Minggu, 18 Oktober 2026

Monolog Teaterikal; "Sajak Perang dari Parit Yaman"


(Panggung gelap. Sebuah kursi kayu tua. Di atasnya, sebuah Al-Qur'an kecil dan rantai yang putus. Seorang lelaki tua berdiri, jubahnya lusuh, wajahnya keras. Ia memegang rantai itu. Matanya menatap lurus—bukan kepada penonton, tapi kepada sesuatu yang jauh, mungkin langit, mungkin Riyadh, mungkin Sanaa.)


Aku bersaksi.
Tidak ada Tuhan selain Allah.
Dan aku bersaksi bahwa perang ini
bukan perang suci.

(Ia mengangkat rantai putus itu.)

Rantai ini, Tuan-tuan,
rantai ini dari leher anakku.
Anakku yang berumur tujuh tahun.
Ia tidak tahu apa itu Houthi.
Ia tidak tahu apa itu Saudi.
Ia hanya tahu bahwa roti itu enak
dan pelukan ibu itu hangat.
Tapi kau bilang ini perang agama.

(Ia tertawa. Tawa yang kering.)

Kau bilang ini perang agama?
Kau, yang mengirim mufti ke barisan depan
untuk bilang pada tentara:
"Matilah, ini jihad."
Kau, yang mengutip ayat-ayat suci
untuk membenarkan bom-bom yang kau jatuhkan
di atas pasar.

Pasar, Tuan!
Bukan markas militer.

Pasar.
Tempat orang jual sayur.
Tempat anak-anak beli permen.
Tempat nenek-nenek menawar ikan asin.

Tapi kau bilang: "Itu collateral damage."
Kau bilang: "Itu kesalahan teknis."
Kau bilang: "Kami akan investigasi."

Investigasi?
Kau investigasi sambil makan malam di hotel bintang lima?
Kau investigasi sambil mengirim foto selfie dengan senyum?
Kau investigasi sambil mengirim pesawat lagi
esok paginya?

(Ia melempar rantai itu. Berderak di lantai.)

Aku dulu percaya.
Aku dulu percaya bahwa Arab Saudi itu tanah suci.
Tanah tempat Nabi lahir.
Tanah tempat Ka'bah berdiri.
Tanah yang kau sebut "pelindung dua kota suci."

Tapi apa yang kau lindungi, Tuan?
Kau lindungi singgasanamu.
Kau lindungi minyakmu.
Kau lindungi harga sahammu.
Kau tidak melindungi siapa-siapa.

Dan kau, Houthi

(Ia menoleh ke sisi lain panggung.)

Kau juga tidak suci.
Kau bilang kau "Ansar Allah."
Pendukung Allah?
Pendukung Allah kok menembakkan rudal ke bandara?
Pendukung Allah kok mengebom kota?
Pendukung Allah kok mengirim anak-anak ke medan perang
dengan slogan di dada
dan otak yang dicuci?

Kau bilang kau melawan penindasan?
Kau juga penindas.
Kau juga pembunuh.
Kau juga penjajah—
hanya dengan bendera yang berbeda.

(Ia menatap penonton. Suaranya turun.)

Aku dari Yaman.
Yaman, Tuan.
Negeri yang kau sebut "terbelakang."
Negeri yang kau sebut "sarang teroris."
Negeri yang kau sebut "tidak stabil."

Tapi tahukah kau, Tuan,
bahwa Yaman itu negeri paling tua di dunia?
Bahwa Sanaa itu kota yang sudah ada
sebelum Roma dibangun?
Bahwa leluhurku sudah menulis puisi
sebelum kau bisa menulis namamu?

Dan sekarang?
Sekarang Yaman jadi kuburan.
Sekarang Yaman jadi pasar daging.
Sekarang Yaman jadi tempat di mana
anak-anak belajar menghitung
bukan dengan angka,
tapi dengan mayat.

(Ia melangkah maju.)

Kau bilang blokade itu perlu.
Blokade pelabuhan.
Blokade udara.
Blokade darat.

Blokade apa, Tuan?
Blokade supaya rakyatku mati kelaparan?
Blokade supaya obat-obatan tidak masuk?
Blokade supaya anak-anakku mati
bukan karena bom,
tapi karena diare?

Kau bilang: "Itu konsekuensi perang."
Konsekuensi?
Aku sebut itu pembunuhan massal.
Aku sebut itu genosida yang kau bungkus
dengan kata "keamanan nasional."

(Ia menunjuk ke langit.)

Dan kau,
kau yang di atas sana,
yang kau sebut Tuhan—
Tuhan yang mana yang kau sembah?

Tuhan yang mengizinkan kau membom pasar?
Tuhan yang mengizinkan kau memblokade obat?
Tuhan yang mengizinkan kau mengirim anak-anak
ke medan perang dengan janji surga?

Tuhanku bukan Tuhan seperti itu.
Tuhanku adalah Tuhan yang menangis
ketika satu anak kelaparan.
Tuhanku adalah Tuhan yang marah
ketika satu tetes darah tertumpah tanpa dosa.
Tuhanku adalah Tuhan yang tidak butuh
kau bela dengan bom.

(Ia diam. Napas. Lalu ia bicara lebih pelan.)

Aku tidak membenci orang Saudi.
Aku tidak membenci orang Houthi.
Aku benci perangnya.
Aku benci yang mengirim perang.
Aku benci yang untung dari perang.

Kau tahu siapa yang untung?
Bukan rakyatmu, Tuan.
Bukan rakyatku.
Yang untung adalah pedagang senjata.
Yang untung adalah kontraktor minyak.
Yang untung adalah politisi yang duduk di kursi empuk
sambil menghitung kursi berikutnya.

Dan kami—
rakyat Yaman,
rakyat Arab Saudi,
rakyat Palestina,
rakyat Suriah,
rakyat di mana pun—
kami hanya jadi angka.

Angka di laporan PBB.
Angka di berita.
Angka di statistik korban.

(Ia mengepalkan tangannya.)

Tapi aku bukan angka.
Aku adalah ayah yang kehilangan anak.
Aku adalah suami yang kehilangan istri.
Aku adalah anak yang kehilangan ibu.
Aku adalah manusia.

Dan sebagai manusia,
aku bersaksi:

Perang ini bukan perang suci.
Perang ini bukan perang agama.
Perang ini adalah perang
antara keserakahan dan keserakahan,
antara kekuasaan dan kekuasaan,
antara dua singgasana yang sama-sama busuk.

(Ia menatap penonton. Suaranya naik.)

Tapi dengarkan aku, Tuan-tuan.
Kau boleh membom kami.
Kau boleh memblokade kami.
Kau boleh membunuh kami.
Kau boleh menulis di surat kabar
bahwa kami ini teroris.

Tapi satu hal yang tidak bisa kau lakukan:
Kau tidak bisa menghapus nama kami.

Setiap anak yang mati di Yaman,
namanya tertulis di langit.
Setiap ibu yang menangis,
suaranya tercatat di bumi.
Setiap tetes darah yang tertumpah,
menjadi saksi di hadapan Yang Maha Adil.

Dan di hadapan-Nya,
Tuan-tuan,
tidak ada mufti yang bisa menyelamatkanmu.
Tidak ada rudal yang bisa melindungimu.
Tidak ada blokade yang bisa menyembunyikanmu.

Yang ada hanya amal.
Yang ada hanya hati.
Yang ada hanya pertanggungjawaban.

(Ia mundur. Diam. Lalu angkat kepalanya.)

Aku dari Yaman.
Aku dari parit.
Aku dari abu.
Dan aku tidak akan diam.

(Lampu mati.)

== TAMAT ==

Monolog Teaterikal; "Sajak Perang dari Parit Yaman"

(Panggung gelap. Sebuah kursi kayu tua. Di atasnya, sebuah Al-Qur'an kecil dan rantai yang putus. Seorang lelaki tua berdiri, jubahnya l...