Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Spotlite: Tiga hari telah berlalu sejak salik melewati pintu tauhid. Kini ia datang dengan mata yang lebih jernih, tetapi juga dengan hati yang lebih gelisah. Ia telah merenungkan pelajaran sebelumnya. Dan ia mulai menyadari bahwa dirinya masih terikat pada banyak hal. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memandangnya dengan tatapan yang menembus dinding-dinding hati.
Pelajaran Ketiga: Cinta Dunia, Pangkal Segala Kejahatan
"Hari ini kita akan membicarakan tentang ḥubbud-dunyā. Cinta dunia," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik. Bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kejahatan. Ia adalah akar yang menumbuhkan banyak cabang dosa."
"Bukankah kita perlu dunia untuk hidup, Guru? Bukankah kita butuh makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal?"
"Benar, anakku. Dunia bukanlah haram untuk dimiliki. Yang haram adalah engkau dimiliki oleh dunia. Perbedaan itu halus Tetapi sangat menentukan. Engkau boleh memiliki dunia di tanganmu. Tetapi jangan sampai ia memiliki hatimu."
Salik merenung. Ia teringat pada rumahnya yang besar. Pada sawahnya yang luas. Pada kedudukannya di tengah masyarakat.
"Bagaimana tanda-tanda bahwa cinta dunia telah menguasai hatiku, Guru?"
"Pertama," kata Mursyid, "engkau merasa sedih berlebihan ketika kehilangan sesuatu dari dunia.
Kedua, engkau merasa gelisah bila rezekimu berkurang.
Ketiga, engkau rela melakukan hal-hal yang haram untuk memperoleh dunia.
Keempat, engkau merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan harta.
Kelima, engkau sulit bersedekah karena takut hartamu berkurang."
Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian besar tanda itu ada pada dirinya.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Dunia ini ibarat air laut. Orang yang meminumnya akan semakin haus. Ia yang mengejar dunia akan semakin gelisah. Sebab dunia itu mengundang. Tetapi tidak pernah memuaskan.
Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian besar tanda itu ada pada dirinya.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Dunia ini ibarat air laut. Orang yang meminumnya akan semakin haus. Ia yang mengejar dunia akan semakin gelisah. Sebab dunia itu mengundang. Tetapi tidak pernah memuaskan.
Adapun orang yang telah mengenal Allah. Dunia itu hanya ibarat jalan yang dilalui oleh musafir. Ia tak berhenti di jalan. Sebab tujuannya ada di ujung perjalanan."
"Bagaimana aku bisa membebaskan hatiku dari cinta dunia, Guru?"
"Ada empat cara. Pertama, renungkanlah kefanaan dunia. Lihatlah orang-orang yang telah mati sebelum engkau. Mereka juga mencintai dunia. Tetapi dunia tak pernah mencintai mereka.
"Bagaimana aku bisa membebaskan hatiku dari cinta dunia, Guru?"
"Ada empat cara. Pertama, renungkanlah kefanaan dunia. Lihatlah orang-orang yang telah mati sebelum engkau. Mereka juga mencintai dunia. Tetapi dunia tak pernah mencintai mereka.
Kedua, renungkanlah bahwa semua yang engkau miliki adalah titipan. Bila engkau menganggapnya titipan. Engkau tak akan terlalu sedih ketika ia diambil.
Ketiga, biasakanlah hidup sederhana. Jangan makan lebih dari yang engkau butuhkan. Jangan berpakaian lebih dari yang menutupi auratmu. Jangan tidur lebih lama dari yang diperlukan.
Keempat, berikanlah hartamu kepada yang membutuhkan. Sesungguhnya sedekah itu adalah cara terbaik untuk mengendurkan ikatan hati pada dunia."
"Apakah aku harus meninggalkan semua hartaku, Guru?"
"Tidak, anakku. Engkau tidak perlu meninggalkan dunia secara lahir. Tetapi engkau harus meninggalkannya secara batin. Engkau boleh menjadi raja. Tetapi hatimu harus tetap seperti pengemis di depan pintu Allah. Engkau boleh memiliki banyak harta. Tetapi jangan sampai hatimu terikat pada satu butir pun dari harta itu."
Mursyid bangkit, berjalan ke jendela. Menunjuk pada pohon besar yang tumbuh di halaman ribat. "Lihatlah pohon itu," katanya. "Ia tumbuh tinggi dan berbuah lebat. Tetapi ia tidak meminta pujian. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya menjalankan tugasnya. Begitulah seharusnya engkau. Bekerjalah di dunia. Tetapi jangan cintai dunia. Cukup Allah yang menjadi tujuanmu."
Salik meneteskan air mata. Ia merasakan bahwa selama ini ia telah memperbudak dirinya pada sesuatu yang tidak dapat menyelamatkannya.
"Bagaimana aku tahu bahwa cinta dunia telah hilang dari hatiku, Guru?"
"Bila engkau kehilangan sesuatu dari dunia dan hatimu tetap tenang, itu tandanya. Bila engkau mendapat keuntungan dan engkau tidak terlalu girang, itu tandanya. Bila engkau memandang harta sebagai alat untuk mencapai ridha Allah, bukan sebagai tujuan, itu tandanya. Bila engkau bisa tersenyum di tengah kekurangan, itu tandanya."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bebaskanlah hatiku dari cinta dunia, agar aku bisa mencintai-Mu dengan cinta yang sepenuhnya."
Pelajaran keempat, Sombong
Pelajaran keempat datang pada malam bulan purnama. Salik duduk di halaman ribat, memandang langit yang bertabur bintang. Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang dan duduk di sampingnya tanpa berkata-kata. Mereka berdua terdiam beberapa saat. Hanya ditemani bisik angin yang mengalir di antara dedaunan.
"Guru," kata salik memecah keheningan. "Aku merasa bahwa diriku masih sombong. Tetapi aku takut mengakuinya. Sebab bila aku mengakui kesombonganku. Aku justru semakin sombong."
Mursyid tersenyum. "Engkau benar, anakku. Kesombongan itu penyakit yang licik. Ia bersembunyi dalam pengakuan bahwa engkau tidak sombong. Tetapi ketahuilah, bahwa mengakui kesombongan adalah langkah pertama untuk menyembuhkannya."
"Apakah yang dimaksud dengan sombong itu, Guru?"
"Kibr. Sombong. Adalah engkau memandang dirimu lebih tinggi dari yang seharusnya. Engkau merendahkan orang lain. Engkau merasa bahwa engkau lebih baik, lebih mulia, lebih berilmu, atau lebih beramal daripada orang lain. Engkau merasa bahwa engkau berhak atas sesuatu yang tidak diberikan pada orang lain. Engkau merasa bahwa pendapatmu selalu benar."
Salik terdiam. Ia teringat pada banyak peristiwa di mana ia merendahkan orang lain tanpa sadar.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis. Ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak.
"Apakah aku harus meninggalkan semua hartaku, Guru?"
"Tidak, anakku. Engkau tidak perlu meninggalkan dunia secara lahir. Tetapi engkau harus meninggalkannya secara batin. Engkau boleh menjadi raja. Tetapi hatimu harus tetap seperti pengemis di depan pintu Allah. Engkau boleh memiliki banyak harta. Tetapi jangan sampai hatimu terikat pada satu butir pun dari harta itu."
Mursyid bangkit, berjalan ke jendela. Menunjuk pada pohon besar yang tumbuh di halaman ribat. "Lihatlah pohon itu," katanya. "Ia tumbuh tinggi dan berbuah lebat. Tetapi ia tidak meminta pujian. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya menjalankan tugasnya. Begitulah seharusnya engkau. Bekerjalah di dunia. Tetapi jangan cintai dunia. Cukup Allah yang menjadi tujuanmu."
Salik meneteskan air mata. Ia merasakan bahwa selama ini ia telah memperbudak dirinya pada sesuatu yang tidak dapat menyelamatkannya.
"Bagaimana aku tahu bahwa cinta dunia telah hilang dari hatiku, Guru?"
"Bila engkau kehilangan sesuatu dari dunia dan hatimu tetap tenang, itu tandanya. Bila engkau mendapat keuntungan dan engkau tidak terlalu girang, itu tandanya. Bila engkau memandang harta sebagai alat untuk mencapai ridha Allah, bukan sebagai tujuan, itu tandanya. Bila engkau bisa tersenyum di tengah kekurangan, itu tandanya."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bebaskanlah hatiku dari cinta dunia, agar aku bisa mencintai-Mu dengan cinta yang sepenuhnya."
Pelajaran keempat, Sombong
Pelajaran keempat datang pada malam bulan purnama. Salik duduk di halaman ribat, memandang langit yang bertabur bintang. Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang dan duduk di sampingnya tanpa berkata-kata. Mereka berdua terdiam beberapa saat. Hanya ditemani bisik angin yang mengalir di antara dedaunan.
"Guru," kata salik memecah keheningan. "Aku merasa bahwa diriku masih sombong. Tetapi aku takut mengakuinya. Sebab bila aku mengakui kesombonganku. Aku justru semakin sombong."
Mursyid tersenyum. "Engkau benar, anakku. Kesombongan itu penyakit yang licik. Ia bersembunyi dalam pengakuan bahwa engkau tidak sombong. Tetapi ketahuilah, bahwa mengakui kesombongan adalah langkah pertama untuk menyembuhkannya."
"Apakah yang dimaksud dengan sombong itu, Guru?"
"Kibr. Sombong. Adalah engkau memandang dirimu lebih tinggi dari yang seharusnya. Engkau merendahkan orang lain. Engkau merasa bahwa engkau lebih baik, lebih mulia, lebih berilmu, atau lebih beramal daripada orang lain. Engkau merasa bahwa engkau berhak atas sesuatu yang tidak diberikan pada orang lain. Engkau merasa bahwa pendapatmu selalu benar."
Salik terdiam. Ia teringat pada banyak peristiwa di mana ia merendahkan orang lain tanpa sadar.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis. Ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak.
Ia berkata, Aku lebih mulia dari dia. Engkau menciptakanku dari api. Dan Engkau menciptakannya dari tanah. Maka Iblis dilaknat sampai hari kiamat. Ketahuilah, bahwa kesombongan adalah satu-satunya dosa yang tidak diampuni. Sebab orang yang sombong tidak akan bertaubat."
Salik menggigil. Ia merasa bahwa selama ini ia telah menyimpan sifat Iblis di dalam hatinya.
"Bagaimana cara membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, renungkanlah asalmu. Engkau berasal dari setetes air yang hina. Dan engkau akan kembali menjadi bangkai yang busuk. Bila engkau tahu asal dan akhirmu. Bagaimana engkau bisa sombong?
Salik menggigil. Ia merasa bahwa selama ini ia telah menyimpan sifat Iblis di dalam hatinya.
"Bagaimana cara membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, renungkanlah asalmu. Engkau berasal dari setetes air yang hina. Dan engkau akan kembali menjadi bangkai yang busuk. Bila engkau tahu asal dan akhirmu. Bagaimana engkau bisa sombong?
Kedua, renungkanlah nikmat-nikmat Allah pada orang lain. Engkau tidak tahu siapa yang lebih mulia di hadapan Allah. Bisa jadi orang yang engkau pandang rendah justru lebih dekat kepada Allah daripada dirimu.
Ketiga, biasakanlah untuk memuji orang lain dan merendahkan diri. Jangan engkau memandang dirimu lebih baik dari seorang pun.
Keempat, ingatlah bahwa semua amalmu tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Engkau tidak bisa menyelamatkan dirimu dengan amalmu sendiri."
"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita harus menjaga harga diri?"
"Menjaga harga diri berbeda dari sombong. Menjaga harga diri adalah engkau tidak mau dihinakan oleh orang lain dalam hal yang benar. Adapun sombong adalah engkau memandang dirimu lebih tinggi dari orang lain. Engkau boleh menolak dihinakan. Tetapi jangan engkau menghina orang lain."
Mursyid menunjuk pada bulan yang bulat di langit. "Lihatlah bulan itu," katanya. "Ia bercahaya, tetapi ia tidak sombong. Ia tahu bahwa cahayanya bukan dari dirinya sendiri. Melainkan dari matahari.
"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita harus menjaga harga diri?"
"Menjaga harga diri berbeda dari sombong. Menjaga harga diri adalah engkau tidak mau dihinakan oleh orang lain dalam hal yang benar. Adapun sombong adalah engkau memandang dirimu lebih tinggi dari orang lain. Engkau boleh menolak dihinakan. Tetapi jangan engkau menghina orang lain."
Mursyid menunjuk pada bulan yang bulat di langit. "Lihatlah bulan itu," katanya. "Ia bercahaya, tetapi ia tidak sombong. Ia tahu bahwa cahayanya bukan dari dirinya sendiri. Melainkan dari matahari.
Begitu pula engkau. Semua kelebihanmu adalah karunia Allah. Bila engkau sombong dengan karunia Allah. Maka engkau telah menghina Pemberi karunia."
Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia telah berjalan di atas bumi dengan kepala yang terlalu tinggi. Ia memohon agar Allah menundukkan kepalanya di hadapan-Nya.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa orang yang sombong tidak akan pernah sampai pada Allah. Sebab Allah itu Mahatinggi. Dan orang yang merasa tinggi tidak bisa mendekat kepada Yang Mahatinggi. Hanya orang yang rendah hati yang bisa masuk ke dalam hadirat-Nya. Maka rendahkanlah dirimu. Agar Allah mengangkatmu."
Salik bangkit, bersujud di halaman ribat, dan berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari sombong. Agar aku bisa menjadi hamba yang rendah hati."
Pelajaran Kelima, Ujub Lebih Halus dari Sombong
Malam kelima, salik datang dengan hati yang lebih ringan. tetapi masih membawa beban yang belum ia sadari. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memegang kitab yang telah lusuh. Ia menatap salik dengan mata yang tajam, seakan menembus dinding-dinding hati.
"Hari ini kita akan membicarakan tentang 'ujub. Kagum pada diri sendiri," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa 'ujub itu lebih halus dari sombong.
Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia telah berjalan di atas bumi dengan kepala yang terlalu tinggi. Ia memohon agar Allah menundukkan kepalanya di hadapan-Nya.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa orang yang sombong tidak akan pernah sampai pada Allah. Sebab Allah itu Mahatinggi. Dan orang yang merasa tinggi tidak bisa mendekat kepada Yang Mahatinggi. Hanya orang yang rendah hati yang bisa masuk ke dalam hadirat-Nya. Maka rendahkanlah dirimu. Agar Allah mengangkatmu."
Salik bangkit, bersujud di halaman ribat, dan berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari sombong. Agar aku bisa menjadi hamba yang rendah hati."
Pelajaran Kelima, Ujub Lebih Halus dari Sombong
Malam kelima, salik datang dengan hati yang lebih ringan. tetapi masih membawa beban yang belum ia sadari. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memegang kitab yang telah lusuh. Ia menatap salik dengan mata yang tajam, seakan menembus dinding-dinding hati.
"Hari ini kita akan membicarakan tentang 'ujub. Kagum pada diri sendiri," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa 'ujub itu lebih halus dari sombong.
Sombong itu engkau merendahkan orang lain. Adapun 'ujub itu engkau mengagumi dirimu sendiri. Tanpa memandang orang lain."
"Bukankah itu baik, Guru? Bukankah kita harus percaya pada diri sendiri?"
"Percaya pada diri sendiri berbeda dari kagum pada diri sendiri. Percaya pada diri sendiri adalah engkau menyadari kemampuan yang Allah berikan. Dan engkau menggunakannya untuk berbuat baik.
"Bukankah itu baik, Guru? Bukankah kita harus percaya pada diri sendiri?"
"Percaya pada diri sendiri berbeda dari kagum pada diri sendiri. Percaya pada diri sendiri adalah engkau menyadari kemampuan yang Allah berikan. Dan engkau menggunakannya untuk berbuat baik.
Adapun 'ujub adalah engkau merasa bahwa kemampuan itu berasal dari dirimu sendiri. Dan engkau merasa bahwa amalmu sudah cukup. Sehingga engkau tidak lagi membutuhkan Allah."
Salik terdiam. Ia teringat bahwa ia sering merasa bangga pada amal ibadahnya.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid, "bahwa 'ujub itu adalah penyakit yang mematikan amal. Engkau bisa beribadah sepanjang malam. Tetapi bila engkau merasa bahwa ibadahmu adalah hasil usahamu sendiri. Maka amalmu itu tertolak. Sebab engkau telah memandang dirimu memiliki andil dalam kebaikan itu. Padahal semua kebaikan hanya dari Allah."
"Bagaimana tanda-tanda 'ujub, Guru?"
"Tandanya adalah engkau merasa bahwa amalmu sudah banyak. Engkau merasa bahwa engkau lebih rajin beribadah dari orang lain. Engkau merasa bahwa engkau berhak mendapat pahala. Engkau merasa bahwa engkau tidak perlu lagi memperbaiki diri. Engkau merasa bahwa engkau telah sampai pada derajat tertentu, sehingga engkau malas untuk meningkatkan ibadahmu."
Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian dari tanda itu ada pada dirinya.
"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, ingatlah bahwa amalmu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Sebesar apa pun amalmu. Ia tetap tidak mampu membayar nikmat Allah yang satu saja.
Salik terdiam. Ia teringat bahwa ia sering merasa bangga pada amal ibadahnya.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid, "bahwa 'ujub itu adalah penyakit yang mematikan amal. Engkau bisa beribadah sepanjang malam. Tetapi bila engkau merasa bahwa ibadahmu adalah hasil usahamu sendiri. Maka amalmu itu tertolak. Sebab engkau telah memandang dirimu memiliki andil dalam kebaikan itu. Padahal semua kebaikan hanya dari Allah."
"Bagaimana tanda-tanda 'ujub, Guru?"
"Tandanya adalah engkau merasa bahwa amalmu sudah banyak. Engkau merasa bahwa engkau lebih rajin beribadah dari orang lain. Engkau merasa bahwa engkau berhak mendapat pahala. Engkau merasa bahwa engkau tidak perlu lagi memperbaiki diri. Engkau merasa bahwa engkau telah sampai pada derajat tertentu, sehingga engkau malas untuk meningkatkan ibadahmu."
Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian dari tanda itu ada pada dirinya.
"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, ingatlah bahwa amalmu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Sebesar apa pun amalmu. Ia tetap tidak mampu membayar nikmat Allah yang satu saja.
Kedua, renungkanlah kekurangan-kekuranganmu. Setiap kali engkau merasa kagum pada dirimu. Ingatlah dosa-dosa yang pernah engkau lakukan.
Ketiga, bandingkanlah dirimu dengan orang-orang yang lebih mulia dari engkau. Jangan bandingkan dengan yang lebih rendah. Sebab itu akan menumbuhkan 'ujub.
Keempat, ingatlah bahwa amal itu bukan tujuan, tetapi hanya jalan. Yang menjadi tujuan adalah ridha Allah. Bila engkau kagum pada jalan. Engkau akan lupa pada tujuan."
"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kita harus bersyukur atas amal yang telah kita lakukan?"
"Bersyukur berbeda dari 'ujub. Bersyukur adalah engkau mengakui bahwa amal itu adalah karunia Allah, dan engkau berterima kasih kepada-Nya. Adapun 'ujub adalah engkau mengakui bahwa amal itu adalah hasil usahamu sendiri. Dan engkau merasa bangga pada dirimu. Bersyukur itu menumbuhkan kerendahan hati. Adapun 'ujub itu menumbuhkan kesombongan."
Mursyid mengambil sebatang lilin dan menyalakannya. "Lihatlah lilin ini," katanya. "Ia menyala karena ada api yang membakarnya. Bila lilin itu berkata, 'Akulah yang menerangi ruangan ini,' maka itu 'ujub.
"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kita harus bersyukur atas amal yang telah kita lakukan?"
"Bersyukur berbeda dari 'ujub. Bersyukur adalah engkau mengakui bahwa amal itu adalah karunia Allah, dan engkau berterima kasih kepada-Nya. Adapun 'ujub adalah engkau mengakui bahwa amal itu adalah hasil usahamu sendiri. Dan engkau merasa bangga pada dirimu. Bersyukur itu menumbuhkan kerendahan hati. Adapun 'ujub itu menumbuhkan kesombongan."
Mursyid mengambil sebatang lilin dan menyalakannya. "Lihatlah lilin ini," katanya. "Ia menyala karena ada api yang membakarnya. Bila lilin itu berkata, 'Akulah yang menerangi ruangan ini,' maka itu 'ujub.
Tetapi bila lilin itu berkata, 'Api inilah yang menerangi ruangan ini,' maka itu syukur. Engkau adalah lilin. Dan amalmu adalah api. Jangan engkau mengaku bahwa engkaulah yang menerangi. Sebab engkau hanya alat."
Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia telah mencuri kemuliaan Allah untuk dirinya sendiri.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa 'ujub itu lebih berbahaya dari dosa besar. Sebab dosa besar bisa dihapus dengan taubat. Tetapi 'ujub itu menghapus amal-amal yang telah engkau lakukan. Maka bersihkanlah hatimu dari 'ujub. Agar amalmu diterima di sisi Allah."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari 'ujub. Agar aku bisa bersyukur dengan sebenar-benarnya."
Malam itu, ribat itu dipenuhi dengan keheningan yang dalam. Salik merasakan bahwa hatinya telah melalui tiga pintu: pintu cinta dunia, pintu kesombongan, dan pintu 'ujub. Ia tahu, bahwa perjalanannya masih panjang, tetapi ia juga tahu, bahwa setiap pintu yang ia lewati membawanya lebih dekat kepada Allah.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia telah mencuri kemuliaan Allah untuk dirinya sendiri.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa 'ujub itu lebih berbahaya dari dosa besar. Sebab dosa besar bisa dihapus dengan taubat. Tetapi 'ujub itu menghapus amal-amal yang telah engkau lakukan. Maka bersihkanlah hatimu dari 'ujub. Agar amalmu diterima di sisi Allah."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari 'ujub. Agar aku bisa bersyukur dengan sebenar-benarnya."
Malam itu, ribat itu dipenuhi dengan keheningan yang dalam. Salik merasakan bahwa hatinya telah melalui tiga pintu: pintu cinta dunia, pintu kesombongan, dan pintu 'ujub. Ia tahu, bahwa perjalanannya masih panjang, tetapi ia juga tahu, bahwa setiap pintu yang ia lewati membawanya lebih dekat kepada Allah.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya: Takhalliy-3
