Jumat, 30 Oktober 2026

Aksi Mahasiwa di Hari Sumpah Pemuda


Spotlight: Telah lama. Senja di republik ini kehilangan ronanya. Bukan lagi jingga hangat yang memoles wajah cantik Ibu Pertiwi. Melainkan kelam yang pekat. Laksana tinta muntahan pena. Yang telah kering di pelataran sejarah.

Di bawah langit yang murung itulah. Pada tanggal yang dikeramatkan dalam kalender bangsa. Dua puluh delapan Oktober. Sekelompok pemuda kembali menggelar lakon lama. Beraksi menyuarakan sedenting keadilan.

Sumpah Pemuda. Konon. Adalah mantra sakti yang pernah menyatukan serpihan tanah air di bawah satu kibaran bendera. Kini, mantra itu seakan hanya gaung sunyi. Di ruang kelas yang atapnya bocor.

Di hadapan gedung-gedung parlemen yang angkuh. Mereka berdiri. Bukan sebagai pahlawan yang menenteng bambu runcing. Melainkan sebagai pewaris kekecewaan yang menenteng spanduk-spanduk lusuh.

Narasi perjuangan yang dahulu ditulis dengan darah. Kini ditulis ulang dengan tinta printer yang mulai pudar.

Mereka, para mahasiswa itu. Adalah para penenun nasib. Yang mencoba merajut kembali kain kebangsaan yang telah lama compang-camping. Dimakan rayap korupsi dan keserakahan.

Lihatlah wajah-wajah mereka. Di bawah terik matahari yang tak lagi bersahabat. Keringat bercampur debu jalanan membentuk topeng tragedi.

Ada yang membawa megafon. Senjata ampuh untuk membelah kebisingan penguasa yang pura-pura tuli.

Ada yang membawa poster-poster bertuliskan kata "rakyat" yang sudah begitu sering diperkosa maknanya.

Mereka berseru. Suara mereka parau. Bukan karena kehabisan tenaga. Melainkan karena terlalu sering berteriak pada dinding-dinding tebal yang tak pernah bergema.

Di hari Sumpah Pemuda ini, mereka tidak sedang bersumpah untuk berbangsa satu, berbahasa satu dan bertanah air satu. Mereka sedang bersumpah untuk bertahan hidup di negeri yang katanya kaya ini.

Namun, alangkah ironisnya. Di hari yang seharusnya menjadi panggung bagi pemuda. Mereka justru dipandang sebagai parasit.

Kawat berduri yang melintang bukan lagi simbol penjajahan asing. Melainkan benteng pertahanan penguasa terhadap rakyatnya sendiri.

Gas air mata yang menyesakkan dada. Bukan lagi senjata melawan kolonialis. Melainkan hadiah bagi mereka yang berani bersuara lantang.

Sungguh, sejarah telah berputar dengan kejam. Para pemuda yang dahulu merebut kemerdekaan. Kini harus berjuang merebut kembali arti kemerdekaan itu sendiri dari tangan-tangan yang rakus kekuasaan.

Kritik pun mengalir deras. Bak air bah yang menerjang bendungan. Apa arti sumpah jika para pemimpin lebih fasih berbahasa asing untuk urusan utang daripada berbahasa ibu untuk mengurus rakyat?

Apa arti persatuan jika yang kaya makin berkuasa. Dan yang miskin makin terpinggirkan?

Di hari ini. Mahasiswa itu seperti pengembara yang tersesat di rumahnya sendiri. Mereka mengetuk pintu. Tapi tuan rumah pura-pura tidur.

Mereka berteriak. Tapi suara mereka ditelan kebisingan mobil mewah para pejabat.

Mereka menuntut keadilan. Tapi yang mereka dapat hanyalah janji-janji manis yang manis di awal. Pahit di akhir.

Sumpah Pemuda yang dahulu membara. Kini seolah menjadi bara yang telah menjadi abu. Abu yang tertiup angin. Tak lagi mampu membakar semangat.

Para mahasiswa itu adalah penjaga api yang malang. Mereka meniup abu itu. Berharap ada bara yang tersisa.

Namun, angin zaman berhembus kencang. Membawa serta keputusasaan.

Di hari ini. Mereka berjuang bukan untuk masa depan yang gemilang. Melainkan untuk sekadar mengingatkan bahwa masa lalu pernah gemilang. Dan masa kini sedang sakit parah.

Mereka pulang dengan langkah gontai. Tubuh lelah. Namun jiwa masih menyala.

Di hari Sumpah Pemuda ini. Mereka telah menuliskan sumpah baru dalam lembaran sejarah yang kelam.

Sumpah untuk terus mengkritisi. Terus melawan. Meski tahu bahwa dinding kekuasaan itu begitu tebal dan kebal.

Mereka adalah suara hati nurani yang nyaris tenggelam. Berteriak di tengah padang sahara yang kering. Berharap setetes air keadilan menetes.

Namun, di republik ini. Bahkan setetes air pun harus diperjuangkan dengan cucuran keringat, air mata, dan terkadang darah.

Selamat hari Sumpah Pemuda, bung..! Selamat berjuang..! Wahai para pemuda yang (masih) tersisa....

Solidaritas Singapura Ditengah Asap: "Antara Empati Regional dan Teguran Yudisial" (Bag-1)

(Secangkir Anggur Merah, Edisi -70) Narasi Pemicu : Ketika kabut asap dari karhutla Indonesia kembali menyelimuti langit Singapura pada Okto...