Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Membawa aroma sawit ke beranda zawiyah. Para salik duduk melingkar. Tetapi salah seorang dari mereka, Zaid, tampak gelisah. Beberapa pekan terakhir, amal ibadahnya berkurang. Bukan karena malas, tetapi karena ia sering sakit dan tidak sanggup bangun malam. Namun anehnya. Hatinya justru terasa lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya.
“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat, “aku malu. Amal ibadahku berkurang. Tetapi aku merasa Allah semakin dekat. Apakah ini bisikan syaitan yang menipuku?”
Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:
إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ
“Apabila Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk ma’rifat (mengenal-Nya). Maka janganlah engkau pedulikan amalmu yang sedikit. Karena Dia tidak membukakan pintu itu kepadamu melainkan karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu.
Amal adalah Hadiah, Ma’rifat adalah Anugerah
Seorang salik bernama Aishah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, apakah maksudnya amal tidak lagi penting?”
Ibnu Atha’illah tersenyum. “Bukan amal yang tidak penting, Aishah. Tetapi engkau harus membedakan antara hadiah dan anugerah.”
Ia melanjutkan dengan kalimat berikutnya dari hikmah ini:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ؟
“Tidakkah engkau tahu bahwa ma’rifat itu adalah pemberian yang Dia datangkan kepadamu. Sedangkan amal-amal itu adalah hadiah yang engkau haturkan kepada-Nya?
Maka di manakah kedudukan hadiah yang engkau berikan dibandingkan dengan anugerah yang Dia berikan kepadamu?”
“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “engkau menghaturkan amal kepada Allah. Tetapi Allah menghaturkan diri-Nya. Pengenalan akan diri-Nya kepadamu. Mana yang lebih berharga? Amalmu? atau perkenalan dengan Allah?”
Zaid terdiam. Ia mulai memahami.
Dalil Pertama: Allah Memperkenalkan Diri-Nya
Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:
‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS. An-Naml: 9)”
“Perhatikanlah, Zaid. Allah tidak berkata ‘Wahai Musa, perbanyaklah amal.’ Ia berkata ‘Aku adalah Allah’. Dia memperkenalkan diri-Nya. Itulah ma’rifat: Allah sendiri yang membuka pintu perkenalan. Bukan amal hamba yang memaksa pintu itu terbuka.”
Dan Allah juga berfirman:
‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’ (QS. Al-Ankabut: 69)
“Jihad di sini bukan hanya perang,” jelas Ibnu Atha’illah. “Ia adalah kesungguhan melawan hawa nafsu. Tetapi perhatikan. Allah-lah yang menunjukkan jalan. Amal hanyalah sarana. Perkenalan adalah anugerah.”
Dalil Kedua: Siapa yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya
Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa yang kami alami adalah ma’rifat. Bukan sekadar perasaan?”
Ibnu Atha’illah menjawab dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
“Ma’rifat bukanlah perasaan yang melayang tanpa dasar. Ia lahir dari kesadaran akan kelemahan diri. Bahwa engkau tidak berdaya. Bahwa amalmu tidak berarti apa-apa tanpa rahmat Allah. Ketika engkau melihat dirimu kecil. Engkau mulai melihat Allah besar. Itulah awal ma’rifat.”
Nabi SAW juga bersabda:
“Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)
“Perhatikanlah,” ujar Ibnu Atha’illah. “Engkau mengenal Allah melalui amal. Tetapi Allah-lah yang mengenalmu dan membuka pintu perkenalan. Amalmu hanyalah sebab. Perkenalan adalah buah.”
Dalil Ketiga: Jangan Diserahkan kepada Diri Sendiri
Ibnu Atha’illah kemudian mengajarkan doa yang selalu dibaca Nabi SAW:
“Wahai Dzat yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasai, Al-Hakim)
“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “jika engkau diserahkan kepada dirimu sendiri, amalmu tidak akan menyelamatkanmu. Jika engkau diserahkan kepada amalmu. Amalmu akan menjadi tirai antara engkau dan Allah. Tetapi jika Allah membuka pintu perkenalan. Meskipun amalmu sedikit. Engkau telah sampai kepada-Nya. ”
Penutup: Kembalikan Amal kepada Pemiliknya
Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit. Membetulkan selendangnya. Memandang para salik dengan penuh kasih.
“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau mengukur kedekatanmu dengan Allah dari banyaknya amal. Ukurlah dari seberapa dalam engkau mengenal-Nya. ”
“Amal adalah kendaraan. Ma’rifat adalah tujuan. Jangan sibuk memperbaiki kendaraan hingga engkau lupa bahwa engkau sedang menuju kepada Dzat yang memperkenalkan diri-Nya kepadamu. ”
“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada amalku sendiri. Bukakanlah pintu perkenalan-Mu. Karena Engkaulah yang mengenalkan diri-Mu. Dan aku hanyalah hamba yang rindu mengenal-Mu.’”
Zaid mengusap air matanya. Ia tidak perlu malu karena amalnya berkurang. Yang ia butuhkan bukan amal yang lebih banyak. Melainkan hati yang lebih mengenal Dzat yang ia sembah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah kesembilan, Rahasia di balik beragamnya amal.
Serial Tasawuf-41 Al-Hikam: Hikmah Kedelapan, "Ketika Allah Membuka Pintu Perkenalan"
Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Membawa aroma sawit ke beranda zawiyah. Para salik duduk melingkar. Tetapi salah seorang d...
-
( Secangkir Anggur Merah, Edisi-62 ) Leaderline : Pandapotan Nasution. Pensiunan PT Telkom. Menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi pad...
-
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama in...
