Sabtu, 31 Oktober 2026

Serial Tasawuf-38 Al-Hikam: Hikmah Kelima, "Ketika Mata Hati Buta"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Para salik duduk melingkar di beranda zawiyah, tetapi salah satu dari mereka, Zaid, tampak tidak tenang. Ia baru saja pulang dari perjalanan dagang yang melelahkan. Wajahnya menyimpan sesuatu yang mengganjal.

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat, “aku bekerja siang dan malam. Aku mengejar rezeki dengan sekuat tenaga. Tetapi aku merasa shalatku semakin tergesa-gesa. Dzikirku semakin jarang. Dan hatiku semakin jauh dari Allah. Apakah ini yang disebut kehilangan berkah?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandangnya dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu dalam melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti padamnya mata hatimu.”

Zaid terdiam. “Wahai Mursyid, apakah maksudnya bahwa aku telah buta hatinya?”

“Bukan buta mata kepalamu, Zaid,” jawab Ibnu Atha’illah. “Tetapi buta bashirah. Mata batin yang seharusnya melihat hakikat.”

Apa yang Dijamin dan Apa yang Dituntut

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, apa yang dimaksud dengan ‘yang dijamin’ dan ‘yang dituntut’?”

Ibnu Atha’illah menjawab, “Yang dijamin adalah rezeki. Allah telah menjaminnya untuk setiap makhluk yang bernyawa. Bahkan sebelum ia dilahirkan.”

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

“Dan yang dituntut darimu,” lanjutnya, “adalah ibadah, mengenal Allah, mencintai-Nya, dan menjalankan amanah sebagai hamba.”

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

“Perhatikanlah,” ujar Ibnu Atha’illah. “Allah menciptakanmu bukan untuk mencari rezeki. Rezeki sudah dijamin. Allah menciptakanmu untuk beribadah. Tetapi engkau membalik urusannya: Engkau bersungguh-sungguh mengejar yang sudah dijamin. Dan lalai dari yang dituntut darimu.”

Mata Hati yang Buta

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa mata hati kami telah buta?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan dua ayat. “Allah berfirman:

‘Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, di akhirat pun dia pasti buta dan lebih tersesat jalannya.’ (QS. Al-Isra: 72)

“Dan Allah juga berfirman:

‘Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat.’ (QS. Al-Baqarah: 7)

“Mata hati bukan untuk melihat dunia,” jelas Ibnu Atha’illah. “Mata hati adalah kemampuan hati untuk memahami kebenaran, membedakan yang hak dari yang batil, dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah.” “Jika engkau sibuk mengejar rezeki yang sudah dijamin, sementara engkau meninggalkan ibadah yang dituntut darimu, maka engkau sedang menunjukkan bahwa mata hatimu telah padam.”

Dalil dari Hadits

Ibnu Atha’illah kemudian membacakan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

“Burung-burung itu keluar mencari makan,” ujar Ibnu Atha’illah, “tetapi mereka tidak gelisah seperti engkau. Mereka berusaha, tetapi hati mereka tidak terikat pada hasil. Mereka tahu bahwa yang memberi rezeki adalah Allah.”

Dan Nabi SAW juga bersabda:

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutupi kemiskinanmu.” (HR. Ibnu Majah)

“Perhatikanlah, Zaid,” kata Ibnu Atha’illah. “Allah tidak berkata ‘luangkan seluruh waktumu untuk beribadah.’ Ia berkata ‘luangkanlah waktumu’ . Artinya, jadikan ibadah sebagai prioritas. Maka rezeki akan mengikuti.”

Penutup: Reorientasi Hidup

Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit dan memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau menukar yang kekal dengan yang fana. Janganlah engkau menguras seluruh tenagamu untuk sesuatu yang sudah dijamin. Sementara engkau meninggalkan sesuatu yang justru menjadi tujuan penciptaanmu.”

“Bashirah yang sehat adalah ketika engkau melihat dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Engkau bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Tetapi hatimu bergantung kepada Allah. Engkau mengejar rezeki dengan tangan. Tetapi jiwamu mengejar ridha-Nya.”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, jadikanlah rezeki yang telah Engkau jamin sebagai sarana untuk beribadah kepada-Mu. Bukan sebagai penghalang dari-Mu. Janganlah Engkau biarkan mata hatiku buta oleh kilau dunia.’”

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid menghela napas panjang. Ia kini mengerti. Ia bukan salah karena bekerja. Tetapi ia salah karena membalik prioritas. Dan malam itu, ia pulang dengan tekad baru. Bekerja dengan tangan. Tetapi beribadah dengan hati.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah keenam. "Jangan Berputus Asa dari Doa yang Tertunda"

Solidaritas Singapura Ditengah Asap: "Antara Empati Regional dan Teguran Yudisial" (Bag-1)

(Secangkir Anggur Merah, Edisi -70) Narasi Pemicu : Ketika kabut asap dari karhutla Indonesia kembali menyelimuti langit Singapura pada Okto...