Rabu, 28 Oktober 2026
Serial Tasawuf-35 Al-Hikam: Hikmah Kedua, "Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"
Malam berikutnya, para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Udara Iskandariyah masih membawa aroma garam dari laut. Lampu minyak di sudut ruangan kembali berkedip-kedip. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari duduk di tempatnya. Memandang murid-muridnya satu per satu.
Zaid mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak lama."
"Silakan, anakku."
"Aku memiliki seorang teman. Ia sangat rajin beribadah. Ia meninggalkan pekerjaannya. Ia menjauhi keramaian. Ia duduk di masjid dari pagi hingga malam. Aku iri kepadanya. Aku ingin seperti dia. Bebas dari urusan dunia. Hanya beribadah kepada Allah. Tetapi aku tidak bisa. Karena aku harus bekerja menghidupi keluargaku. Apakah aku salah?"
Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah, anakku. Ada dua hal yang harus engkau pahami."
"Kehendakmu untuk tajrid (menyepi dan fokus beribadah), padahal Allah masih menempatkanmu dalam asbab (keharusan berusaha), itu termasuk syahwat yang samar. Dan kehendakmu untuk asbab, padahal Allah telah menempatkanmu dalam tajrid. Itu adalah kemerosotan dari derajat yang tinggi."
Zaid terdiam. "Apakah maksudnya keinginanku untuk menyepi itu salah, Wahai Mursyid?"
"Bukan salah, anakku. Tetapi bisa jadi ia adalah syahwat yang tersembunyi. Nafsu yang menyamar sebagai kesalehan."
Dalil Pertama: Bertebaranlah Setelah Beribadah
Ibnu Atha'illah membuka mushafnya. "Allah berfirman:
'Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.' (QS. Al-Jumu'ah: 10)
"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Allah tidak berkata 'duduklah di masjid setelah shalat'. Ia berkata 'bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia-Ku'. Mencari rezeki bukanlah lawan dari ibadah. Ia adalah bagian dari ibadah itu sendiri, jika diniatkan untuk Allah."
"Bahkan Allah menyebutkan dalam firman-Nya:
'Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah...' (QS. Al-Muzzammil: 20)
Allah menyebut mereka yang berjalan mencari rezeki dalam ayat yang sama dengan mereka yang shalat dan berdzikir. Keduanya adalah hamba-Nya."
Dalil Kedua: Jangan Lupakan Bagianmu dari Dunia
Seorang salik bernama Fatimah bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana jika seseorang memilih bekerja. Tetapi ia merasa berdosa karena tidak bisa beribadah sepanjang hari?"
Ibnu Atha'illah menjawab, "Dengarkanlah firman Allah:
'Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, Janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.' (QS. Al-Qashash: 77)
"Allah memerintahkan kita mencari akhirat. Tetapi juga melarang kita melupakan bagian kita dari dunia. Ini adalah keseimbangan. Orang yang meninggalkan dunia sepenuhnya. Padahal ia memiliki tanggung jawab. Bukanlah orang yang bertakwa. Ia adalah orang yang melampaui batas."
Dan Allah juga berfirman:
'Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.' (QS. Al-Mulk: 15)
Dalil Ketiga: Ikatlah Untamu
Umar, seorang salik yang lain, mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, bukankah tawakal berarti kita menyerahkan segalanya kepada Allah?"
Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW kepada seorang lelaki yang bertanya tentang untanya: 'Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.' (HR. Tirmidzi)"
"Perhatikanlah, anakku. Nabi SAW tidak berkata 'lepaskan untamu dan bertawakallah'. Beliau berkata 'ikatlah untamu'. Berusahalah. Lalu bertawakallah'. Serahkan hasilnya kepada Allah. Inilah asbab yang sejati. Berusaha dengan tangan. Berserah dengan hati."
Dalil Keempat: Nabi Daud Makan dari Kerja Tangannya
Ibnu Atha'illah melanjutkan, "Ketahuilah bahwa Nabi Daud AS. Seorang nabi yang mulia. Adalah seorang pembuat baju besi. Beliau bekerja dengan tangannya sendiri."
Nabi SAW bersabda:
'Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang daripada yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil kerja tangannya.' (HR. Bukhari)
"Jika seorang nabi saja bekerja, mengapa engkau merasa bahwa bekerja itu menghalangi ibadahmu? Bahkan Nabi SAW bersabda:
'Sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang mukmin dan berkarya.' (HR. Thabrani)
Dan beliau juga bersabda:
'Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta).' (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalil Kelima: Setiap yang Berhak Punya Haknya
Ibnu Atha'illah kemudian menceritakan kisah Salman al-Farisi dan Abu Darda'. Suatu ketika, Abu Darda' menghabiskan seluruh malam untuk shalat dan seluruh siang untuk puasa. Sehingga ia mengabaikan keluarganya. Salman menegurnya. Lalu keduanya mengadu kepada Nabi SAW.
Nabi SAW bersabda:
'Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak atasmu, bagi dirimu ada hak atasmu, bagi keluargamu ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak akan haknya.' (HR. Bukhari)
"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Bahkan beribadah pun bisa menjadi salah jika engkau mengabaikan hak yang lain. Engkau tidak dipanggil untuk menjadi malaikat. Engkau dipanggil untuk menjadi manusia yang beribadah di tengah kehidupan. "
Ciri Orang yang Mengenal Maqamnya
Zaid bertanya lagi, "Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa kami telah mengenal maqam kami sendiri?"
Ibnu Atha'illah menjawab, "Ciri orang yang mengenal maqamnya adalah hidup dengan tenang. Tidak iri kepada orang lain. Menjalani tugasnya dengan lapang. Ia tidak berkata: 'Mengapa aku harus bekerja sementara si Fulan bisa beribadah sepanjang hari?' Karena ia tahu bahwa ukuran pakaiannya berbeda."
"Jika engkau dipanggil untuk bekerja, bekerjalah dengan sepenuh hati. Karena itu adalah ibadahmu. Jika engkau dipanggil untuk menyepi, menyepilah dengan tenang. Yang penting bukan maqam apa yang engkau jalani. Melainkan apakah engkau menjalaninya dengan ridha dan istiqamah. "
Jangan Iri
Malam semakin larut. Ibnu Atha'illah bangkit dan berkata, "Anak-anakku, janganlah engkau iri kepada maqam orang lain. Jalanmu berbeda, karena Allah menciptakanmu dengan ukuran yang berbeda."
"Maka berdoalah: 'Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku. Berikan kekuatan kepadaku untuk tetap di situ, tanpa iri kepada orang lain.'"
Para salik mengaminkan. Zaid tersenyum. Ia bukan salah karena bekerja. Ia hanya salah karena iri. Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Hikmah Ketiga: Dinding Takdir yang Tak Terlampaui Tekad
Serial Tasawuf-35 Al-Hikam: Hikmah Kedua, "Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"
Malam berikutnya, para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Udara Iskandariyah masih membawa aroma garam dari laut. Lampu minyak di s...
-
( Secangkir Anggur Merah, Edisi-62 ) Leaderline : Pandapotan Nasution. Pensiunan PT Telkom. Menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi pad...
-
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama in...
