Jumat, 23 Oktober 2026

Serial Tasawuf-30, Tajalliy-1: "Tajalliy al-Af'al"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Malam itu ribat terasa berbeda. Angin yang biasanya berbisik kini seakan menahan napas. Lampu minyak di serambi menyala tenang. Tetapi cahayanya seperti menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari dinding-dinding kayu. Salik duduk di hadapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan hati yang telah berhias delapan permata tahalliy. Namun justru karena itu, ia merasa ada pintu lain yang mulai terbuka. Pintu yang belum ia kenal namanya.


"Guru," katanya dengan suara hampir berbisik, "engkau telah mengajarku membersihkan diri dan menghiasi diri. Kini aku merasa ada sesuatu yang lain. Aku tidak lagi sekadar melihat amal. Tetapi aku mulai melihat sesuatu di balik amal. Apakah ini yang engkau sebut tajalliy?"

Mursyid menatapnya lama. Senyumnya tipis. Tetapi matanya berkilau seperti orang yang baru saja melihat fajar. "Engkau telah sampai pada pintu pertama, anakku.

Ketahuilah, takhalliy itu engkau mengosongkan rumah. Tahalliy itu engkau menghiasinya. Adapun tajalliy itu engkau membuka jendela. Lalu cahaya masuk. Engkau tidak lagi hanya mendengar tentang cahaya. Engkau mulai melihatnya."

"Apakah yang pertama kali disingkapkan, Guru?"

"Yang pertama adalah tajallī al-af‘āl. Penyingkapan keesaan Allah dalam perbuatan. Engkau mulai menyaksikan bahwa tidak ada pelaku hakiki selain Allah. Segala gerak, segala diam, segala datang dan pergi, segala memberi dan menahan, semuanya kembali kepada-Nya."

"Engkau melihat dirimu sebagai alat. Bukan sebagai penggerak. Engkau melihat sebab-sebab sebagai tabir. Bukan sebagai tuhan-tuhan kecil."

Salik menunduk. "Tetapi Guru, bukankah aku memang berbuat? Bukankah aku yang berjalan, yang bekerja, yang bersedekah?"

"Engkau berbuat, benar. Tetapi siapa yang menciptakan kehendakmu untuk berbuat? Siapa yang memberi kekuatan pada tanganmu untuk memberi? Siapa yang menggerakkan hatimu untuk bersedekah?"

"Ketahuilah, wahai salik, bahwa perbuatanmu itu seperti tulisan di atas air. Ia tampak, tetapi ia tidak memiliki wujud mandiri. Yang menulis adalah Allah. Engkau hanya pena yang bergerak. Bila engkau memandang dirimu sebagai pena yang memiliki kuasa sendiri. Engkau belum sampai pada tajalli pertama. Tetapi bila engkau memandang dirimu sebagai pena yang digerakkan. Engkau mulai melihat."

"Apakah ini berarti aku tidak memiliki pilihan, Guru?"

"Engkau memiliki pilihan, anakku, tetapi pilihanmu tidak mandiri. Allah menciptakan padamu kemampuan memilih. Lalu engkau memilih dengan kemampuan itu. Engkau diberi kasb, usaha. Tetapi pencipta usaha itu adalah Allah. Orang yang melihat hanya pada usahanya akan sombong. Orang yang melihat hanya pada ketentuan akan malas."

"Adapun orang yang telah sampai pada tajalli al-af‘āl melihat keduanya. Ia berusaha sungguh-sungguh. Tetapi hatinya tidak menggantungkan diri pada usahanya. Ia berkata, 'Aku berusaha. Tetapi Allah-lah yang menjadikan usahaku.'"

Salik merenung. "Aku sering merasa bangga ketika berhasil. Dan merasa hina ketika gagal."

"Itu tanda engkau masih melihat dirimu sebagai pelaku. Ketahuilah, bahwa keberhasilanmu bukan milikmu. Dan kegagalanmu bukan aibmu."

"Keduanya adalah ketentuan Allah yang datang melalui sebab-sebab. Bila engkau berhasil. Jangan engkau merasa memiliki. Bila engkau gagal. Jangan engkau merasa kehilangan. Engkau hanya hamba yang menjalankan peran. Adapun yang mengatur panggung adalah Allah."

"Bagaimana aku bisa membedakan tajalli ini dari sekadar pengetahuan, Guru? Sebab aku sudah tahu bahwa Allah Maha Kuasa. Tetapi aku belum merasa melihatnya."

Mursyid tersenyum. "Pengetahuan itu seperti peta. Tajalli itu seperti engkau benar-benar berjalan di jalan itu. Engkau bisa mengetahui bahwa madu itu manis, tetapi engkau belum merasakannya sampai engkau mencelupkan jari dan menjilatnya.

Tajalli al-af‘āl itu bukan engkau mengetahui bahwa Allah adalah Pelaku. Tetapi engkau menyaksikan bahwa tidak ada pelaku selain-Nya. Engkau melihat tangan yang memberi. Tetapi hatimu melihat Allah yang memberi melalui tangan itu. Engkau melihat orang yang menyakitimu. Tetapi hatimu melihat Allah yang mengizinkan sakit itu untuk membersihkanmu."

"Apakah tajalli ini berbahaya, Guru?"

Mursyid menatapnya tajam. "Setiap pintu yang dibuka bisa menjadi berkah. Bisa menjadi bencana. Orang yang sampai pada tajalli al-af‘āl bisa tergelincir ke dalam dua jurang.

Pertama, ia bisa menyangka bahwa dirinya adalah Allah. Lalu berkata dengan kata-kata yang melampaui batas. Itu bukan tajalli, itu istidraj.

Kedua, ia bisa menyangka bahwa karena semua dari Allah. Maka ia tidak perlu berbuat apa-apa. Itu bukan tajalli. Itu kemalasan yang dibungkus dengan nama yang indah."

"Lalu bagaimana adab yang benar, Guru?"

"Adabnya ada tiga. Pertama, jagalah syariat. Semakin tinggi engkau naik. Semakin ketat engkau menjaga perintah dan larangan. Sebab orang yang telah melihat keesaan tidak boleh meninggalkan kewajiban.

Kedua, jagalah kerendahan hati. Semakin banyak engkau melihat. Semakin sedikit engkau berbicara tentang apa yang engkau lihat. Orang yang banyak bicara tentang tajalli biasanya belum sampai.

Ketiga, jagalah rasa takut dan harap. Jangan engkau merasa aman dari Allah. Dan jangan engkau berputus asa dari rahmat-Nya."

Salik menunduk. "Guru, kadang aku merasa bahwa diriku dan Allah itu tidak terpisah. Apakah itu tajalli?"

Mursyid mengangkat tangannya. "Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi pintu kesesatan. Engkau dan Allah tidak terpisah dalam penglihatan. Tetapi engkau dan Allah tetap berbeda dalam wujud.

Engkau adalah hamba yang fana; Allah adalah Tuhan yang baqa. Yang engkau lihat adalah perbuatan-Nya. Bukan dzat-Nya.

Jangan engkau campur adukkan antara waḥdat al-af‘āl, keesaan perbuatan, dengan ḥulūl atau ittiḥād atau bersatu dengan Allah. Yang pertama adalah cahaya. Yang kedua adalah kegelapan."

"Bagaimana tanda bahwa aku telah benar-benar sampai pada tajalli al-af‘āl, Guru?"

"Tandanya ada empat. Pertama, engkau tidak lagi membanggakan amalmu, sebab engkau tahu amal itu karunia.

Kedua, engkau tidak lagi membenci orang yang berbuat buruk kepadamu. Sebab engkau melihat bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah. Meskipun engkau tetap menolak keburukan.

Ketiga, engkau tidak lagi gelisah ketika sebab-sebab gagal. Sebab engkau yakin bahwa Allah tidak gagal.

Keempat, engkau semakin tekun beribadah. Bukan semakin malas. Sebab engkau tahu bahwa engkau adalah alat. Dan alat yang baik harus siap digunakan oleh tuannya."

Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, aku ingin melihat, tetapi aku takut tersesat."

Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut tersesat lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman.

Teruslah berjalan dengan adab. Engkau telah membuka pintu pertama tajalli. Masih ada pintu-pintu lain. Tajalli dalam nama-nama dan sifat-sifat, dan tajalli dalam dzat. Tetapi yang terakhir itu bukan urusan kita untuk membicarakannya panjang-panjang.

Cukuplah engkau tahu bahwa setiap pintu menuntut adab yang lebih tinggi."

Mursyid bangkit, lalu menunjuk pada lampu minyak yang menyala. "Lihatlah lampu itu. Ia menyala karena minyak, sumbu, dan api. Engkau bisa melihat minyak, sumbu, dan api. Tetapi cahayanya bukan milik minyak, bukan milik sumbu, bukan milik api. Cahaya itu adalah karunia.

Begitu pula perbuatanmu. Engkau melihat tanganmu, usahamu, waktumu, tetapi cahaya perbuatan itu adalah karunia Allah.

Bila engkau melihat cahaya itu, jangan engkau mengaku sebagai pemiliknya. Akulah lampu, dan Allah-lah cahayanya."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, Engkaulah Pelaku. Dan aku hanyalah alat. Tampakkanlah padaku keesaan-Mu dalam segala perbuatan. Tetapi jangan Engkau biarkan aku melampaui batas. Jadikanlah penglihatanku sebagai cahaya. Dan adabku sebagai penjaganya."

Dan malam itu, ribat seakan dipenuhi cahaya yang tidak berasal dari lampu minyak.

Salik tidak melihat sesuatu yang baru di luar dirinya. Tetapi ia melihat dengan cara yang baru. Ia melihat tangannya, dan ia melihat Allah yang menggerakkannya.

Ia melihat dunianya. Dan ia melihat Allah yang mengaturnya. Ia tidak keluar dari dunia, tetapi dunia telah berubah wajah di matanya.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial Mutiata Tajalliy-2 berikutnya

Serial Tasawuf-30, Tajalliy-1: "Tajalliy al-Af'al"

Bismillāhirraḥmānirraḥīm Malam itu ribat terasa berbeda. Angin yang biasanya berbisik kini seakan menahan napas. Lampu minyak di serambi men...