Minggu, 04 Oktober 2026

Menakar Idealisme Rocky Gerung Masuk Istana: "Ketika Akal Sehat Berpindah Pagar"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56)

Narasi Pemicu: Pada 2 Oktober 2026. Sejarah mencatat sebuah paradoks. Rocky Gerung. Pria yang tujuh tahun sebelumnya berjanji. Akan mengkritik Prabowo “12 menit setelah dilantik”. Justru kini berdiri di Istana Negara. Untuk menandatangani berita acara pelantikan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia tidak sendirian. Bersama 25 tokoh lain. Ia masuk ke dalam lingkaran. Yang selama bertahun-tahun ia gugat dari luar pagar. Ketika ditanya. Ia menjawab dengan tenang: “Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangan saya tetap radical break”. Percayakah anda? Yuk, kita kupas..!

Merusak Iman Politik

Tapi filsafat kekuasaan tidak pernah menerima jawaban sesederhana itu. Kekuasaan. Sebagaimana dikatakan Adi Prayitno. Tak pernah bercerita. Tak perlu dimusuhi. Ia datang begitu saja. Tapi bisa ‘merusak iman politik’ semua orang.

Pertanyaannya bukan apakah Rocky masih bisa berkata kritis. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada akal sehat ketika ia berpindah pagar? Apakah kritik tetap kritik? Ketika ia disampaikan dari dalam kursi yang empuk?

Sejarah pemikiran politik mengajarkan satu hukum besi. Jarak terhadap kekuasaan adalah sumber kebebasan. Tetapi kedekatan dengan kekuasaan adalah ujian terhadap kebebasan itu sendiri. 

Di ruang diskusi. Di kampus. Di warung kopi. Seseorang bisa berbicara tentang keadilan. Secara utuh dan tanpa ampun. Ia bisa mengatakan bahwa rakyat harus menjadi pusat kebijakan. Bahwa kekuasaan harus dikontrol. 

Tapi pemerintahan tidak bekerja dengan gagasan semata. Ia bekerja dengan regulasi. Anggaran. Kompromi. Dan kepentingan yang saling bertabrakan. Idealisme yang steril dari kepentingan akan berhadapan dengan medan yang jauh lebih rumit. Ketika ia masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan.

Rocky membela diri dengan argumen yang secara filosofis menarik. Ia membedakan antara mengkritik dan bersikap kritis. Menurutnya, Wantimpres justru harus bersikap kritis terhadap kebijakan. Bukan sekadar mengkritik. 

Ia mengibaratkan dewan ini seperti oversight committee. Yang mengawasi arah kebijakan. Agar sesuai janji kampanye Presiden. Secara etis, argumen ini masuk akal. Tapi ada jurang antara argumen etis dan realitas politik.

Gigin Praginanto menyebut idealisme Rocky sebagai komoditas yang diperjualbelikan untuk masuk ke lingkaran istana. Tudingan ini mungkin terlalu keras. Tapi ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam. 

Dalam politik. Niat tidak pernah menjadi bukti. Yang menjadi bukti adalah tindakan. Dan tindakan pertama Rocky adalah menerima jabatan dari orang yang pernah ia janjikan. Akan ia kritik dalam hitungan menit. 

Jejak digital itu, kata Kompas, kini benar-benar dicatat publik. Bukan untuk menagih janji. Melainkan untuk bertanya. Kemana kritik itu pergi?”.

Pertanyaan itu filosofis sekaligus politis. Dalam tradisi filsafat politik. Ada perbedaan mendasar antara intelektual organik. Dan intelektual istana. Intelektual organik berbicara dari luar. Dari ruang yang memungkinkan ia mengambil jarak.

Intelektual istana berbicara dari dalam. Dari ruang yang menuntut loyalitas. Rocky mungkin percaya bahwa ia bisa menjadi yang pertama tanpa menjadi yang kedua. Tapi kekuasaan tidak bekerja dengan cara itu. Kekuasaan selalu menuntut harga. Dan harga pertama adalah bahasa.

Kini Menjadi Pembela

Bahasa Rocky telah berubah. Dulu ia menyebut pembuat hoaks terbaik adalah penguasa. Dulu ia menyerukan radical break terhadap struktur kabinet. 

Kini ia membela program Makan Bergizi Gratis. Dan menyebut persetujuannya terhadap kebijakan pemerintah. Sebagai bagian dari menjaga kewarasan berpikir.

Warganet yang dulu mengidolakannya. Kini menuduhnya menggadaikan idealisme. Salah satu komentar sinis berbunyi. Sangat disayangkan. Ujung-ujungnya jabatan yang bicara.

Apakah ini pengkhianatan? Ataukah ini kedewasaan? Jawabannya tergantung pada siapa yang menilai. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibantah. Akal sehat yang dulu berada di luar pagar kini berada di dalam ruang yang ia kritik. 

Dan ruang itu memiliki aturannya sendiri. Seperti kata Adi Prayitno. Tak perlu mengutip istilah-istilah filosofis. Jika hanya sekedar ingin ikut nikmati kekuasaan.

Bahayanya Perubahan Tak Sadar

Filsafat mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa berubah. Tapi filsafat juga mengajarkan. Bahwa perubahan yang paling berbahaya adalah perubahan yang tidak disadari. 

Rocky mungkin masih merasa sama. Tapi kekuasaan memiliki cara halus untuk mengubah manusia tanpa mereka sadari. Ia mengubah lawan bicara. Mengubah audiens. Mengubah apa yang dianggap layak untuk diperjuangkan.

Maka pertanyaan yang tersisa. Bukanlah apakah Rocky masih kritis. Melainkan, kritik untuk siapa? 

Jika kritik itu hanya sampai ke telinga Presiden. Ia adalah pertimbangan. Jika kritik itu sampai ke telinga publik dan mengubah kebijakan. Ia adalah idealisme. 

Tapi jika kritik itu berhenti di ruang tertutup. Dan tidak pernah terlihat oleh rakyat. Maka ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin tidak lagi layak disebut akal sehat.

Kita menunggu. Bukan dengan sinisme. Tetapi dengan kewaspadaan. Sebab idealisme tidak diuji oleh kata-kata. Melainkan oleh apa yang berani ia korbankan. Ketika kursi sudah diduduki.

Kursi memang bisa merubah akal sehat. Menjadi akal yang diragukan kesehatannya. Maaf...!!

Menakar Idealisme Rocky Gerung Masuk Istana: "Ketika Akal Sehat Berpindah Pagar"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56) Narasi Pemicu : Pada 2 Oktober 2026. Sejarah mencatat sebuah paradoks. Rocky Gerung. Pria yang tujuh tahu...