Rabu, 21 Oktober 2026

Serial Tasawuf-28: "Tahalliy-3, Tawakkal dan Ridha"



Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Pagi itu angin bertiup lembut dari arah timur. Membawa aroma rumput yang baru dipangkas. Salik datang lebih awal dari biasanya. Ia telah menghiasi hatinya dengan taubat, zuhud, sabar, dan syukur. Namun ia merasa masih ada sesuatu yang belum mantap di dalam dadanya: Sebuah kegelisahan halus yang tak mampu ia namai. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di bawah pohon tua di halaman ribat. Memandang langit yang bersih tanpa awan.

"Hai anakku," kata Mursyid tanpa menoleh. "Engkau datang membawa pertanyaan yang belum engkau ucapkan. Duduklah, sebab hari ini kita akan membicarakan permata kelima: Tawakkal."

Salik duduk bersimpuh. "Guru, aku telah berusaha bersabar dan bersyukur. Tetapi aku masih sering gelisah tentang masa depan. Aku takut kehilangan. Aku takut kekurangan. Aku takut apa yang belum terjadi."

Mursyid tersenyum. "Ketahuilah, tawakkal itu bukanlah engkau berhenti berusaha. Melainkan engkau menyandarkan hatimu kepada Allah setelah engkau menempuh sebab-sebab yang halal. Tawakkal itu letaknya di hati. Bukan di tangan. Tanganmu boleh bekerja. Tetapi hatimu jangan menggantungkan diri pada pekerjaan itu."

"Apakah tawakkal berarti aku tidak perlu merencanakan apa-apa, Guru?"

"Tidak, anakku. Itu bukan tawakkal, tetapi kelalaian. Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk mengikat unta. Lalu bertawakkal. Engkau ikatlah untamu: Engkau belajar, engkau bekerja, engkau menjaga kesehatan, engkau menabung untuk kebutuhan, engkau berhati-hati dalam melangkah. 

Tetapi setelah itu, serahkanlah hasilnya kepada Allah. Sebab engkau hanya bisa mengusahakan. Sedangkan yang menentukan adalah Allah."

Salik merenung. "Aku sering merasa bahwa aku harus mengendalikan semuanya, Guru. Bila sesuatu tidak sesuai rencanaku, aku gelisah."

"Ketahuilah, wahai salik. Bahwa kegelisahan itu lahir dari keyakinan bahwa engkaulah yang mengatur hidupmu. Padahal Allah-lah yang mengatur. Engkau hanyalah hamba yang diberi kesempatan untuk berusaha. 

Bila engkau menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah, maka hatimu akan tenang. Itulah makna ḥasbunallāhu wa ni'mal-wakīl. Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."

"Bagaimana aku bisa melatih tawakkal, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk mengucapkan bismillāh ketika memulai sesuatu. Dan alhamdulillāh ketika mengakhirinya. 

Kedua, ingatlah bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset. Dan apa yang meleset tidak akan menimpamu. 

Ketiga, jangan engkau membandingkan hasil usahamu dengan hasil usaha orang lain. Sebab setiap orang memiliki jalan dan bagiannya sendiri. 

Keempat, perbanyaklah membaca Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah aku harus berdoa meminta yang terbaik? Bukankah doa itu bagian dari tawakkal?"

"Benar, anakku. Doa itu adalah inti dari tawakkal. Orang yang bertawakkal itu adalah orang yang banyak berdoa. Sebab ia sadar bahwa tanpa pertolongan Allah. Usahanya tidak berarti apa-apa. 

Namun ketahuilah, doa yang baik itu bukan hanya meminta. Tetapi juga menyerahkan. Engkau meminta yang terbaik menurut pandanganmu. Tetapi engkau juga berkata, 'Ya Allah, bila yang aku minta ini tidak baik bagiku. Berikanlah yang baik menurut-Mu.' Itulah tawakkal: Engkau meminta dengan penuh harap. Tetapi engkau menyerahkan dengan penuh ridha."

Mursyid mengambil sebutir biji dan menanamnya di tanah yang basah. "Lihatlah biji ini," katanya. "Ia tidak tahu apakah ia akan tumbuh atau tidak. Tetapi ia tidak gelisah. Ia hanya menjalankan tugasnya: Ditanam, lalu berserah. 

Engkau pun demikian. Tanamlah amalmu. Siramilah dengan usaha. Lalu serahkan pertumbuhannya kepada Allah. Jangan engkau menggali tanah setiap hari untuk melihat apakah akarnya sudah tumbuh. Itu bukan tawakkal. Tetapi kegelisahan."

Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, aku ingin berhenti mengendalikan segala sesuatu."

Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Engkau telah memulai, anakku. Setiap kali engkau melepaskan kegelisahanmu dan berkata, 'Allah Maha Mengetahui,' Engkau telah menanam satu benih tawakkal. Suatu hari, benih itu akan tumbuh menjadi pohon ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh badai dunia."

Malam berikutnya, bulan tampak separuh. Salik datang dengan hati yang lebih tenang, tetapi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di serambi. Memegang tasbih yang butirannya berkilau diterpa cahaya bulan.

"Hari ini kita akan membicarakan permata keenam: riḍā:
 Ridha," kata Mursyid. "Ketahuilah, ridha itu lebih tinggi dari sabar. Sabar adalah engkau menahan diri ketika menerima ketentuan Allah."

"Adapun ridha adalah engkau merasa lapang, bahkan senang, dengan ketentuan itu. Sabar itu seperti orang yang menahan sakit; ridha itu seperti orang yang telah memahami bahwa sakit itu adalah obat."

"Apakah ridha berarti aku tidak boleh berduka, Guru?"

"Ridha bukan berarti engkau tidak memiliki perasaan, anakku. Engkau boleh berduka, engkau boleh menangis, engkau boleh merasa sakit. Tetapi di dalam lubuk hatimu, engkau tidak menolak ketentuan Allah. Engkau berkata. 'Ya Allah, aku tidak memahami hikmah ini. Tetapi aku percaya bahwa Engkau lebih mengetahui daripada aku.' Itulah ridha."

Salik merenung. "Aku sering merasa sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginanku. Aku sering bertanya, 'Mengapa ini terjadi padaku?'"

"Pertanyaan itu wajar, anakku. Bahkan para nabi pun bertanya. Tetapi ketahuilah, bahwa pertanyaan 'mengapa' itu bisa menjadi pintu menuju Allah. Atau bisa menjadi pintu menuju syaitan. Bila engkau bertanya dengan penuh harap untuk memahami hikmah, itu baik. Tetapi bila engkau bertanya dengan penuh protes. Itu adalah tanda hati yang belum ridha."

"Bagaimana aku bisa melatih ridha, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, ingatlah bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu yang buruk bagi hamba-Nya yang beriman. Apa yang engkau pandang buruk bisa jadi baik bagimu. Dan apa yang engkau pandang baik bisa jadi buruk bagimu. 

Kedua, biasakanlah untuk mengucapkan radhītu billāhi rabbā. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku. 

Ketiga, renungkanlah bahwa engkau tidak memiliki hak untuk menolak ketentuan Allah, sebab engkau adalah hamba, dan Dia adalah Tuhan. 

Keempat, ingatlah bahwa ridha itu bukan berarti engkau pasrah pada kezaliman. Engkau tetap boleh berusaha mengubah keadaan. Tetapi hatimu tetap ridha pada ketentuan Allah."

"Bukankah itu sulit, Guru? Bagaimana aku bisa ridha ketika aku melihat penderitaan?"

"Mursyid tersenyum. "Ridha itu bukan berarti engkau tidak peduli pada penderitaan. Ridha itu berarti engkau tidak memberontak terhadap Allah ketika engkau melihat penderitaan."

"Engkau tetap berusaha menolong, engkau tetap berdoa, engkau tetap berbuat baik. Tetapi engkau tidak berkata, 'Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?' Sebab engkau tahu bahwa Allah memiliki hikmah yang tidak selalu bisa engkau pahami."

Mursyid menunjuk pada bintang-bintang di langit. "Lihatlah bintang-bintang itu. Mereka tampak kecil, tetapi mereka sangat besar. Engkau tidak bisa memahami besarnya karena engkau melihatnya dari jauh."

"Begitu pula ketentuan Allah: engkau tidak bisa memahami hikmahnya karena engkau melihatnya dari sudut pandang yang terbatas. Tetapi bila engkau ridha, engkau akan melihat bahwa segala sesuatu memiliki tempatnya dalam rencana Allah."

"Bagaimana tanda ridha yang sejati, Guru?"

"Tandanya ada tiga. Pertama, engkau tidak lagi mengeluh ketika menerima musibah, tetapi engkau mencari hikmahnya. Kedua, engkau tidak merasa iri pada nikmat orang lain, sebab engkau yakin bahwa Allah memberikan setiap orang sesuai dengan hikmah-Nya. Ketiga, engkau merasa tenang di tengah badai, sebab engkau tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkanmu."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, jadikanlah tawakkalku sebagai perisai dari kegelisahan, dan ridhaku sebagai cahaya yang menerangi setiap kegelapan. Agar aku bisa menerima setiap ketentuan-Mu dengan hati yang lapang. Dan menyerahkan setiap urusanku kepada-Mu dengan penuh kepercayaan."

Mursyid memandangnya dari serambi, lalu berkata lirih, "Engkau telah menghiasi 
dirimu dengan enam permata: Taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, dan ridha. 

Masih ada permata-permata lain. Tetapi enam ini telah cukup untuk membuat hatimu mulai bersinar. Teruslah berjalan, anakku. Sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir."

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutna.

Serial Tasawuf-28: "Tahalliy-3, Tawakkal dan Ridha"

Bismillāhirraḥmānirraḥīm Pagi itu angin bertiup lembut dari arah timur. Membawa aroma rumput yang baru dipangkas. Salik datang lebih awal da...