Pengantar: Musim kemarau telah berlangsung lama. Sumur di belakang zawiyah yang biasanya menjadi tempat para salik berwudhu kini benar-benar kering. Debu menumpuk di dasar sumur. Dan tanah di sekitarnya mulai retak-retak seperti kulit yang menua. Setiap pagi, para salik harus berjalan jauh ke sungai di kaki bukit untuk mengambil air. Sebuah perjalanan yang melelahkan. Terutama bagi Mursyid yang usianya telah senja.
Aku Sedang Menunggu
Suatu malam, ketika para salik berkumpul. Mereka mendapati Mursyid tidak berada di tempat biasanya. Mereka mencarinya. Dan menemukannya duduk di tepi sumur yang kering. Wajahnya tenang. Tetapi matanya memandang jauh ke langit. Seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.
Zaid mendekat dengan hati yang cemas. "Wahai Mursyid, mengapa engkau duduk di sini? Sumur ini telah kering. Tidak ada air yang bisa kami ambil."
Mursyid tersenyum, tetapi tidak menoleh. "Aku tahu, anakku. Aku sedang menunggu."
"Menunggu apa, Wahai Mursyid?"
"Menunggu hujan turun," jawab Mursyid dengan suara yang tenang. Seperti orang yang telah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Zaid terdiam. Ia ingin bertanya. Tetapi mulutnya terasa kelu. Mursyid lalu bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan berjalan menuju serambi tempat para salik berkumpul. Malam itu, ia membuka majelis dengan pertanyaan yang membuat semua salik terdiam.
"Anak-anakku, apa yang engkau lakukan ketika semua usahamu gagal? Apa yang engkau lakukan ketika pintu-pintu tertutup. Ketika jalan-jalan buntu. Ketika doa-doamu seolah tidak dijawab?"
Kisah Seorang Nelayan dan Badai
Mursyid memulai kisahnya dengan suara yang pelan. Tetapi setiap katanya menghunjam ke dalam hati.
"Ada seorang nelayan tua yang hidup di tepi laut. Ia telah melaut sejak usia muda. Ia mengenal laut seperti ia mengenal telapak tangannya sendiri. Suatu hari, ia dan anaknya pergi melaut untuk mencari ikan. Langit cerah, angin bertiup lembut. Ombak tenang. Mereka menebar jala dan menunggu."
"Tetapi tiba-tiba, langit berubah gelap. Awan hitam menutupi matahari. Angin bertiup kencang. Badai datang tanpa peringatan. Ombak setinggi rumah menghantam perahu mereka. Jala mereka hilang. Dayung mereka patah. Dan perahu mereka mulai terisi air."
"Anak nelayan itu menangis ketakutan. 'Ayah, apa yang harus kita lakukan? Kita akan mati!'"
"Nelayan tua itu tidak panik. Ia memegang kemudi dengan tangan yang kuat. Ia berkata: 'Anakku, aku telah melaut selama empat puluh tahun. Aku telah menghadapi badai yang lebih besar dari ini. Aku tidak bisa mengendalikan angin, aku tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi aku bisa mengendalikan perahuku. Dan aku tahu. Seperti aku tahu bahwa matahari akan terbit. Bahwa badai ini akan berlalu. Kita hanya perlu bertahan.'"
"Nelayan itu berjuang dengan sekuat tenaga. Ia menimba air. Memperbaiki kemudi. Dan mengarahkan perahu ke arah yang ia yakini benar. Dan benar saja. Setelah berjam-jam. Badai itu berlalu. Langit kembali cerah. Mereka pu sampai di pantai dengan selamat."
Mursyid memandang para salik. "Nelayan tua itu telah bertawakal. Ia tidak duduk diam menunggu badai berlalu. Ia berusaha semaksimal mungkin. Tetapi hatinya tidak goyah. Karena ia yakin bahwa Allah tidak akan membiarkannya tenggelam."
Hakikat Tawakal yang Sesungguhnya
Seorang salik bernama Ibrahim mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah tawakal berarti kami harus menyerahkan segala sesuatu kepada Allah tanpa berusaha? Apakah kami harus duduk di masjid dan menunggu rezeki turun dari langit?"
Mursyid tersenyum. Tetapi senyumnya mengandung teguran yang halus. "Ibrahim, engkau telah mendengar kisah nelayan tadi. Apakah ia duduk diam menunggu badai berlalu? Tidak. Ia berjuang. Ia menimba air. Ia memperbaiki kemudi. Tetapi hatinya tidak goyah. Karena ia yakin bahwa Allah bersamanya."
"Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, mengajarkan bahwa tawakal bukanlah meninggalkan usaha. Tetapi menggantungkan hati kepada Allah setelah melakukan usaha semaksimal mungkin. Tawakal adalah buah dari tauhid. Pengakuan bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah."
"Ada tiga unsur dalam tawakal. Pertama, ilmu. Yaitu keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Maha Pengasih kepada hamba-Nya.
Kedua, hal. Yaitu keadaan hati yang tenang, yang tidak gelisah ketika menghadapi kesulitan, karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya.
Ketiga, amal. Yaitu usaha yang dilakukan dengan sekuat tenaga. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kita untuk berusaha."
Mursyid menatap Ibrahim. "Tawakal bukanlah fatalisme. Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah usaha yang disertai dengan penyerahan hati. Engkau berusaha seolah-olah engkau yang menentukan hasilnya. Tetapi engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena engkau tahu bahwa engkaulah yang tidak menentukan apa-apa."
Tiga Tingkatan Tawakal
Mursyid menuangkan air dari kendi ke cangkir-cangkir kecil. Air itu adalah air yang ia ambil dari sungai pagi tadi. Air yang menjadi bukti bahwa usaha tidak pernah sia-sia.
"Para ulama membagi tawakal menjadi tiga tingkatan."
"Tingkatan pertama adalah tawakalnya orang awam. Yaitu tawakal yang masih disertai dengan kecemasan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Tetapi hatinya masih gelisah. Ia masih bertanya-tanya: 'Apakah usahaku akan berhasil? Apakah Allah akan menolongku?' Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan sambil terus melihat ke bawah. Takut jembatan itu akan runtuh."
"Tingkatan kedua adalah tawakalnya orang pilihan. Yaitu tawakal yang disertai dengan ketenangan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Dan hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya. Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tahu bahwa jembatan itu tidak akan runtuh. Meskipun ia belum melihat ujungnya."
"Tingkatan ketiga adalah tawakalnya para kekasih Allah. Yaitu tawakal yang disertai dengan kepasrahan total. Orang pada tingkatan ini tidak lagi memikirkan hasil. Karena ia telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Ia seperti orang yang telah menyerahkan dirinya kepada seorang dokter yang ia percayai sepenuhnya. Ia tidak bertanya: 'Apakah operasi ini akan berhasil?' Ia hanya berkata: 'Aku pasrah kepada dokter ini. Karena aku tahu ia lebih tahu daripada aku.'"
Mursyid tersenyum. "Engkau boleh memilih tingkatan mana yang engkau kejar. Tetapi ketahuilah, tingkatan tertinggi hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya."
Dalil-Dalil dari Al-Qur'an
Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang tawakal."
"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (At-Talaq: 3)
"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia inginkan.' Ia berkata 'Allah akan mencukupkan kebutuhannya.' Ada perbedaan besar antara keinginan dan kebutuhan. Allah tidak selalu memberikan apa yang engkau inginkan. Tetapi Ia selalu memberikan apa yang engkau butuhkan."
"Dan berserahlah kamu kepada Allah Yang Hidup. Yang tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya." (Al-Furqan: 58)
"Katakanlah: 'Allah cukup bagiku; kepada-Nya bertawakal orang-orang yang bertawakal.'" (Az-Zumar: 38)
"Dan mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami? Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakal berserah diri." (Ibrahim: 12)
Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Ibrahim AS berkata: 'Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami?' Artinya, tawakal bukanlah sesuatu yang berat. Karena Allah telah menunjukkan jalan-Nya kepada kita. Kita hanya perlu berjalan di jalan itu. Dan menyerahkan sisanya kepada-Nya."
"Dan bertawakallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai pemelihara." (Al-Ahzab: 3)
Dalil-Dalil dari Hadits
Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.
"Rasulullah SAW bersabda:
'Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan lapar. Dan kembali sore dalam keadaan kenyang.' (HR. Tirmidzi)
"Perhatikanlah," kata Mursyid, "burung-burung itu tidak duduk di sarangnya menunggu makanan datang. Mereka keluar pagi. Terbang mencari makan. Mereka berusaha. Tetapi mereka tidak menyimpan makanan untuk besok. Karena mereka tahu bahwa Allah akan memberikan rezeki esok hari. Inilah tawakal. Usaha yang disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupi."
'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.' (HR. Tirmidzi)
Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:
'Aku heran kepada orang yang berputus asa. Padahal ia bisa berdoa. Aku heran kepada orang yang gelisah. Padahal ia bisa bertawakal. Aku heran kepada orang yang sedih. Padahal ia bisa beristighfar.'
"Engkau tidak perlu gelisah, anakku," ujar Mursyid. "Engkau hanya perlu bertawakal. Engkau tidak perlu sedih. Engkau hanya perlu beristighfar. Engkau tidak perlu berputus asa. Engkau hanya perlu berdoa."
Kisah Nabi Muhammad dan Gua Tsur
Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Muhammad SAW. Kisah yang selalu membuat para salik bergetar.
"Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Kaum Quraisy mengejar mereka. Dan mereka sampai di mulut gua. Abu Bakar sangat cemas. Ia berkata: 'Wahai Rasulullah. Jika salah satu dari mereka melihat ke bawah. Mereka akan melihat kita.'"
"Tetapi Nabi SAW dengan tenang berkata: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' (At-Taubah: 40)"
Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah, Nabi SAW tidak berkata 'kita akan selamat karena kita bersembunyi di gua.' Beliau tidak berkata 'kita akan selamat karena kita berlari cepat.' Beliau berkata 'Allah bersama kita.' Inilah tawakal. Keyakinan bahwa Allah bersama kita. Apa pun yang terjadi."
"Abu Bakar melihat dengan mata kepalanya bahwa mereka dalam bahaya. Tetapi Nabi SAW melihat dengan mata hatinya bahwa Allah bersama mereka. Itulah perbedaan antara orang yang bertawakal dan orang yang tidak."
Kisah Nabi Ibrahim dan Api
Mursyid juga mengisahkan tentang Nabi Ibrahim AS.
"Ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak memohon pertolongan kepada manusia. Beliau hanya berkata: 'Hasbunallah wa ni'mal wakil'. Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."
"Api itu membakar. Tetapi tidak menyentuh Ibrahim. Mengapa? Karena Allah memerintahkan api itu untuk menjadi dingin: 'Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.' (Al-Anbiya: 69)"
Mursyid tersenyum. "Ibrahim tidak memadamkan api itu dengan tangannya. Ia tidak melarikan diri. Ia bertawakal. Dan Allah. Dzat yang menciptakan api. Memerintahkan api itu untuk tidak membakarnya. Jika Allah berkehendak. Tidak ada yang bisa melukaimu. Jika Allah tidak berkehendak. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."
Tawakal di Zaman Kita
Seorang salik bernama Maryam bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa bertawakal di zaman ini? Zaman ketika semua orang cemas tentang masa depan. Ketika pekerjaan tidak pasti. Ketika harga-harga naik. Dan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok?"
Mursyid menghela napas. "Pertanyaan yang sangat baik, Maryam. Tawakal di zaman ini memang lebih sulit. Tetapi juga lebih mulia."
"Pertama, sadarilah bahwa engkau tidak bisa mengendalikan segalanya. Engkau bisa bekerja. Engkau bisa menabung. Engkau bisa merencanakan. Tetapi engkau tidak bisa mengendalikan apakah pekerjaanmu akan bertahan. Apakah tabunganmu akan cukup. Apakah rencanamu akan berhasil. Setelah engkau berusaha. Serahkanlah hasilnya kepada Allah."
"Kedua, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Jika engkau merasa sendirian. Ingatlah bahwa Allah bersamamu. Jika engkau merasa tidak ada yang menolongmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong. Jika engkau merasa tidak ada yang mencukupimu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki."
"Ketiga, perbanyaklah dzikir dan doa. Dzikir mengingatkanmu bahwa Allah selalu bersamamu. Doa mengingatkanmu bahwa engkau bergantung kepada-Nya. Ketika engkau merasa cemas, berdzikirlah. Ketika engkau merasa takut, berdoalah. Ketika engkau merasa lemah, berserahlah."
"Keempat, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Engkau tidak tahu apa yang sedang Allah persiapkan untukmu. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kegagalan adalah awal dari keberhasilan yang lebih besar. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kehilangan adalah awal dari pemberian yang lebih berharga."
Tawakal adalah Ketenangan
Malam semakin larut. Langit di atas zawiyah mulai cerah. Dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan selimutnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.
"Anak-anakku," ujarnya, "tawakal bukanlah kepasrahan yang pasif. Tawakal adalah ketenangan yang aktif. Orang yang bertawakal adalah orang yang berusaha dengan sekuat tenaga. Tetapi hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya."
"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mengendalikan angin. Tetapi engkau bisa mengatur layar. Engkau tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi engkau bisa belajar berenang. Engkau tidak bisa menghindari badai. Tetapi engkau bisa bertawakal kepada Dzat yang menciptakan badai. "
"Dan ketahuilah, orang yang bertawakal tidak pernah kecewa. Jika ia berhasil, ia bersyukur. Jika ia gagal, ia bersabar. Jika ia diberi, ia berbagi. Jika ia diambil, ia ridha. Ia tidak pernah kehilangan, karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah, dan ia hanya menitipkannya."
Mursyid menutup majelis dengan doa:
"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang bertawakal kepada-Mu dengan sebenar-benarnya. Karuniakanlah kepada kami ketenangan hati yang tidak tergoyahkan oleh badai kehidupan. Dan jadikanlah kami orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."
Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih tenang. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Kecemasan yang ia rasakan bukanlah karena ia tidak berusaha. Melainkan karena ia belum menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia bukan tidak mampu. Ia hanya belum bertawakal.
Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang tawakal. Tetapi dengan ketenangan baru di hati. Ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur. Dan Dia selalu bersama mereka.
Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-13, tentang Mahabbah)
Mursyid menatap Ibrahim. "Tawakal bukanlah fatalisme. Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah usaha yang disertai dengan penyerahan hati. Engkau berusaha seolah-olah engkau yang menentukan hasilnya. Tetapi engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena engkau tahu bahwa engkaulah yang tidak menentukan apa-apa."
Tiga Tingkatan Tawakal
Mursyid menuangkan air dari kendi ke cangkir-cangkir kecil. Air itu adalah air yang ia ambil dari sungai pagi tadi. Air yang menjadi bukti bahwa usaha tidak pernah sia-sia.
"Para ulama membagi tawakal menjadi tiga tingkatan."
"Tingkatan pertama adalah tawakalnya orang awam. Yaitu tawakal yang masih disertai dengan kecemasan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Tetapi hatinya masih gelisah. Ia masih bertanya-tanya: 'Apakah usahaku akan berhasil? Apakah Allah akan menolongku?' Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan sambil terus melihat ke bawah. Takut jembatan itu akan runtuh."
"Tingkatan kedua adalah tawakalnya orang pilihan. Yaitu tawakal yang disertai dengan ketenangan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Dan hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya. Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tahu bahwa jembatan itu tidak akan runtuh. Meskipun ia belum melihat ujungnya."
"Tingkatan ketiga adalah tawakalnya para kekasih Allah. Yaitu tawakal yang disertai dengan kepasrahan total. Orang pada tingkatan ini tidak lagi memikirkan hasil. Karena ia telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Ia seperti orang yang telah menyerahkan dirinya kepada seorang dokter yang ia percayai sepenuhnya. Ia tidak bertanya: 'Apakah operasi ini akan berhasil?' Ia hanya berkata: 'Aku pasrah kepada dokter ini. Karena aku tahu ia lebih tahu daripada aku.'"
Mursyid tersenyum. "Engkau boleh memilih tingkatan mana yang engkau kejar. Tetapi ketahuilah, tingkatan tertinggi hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya."
Dalil-Dalil dari Al-Qur'an
Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang tawakal."
"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (At-Talaq: 3)
"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia inginkan.' Ia berkata 'Allah akan mencukupkan kebutuhannya.' Ada perbedaan besar antara keinginan dan kebutuhan. Allah tidak selalu memberikan apa yang engkau inginkan. Tetapi Ia selalu memberikan apa yang engkau butuhkan."
"Dan berserahlah kamu kepada Allah Yang Hidup. Yang tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya." (Al-Furqan: 58)
"Katakanlah: 'Allah cukup bagiku; kepada-Nya bertawakal orang-orang yang bertawakal.'" (Az-Zumar: 38)
"Dan mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami? Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakal berserah diri." (Ibrahim: 12)
Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Ibrahim AS berkata: 'Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami?' Artinya, tawakal bukanlah sesuatu yang berat. Karena Allah telah menunjukkan jalan-Nya kepada kita. Kita hanya perlu berjalan di jalan itu. Dan menyerahkan sisanya kepada-Nya."
"Dan bertawakallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai pemelihara." (Al-Ahzab: 3)
Dalil-Dalil dari Hadits
Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.
"Rasulullah SAW bersabda:
'Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan lapar. Dan kembali sore dalam keadaan kenyang.' (HR. Tirmidzi)
"Perhatikanlah," kata Mursyid, "burung-burung itu tidak duduk di sarangnya menunggu makanan datang. Mereka keluar pagi. Terbang mencari makan. Mereka berusaha. Tetapi mereka tidak menyimpan makanan untuk besok. Karena mereka tahu bahwa Allah akan memberikan rezeki esok hari. Inilah tawakal. Usaha yang disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupi."
'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.' (HR. Tirmidzi)
Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:
'Aku heran kepada orang yang berputus asa. Padahal ia bisa berdoa. Aku heran kepada orang yang gelisah. Padahal ia bisa bertawakal. Aku heran kepada orang yang sedih. Padahal ia bisa beristighfar.'
"Engkau tidak perlu gelisah, anakku," ujar Mursyid. "Engkau hanya perlu bertawakal. Engkau tidak perlu sedih. Engkau hanya perlu beristighfar. Engkau tidak perlu berputus asa. Engkau hanya perlu berdoa."
Kisah Nabi Muhammad dan Gua Tsur
Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Muhammad SAW. Kisah yang selalu membuat para salik bergetar.
"Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Kaum Quraisy mengejar mereka. Dan mereka sampai di mulut gua. Abu Bakar sangat cemas. Ia berkata: 'Wahai Rasulullah. Jika salah satu dari mereka melihat ke bawah. Mereka akan melihat kita.'"
"Tetapi Nabi SAW dengan tenang berkata: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' (At-Taubah: 40)"
Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah, Nabi SAW tidak berkata 'kita akan selamat karena kita bersembunyi di gua.' Beliau tidak berkata 'kita akan selamat karena kita berlari cepat.' Beliau berkata 'Allah bersama kita.' Inilah tawakal. Keyakinan bahwa Allah bersama kita. Apa pun yang terjadi."
"Abu Bakar melihat dengan mata kepalanya bahwa mereka dalam bahaya. Tetapi Nabi SAW melihat dengan mata hatinya bahwa Allah bersama mereka. Itulah perbedaan antara orang yang bertawakal dan orang yang tidak."
Kisah Nabi Ibrahim dan Api
Mursyid juga mengisahkan tentang Nabi Ibrahim AS.
"Ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak memohon pertolongan kepada manusia. Beliau hanya berkata: 'Hasbunallah wa ni'mal wakil'. Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."
"Api itu membakar. Tetapi tidak menyentuh Ibrahim. Mengapa? Karena Allah memerintahkan api itu untuk menjadi dingin: 'Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.' (Al-Anbiya: 69)"
Mursyid tersenyum. "Ibrahim tidak memadamkan api itu dengan tangannya. Ia tidak melarikan diri. Ia bertawakal. Dan Allah. Dzat yang menciptakan api. Memerintahkan api itu untuk tidak membakarnya. Jika Allah berkehendak. Tidak ada yang bisa melukaimu. Jika Allah tidak berkehendak. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."
Tawakal di Zaman Kita
Seorang salik bernama Maryam bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa bertawakal di zaman ini? Zaman ketika semua orang cemas tentang masa depan. Ketika pekerjaan tidak pasti. Ketika harga-harga naik. Dan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok?"
Mursyid menghela napas. "Pertanyaan yang sangat baik, Maryam. Tawakal di zaman ini memang lebih sulit. Tetapi juga lebih mulia."
"Pertama, sadarilah bahwa engkau tidak bisa mengendalikan segalanya. Engkau bisa bekerja. Engkau bisa menabung. Engkau bisa merencanakan. Tetapi engkau tidak bisa mengendalikan apakah pekerjaanmu akan bertahan. Apakah tabunganmu akan cukup. Apakah rencanamu akan berhasil. Setelah engkau berusaha. Serahkanlah hasilnya kepada Allah."
"Kedua, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Jika engkau merasa sendirian. Ingatlah bahwa Allah bersamamu. Jika engkau merasa tidak ada yang menolongmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong. Jika engkau merasa tidak ada yang mencukupimu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki."
"Ketiga, perbanyaklah dzikir dan doa. Dzikir mengingatkanmu bahwa Allah selalu bersamamu. Doa mengingatkanmu bahwa engkau bergantung kepada-Nya. Ketika engkau merasa cemas, berdzikirlah. Ketika engkau merasa takut, berdoalah. Ketika engkau merasa lemah, berserahlah."
"Keempat, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Engkau tidak tahu apa yang sedang Allah persiapkan untukmu. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kegagalan adalah awal dari keberhasilan yang lebih besar. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kehilangan adalah awal dari pemberian yang lebih berharga."
Tawakal adalah Ketenangan
Malam semakin larut. Langit di atas zawiyah mulai cerah. Dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan selimutnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.
"Anak-anakku," ujarnya, "tawakal bukanlah kepasrahan yang pasif. Tawakal adalah ketenangan yang aktif. Orang yang bertawakal adalah orang yang berusaha dengan sekuat tenaga. Tetapi hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya."
"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mengendalikan angin. Tetapi engkau bisa mengatur layar. Engkau tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi engkau bisa belajar berenang. Engkau tidak bisa menghindari badai. Tetapi engkau bisa bertawakal kepada Dzat yang menciptakan badai. "
"Dan ketahuilah, orang yang bertawakal tidak pernah kecewa. Jika ia berhasil, ia bersyukur. Jika ia gagal, ia bersabar. Jika ia diberi, ia berbagi. Jika ia diambil, ia ridha. Ia tidak pernah kehilangan, karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah, dan ia hanya menitipkannya."
Mursyid menutup majelis dengan doa:
"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang bertawakal kepada-Mu dengan sebenar-benarnya. Karuniakanlah kepada kami ketenangan hati yang tidak tergoyahkan oleh badai kehidupan. Dan jadikanlah kami orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."
Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih tenang. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Kecemasan yang ia rasakan bukanlah karena ia tidak berusaha. Melainkan karena ia belum menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia bukan tidak mampu. Ia hanya belum bertawakal.
Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang tawakal. Tetapi dengan ketenangan baru di hati. Ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur. Dan Dia selalu bersama mereka.
Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-13, tentang Mahabbah)
