Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C., 23 September 2026, sore hari. Langit Washington berwarna kelabu bagai marmer yang belum dipoles.
Di luar, pengunjuk rasa masih berkumpul. Ada yang membawa bendera Palestina. Ada juga yang membawa bendera Indonesia. Trump tidak peduli. Ia duduk di balik Resolute Desk. Dua layar TV menyala tanpa suara. Satu menayangkan CNN. Satu lagi Fox News. Keduanya menampilkan wajahnya.
Di meja ada tiga benda. Satu gelas Diet Coke. Satu telepon seluler. Dan satu lembar dokumen yang tercetak tebal: "Agreement on Reciprocal Trade: U.S.–Indonesia." Di hadapannya duduk pewawancara seorang Jurnalis Indonesia Ki Gempur Mudharat (KGM).
Trump: (Menatap KGM dengan tajam). You, Jurnalis Indonesia, yang dulu pernah wawancara dengan Aku?
KGM: Betul, Sir. Ini adalah wawancara kedua dengan Anda. And thanks a lot, Mr. Presiden, yang telah berkenan menerima wawancara ini.
Trump: Dengar! Aku melakukan ini karena tertarik. Karena kau bilang akan menulis tentang Indonesia. Aku suka itu. Bukan tentang Iran, Israel atau Eropa yang membosankan itu. Lihat ini! (menunjuk dokumen di meja). Ini yang penting. Ini yang orang tidak mengerti.
KGM: Baik. Jadi mari kita bicara tentang Indonesia.
Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Aku akan ceritakan sesuatu. Ketika mereka pertama kali datang ke sini. Delegasi mereka, orang-orangnya Prabowo. Aku bilang, "Berapa jumlah penduduk kalian?" Mereka bilang, "Dua ratus delapan puluh juta." (berhenti, mata membelalak). Aku bilang, "Berapa?" "Dua ratus delapan puluh juta, Tuan Presiden. (menggeleng) Dua ratus delapan puluh juta orang. Itu...itu gila. Itu lebih banyak dari...(menghitung dengan jari)...lebih banyak dari akumulasi jumlah penduduk Jerman, Prancis, Inggris.
KGM: Ya, kami negara terpadat keempat di dunia, sir.
Trump: Keempat. Setelah India, China, dan...(berhenti)...Oh, ya, Amerika nomor tiga. (tersenyum tipis) Tapi dengarkan! Ketika kau bicara tentang pasar. Angka 280 juta itu bukan sekadar angka. Itu market. Itu pelanggan. Itu pembeli. Itu orang-orang yang butuh mobil, pesawat, ponsel, energi, kedelai, gandum. (mengetuk meja) Itu uang. Uang yang sangat besar.
KGM: Ya, saya faham itu. Tapi pada bulan Februari lalu, Anda menandatangani perjanjian dagang dengan Presiden Prabowo. Tarif 19 persen. Turun dari 32 persen. Apa yang membuat Anda menurunkan angka itu?
Trump: (condong ke depan): Aku menurunkannya karena Indonesia membayar. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan uang. (mengangkat tiga jari) Tiga puluh tiga miliar dolar. Itu angka yang mereka komitmenkan. Lima belas miliar untuk energi. Tiga belas setengah miliar untuk pesawat Boeing, sebanyak lima puluh unit, mostly 777. Empat setengah miliar untuk produk pertanian. Dan mereka menghapus tarif untuk 99 persen produk Amerika yang masuk ke Indonesia.
KGM: Jadi ini murni transaksional?
Trump: (tertawa) "Transaksional." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Aku dengar kata itu setiap hari. "Trump terlalu transaksional." (berhenti) Tahukah kau apa artinya itu? Artinya mereka tidak suka aku menghitung. Mereka suka orang yang memberi uang tanpa menghitung. Nah, aku tegaskan sekarang bahwa aku menghitung. Aku selalu menghitung.
KGM: Tapi diskon 19 persen masih lebih tinggi dari Vietnam, yang dapat 20 persen.
Trump: Vietnam dapat 20. Filipina dapat 20. Malaysia 25. Thailand 36. Bangladesh 35. Indonesia dapat 19. Terendah di kawasan. Kau tahu kenapa?
KGM: Kenapa?
Trump: Karena Prabowo. (diam, menatap langsung). Aku tidak suka banyak orang. Tapi aku menghormati dia. Dia tough guy. Kau tahu apa yang kukatakan di depan semua pemimpin dunia itu? Aku bilang, "I don't want to fight him". Itu bukan lelucon. (menunjuk ke arah jendela) Aku pernah berurusan dengan banyak orang. Banyak. Dan aku bisa bilang. Dia bukan orang yang bisa didikte. Dia tidak datang ke sini sebagai peminta. Dia datang sebagai mitra.
KGM: Ada yang mengatakan perjanjian ini mengandung klausul yang ditujukan untuk melemahkan pengaruh China. Indonesia sendiri menyangkal telah memihak.
Trump: (mengangkat tangan) China. Selalu China. (menggeleng) Dengar.!Aku tidak memaksa Indonesia memilih. Aku tidak bilang, "Jangan berteman dengan China." Yang Aku bilang: "Kalau kau mau berteman dengan Amerika, ini harganya. Ini manfaatnya." (berhenti) Indonesia sudah bergabung dengan BRICS. Tahun lalu. Kau tahu itu? Aku tahu. Tapi aku tetap menandatangani perjanjian itu.
KGM: Mengapa?
Trump: Karena mereka punya nikel. Dan mereka punya tanah jarang (LTD, Logam Tanah Jarang, memiliki unsur kimia dan bahan baku komponen teknologi.red.). Dan aku tidak peduli siapa teman mereka. Aku peduli mereka mengirim mineral itu ke sini. (mengetuk meja) Bukan ke Beijing. Bukan ke Moskow. Tapi ke Amerika.
KGM: Jadi maksud Anda, ini tentang rantai pasok?
Trump: Ini tentang semuanya. Mobil listrik, ponsel, jet tempur. Kau tahu jet F-35 butuh berapa banyak mineral langka? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan siapa yang menguasainya? (berhenti dramatis) Bukan kita. Belum. (tersenyum) Tapi sekarang...Sekarang kita punya Indonesia. Dan Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Dan mereka setuju bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Itu dia...Itu strategis.
KGM: Presiden Prabowo juga berkomitmen mengirim 8.000 tentara untuk pasukan stabilisasi Gaza. Anda secara pribadi berterima kasih kepadanya di PBB. Apa arti komitmen itu bagi Anda?
Trump: (mengangguk pelan) Itu besar. Sangat besar. (berhenti) Kau tahu berapa banyak negara Muslim yang aku telepon? Dua puluh. Dua puluh negara. Dan kau tahu berapa yang bilang "Ya" untuk pasukan? (mengangkat jari) Tujuh. Indonesia pertama. (menunjuk dokumen di meja) Bukan Saudi. Bukan Mesir. Bukan Uni Emirat Arab. Tapi Indonesia. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dan mereka berada di deputi komandan pasukan stabilisasi itu.
KGM: Banyak yang mengkritik bahwa Anda mengharapkan Indonesia membayar satu miliar dolar untuk keanggotaan Dewan Perdamaian.
Trump: (mata menyipit) Siapa bilang?
KGM: Presiden Prabowo sendiri. Beliau mengatakan Indonesia "tidak pernah berjanji" membayar satu miliar dolar itu.
Trump: (tertawa, tapi matanya tidak): Prabowo cerdas. Sangat cerdas. (diam) Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia datang ke sini. Dia tanda tangan. Dia berfoto. Dia pulang. Lalu dia bilang apa yang harus dia bilang kepada rakyatnya. (mengangkat tangan) Itu politik. Aku menghormati itu. Aku juga melakukan hal yang sama.
KGM: Beberapa analis menyebut Indonesia sebagai "Macan Asia". Jangkar stabilitas Indo-Pasifik. Anda setuju?
Trump: (mengangguk perlahan) Macan. (mengulang kata itu) Aku suka itu. (tersenyum) Kau tahu? Dulu orang tidak bicara tentang Indonesia. Tidak di meja-meja besar. Mereka bicara tentang China. Jepang. Korea. Mungkin India. Indonesia? (mengangkat bahu) "Di mana itu?" (berhenti) Lalu sekarang? Sekarang semua orang bicara tentang Indonesia. (menunjuk dirinya) Kau tau? Itu karena aku.
KGM: Jadi Anda mengambil keuntungan?
Trump: (tanpa ragu) Selalu. (tersenyum lebar) Tapi dengarkan. Tanpa Indonesia, kebijakan Amerika di Asia Tenggara pincang. Itu bukan pendapatku. Itu fakta. ASEAN? Enam ratus juta orang. Indonesia adalah seperempatnya. Posisinya di jalur pelayaran Malaka? (mengetuk meja) Vital. Siapa yang menguasai Malaka. Menguasai perdagangan. Kau tahu itu. Aku tahu itu. Dan sekarang. Sekarang Indonesia ada di tim kita.
KGM: Tim Anda?
Trump: (berhenti, memikirkan kata-katanya) Bukan tim. (menggeleng) Tapi Mitra. (diam) Tapi mitra yang membayar. Itu yang penting.
KGM: Satu pertanyaan Tuan Presiden. Jika Anda harus memberikan satu pesan kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang itu, apa yang akan Anda katakan?
(Trump menatap lama. Di luar, suara pengunjuk rasa mulai terdengar — samar, seperti ombak yang jauh.)
Trump: Aku akan bilang ini. (condong ke depan, suara lebih pelan) Kalian punya negara yang besar. Kalian punya sumber daya yang luar biasa. Kalian punya pemimpin yang...(berhenti)...yang aku hormati. (diam) Tapi kalian juga punya pilihan. Kalian bisa memilih untuk bersandar ke Amerika. Atau kalian bisa memilih yang lain. (mengangkat tangan) Aku tidak akan memaksa. Aku tidak pernah memaksa. (tersenyum tipis) Tapi aku akan bilang. Amerika adalah mitra terbaik yang bisa kalian punya. Dan aku...(menunjuk dirinya)...aku akan memastikan kalian tidak menyesal memilih kami.
KGM: Baik. Sekarang mari kita bicara tentang mineral. Perjanjian ART yang Anda tandatangani dengan Prabowo memberi perusahaan Amerika akses luas ke Nikel. Kobalt. Tembaga. Litium. Dan logam tanah jarang Indonesia. Kritikus kami menyebut ini sebagai "kolonialisme ekstraktif". Apa tanggapan Anda?
Trump: (menyandarkan punggung, tersenyum tipis): "Kolonialisme ekstraktif." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Kau tahu apa arti sebenarnya? Artinya mereka marah karena Amerika akhirnya masuk ke permainan yang sudah lama dikuasai orang lain. (mencondongkan tubuh) China sudah ada di sana selama lima belas tahun. Smelter di Sulawesi? Dibangun dengan uang Beijing. Dan tidak ada yang bilang "kolonialisme." Tapi begitu Amerika masuk, tiba-tiba semua orang jadi aktivis lingkungan. Bersama sejumlah tuduhan. (tertawa kering) Menarik, bukan?
KGM: Tapi mereka punya alasan. Klausul perjanjian menghapus kewajiban divestasi 51 persen. Perusahaan AS bisa memiliki 100 persen saham tambang di Indonesia. Itu melanggar Pasal 33 UUD 1945.
Trump: (mengangkat tangan) Pasal 33. (menggeleng) Dengar! Aku menghormati konstitusi kalian. Tapi konstitusi bukanlah tembok. Itu...itu pedoman. (berhenti) Dan pedoman bisa berubah. Kalau kalian mau investasi. Investasi nyata. Bukan janji kosong. Kau harus memberi insentif. Kau harus membuat orang mau datang. Dan aku bilang ke mereka: "Kalau kau mau uang kami, kau harus berhenti bermain-main dengan aturan divestasi yang tidak masuk akal itu." (mengangkat bahu) Mereka setuju. Itu namanya negosiasi.
KGM: Banyak yang melihat ini sebagai penyerahan kedaulatan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyebutnya "perampasan ruang hidup rakyat".
Trump: (matanya menyipit): Wahana...apa? (mengibaskan tangan) Dengar! Aku sudah dengar semua ini sebelumnya. "Kedaulatan." "Rakyat." "Lingkungan." (berhenti) Kau tahu siapa yang benar-benar diuntungkan dari perjanjian ini? Rakyat Indonesia. Kau tahu berapa banyak lapangan kerja yang akan tercipta? Berapa banyak smelter yang akan dibangun? (mengetuk meja) Freeport sudah membangun smelter tembaga senilai hampir 4 miliar dolar di Gresik. Itu nyata. Itu pekerjaan.
KGM: Tapi Freeport juga mendapat perpanjangan izin hingga "life of mine". Seumur tambang. Jaringan Advokasi Tambang menyebut ini "kolonialisme permanen".
Trump: (tertawa) "Permanen." (menggeleng) Kau tahu apa yang permanen? Kemiskinan. Itu yang permanen kalau kalian tidak membuka pintu. (condong ke depan) Dengarkan aku baik-baik. Papua punya emas. Punya tembaga. Selama lima puluh tahun, Freeport mengambilnya. Dan apa yang terjadi? (berhenti) Jalan? Sekolah? Rumah sakit? (menggeleng) Tidak. Tapi sekarang. Sekarang aku bilang ke mereka: "Kalian bisa tetap di sana. Tapi kalian harus membangun." Dan mereka setuju. (menunjuk) Itu bukan kolonialisme. Itu tanggung jawab.
KGM: Tapi Indonesia juga harus membiayai infrastruktur ekspor batu bara AS ke Asia Tenggara. Itu bagian dari perjanjian.
Trump: (mengangkat alis) Kau tahu apa itu? Itu timbal balik. (tersenyum tipis) Kalian dapat akses pasar. Kami dapat akses mineral. Dan kalian juga dapat...batu bara kami. (berhenti) Kau tahu berapa banyak listrik yang bisa dihasilkan? Berapa banyak pabrik yang bisa berjalan? (menunjuk) Itu bukan eksploitasi. Itu pembangunan.
(Ruangan sunyi sesaat. Trump meraih gelas Diet Coke-nya, meneguk, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi yang tajam.)
Trump: Kau tahu apa masalahnya dengan kalian, para jurnalis? (menatap langsung) Kalian selalu melihat hanya satu sisi. Kalian tidak pernah melihat gambaran besarnya. (berhenti) Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Punya kobalt. Punya bauksit. Dan selama ini, selama puluhan tahun, mineral itu mengalir ke China. Ke pabrik-pabrik mereka. Ke baterai-baterai mereka. Ke mobil-mobil listrik mereka. (mengetuk meja) Itu bukan kedaulatan. Itu penjajahan yang kalian tidak sadari.
KGM: Dan Amerika menawarkan alternatif?
Trump: (mengangguk) Kami menawarkan kemitraan. Bukan dominasi. (diam) Kami akan membangun smelter. Kami akan transfer teknologi. Kami akan membeli. Bukan mencuri. (berhenti) Dan kalau itu berarti aku harus menghapus beberapa aturan yang... (mencari kata) ...tidak efisien? (mengangkat bahu) Aku melakukannya. Itu namanya mempercepat. Bukan menjajah.
(Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Di luar, langit Washington mulai gelap.)
Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang tidak akan kuceritakan pada mereka? (diam) Aku butuh mineral itu. Jet tempur. Ponsel. Mobil listrik. Semua butuh nikel. Butuh tanah jarang. Dan aku tidak akan membiarkan China menguasainya. (menoleh, matanya tajam) Jadi kalau kau bertanya apakah ini tentang kedaulatan Indonesia. Jawabannya ya. Kedaulatan untuk memilih siapa yang mereka ingin bersandar. Dan mereka memilih kami. (tersenyum) Itu demokrasi, kan?
(Pintu Ruang Oval terbuka. Seorang ajudan muncul, membawa dokumen. Trump melambaikan tangan, tanda wawancara selesai. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berucap.)
Trump: Oh, dan satu hal lagi. Kalau kalian benar-benar peduli dengan lingkungan. Kalian harus mulai bertanya kenapa China tidak pernah dikritik. (tertawa kecil) Tulis itu..!
Trump: Dengar! Aku melakukan ini karena tertarik. Karena kau bilang akan menulis tentang Indonesia. Aku suka itu. Bukan tentang Iran, Israel atau Eropa yang membosankan itu. Lihat ini! (menunjuk dokumen di meja). Ini yang penting. Ini yang orang tidak mengerti.
KGM: Baik. Jadi mari kita bicara tentang Indonesia.
Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Aku akan ceritakan sesuatu. Ketika mereka pertama kali datang ke sini. Delegasi mereka, orang-orangnya Prabowo. Aku bilang, "Berapa jumlah penduduk kalian?" Mereka bilang, "Dua ratus delapan puluh juta." (berhenti, mata membelalak). Aku bilang, "Berapa?" "Dua ratus delapan puluh juta, Tuan Presiden. (menggeleng) Dua ratus delapan puluh juta orang. Itu...itu gila. Itu lebih banyak dari...(menghitung dengan jari)...lebih banyak dari akumulasi jumlah penduduk Jerman, Prancis, Inggris.
KGM: Ya, kami negara terpadat keempat di dunia, sir.
Trump: Keempat. Setelah India, China, dan...(berhenti)...Oh, ya, Amerika nomor tiga. (tersenyum tipis) Tapi dengarkan! Ketika kau bicara tentang pasar. Angka 280 juta itu bukan sekadar angka. Itu market. Itu pelanggan. Itu pembeli. Itu orang-orang yang butuh mobil, pesawat, ponsel, energi, kedelai, gandum. (mengetuk meja) Itu uang. Uang yang sangat besar.
KGM: Ya, saya faham itu. Tapi pada bulan Februari lalu, Anda menandatangani perjanjian dagang dengan Presiden Prabowo. Tarif 19 persen. Turun dari 32 persen. Apa yang membuat Anda menurunkan angka itu?
Trump: (condong ke depan): Aku menurunkannya karena Indonesia membayar. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan uang. (mengangkat tiga jari) Tiga puluh tiga miliar dolar. Itu angka yang mereka komitmenkan. Lima belas miliar untuk energi. Tiga belas setengah miliar untuk pesawat Boeing, sebanyak lima puluh unit, mostly 777. Empat setengah miliar untuk produk pertanian. Dan mereka menghapus tarif untuk 99 persen produk Amerika yang masuk ke Indonesia.
KGM: Jadi ini murni transaksional?
Trump: (tertawa) "Transaksional." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Aku dengar kata itu setiap hari. "Trump terlalu transaksional." (berhenti) Tahukah kau apa artinya itu? Artinya mereka tidak suka aku menghitung. Mereka suka orang yang memberi uang tanpa menghitung. Nah, aku tegaskan sekarang bahwa aku menghitung. Aku selalu menghitung.
KGM: Tapi diskon 19 persen masih lebih tinggi dari Vietnam, yang dapat 20 persen.
Trump: Vietnam dapat 20. Filipina dapat 20. Malaysia 25. Thailand 36. Bangladesh 35. Indonesia dapat 19. Terendah di kawasan. Kau tahu kenapa?
KGM: Kenapa?
Trump: Karena Prabowo. (diam, menatap langsung). Aku tidak suka banyak orang. Tapi aku menghormati dia. Dia tough guy. Kau tahu apa yang kukatakan di depan semua pemimpin dunia itu? Aku bilang, "I don't want to fight him". Itu bukan lelucon. (menunjuk ke arah jendela) Aku pernah berurusan dengan banyak orang. Banyak. Dan aku bisa bilang. Dia bukan orang yang bisa didikte. Dia tidak datang ke sini sebagai peminta. Dia datang sebagai mitra.
KGM: Ada yang mengatakan perjanjian ini mengandung klausul yang ditujukan untuk melemahkan pengaruh China. Indonesia sendiri menyangkal telah memihak.
Trump: (mengangkat tangan) China. Selalu China. (menggeleng) Dengar.!Aku tidak memaksa Indonesia memilih. Aku tidak bilang, "Jangan berteman dengan China." Yang Aku bilang: "Kalau kau mau berteman dengan Amerika, ini harganya. Ini manfaatnya." (berhenti) Indonesia sudah bergabung dengan BRICS. Tahun lalu. Kau tahu itu? Aku tahu. Tapi aku tetap menandatangani perjanjian itu.
KGM: Mengapa?
Trump: Karena mereka punya nikel. Dan mereka punya tanah jarang (LTD, Logam Tanah Jarang, memiliki unsur kimia dan bahan baku komponen teknologi.red.). Dan aku tidak peduli siapa teman mereka. Aku peduli mereka mengirim mineral itu ke sini. (mengetuk meja) Bukan ke Beijing. Bukan ke Moskow. Tapi ke Amerika.
KGM: Jadi maksud Anda, ini tentang rantai pasok?
Trump: Ini tentang semuanya. Mobil listrik, ponsel, jet tempur. Kau tahu jet F-35 butuh berapa banyak mineral langka? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan siapa yang menguasainya? (berhenti dramatis) Bukan kita. Belum. (tersenyum) Tapi sekarang...Sekarang kita punya Indonesia. Dan Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Dan mereka setuju bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Itu dia...Itu strategis.
KGM: Presiden Prabowo juga berkomitmen mengirim 8.000 tentara untuk pasukan stabilisasi Gaza. Anda secara pribadi berterima kasih kepadanya di PBB. Apa arti komitmen itu bagi Anda?
Trump: (mengangguk pelan) Itu besar. Sangat besar. (berhenti) Kau tahu berapa banyak negara Muslim yang aku telepon? Dua puluh. Dua puluh negara. Dan kau tahu berapa yang bilang "Ya" untuk pasukan? (mengangkat jari) Tujuh. Indonesia pertama. (menunjuk dokumen di meja) Bukan Saudi. Bukan Mesir. Bukan Uni Emirat Arab. Tapi Indonesia. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dan mereka berada di deputi komandan pasukan stabilisasi itu.
KGM: Banyak yang mengkritik bahwa Anda mengharapkan Indonesia membayar satu miliar dolar untuk keanggotaan Dewan Perdamaian.
Trump: (mata menyipit) Siapa bilang?
KGM: Presiden Prabowo sendiri. Beliau mengatakan Indonesia "tidak pernah berjanji" membayar satu miliar dolar itu.
Trump: (tertawa, tapi matanya tidak): Prabowo cerdas. Sangat cerdas. (diam) Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia datang ke sini. Dia tanda tangan. Dia berfoto. Dia pulang. Lalu dia bilang apa yang harus dia bilang kepada rakyatnya. (mengangkat tangan) Itu politik. Aku menghormati itu. Aku juga melakukan hal yang sama.
KGM: Beberapa analis menyebut Indonesia sebagai "Macan Asia". Jangkar stabilitas Indo-Pasifik. Anda setuju?
Trump: (mengangguk perlahan) Macan. (mengulang kata itu) Aku suka itu. (tersenyum) Kau tahu? Dulu orang tidak bicara tentang Indonesia. Tidak di meja-meja besar. Mereka bicara tentang China. Jepang. Korea. Mungkin India. Indonesia? (mengangkat bahu) "Di mana itu?" (berhenti) Lalu sekarang? Sekarang semua orang bicara tentang Indonesia. (menunjuk dirinya) Kau tau? Itu karena aku.
KGM: Jadi Anda mengambil keuntungan?
Trump: (tanpa ragu) Selalu. (tersenyum lebar) Tapi dengarkan. Tanpa Indonesia, kebijakan Amerika di Asia Tenggara pincang. Itu bukan pendapatku. Itu fakta. ASEAN? Enam ratus juta orang. Indonesia adalah seperempatnya. Posisinya di jalur pelayaran Malaka? (mengetuk meja) Vital. Siapa yang menguasai Malaka. Menguasai perdagangan. Kau tahu itu. Aku tahu itu. Dan sekarang. Sekarang Indonesia ada di tim kita.
KGM: Tim Anda?
Trump: (berhenti, memikirkan kata-katanya) Bukan tim. (menggeleng) Tapi Mitra. (diam) Tapi mitra yang membayar. Itu yang penting.
KGM: Satu pertanyaan Tuan Presiden. Jika Anda harus memberikan satu pesan kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang itu, apa yang akan Anda katakan?
(Trump menatap lama. Di luar, suara pengunjuk rasa mulai terdengar — samar, seperti ombak yang jauh.)
Trump: Aku akan bilang ini. (condong ke depan, suara lebih pelan) Kalian punya negara yang besar. Kalian punya sumber daya yang luar biasa. Kalian punya pemimpin yang...(berhenti)...yang aku hormati. (diam) Tapi kalian juga punya pilihan. Kalian bisa memilih untuk bersandar ke Amerika. Atau kalian bisa memilih yang lain. (mengangkat tangan) Aku tidak akan memaksa. Aku tidak pernah memaksa. (tersenyum tipis) Tapi aku akan bilang. Amerika adalah mitra terbaik yang bisa kalian punya. Dan aku...(menunjuk dirinya)...aku akan memastikan kalian tidak menyesal memilih kami.
KGM: Baik. Sekarang mari kita bicara tentang mineral. Perjanjian ART yang Anda tandatangani dengan Prabowo memberi perusahaan Amerika akses luas ke Nikel. Kobalt. Tembaga. Litium. Dan logam tanah jarang Indonesia. Kritikus kami menyebut ini sebagai "kolonialisme ekstraktif". Apa tanggapan Anda?
Trump: (menyandarkan punggung, tersenyum tipis): "Kolonialisme ekstraktif." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Kau tahu apa arti sebenarnya? Artinya mereka marah karena Amerika akhirnya masuk ke permainan yang sudah lama dikuasai orang lain. (mencondongkan tubuh) China sudah ada di sana selama lima belas tahun. Smelter di Sulawesi? Dibangun dengan uang Beijing. Dan tidak ada yang bilang "kolonialisme." Tapi begitu Amerika masuk, tiba-tiba semua orang jadi aktivis lingkungan. Bersama sejumlah tuduhan. (tertawa kering) Menarik, bukan?
KGM: Tapi mereka punya alasan. Klausul perjanjian menghapus kewajiban divestasi 51 persen. Perusahaan AS bisa memiliki 100 persen saham tambang di Indonesia. Itu melanggar Pasal 33 UUD 1945.
Trump: (mengangkat tangan) Pasal 33. (menggeleng) Dengar! Aku menghormati konstitusi kalian. Tapi konstitusi bukanlah tembok. Itu...itu pedoman. (berhenti) Dan pedoman bisa berubah. Kalau kalian mau investasi. Investasi nyata. Bukan janji kosong. Kau harus memberi insentif. Kau harus membuat orang mau datang. Dan aku bilang ke mereka: "Kalau kau mau uang kami, kau harus berhenti bermain-main dengan aturan divestasi yang tidak masuk akal itu." (mengangkat bahu) Mereka setuju. Itu namanya negosiasi.
KGM: Banyak yang melihat ini sebagai penyerahan kedaulatan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyebutnya "perampasan ruang hidup rakyat".
Trump: (matanya menyipit): Wahana...apa? (mengibaskan tangan) Dengar! Aku sudah dengar semua ini sebelumnya. "Kedaulatan." "Rakyat." "Lingkungan." (berhenti) Kau tahu siapa yang benar-benar diuntungkan dari perjanjian ini? Rakyat Indonesia. Kau tahu berapa banyak lapangan kerja yang akan tercipta? Berapa banyak smelter yang akan dibangun? (mengetuk meja) Freeport sudah membangun smelter tembaga senilai hampir 4 miliar dolar di Gresik. Itu nyata. Itu pekerjaan.
KGM: Tapi Freeport juga mendapat perpanjangan izin hingga "life of mine". Seumur tambang. Jaringan Advokasi Tambang menyebut ini "kolonialisme permanen".
Trump: (tertawa) "Permanen." (menggeleng) Kau tahu apa yang permanen? Kemiskinan. Itu yang permanen kalau kalian tidak membuka pintu. (condong ke depan) Dengarkan aku baik-baik. Papua punya emas. Punya tembaga. Selama lima puluh tahun, Freeport mengambilnya. Dan apa yang terjadi? (berhenti) Jalan? Sekolah? Rumah sakit? (menggeleng) Tidak. Tapi sekarang. Sekarang aku bilang ke mereka: "Kalian bisa tetap di sana. Tapi kalian harus membangun." Dan mereka setuju. (menunjuk) Itu bukan kolonialisme. Itu tanggung jawab.
KGM: Tapi Indonesia juga harus membiayai infrastruktur ekspor batu bara AS ke Asia Tenggara. Itu bagian dari perjanjian.
Trump: (mengangkat alis) Kau tahu apa itu? Itu timbal balik. (tersenyum tipis) Kalian dapat akses pasar. Kami dapat akses mineral. Dan kalian juga dapat...batu bara kami. (berhenti) Kau tahu berapa banyak listrik yang bisa dihasilkan? Berapa banyak pabrik yang bisa berjalan? (menunjuk) Itu bukan eksploitasi. Itu pembangunan.
(Ruangan sunyi sesaat. Trump meraih gelas Diet Coke-nya, meneguk, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi yang tajam.)
Trump: Kau tahu apa masalahnya dengan kalian, para jurnalis? (menatap langsung) Kalian selalu melihat hanya satu sisi. Kalian tidak pernah melihat gambaran besarnya. (berhenti) Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Punya kobalt. Punya bauksit. Dan selama ini, selama puluhan tahun, mineral itu mengalir ke China. Ke pabrik-pabrik mereka. Ke baterai-baterai mereka. Ke mobil-mobil listrik mereka. (mengetuk meja) Itu bukan kedaulatan. Itu penjajahan yang kalian tidak sadari.
KGM: Dan Amerika menawarkan alternatif?
Trump: (mengangguk) Kami menawarkan kemitraan. Bukan dominasi. (diam) Kami akan membangun smelter. Kami akan transfer teknologi. Kami akan membeli. Bukan mencuri. (berhenti) Dan kalau itu berarti aku harus menghapus beberapa aturan yang... (mencari kata) ...tidak efisien? (mengangkat bahu) Aku melakukannya. Itu namanya mempercepat. Bukan menjajah.
(Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Di luar, langit Washington mulai gelap.)
Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang tidak akan kuceritakan pada mereka? (diam) Aku butuh mineral itu. Jet tempur. Ponsel. Mobil listrik. Semua butuh nikel. Butuh tanah jarang. Dan aku tidak akan membiarkan China menguasainya. (menoleh, matanya tajam) Jadi kalau kau bertanya apakah ini tentang kedaulatan Indonesia. Jawabannya ya. Kedaulatan untuk memilih siapa yang mereka ingin bersandar. Dan mereka memilih kami. (tersenyum) Itu demokrasi, kan?
(Pintu Ruang Oval terbuka. Seorang ajudan muncul, membawa dokumen. Trump melambaikan tangan, tanda wawancara selesai. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berucap.)
Trump: Oh, dan satu hal lagi. Kalau kalian benar-benar peduli dengan lingkungan. Kalian harus mulai bertanya kenapa China tidak pernah dikritik. (tertawa kecil) Tulis itu..!
(Pintu menutup. Langit Washington tetap kelabu. Di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, sebuah smelter di Sulawesi menyala sepanjang malam. Dan tidak ada yang tahu apakah itu api pembangunan atau cahaya kolonial yang baru.)
(Ia mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, singkat, seperti seseorang yang telah berjabat tangan ribuan kali dan masih belum lelah.)
Trump: Sekarang pergilah. Aku ada telepon dengan...(melihat teleponnya) ...Ah, tidak penting. (melambaikan tangan) Tulis yang bagus. Dan pastikan kau tulis. Indonesia adalah teman Amerika. Sekarang lebih dari sebelumnya.
(Pintu ditutup.)
(Di luar, langit Washington tetap kelabu. Tetapi di suatu tempat. Dua belas ribu kilometer jauhnya. Di atas kepulauan yang tersebar seperti permata di antara dua samudra. Sebuah negara dengan 280 juta jiwa sedang menghitung. Menghitung apa yang telah mereka berikan. Menghitung apa yang akan mereka terima. Dan bertanya-tanya, dalam bahasa yang tidak diterjemahkan oleh siapa pun. Apakah ini kemitraan? Atau apakah ini harga yang harus dibayar untuk berdiri di bawah sayap elang?)
Trump: (dari balik pintu, suaranya masih terdengar) Hey..! Jangan lupa. Aku menaikkan tarif negaramu dari 32 jadi 19. Itu diskon. Diskon terbesar di Asia. Tulis itu..!
Trump: Sekarang pergilah. Aku ada telepon dengan...(melihat teleponnya) ...Ah, tidak penting. (melambaikan tangan) Tulis yang bagus. Dan pastikan kau tulis. Indonesia adalah teman Amerika. Sekarang lebih dari sebelumnya.
(Pintu ditutup.)
(Di luar, langit Washington tetap kelabu. Tetapi di suatu tempat. Dua belas ribu kilometer jauhnya. Di atas kepulauan yang tersebar seperti permata di antara dua samudra. Sebuah negara dengan 280 juta jiwa sedang menghitung. Menghitung apa yang telah mereka berikan. Menghitung apa yang akan mereka terima. Dan bertanya-tanya, dalam bahasa yang tidak diterjemahkan oleh siapa pun. Apakah ini kemitraan? Atau apakah ini harga yang harus dibayar untuk berdiri di bawah sayap elang?)
Trump: (dari balik pintu, suaranya masih terdengar) Hey..! Jangan lupa. Aku menaikkan tarif negaramu dari 32 jadi 19. Itu diskon. Diskon terbesar di Asia. Tulis itu..!
== SELESAI ==
