Latar: Sebuah kamar rumah sakit di lantai tujuh, pukul 03.17 dini hari. Lampu neon berkedip pelan. Mesin pemantau detak jantung berbunyi ritmis—bip… bip… bip...Seperti tetesan air di gua sunyi. Di ranjang terbaring Haji Fulan (79 tahun). Seorang mantan Anggota DPR. Dikenal sangat alim, bersahaja dan sangat jujur. Tubuhnya kurus oleh usia dan penyakit. Tetapi wajahnya bercahaya aneh. Seperti bulan yang akan purnama. Di kursi samping ranjang, duduk Malaikat Izrail. Dalam wujud yang tak bisa dijelaskan. Kadang seperti cahaya keemasan. Kadang seperti lelaki tua berjubah putih. Kadang seperti beraroma tanah basah setelah hujan. Ia datang bukan untuk mengambil. Ia datang untuk menjemput dengan penuh adab.
Izrail: (suaranya seperti bisikan angin di dedaunan, lembut namun menggetarkan tulang) Assalamu'alaikum, wahai hamba yang alim dan jujur.
Haji Fulan: (membuka mata perlahan, senyum tipis) Waalaikumussalam…Aku sudah menunggu. Sejak tadi malam, aku dengar langkahmu di koridor. Kau yang aku lihat dalam mimpi. Yang berdiri di ujung lorong bercahaya itu.
Izrail: Kau mengenalku?
Haji Fulan: Aku tidak mengenal wajahmu. Tapi aku mengenal kedatanganmu. Seperti mengenal musim kemarau dari bau tanah kering. Tubuhku sudah bilang. Ini waktunya pulang.
Izrail: (duduk di kursi, jubahnya tidak menyentuh lantai) Banyak yang menangis saat aku datang. Meronta. Minta ditunda. Menawar dengan amal. Tapi kau…Kau malah senang dan tersenyum.
Haji Fulan: Aku sudah 79 tahun menunggu tamu ini. Dulu aku takut. Sekarang… Aku hanya ingin bertemu dengan Yang Mengutusmu.
(Mesin jantung berbunyi lebih pelan. Perawat jaga di luar tidak mendengar apa-apa. Baginya, Haji Fulan sedang tidur nyenyak.)
Izrail: Ceritakan padaku. Apa yang kau bawa hari ini? Bekal apa yang kau siapkan untuk perjalanan ini?
Haji Fulan: (tertawa kecil, napasnya berat) Bekalku…tidak banyak. Tidak ada emas batangan. Tidak ada tanah. Hanya selembar sajadah usang yang aku pakai sejak berdinas dulu. Anakku membelikannya di pasar Tanah Abang. Ada lubang di ujungnya. Tempat aku menekan dahi terlalu lama.
Izrail: Itu bekal yang aneh. Manusia biasanya menyebut harta, jabatan, keturunan.
Haji Fulan: Harta? Aku pernah punya sawah dua hektar dan beberapa petak tanah. Aku jual semuanya untuk membangun masjid di kampung. Anakku bersedih. Aku bilang, "Nak, sawah dan tanah bisa dicari. Tapi amal yang mengalir, itu yang menuntunmu pulang." Jabatan? Aku hanya mantan anggota DPR. Tidak ada yang istimewa apalagi menulis namaku di koran. Keturunan? Aku punya tujuh anak dan dua belas cucu. Tiga sudah mendahuluiku. Empat masih hidup. Mereka semua aktif di DKM dan terkadang mengisi kajian di masjid setempat. Bagiku itu sudah cukup.
Izrail: (mengangguk, matanya menyala seperti kunang-kunang) Aku melihatnya. Di ruang tamu rumahmu, ada Al-Qur'an yang kau baca setiap subuh. Ada karpet yang kau duduki untuk mengajar mengaji cucumu dan anak-anak tetangga. Ada bekas air mata yang kau tumpahkan saat kau tahu kau tak bisa lagi bangun untuk shalat malam.
Haji Fulan: (matanya berkaca) Kau tahu itu? Aku pikir tidak ada yang melihat.
Izrail: Kami mencatat semuanya. Bukan hanya amal besar. Justru air mata penyesalan. Itulah yang paling berat di timbangan. Kau pernah menangis karena tidak bisa lagi membaca Al-Qur'an dengan lancar? Itu lebih berharga dari seribu khatam bagi orang yang hatinya kosong.
Haji Fulan: Aku takut, Izrail. Bukan takut mati. Tapi takut dosa-dosaku. Dulu aku pernah marah pada stafku. Aku pecat dia dan aku usir dari ruang kerjaku. Dia menangis. Aku sangat menyesal dengan tindakanku. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia memaafkanku.
Izrail: (mengambil tangan Haji Fulan, dingin namun menenangkan) Hamba itu, sudah wafat empat tahun lalu. Dan sebelum wafat, ia berdoa: "Ya Allah, ampunilah atasanku dulu yang pernah memecat dan mengusirku. Ia melakukannya karena kesalahanku."
Haji Fulan: (mengeluarkan napas panjang, seperti beban gunung terangkat) Alhamdulillah… Alhamdulillah…
(Detak jantung melemah. 40 denyut per menit. 30. 20.)
Izrail: Waktu kita hampir habis. Ada yang ingin kau sampaikan? Pesan? Permintaan?
Haji Fulan: (berbisik) Tolong… sampaikan pada anak-anakku. Jangan mereka menjual rumah ini untuk biaya pemakaman. Kuburkan aku di pemakaman di desa saja. Di bawah pohon sukun. Aku ingin dekat dengan tempat aku dulu peranh mengajar mengaji. Dan…tolong sampaikan pada murid-muridku, teruskan mengaji. Jangan putus. Karena aku akan menunggu mereka di sana.
Izrail: (berdiri, cahaya di sekitarnya semakin terang) Aku akan sampaikan. Tapi sebelum aku membawamu, ada satu hal lagi.
Haji Fulan: Apa?
Izrail: Kau tahu siapa yang mengutusku?
Haji Fulan: (tersenyum, air mata jatuh ke bantal) Allah… Rabbul 'Alamin.
Izrail: Dan kau tahu apa yang Dia firmankan tentang hamba-Nya yang sabar?
Haji Fulan: "Innallaha ma'ash shabirin…" Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Izrail: Bukan itu. Yang lain.
Haji Fulan: (matanya tiba-tiba terbuka lebar, seperti melihat sesuatu di balik langit-langit kamar) … "Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibaadii. Wadkhulii jannatii."
("Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.")
Izrail: (mengulurkan tangan, cahaya dari telapak tangannya menerangi seluruh ruangan) Itulah yang Dia ucapkan untukmu. Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai undangan.
Haji Fulan: (menutup mata, senyum terakhirnya seperti fajar pertama) Aku… siap.
(Mesin jantung berbunyi panjang—biiiiiiip. Pukul 03.33.)
(Perawat Nur masuk kamar. Ia memeriksa denyut nadi, lalu menatap wajah Haji Fulan. Ia heran. Wajah itu tidak seperti orang yang baru saja meninggal. Ada cahaya. Atau mungkin pantulan lampu? Ada ketenangan. Atau mungkin kebiasaan? Ia mencatat: "Pasien Haji Fulan bin Abdullah. Wafat pukul 03.33. Ekspresi: tersenyum.")
(Di luar jendela, adzan subuh belum berkumandang. Tapi di kamar itu, seakan-akan seluruh alam ikut mengucapkan: "Selamat pulang, hamba yang tenang.")
(Izrail telah pergi. Tapi ia meninggalkan satu bisikan yang hanya didengar oleh jiwa yang berangkat: "Kau bukan mati. Kau sedang dijemput. Dan penjemputan ini, adalah hadiah.")
(Di kejauhan, di rumah salah satu anaknya, seorang cucunya terbangun dari tidur. Ia menangis tanpa tahu kenapa. Ibunya bertanya, "Ada apa, Nak?")
(Cucu itu menjawab, "Aku mimpi… Kakek terbang. Tapi bukan pakai sayap. Pakai cahaya. Dan Kakek bilang: 'Jangan lupa mengaji, ya.'")
(Ibunya terdiam. Telepon berdering. Kabar itu datang dari rumah sakit.)
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
(Husnul khotimah. Akhir yang indah. Bukan karena tidak ada dosa. Tapi karena dosa-dosa itu telah tenggelam dalam lautan ampunan. Dan jiwa itu pergi dengan senyum. Sebagaimana ia dahulu menyambut tamu. Dengan salam. Dengan sabar. Dengan cinta.)
(TAMAT)
Wawancara Imajiner dengan "Sang Penjemput"
L atar: Sebuah kamar rumah sakit di lantai tujuh, pukul 03.17 dini hari. Lampu neon berkedip pelan. Mesin pemantau detak jantung berbunyi r...
-
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama in...
-
1. Apakah orang yang sedang sekarat dapat melihat malaikat? 2. Kapankah manusia dihimpit di alam kuburnya dan apakah semua manusia akan me...
