Leaderline: Perang antara gerakan Houthi (Ansar Allah) dan Arab Saudi bukan sekadar perang geopolitik atau perang proksi. Di balik rudal, drone, dan blokade laut. Terdapat lapisan spiritual yang dalam dan kontradiktif. Dua pihak sama-sama mengklaim membela Tuhan. Sama-sama merasa dizalimi. Dan sama-sama mengangkat senjata atas nama iman. Narasi spiritual ini bukan hiasan retoris. Melainkan inti dari bagaimana kedua pihak memahami diri mereka dan membenarkan perang.
Akar Zaidiyah: Spiritualitas yang Terpinggirkan
Gerakan Houthi lahir dari rahim Zaidiyah. Cabang Syiah yang khas Yaman dan berbeda secara doktrinal dari Syiah Dua Belas Imam yang dianut Iran.
Zaidiyah mengambil nama dari Zayd bin Ali, cicit Ali bin Abi Thalib. Yang mati syahid dalam pemberontakan melawan Dinasti Umayyah pada tahun 740. Zayd bukan sekadar simbol teologis.
Ia adalah prototipe pemimpin yang berani melawan kezaliman. Kaum Zaidiyah memandang Zayd sebagai teladan khalifah yang sejati, yang seharusnya memerintah menggantikan Umayyah yang korup.
Selama seribu tahun, Zaidiyah memerintah Yaman Utara melalui sistem imamah. Sebuah kekuasaan yang menggabungkan otoritas spiritual dan sekuler.
Selama seribu tahun, Zaidiyah memerintah Yaman Utara melalui sistem imamah. Sebuah kekuasaan yang menggabungkan otoritas spiritual dan sekuler.
Namun, revolusi republik tahun 1962 menggulingkan monarki Zaidiyah. Dan sejak itu komunitas Zaidiyah mengalami marginalisasi sistematis.
Identitas mereka sebagai komunitas religius-politik ditekan oleh negara republik yang didominasi elite Sunni dan Salafi. Inilah luka historis yang menjadi bahan bakar gerakan Houthi.
Kebangkitan Hussein al-Houthi: Dari Forum Iman Menuju Perlawanan Suci
Pada 1990-an, di bawah kepemimpinan Hussein al-Houthi. Sebuah forum pemuda bernama al-Shabab al-Mu'min (Pemuda Beriman) bertransformasi dari gerakan pendidikan Zaidiyah menjadi platform politik dan militer.
Kebangkitan Hussein al-Houthi: Dari Forum Iman Menuju Perlawanan Suci
Pada 1990-an, di bawah kepemimpinan Hussein al-Houthi. Sebuah forum pemuda bernama al-Shabab al-Mu'min (Pemuda Beriman) bertransformasi dari gerakan pendidikan Zaidiyah menjadi platform politik dan militer.
Hussein, yang pernah belajar di Qom, Iran. Memadukan doktrin Zaidiyah dengan visi revolusioner Iran. Ia tidak sekadar menuntut hak-hak komunitas Zaidiyah. Ia membangun kerangka spiritual yang menempatkan perlawanan sebagai kewajiban ilahi.
Puncak dari artikulasi spiritual ini adalah slogan "Sarkha" (Jeritan): Allahu Akbar, Mati untuk Amerika, Mati untuk Israel. Laknat bagi Yahudi. Kemenangan bagi Islam.
Puncak dari artikulasi spiritual ini adalah slogan "Sarkha" (Jeritan): Allahu Akbar, Mati untuk Amerika, Mati untuk Israel. Laknat bagi Yahudi. Kemenangan bagi Islam.
Slogan ini pertama kali membawa para pejuang Houthi ke medan perang pada 2004. Dan sejak itu menjadi alat mobilisasi yang mengakar dalam budaya Yaman Utara.
Dalam pidato-pidato Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin saat ini, konflik ini dibingkai sebagai "perang suci" yang tidak hanya melawan Arab Saudi. Tetapi melawan "kesombongan global" yang mengancam identitas iman umat Islam.
Ia memperingatkan tentang "perang baru yang parah" yang menyasar iman dan identitas Yaman. Menyerukan umat untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Al-Quran.
Yang membuat narasi spiritual Houthi begitu kuat adalah klaim wilayah. Otoritas spiritual yang mereka anggap sebagai hak ilahi. Abdul-Malik al-Houthi dipandang sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Yang membuat narasi spiritual Houthi begitu kuat adalah klaim wilayah. Otoritas spiritual yang mereka anggap sebagai hak ilahi. Abdul-Malik al-Houthi dipandang sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Dengan garis keturunan yang, menurut doktrin Houthi, memberinya hak untuk memimpin umat secara politik dan religius. Ini bukan sekadar kepemimpinan politik. Ini adalah imamah yang direvitalisasi. Sebuah klaim legitimasi sakral yang melampaui batas-batas negara-bangsa modern.
Fatwa Arab Saudi: Perang Suci dari Sisi Seberang
Arab Saudi tidak tinggal diam dalam perang narasi spiritual ini. Pada September 2026, Grand Mufti Arab Saudi, Sheikh Saleh bin Fawzan al-Fawzan, mengeluarkan fatwa. Menyerukan kepada tentara Saudi untuk "siap mengorbankan hidup" dalam melawan Houthi.
Fatwa Arab Saudi: Perang Suci dari Sisi Seberang
Arab Saudi tidak tinggal diam dalam perang narasi spiritual ini. Pada September 2026, Grand Mufti Arab Saudi, Sheikh Saleh bin Fawzan al-Fawzan, mengeluarkan fatwa. Menyerukan kepada tentara Saudi untuk "siap mengorbankan hidup" dalam melawan Houthi.
Fatwa itu, yang dikutip oleh media negara. Membingkai kampanye militer sebagai kewajiban religius dan memuji mereka yang berjaga di perbatasan. Sebagai orang yang berjuang di jalan Tuhan.
Mufti tersebut mengecam Houthi sebagai kelompok yang mendirikan perjuangan mereka di atas "kerusakan keyakinan dan kerusakan metodologi".
Mufti tersebut mengecam Houthi sebagai kelompok yang mendirikan perjuangan mereka di atas "kerusakan keyakinan dan kerusakan metodologi".
Ini bukan sekadar pernyataan politik. Ini adalah perang teologis. Arab Saudi, sebagai penjaga dua kota suci Islam. Memobilisasi otoritas religiusnya untuk membenarkan perang sebagai pembelaan terhadap "korupsi iman" yang dibawa oleh Houthi.
Dua Narasi, Satu Tragedi
Di sini terletak tragedi spiritual yang paling dalam. Dua pihak yang sama-sama mengucapkan syahadat. Sama-sama menghadap kiblat yang sama. Sama-sama mengklaim membela Islam. Saling membunuh atas nama Tuhan.
Dua Narasi, Satu Tragedi
Di sini terletak tragedi spiritual yang paling dalam. Dua pihak yang sama-sama mengucapkan syahadat. Sama-sama menghadap kiblat yang sama. Sama-sama mengklaim membela Islam. Saling membunuh atas nama Tuhan.
Seorang analis Lebanon menyebut perang ini sebagai "luka paling menyakitkan dalam tubuh umat Islam". Perang antara "saudara seiman dan satu kiblat" yang ikatan agama, geografi, dan sejarahnya terjalin erat.
Houthi memandang Saudi sebagai intervensionis yang melanggar Piagam PBB sejak 2015,. Memblokade Yaman. Menghancurkan infrastruktur sipil.
Houthi memandang Saudi sebagai intervensionis yang melanggar Piagam PBB sejak 2015,. Memblokade Yaman. Menghancurkan infrastruktur sipil.
Bagi mereka, perlawanan adalah pembelaan diri yang sah. Sebuah perang defensif yang diwajibkan secara moral dan religius. Saudi memandang Houthi sebagai proksi Iran yang mengancam keamanan perbatasan. Stabilitas regional. Dan tatanan Sunni yang mereka pimpin.
Bagi Riyadh, ini adalah perang eksistensial melawan proyek Syiah revolusioner yang didukung Tehran.
Kritik spiritual yang paling tajam adalah ini. Kedua belah pihak telah mengubah teologi menjadi ideologi perang.
Kritik spiritual yang paling tajam adalah ini. Kedua belah pihak telah mengubah teologi menjadi ideologi perang.
Zaidiyah, yang lahir dari perlawanan terhadap kezaliman. Direduksi menjadi mesin mobilisasi militer.
Islam Saudi, yang seharusnya menjadi penjaga harmoni umat. Dijadikan instrumen legitimasi perang.
Al-Quran yang sama dibaca untuk memberkati rudal yang menghantam bandara. Membunuh warga sipil. Dan menghancurkan masa depan generasi Yaman.
Yang paling menderita bukanlah para pemimpin yang mengklaim mandat ilahi. Melainkan rakyat Yaman. Komunitas Zaidiyah yang selama berabad-abad telah menjadi bagian dari sejarah Islam. Kini terjebak dalam perang yang menghancurkan rumah, masjid, sekolah, dan harapan mereka.
Yang paling menderita bukanlah para pemimpin yang mengklaim mandat ilahi. Melainkan rakyat Yaman. Komunitas Zaidiyah yang selama berabad-abad telah menjadi bagian dari sejarah Islam. Kini terjebak dalam perang yang menghancurkan rumah, masjid, sekolah, dan harapan mereka.
Perang ini bukan perang suci. Ini adalah perang yang menodai kesucian itu sendiri.
