Malam itu ribat sunyi. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang menyentuh daun-daun kering. Salik duduk di depan mihrab. Memandang lampu minyak yang nyalanya kecil tetapi tegak. Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang membawa secangkir air. Lalu duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat mereka berdua hanya memandang nyala lampu itu.
"Hai anakku," akhirnya Mursyid membuka suara. "Engkau telah menghiasi dirimu dengan taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, dan ridha. Kini tiba saatnya engkau menghiasi diri dengan permata ketujuh: Ikhlāṣ, kemurnian niat."
"Apakah ikhlas itu, Guru? Bukankah aku sudah berniat beribadah kepada Allah?"
Mursyid tersenyum tipis. "Engkau benar, anakku. Tetapi ketahuilah, niat itu ibarat air. Ia bisa jernih, bisa keruh. Ikhlas adalah engkau menjernihkan air itu sampai tidak ada lagi endapan selain Allah."
"Engkau beramal bukan karena pujian. Bukan karena takut celaan. Bukan karena ingin dianggap mulia. Bukan karena kebiasaan. Tetapi semata-mata karena Allah."
Salik menunduk. "Aku sering merasa bahwa amalku bercampur dengan keinginan agar dilihat orang."
"Itu pengakuan yang jujur. Kejujuran itu adalah awal dari ikhlas. Ketahuilah, wahai salik. Bahwa ikhlas itu lebih halus dari rambut di atas cermin."
Salik menunduk. "Aku sering merasa bahwa amalku bercampur dengan keinginan agar dilihat orang."
"Itu pengakuan yang jujur. Kejujuran itu adalah awal dari ikhlas. Ketahuilah, wahai salik. Bahwa ikhlas itu lebih halus dari rambut di atas cermin."
"Engkau bisa beribadah sepanjang malam. Tetapi bila di dalam hatimu ada rasa bangga yang tersembunyi. Maka amal itu telah ternoda. Engkau bisa bersedekah dengan tangan kanan sampai tangan kiri tidak mengetahui. Tetapi bila di dalam hatimu ada harapan agar orang lain mendengar. Maka sedekah itu telah kehilangan ruhnya."
"Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa amalku belum ikhlas, Guru?"
"Tandanya ada tiga. Pertama, engkau merasa senang bila amalmu dipuji. Dan engkau merasa malas bila amalmu tidak dilihat.
"Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa amalku belum ikhlas, Guru?"
"Tandanya ada tiga. Pertama, engkau merasa senang bila amalmu dipuji. Dan engkau merasa malas bila amalmu tidak dilihat.
Kedua, engkau merasa berat beramal bila sendirian. Tetapi engkau merasa ringan beramal bila bersama orang banyak.
Ketiga, engkau sering menceritakan amal kebaikanmu kepada orang lain. Padahal engkau tahu bahwa Allah telah mengetahuinya."
Salik menghela napas. "Lalu bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, sebelum beramal, periksalah niatmu. Tanyakanlah, 'Untuk siapa aku melakukan ini?' Bila jawabannya bukan Allah. Maka perbaikilah niat itu sebelum engkau melangkah.
Salik menghela napas. "Lalu bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, sebelum beramal, periksalah niatmu. Tanyakanlah, 'Untuk siapa aku melakukan ini?' Bila jawabannya bukan Allah. Maka perbaikilah niat itu sebelum engkau melangkah.
Kedua, sembunyikanlah amal-amal kebaikanmu sebisa mungkin. Sebab amal yang disembunyikan itu lebih dekat kepada ikhlas.
Ketiga, jangan engkau menunggu balasan dari manusia. Bila engkau berbuat baik lalu tidak dihargai, bersyukurlah, sebab itu tanda bahwa pahalamu masih utuh di sisi Allah.
Keempat, perbanyaklah doa agar Allah menyucikan niatmu. Sebab ikhlas itu bukan hasil usahamu semata. Tetapi karunia dari-Nya."
"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita perlu memberi contoh kepada orang lain? Bukankah amal yang terlihat bisa menginspirasi?"
"Benar, anakku. Engkau boleh beramal di depan orang lain bila itu untuk mengajar atau memberi contoh. Tetapi jangan engkau beramal agar dilihat. Bedanya halus: orang yang mengajar beramal karena ia ingin orang lain belajar; orang yang riya beramal karena ia ingin dirinya dipuji. Yang pertama niatnya Allah. Yang kedua niatnya manusia."
Mursyid mengambil lampu minyak itu dan mengangkatnya. "Lihatlah lampu ini. Ia menerangi ruangan tanpa meminta pujian. Ia tidak berkata, 'Betapa hebatnya aku.' Ia hanya menyala. Dan cahayanya jatuh pada siapa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah seharusnya amalmu. Menyala karena Allah, menerangi sekitar, tetapi tidak menuntut pujian."
Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, jadikanlah amalku murni untuk-Mu."
Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Engkau telah memulai, anakku. Setiap kali engkau memeriksa niatmu. Engkau telah menanam satu benih ikhlas. Setiap kali engkau menyembunyikan kebaikanmu. Engkau telah menyirami benih itu. Suatu hari, benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya tidak pernah busuk."
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika salik datang ke serambi. Ia telah merenungkan pelajaran tentang ikhlas. Ia mulai menyadari bahwa masih ada satu hal yang belum ia miliki: Kejujuran yang menyeluruh. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memegang kitab yang telah lusuh. Ia menatap salik dengan mata yang tenang.
"Hari ini kita akan membicarakan permata kedelapan dalam tahalliy: ṣidq, kejujuran," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa shidq itu bukan hanya engkau tidak berdusta dengan lisan. Shidq itu adalah engkau jujur dalam ucapan, jujur dalam perbuatan. Dan jujur dalam keadaan batin. Engkau tidak menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hatimu."
"Bukankah itu sama dengan meninggalkan kemunafikan, Guru?"
"Benar, anakku. Tetapi meninggalkan kemunafikan itu adalah takhalliy: membersihkan diri. Adapun shidq itu adalah tahalliy: Menghiasi diri dengan kejujuran yang positif."
"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita perlu memberi contoh kepada orang lain? Bukankah amal yang terlihat bisa menginspirasi?"
"Benar, anakku. Engkau boleh beramal di depan orang lain bila itu untuk mengajar atau memberi contoh. Tetapi jangan engkau beramal agar dilihat. Bedanya halus: orang yang mengajar beramal karena ia ingin orang lain belajar; orang yang riya beramal karena ia ingin dirinya dipuji. Yang pertama niatnya Allah. Yang kedua niatnya manusia."
Mursyid mengambil lampu minyak itu dan mengangkatnya. "Lihatlah lampu ini. Ia menerangi ruangan tanpa meminta pujian. Ia tidak berkata, 'Betapa hebatnya aku.' Ia hanya menyala. Dan cahayanya jatuh pada siapa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah seharusnya amalmu. Menyala karena Allah, menerangi sekitar, tetapi tidak menuntut pujian."
Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, jadikanlah amalku murni untuk-Mu."
Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Engkau telah memulai, anakku. Setiap kali engkau memeriksa niatmu. Engkau telah menanam satu benih ikhlas. Setiap kali engkau menyembunyikan kebaikanmu. Engkau telah menyirami benih itu. Suatu hari, benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya tidak pernah busuk."
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika salik datang ke serambi. Ia telah merenungkan pelajaran tentang ikhlas. Ia mulai menyadari bahwa masih ada satu hal yang belum ia miliki: Kejujuran yang menyeluruh. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memegang kitab yang telah lusuh. Ia menatap salik dengan mata yang tenang.
"Hari ini kita akan membicarakan permata kedelapan dalam tahalliy: ṣidq, kejujuran," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa shidq itu bukan hanya engkau tidak berdusta dengan lisan. Shidq itu adalah engkau jujur dalam ucapan, jujur dalam perbuatan. Dan jujur dalam keadaan batin. Engkau tidak menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hatimu."
"Bukankah itu sama dengan meninggalkan kemunafikan, Guru?"
"Benar, anakku. Tetapi meninggalkan kemunafikan itu adalah takhalliy: membersihkan diri. Adapun shidq itu adalah tahalliy: Menghiasi diri dengan kejujuran yang positif."
"Engkau tidak hanya berhenti berdusta. Tetapi engkau aktif berkata benar. Berbuat benar. Dan menjadi benar. Engkau tidak hanya meninggalkan keburukan. Tetapi engkau mengisi dirimu dengan kebaikan yang jujur."
Salik merenung. "Aku sering merasa bahwa kejujuran itu sulit. Terutama ketika aku harus mengakui kesalahanku."
"Ketahuilah, wahai salik, bahwa kejujuran itu memang sulit. Tetapi ia adalah obat yang pahit. Orang yang jujur mungkin disakiti oleh kebenaran yang ia ucapkan. Tetapi ia tidak akan pernah disakiti oleh kebohongan yang ia sembunyikan."
Salik merenung. "Aku sering merasa bahwa kejujuran itu sulit. Terutama ketika aku harus mengakui kesalahanku."
"Ketahuilah, wahai salik, bahwa kejujuran itu memang sulit. Tetapi ia adalah obat yang pahit. Orang yang jujur mungkin disakiti oleh kebenaran yang ia ucapkan. Tetapi ia tidak akan pernah disakiti oleh kebohongan yang ia sembunyikan."
"Nabi ﷺ bersabda bahwa kejujuran itu menuntun kepada kebaikan. Dan kebaikan itu menuntun kepada surga. Seorang yang senantiasa jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur."
"Bagaimana tanda-tanda shidq, Guru?"
"Tandanya ada empat. Pertama, engkau berkata benar meskipun itu memberatkanmu.
"Bagaimana tanda-tanda shidq, Guru?"
"Tandanya ada empat. Pertama, engkau berkata benar meskipun itu memberatkanmu.
Kedua, engkau mengakui kesalahanmu tanpa mencari alasan.
Ketiga, engkau menepati janjimu meskipun engkau harus bersusah payah.
Keempat, engkau tidak menampakkan kekhusyukan di hadapan orang lain bila hatimu sedang lalai. Engkau tidak berpura-pura lebih baik dari kenyataan dirimu."
Salik menunduk. "Aku sering berpura-pura kuat di hadapan orang lain. Padahal hatiku sedang gelisah."
"Itu bukan shidq, anakku. Shidq itu engkau jujur pada dirimu sendiri. Engkau boleh menyembunyikan rahasiamu, tetapi engkau tidak boleh menampakkan sesuatu yang tidak ada."
Salik menunduk. "Aku sering berpura-pura kuat di hadapan orang lain. Padahal hatiku sedang gelisah."
"Itu bukan shidq, anakku. Shidq itu engkau jujur pada dirimu sendiri. Engkau boleh menyembunyikan rahasiamu, tetapi engkau tidak boleh menampakkan sesuatu yang tidak ada."
"Bila engkau sedang sedih. Engkau tidak perlu tersenyum seolah-olah dunia ini tidak memiliki beban. Bila engkau sedang lemah. Engkau tidak perlu berpura-pura kuat. Kejujuran itu justru membuatmu lebih dekat kepada Allah. Sebab engkau mengakui kelemahanmu di hadapan-Nya."
"Bagaimana aku bisa melatih shidq, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit.
"Bagaimana aku bisa melatih shidq, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit.
Kedua, jangan engkau berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui.
Ketiga, jangan engkau berjanji kecuali engkau mampu menepatinya.
Keempat, biasakanlah untuk mengakui kesalahanmu sebelum orang lain mengetahuinya.
Kelima, ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Bahkan sebelum engkau mengucapkannya. Bila engkau sadar bahwa Allah mengetahui rahasiamu. Engkau tak akan berani berpura-pura."
"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kejujuran bisa menyakiti orang lain? Bukankah kita harus berbicara dengan lembut?"
"Benar, anakku. Kejujuran itu tidak boleh diucapkan dengan kasar. Engkau boleh berkata benar dengan lembut. Engkau boleh menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyembuhkan, bukan melukai."
"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kejujuran bisa menyakiti orang lain? Bukankah kita harus berbicara dengan lembut?"
"Benar, anakku. Kejujuran itu tidak boleh diucapkan dengan kasar. Engkau boleh berkata benar dengan lembut. Engkau boleh menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyembuhkan, bukan melukai."
"Shidq itu bukan berarti engkau menghina orang lain dengan kebenaran. Tetapi engkau menyampaikan kebenaran dengan kasih. Kebenaran tanpa kasih itu keras. Dan kasih tanpa kebenaran itu lemah. Shidq itu menggabungkan keduanya."
Mursyid mengambil sebatang kayu dan menggambar garis lurus di pasir. "Lihatlah garis ini," katanya. "Ini adalah shidq. Ia lurus, tidak bengkok. Bila engkau menambah lengkungan, ia tidak lagi menjadi garis lurus."
Mursyid mengambil sebatang kayu dan menggambar garis lurus di pasir. "Lihatlah garis ini," katanya. "Ini adalah shidq. Ia lurus, tidak bengkok. Bila engkau menambah lengkungan, ia tidak lagi menjadi garis lurus."
"Begitu pula kejujuran. Ia adalah garis lurus yang menghubungkan engkau dengan Allah, dengan manusia, dan dengan dirimu sendiri. Bila engkau menambah atau mengurangi. Maka engkau telah keluar dari shidq."
Salik menatap garis itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menambah dan mengurangi.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri, "ketahuilah bahwa engkau telah menyelesaikan delapan permata dalam tahalliy: taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, ridha, ikhlas, dan shidq.
Salik menatap garis itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menambah dan mengurangi.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri, "ketahuilah bahwa engkau telah menyelesaikan delapan permata dalam tahalliy: taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, ridha, ikhlas, dan shidq.
Dengan delapan permata ini, hatimu telah berhias. Tetapi ketahuilah, bahwa tahalliy ini bukanlah tujuan, melainkan persiapan. Setelah ini, engkau akan memasuki tajalliy. Dimana Allah menampakkan diri-Nya padamu. Maka bersiaplah. Sebab perjalananmu masih panjang."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, jadikanlah ikhlasku sebagai cahaya yang menerangi amalku. Dan jadikanlah shidqku sebagai jalan yang lurus menuju-Mu. Agar aku bisa beramal dengan hati yang murni. Berkata dengan lisan yang jujur. Sampai Engkau menampakkan diri-Mu padaku."
Dan fajar pun terbit. Cahayanya jatuh pada wajah salik yang masih bersujud. Suasana Ribat itu dipenuhi dengan ketenangan yang tidak berasal dari dunia.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya, Tajalliy.
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, jadikanlah ikhlasku sebagai cahaya yang menerangi amalku. Dan jadikanlah shidqku sebagai jalan yang lurus menuju-Mu. Agar aku bisa beramal dengan hati yang murni. Berkata dengan lisan yang jujur. Sampai Engkau menampakkan diri-Mu padaku."
Dan fajar pun terbit. Cahayanya jatuh pada wajah salik yang masih bersujud. Suasana Ribat itu dipenuhi dengan ketenangan yang tidak berasal dari dunia.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya, Tajalliy.
