Sabtu, 13 Juni 2020

Tak Sudi Menerima Kegagalan

*) Secangkir Anggur Merah (edisi-3)

by: Nana Suryana

Kalau kita mau jujur dan masih dalam koridor waras alias sehat lahir batin, kita pasti tak sudi menerima kegagalan.

Mengapa? Karena kegagalan adalah sesuatu yang tidak mengenakan. Tidak nyaman. Bahkan mungkin akan terasa menyakitkan. Oleh karena itu dengan sekuat urat dan tenaga, kita pasti akan berupaya untuk mengusir kegagalan dari kehidupan kita.

Namun demikian, kegagalan rupanya sudah terlanjur akrab dalam setiap denyut nadi kita. Kegagalan telah menjadi bagian dari hidup kita. Tak ada manusia di jagat raya ini yang belum pernah mengalami kegagalan. Sebagai seorang pegawai, misalnya, tentu pernah merasakan adanya target yang tidak tercapai. Banyak sasaran yang melenceng dari target. Atau kegagalan menghadapi kehidupan lainnya, misalnya cinta kasih yang tak sampai ke pelaminan. Akhirnya yang namanya sukses menjadi harapan tinggal fatamorgana. Dalam istilah yang menyentil dikatakan juga sebagai "gigit jari."

Lantas mengapa kita harus mengalami kegagalan? Atau mengapa kita tak ramah dengan sukses, malah lebih suka bersua dengan wajah kekecewaan? Apakah kegagalan sebuah realitas hidup yang wajib dan mutlak keberadaannya. Lantas mengapa sebuah kegagalan harus disikapi dengan bijak?

Tapi, ah, rupanya kegagalan tak harus terjadi dalam semalam. Sukses pun tak lantas tercapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana namun cukup teruji kebenarannya. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil guna menggapai hasil yang besar. Dan sebuah kegagalan sebenarnya adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil. Hingga ia menumpuk sedemikian besar dan tak terelakan lagi.

Mari kita ambil sebuah contoh kasus gagal jantung. Sesungguhnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan memakan waktu puluhan tahun. Penyakit jantung mungkin telah tertimbun sejak mulai merokok, serta pola makan yang tidak sehat atau tidak seimbang. Bisa pula akibat kondisi stress dan malas berolahraga. Akibatnya sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit. Dampak lanjutannya cukup serius, terjadi kegagalan jantung. Kini yakin lah seperti yang dikatakan para dokter jantung bahwa kegagalan jantung itu sesungguhnya terjadi secara bertahap. Secuil demi secuil.

Demikian halnya tentang sebuah keberhasilan. Ia pun sesungguhnya berlangsung dengan modus yang sama. Sedikit demi sedikit ditumpuk secara intens sehingga kesuksesan itu lama kelamaan menjadi numpuk. Bahkan semakin besar dengan menghasilkan buah manis dan ranum.

Contoh yang agak teoritis demikian. Jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggris per hari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata. Tetapi berapa banyak kah orang yang sanggup melakukannya? Tentu tak banyak, termasuk para mahasiswa dan kaum sarjana serta tentu saja penulis sendiri. Sehingga kalau ada pertanyaan, berapakah lulusan perguruan tinggi yang mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tentu saja tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal membunuh kemalasan hingga tak sudi menghafal lima kata Inggris per hari. Persis seperti yang dialami penulis.

Ada beberapa rahasia kegagalan yang bisa menjadi bahan renungan kita. Diantaranya adalah gagal mengucapkan terima kasih. Gagal minta maaf. Gagal memberi perhatian pada seorang staff. Gagal meningkatkan kesejahteraan karyawan. Gagal megurus organisasi. Gagal bertekun saat bekerja. Gagal berolahraga setengah jam per hari. Gagal membawa mobil ke bengkel untuk service rutin. Gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan. Gagal menutup mulut dari ucapan tak bermutu. Gagal mendirikan sholat tepat waktu. Gagal berlaku jujur dengan vendor. Gagal melakukan transformasi, Gagal mendidik keluarga. Dan yang paling parah adalah gagal tersenyum alias cemberut seumur-umur.

Serta tentu saja masih ada ribuan kegagalan lainnya yang ujung-ujungnya bisa gagal ginjal dan gagal jantung sampai pada gagal bernafas sehingga gagal hidup lebih lama. Yang paling repot dan justru paling dikhawatirkan adalah gagal masuk surga. Alaaa Maaakkk...! (N425) ).

Jumat, 12 Juni 2020

Aku tak bisa memberimu segelas beras

Kisah Inspiratif

Suatu ketika mobil pengangkut beras tiba di sebuah toko. Oang-orangpun datang berebut untuk membelinya. Terjadilah antrian panjang di toko pedagang beras.

Tibalah giliran seorang wanita tua miskin. Dengan tangan gemetar ia menyodorkan gelas plastik yang dibawanya kepada si penjual beras.

Wanita tua itu berkata : "aku tidak mampu membeli berasmu, sudikah engkau bersedekah untukku dengan segelas beras saja.?"

Dengan suara keras, penjual beras itu berkata: "Tidak, aku tidak bisa memberimu segelas beras!!."

Tetapi kemudian penjual beras itu menyuruh pembantunya untuk membawa sekarung beras dan mengantarkannya ke rumah wanita tua itu. Wanita tua tersebut menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Air mata bahagia mengalir deras di pipi keriputnya.

Seorang pembeli yang tadinya antri di belakang wanita tua bertanya pada si penjual beras: "Pak, bukankah yang diminta wanita tua itu hanya segelas beras? Mengapa bapak memberinya sekarung beras?

Dengan lembut, penjual beras berkata ..
"Itu karena dia meminta sesuai dengan KEBUTUHANNYA, sedangkan aku memberi sesuai KEMAMPUANKU... aku melakukan itu karena begitu pula yang ALLAH lakukan kepadaku selama ini... Setiap kali aku MEMINTA kepadaNYA apa yang kuinginkan, Ia selalu MEMBERIKU berdasarkan KUASA-NYA.."*

"Dan pemberian-NYA bukan hanya sekedar cukup, melainkan SELALU LEBIH dari cukup... ALLAH memberi apa yang aku BUTUHKAN, LEBIH dari sekedar apa yang aku INGINKAN.."*

Bersyukurlah atas nikmat² yang Allah Shubhana Wa Ta'ala berikan karena siapa saja yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah Shubahanhu Wa Ta'ala, pasti akan Allah tambahkan nikmatnya.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Semoga kita termasuk kedalam orang2 yg pandai bersyukur...Aamiin Ya'robbal'aalamiin. ***//

Kamis, 11 Juni 2020

Memuji bersholawat kepada Rasulullah, Lidah dipotong

اللهم صل وسلم عدد من احب النبى والصديق على سيدنا محمد افضل من يدعو الى الحق صلاة وسلاما ننال بهما حسن الرفيق وامان الطريق والفرج من كل شدة وضيق وعلى اله وصحبه ومن بالنبى تعلق

Kisah ini terjadi di masa lalu. Seorang penyair hebat dan sangat terkenal, Syaikh Farazdaq, selalu asyik memuji Rosululloh ﷺ. 

Setiap beliau melaksanakan ibadah haji, beliau berziarah ke makam Rosululloh ﷺ dan membaca syair-syair pujian kepada Rasulullah Shallallahu Allaihi Wassalam. Ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qosidah atay syair-syair pujian yang dilantunkannya.

Setelah selesai membaca qosidah, orang itu menemui Syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya.

Beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwaroh sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Syaikh Farazdaq dan berkata : “Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad ﷺ, dan kubawa engkau ke sini untuk ku gunting lidahmu!.”

Maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata :
“Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad!ﷺ.”

Syaikh Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak boleh lagi membaca syair untuk Sayyidina Muhammad ﷺ.

Kemudian beliau datang ke makam Rosululloh ﷺ seraya berdoa :

“Ya Alloh ﷻ jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya, maka biarkan aku tidak lagi boleh berkata-kata seumur hidupku, karena aku tidak memerlukan lidah ini kecuali hanya untuk memujiMu dan memuji NabiMu. Namun jika Engkau dan NabiMu ridho, maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.”

Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rosululloh ﷺ yang berkata :
“Aku suka mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu.”

Lalu Rosululloh ﷺ mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada tempatnya semula.

Ketika Syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti sediakala, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rosululloh ﷺ

Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rosululloh ﷺ dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rosululloh ﷺ
Dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya.

Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu

Sesampainya di rumah anak muda itu, beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi lalu lidah beliau dipotong
Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada seekor kera yang sangat besar dan kelihatan sangat ganas, maka anak muda itu berkata :

“Engkau lihat kera besar yang ada di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dahulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Alloh mengubahnya menjadi seekor kera.”

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Alloh ﷻ :

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ ( الأعراف : ١٦٦)

“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina." (QS. al-A’raf ayat 166)

Kemudian anak muda itu berkata : “Jika ayahku tidak boleh sembuh, maka lebih baik Alloh matikan saja.”

Maka Syaikh Farazdaq berdoa : “Ya Alloh ﷻ aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya.”

Dan seketika itu pun Alloh ﷻ mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula

Dari kejadian ini jelaslah bahwa  Allah ﷻ sangat mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad ﷺ . .
Terlebih lagi  pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ itu disebabkan oleh rasa cinta yang sangat mendalam...

اللهم صل علی روح سيدنا محمد فی الأرواح وعلی جسده فی الأجساد وعلی قبره فی القبور وعلی اله وصحبه وسلم



Selasa, 09 Juni 2020

Mana itu spiritual marketing Indihome

*) Secangkir Anggur Merah (Edisi-1)By: Nana Suryana

Pendekatan spiritual tampaknya telah merambah ke setiap denyut sendi kehidupan. Aktivitas spiritual, dalam persepsi masyarakat biasanya diarahkan dalam konteks relijius atau keberagamaan atau untuk membangun komunikasi vertikal dengan Sang Khaliq, Allah Shubhanahu Wa Ta”ala, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun itu jaman kuda gigit besi. Dunia marketing kini sudah semakin maju bung! Kini dikenal istilah baru dengan nama spiritual marketing atau spiritual branding. Wah, istilah ini memang keren ya. Malah kini semakin populer dan diterapkan di lingkungan perusahaan. Misalnya, dalam upaya meningkatkan keterbukaan, kejujuran, kesantunan dan nilai-nilai moral baik lainnya.

Menurut suhu Marketing, Hermawan Kartadjaya, pendekatan spiritual dapat berguna dalam membangun brand. Diyakini tidak hanya sanggup mendongkrak profit, Namun lebih dari itu mampu menebarkan value yang menjamin kelanggengan merek. Bahkan sanggup membentuk diferensiasi yang tak tertandingi. Lalu dimana sesungguhnya efek luar biasanya?

Kisah Pilu Indihome

Apa yang terjadi dengan produk andalan Telkom saat ini, IndiHome? Produk ini, kini tengah berduka. Itu terjadi lantaran dihujani keluhan dari pengguna mereka di berbagai media sosial, terutama Twitter. Banyak pengguna yang mengeluhkan jaringan IndiHome yang sering bermasalah saat work from home (WFH) di tengah pandemic Covid-19.

Apalagi pemerintah telah menerapkan sistem belajar secara online dan bekerja dari rumah, sehingga mengharuskan pengguna memanfaatkan jaringan internet, khususnya Wifi, yang lebih sering dibanding biasanya.

Pada akun @HisyamMhp, misalnya, ia mencuitkan sudah tiga kali jaringan IndiHome terputus saat ia melakukan rapat online bersama rekan kerja. Ia mengatakan kalau sudah empat kali mengajukan komplain dan telah mengikuti instruksi yang diminta pihak IndiHome, tetapi tetap tidak ada perubahan.

Padahal di masa-masa saat ini, masa WFH, hampir segala urusan pekerjaan bergantung sama koneksi internet. Terus kalau koneksi sering macet seperti itu bagaimana? Apalagi saat anteng-antengnya meeting, eh sudah tiga kali koneksi terputus,

Lain lagi kisah pilu di beberapa Apartemen, seperti di Apartemen Kalibata City dan Apartemen Green Pramuka, para pengguna internet lebih memilih GIG Indosat ketimbang IndiHome. Pertimbangnnya, GIG Indosat jaringannya lebih stabil, pelayannya sangat baik dengan harga yang lebih bersahabat. Sementara IndiHome sebaliknya.

Sentuhan Compassion

Keluhan-keluhan pengguna Indihome yang ditumpahkan di media sosial, mestinya dapat segera diselesaikan secara baik. Pemilik merek, Telkom, mestinya tidak sekadar harus memberikan jaminan kepuasan atau hanya mengincar an-sich profitabilitas, melainkan juga harus lah memiliki compassion. Misalnya dengan menunjukkan rasa kasih sayang, rasa iba, dan rasa peduli dalam mengatasi keluhan-keluhan yang terjadi. Baik dari sisi pelayanan, harga dan pendekatan-pendekatan yang lebih menyentuh qolbu.

Menurut Hermawan bahwa pemasaran tidak hanya dalam pengertian the meaning of marketing, melainkan juga dalam pengertian marketing of the meaning. Yang berarti adanya tuntutan agar dunia pemasaran menunjukkan nilainya. Bahwasanya pemasaran tidak hanya produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan mesti pula menonjolkan manfaat spiritual.

Tentu saja bahwa maksud sang suhu, bahwa pendekatan untuk merespon setiap keluhan pengguna produk wajib dilakukan dengan berbasis pada nilai spiritual (jujur, terbuka, santun, dll). Dengan mendasarkan pada nilai-nilai (spiritual), dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang berbeda.
Contoh penerapan spiritual branding seperti yang diterapkan Grameen Bank, yang secara konsisten telah menanamkan nilai kemanusiaan kepada nasabahnya. Begitupun The Body Shop, melalui pemberdayaan para petani lemah sebagai pemasok. Serta Story TBS yang telah sukses mengkampanyekan untuk tidak melukai binatang. Ternyata semuanya telah berhasil mendapat tempat di hati masyarakat dan kastamernya dengan meraih nilai di atas rata-rata.

Lantas mengapa Indihome tidak memanfaatkan momentum Pandemi Covid-19? Padahal momentum ini sangat ideal dalam mengaplikasikan spiritual marketing. Misalnya, bisa bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Tim Penanggulan Covid-19.

Produk-produk yang bernilai spiritual, seperti yang mereka lakukan, terbukti memiliki reputasi tinggi dengan daya saing (diferensiasi) yang sulit tertandingi. Tidak seperti umumnya produk lain yang hanya didorong dan menawarkan added value (nilai lebih) saja. Tapi pendekatan spiritual, telah berhasil mengantarkan merk/produknya dari value menjadi values.

Dengan demikian jika proses kerjanya sudah menggunakan nilai spiritual, maka produk atau jasa yang dihasilkannya pun dengan sendirinya mengandung nilai spiritual. Inilah yang disebutnya sebagai spiritual marketing. Sama halnya dengan konsep VBM (Salah satu buku Hermawan K), bagaimana marketer menyampaikan value dengan values. Sehingga produk/jasa yang dihasilkannya memperlihatkan compassion, mengunggulkan hasrat, mengincar keberlanjutan, dan terlihat sangat berbeda dari produk lain.

Nah, kini bagaimana dengan branding dari berbagai produk Telkom, sudahkah bernuansakan atau membawakan nilai-nilai spiritual? Memang tak mudah untuk menciptakan sebuah brand yang bernilai spiritual. Diperlukan pemahaman dan pemilihan isu yang benar-benar sangat menyentuh nilai kemanusiaan. Diperlukan suatu rancangan atau sebuah Story yang mengacu pada value kemanusiaan kastamer kita.

Beberapa waktu lalu ada kegiatan marketing yang mendompleng pada kegiatan olahraga, seperti Speedy Tour d'Indonesia pada balap sepeda atau Garuda Speedy pada olahraga bola basket. Masih lumayan ada kegiatan seperti ini. Namun sekarang nyaris tak ada kegiatan serupa. Sepi.

Walau sebetulnya masih banyak bidang atau isu lain yang lebih menyentuh. Misalnya, dengan mengangkat isu mengenai polusi udara, narkoba dan aids, pramuka atau lewat seni budaya. Dan yang paling ideal saat ini adalah dengan memanfaatkan sikon Pandemik Covid-19. Bagaimana? Bisa diterima atau lebih memilih masabodoh ajah?....(N425).

Serial Tasawuf-22 al-Jailani: "Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Cermin Hati dari Debu Dunia"

Leaderline: Tahun 545 Hijriah. Usia Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menginjak senja. Jenggotnya memutih. Punggungnya mulai membungkuk. Te...