tiga dimensi yang saling terkait. Pertama, akhlak kepada Allah. Merasa malu untuk bermaksiat. Rindu untuk beribadah. Dan mencintai-Nya lebih dari apa pun.
Kedua, akhlak kepada manusia. Berlaku adil bahkan kepada yang tidak adil. Memaafkan bahkan ketika mampu membalas. Dan berprasangka baik bahkan ketika bukti belum jelas.
Ketiga, akhlak kepada diri sendiri. Menjaga kehormatan. Tidak merusak tubuh dengan yang haram. Dan tidak membiarkan jiwa tenggelam dalam kelalaian.
Ketiganya adalah satu kesatuan. Tidak mungkin seseorang baik kepada Allah. Tetapi zalim kepada manusia. Atau tampak santun kepada manusia. Tetapi menipu dirinya sendiri.
Para sufi besar adalah teladan dalam hal ini. Hasan al-Basri dikenal bukan hanya karena zuhudnya. Tetapi karena nasihatnya yang menyentuh hati. Dan sikapnya yang penuh hikmah.
Para sufi besar adalah teladan dalam hal ini. Hasan al-Basri dikenal bukan hanya karena zuhudnya. Tetapi karena nasihatnya yang menyentuh hati. Dan sikapnya yang penuh hikmah.
Rabi'ah al-Adawiyah mencintai Allah dengan cinta yang murni. Namun ia tetap dikenal sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih. Junaid al-Baghdadi menegaskan bahwa tasawuf adalah perang melawan hawa nafsu. Bukan pertunjukan kesalehan.
Mereka semua menunjukkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah. Semakin baik akhlaknya kepada makhluk.
Kompleknya Ujian Akhlak
Kompleknya Ujian Akhlak
Di era digital ini, ujian akhlak semakin kompleks. Media sosial menjadi panggung yang mempertontonkan ego. Memperbanyak caci maki. Atau bahkan menormalisasi kebohongan.
Tasawuf hadir sebagai pengingat. Bahwa setiap kata yang kita ketik adalah amal yang dicatat. Muru'ah atau menjaga kehormatan diri. Menuntut kita untuk tidak sembarangan berbicara. Tidak menyebar fitnah. Dan tidak merasa paling benar.
Terkecuali jika diniatkan untuk mengkritisi. Terhadap kepincangan sosial atau kezaliman penguasa. Atau kondisi carut-marut yang membutuhkan koreksi demi perbaikan. Sekadar mengemban amanah amar ma'ruf nahi munkar.
Akhlak yang baik di ruang maya adalah bukti bahwa dzikir kita tidak berhenti di sajadah. Tetapi meresap ke dalam jari-jari yang mengetik. Bisa secara halus. Atau dengan tajam menghunjam.
Pada akhirnya, peningkatan kualitas akhlak adalah bukti paling nyata dari penyucian jiwa. Jiwa yang bersih akan memancarkan akhlak yang mulia. Seperti lampu yang bersih memancarkan cahaya yang terang.
Pada akhirnya, peningkatan kualitas akhlak adalah bukti paling nyata dari penyucian jiwa. Jiwa yang bersih akan memancarkan akhlak yang mulia. Seperti lampu yang bersih memancarkan cahaya yang terang.
Tasawuf tidak mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang sempurna. Tetapi manusia yang terus berusaha. Yang setiap hari berusaha menjadi lebih sabar. Lebih jujur. Lebih pemaaf. Dan lebih rendah hati.
Sebab, sebagaimana kata Nabi, "Yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya."
Maka, marilah kita bersama-sama untuk merawat jiwa. Dan biarkan akhlak menjadi bunga yang mekar. Dari taman hati yang bersih. Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-8)
