Jumat, 12 Februari 2021

Tasawuf Cinta Menurut Jalaluddin Rumi

Tasawuf merupakan salah satu khazanah keilmuan Islam yang menarik untuk dijadikan bahan kajian penelitian bagi seseorang yang ingin mempelajari Islam, karena tasawuf merupakan fenomena keagamaan (pengalaman dan penghayatan) yang mengiringi perkembangan Islam itu sendiri.

Tasawuf sering juga disebut sebagai sufisme dalam Islam. Tasawuf sendiri bukanlah gejala yang ghaib dan paranormal, seperti kemampuan membaca pikiran, telepati, ataupun pengangkatan ke tahap yang tertinggi. Memang banyak penganut sufisme sejati dari berbagai agama memiliki kemampuan tersebut, tetapi hal itu bukan unsur yang utama dalam tasawuf.
Pada dasarnya pengertian tasawuf tidak dapat dirumuskan secara detail, hal ini terjadi karena pengalaman sufistik tergantung pada masing-masing pengalaman tokoh sufi. Tasawuf sendiri pada intinya adalah sesuatu yang memfokuskan diri kepada Alloh.

Hal ini juga berkaitan dengan sebuah kecintaan. Cinta bisa dikatakan dengan perasaan yang menginginkan kedekatan diri dari adanya rasa kasih sayang yang kuat. Bisa disimpulkan tasawuf cinta adalah rasa sayang dan kedekatan dengan sang pencipta.

Unsur Islam

Para tokoh sufi sepakat jika Islam adalah sumber utama ajaran tasawuf. Ajaran ini bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadits. Di dalam al-Qur'an banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang ajaran tasawuf. Contoh tersebut bisa dilihat pada surat al-Maidah ayat 54 yang membahas tentang mahabbah. Sejalan dengan al-Qur'an, al-Hadits juga banyak membicarakan kehidupan rohaniyah.

Selain itu, bisa dilihat dalam kehidupan Rasulullah yang banyak menggambarkan sikap mahabbah kepada sang pencipta. Contoh ini diambil ketika Rasulullah sedang mengasingkan diri di Gua Hira' untuk mendekatkan diri kepada Alloh.

Unsur di Luar Islam

Menurut Ignas Goldziher ajaran tasawuf merupakan pengaruh dari luar unsur-unsur Islam. Goldziher mengatakan bahwa ajaran tasawuf merupakan ajaran dari berbagai agama dan kepercayaan.

Unsur agama dan kepercayaan di luar Islam antara lain unsur pengaruh dari agama Nasrani, Hindu-Budha, Yunani dan Persia.

Dalam agama dan kepercayaan lain juga mengajarkan tentang tasawuf sebagai pembersih diri dan pendekatan kepada sang pencipta. Selain agama Islam, agama ini juga memiliki teori sendiri tentang tasawuf.

Menurut Schimmel ajaran tasawuf memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

1. Persinggahan dan tingkatan.

Persinggahan atau tingkatan pertama diatas jalan atau lebih tepat mula pertamanya, ialah Taubat atau penyesalan. Taubat berarti berpaling dari dosa dan melepaskan urusan dunia yang salah. Taubat dapat dibangkitkan dalam jiwa oleh peristiwa lahiriyah apapun.

2. Cinta dan Peleburan

Cinta dan makrifat, kadang-kadang keduanya dianggap lebih utama dan ada kalanya makrifat dipandang lebih tinggi. Ghazali menekankan, cinta tanpa makrifat tidak mungkin karena orang dapat mencintai sesuatu yang dikenal. Para sufi telah mencoba menggambarkan berbagai segi makrifat, yaitu pengetahuan yang tidak dicapai melalui penalaran akal tetapi merupakan pemahaman yang lebih tinggi mengenai rahasia ketuhanan. Satu-satunya jalan untuk mendekati kekasih Ilahi adalah dengan senantiasa mensucikan diri.

Mengenai pernyataan Jalaludin Rumi, sedikit simak profil beliau.

Nama Rumi yang sebenarnya adalah Jalal Al-Din Muhammad, namun belakangan ia lebih dikenal sebagai Jalal Al-Din Rumi atau Rumi saja. Ia dilahirkan di Balkh pada 6 Rabi'ul Awal 604 Hijriyah atau bertepatan 30 September 1207. Orang-orang Arghan dan Persia lebih suka memanggilnya dengan sebutan Jalaluddin "Balkhi", karena keluarganya tinggal di Balkhi sebelum berhijrah ke arah Barat. Bahauddin Walad, ayah Jalaluddin tinggal dan bekerja sebagai hakim dan khitab dengan kecenderungan-kecenderungan yang mengarah kepada Tasawuf. Ayahnya adalah seorang pengarang kitab Ma'arif, sebuah ikhtisar panjang tentang ajaran-ajaran rohani yang sangat dikuasai Rumi. Kelak corak dan isinya tampak jelas mempengaruhi karya-karyanya.

Jalaludin sangat tekun dalam mempelajari ilmu al-quran, baik dalam membacanya maupun dalam menafsirkanya. Ia juga mempelajari fiqih dan hadits. Pengetahuannya yang sangat luas dalam kajian keislaman ditunjukkan dalam karya-karyanya yang mendalam.
Setelah kematian ayahnya, salah seorang mantan muridnya Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq dari Termez tiba di Konya. Dialah yang memperkenalkan Rumi muda dengan misteri kehidupan spiritual.

Sejak saat itu Rumi mencurahkan perhatian terhadap mistisme secara mendalam. Ia menjadi seorang penyuka puisi-puisi Arab karya Al-Mutanabbi. Ia sering mengutip bait bait Al-Mutanabbi dalam karya-karyanya. Setelah sekian lama mengikuti Burhanuddin, Rumi dikirim ke Aleppo dan Damaskus untuk melengkapi pengetahuannya dengan pelatihan spiritual formal. Di sana ia berguru pada ahli-ahli sufi yang lain. Tapi walaupun berguru pada ahli-ahli sufi yang lain, Rumi tetap berada di bawah pengawasan Burhanuddin hingga tahun 1240 M. Ketika Burhanuddin wafat di Keyseri, beberapa tahun setelah kematian gurunya, Rumi menjadi guru yang melayani murid dan pengikutnya.

Konsep Mahabbah menurut Jalaludin Rumi

Rumi menjelaskan bahwa cinta seperti keledai di dalam paya. Dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping. Begitulah kata Maulana dalam Masnawi yang dikutip oleh Schimmel.

"Bagaimana keadaan sang pencinta?" tanya seorang lelaki
Kujawab, "Jangan bertanya seperti itu, sobat;
Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu;
Ketika Dia memanggilmu, engkaupun akan memanggil-Nya."

Rumi menyebutkan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasar yang menyusup ke dalam setiap mahluk dan menghidupkan mereka. Cinta pulalah yang bertanggung-jawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yang berstatus rendah menuju level yang paling tinggi pada diri manusia. Menurut Rumi cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar demi cinta. Ia berkembang dalam tumbuhan dan gerakan dalam makhluk hidup. Cintalah yang menyatukan partikel-partikel benda. Cinta membuat tanaman tumbuh, juga meggerakkan dan mengembang-biakkan binatang.

Semasa hidupnya Jalaludin Rumi terkenal akan tarekatnya, yaitu tarekat Mawlawiyah. Mawlawiyah berasal dari kata 'Mawlana' sebuah gelar yang diberikan murid-muridnya sebagai sufi penyair Persia terbesar sepanjang masa. Tarekat ini didirikan Rumi sekitar 15 tahun terakhir hidupnya.

Tarekat ini memiliki makna jalan kecil, yaitu sebuah perjalanan spiritual menuju pada sang Pencipta.

William Chittik dalam bukunya The Sufi Doctrine of Rumi menjelaskan bahwa ciri utama tarekat ini adalah konsep spiritual, sama', yang dilembagakan Rumi pertama kali setelah hilang guru yang beliau cintai, Syamsuddin Tabriz.

Sejak saat itu Rumi sangatlah sensitif dengan hal-hal yang berbau musik, bahkan suara pukulan palu bisa membuat dia ingin melantunkan syair dan puisi.

Dalam tarekat ada penjelasan mengenai Sama' yang dilakukan dengan sebuah tarian berputar. Tarian ini telah menjadi ciri khas dalam tarekat Jalaludin Rumi. Dalam dunia Barat tarekat Jalaludin Rumi dikenal dengan The Whirling Darvish. Tarian ini dimainkan oleh para darwish (penganut sufi) dalam pertemuan sebagai dukungan eksternal terhadap upacara-upacara.
Meskipun tarekat ini tidak sebesar tarekat muktabaroh lainnya, tetapi tarekat ini masih berjalan sampai sekarang. Di Indonesia sendiri tarekat ini perkembangannya cukup pesat serta banyak peminatnya.

Karya-karya Jalaludin Rumi


Semasa hidupnya Jalaludin Rumi juga memiliki karya sebuah buku, tetapi buku tersebut tidak ditulis sebagaimana orang lain melakukannya. Jalaludin Rumi menyampaikan sebuah karya prosa ataupun puisi secara lisan yang kemudian dicatat oleh para pengikutnya. Kemudian hasil tersebut Rumi periksa kembali. Diantara karya-karyanya yaitu, Matsnawi, Fihi ma Fihi, Rubiyat, Majlis-I Sab'ah, Makatib dan Diwan.

Dengan demikian, telah diketahui bahwa tasawuf cinta adalah sesuatu yang berhubungan dengan pembersihan jiwa dan melakukan sebuah pendekatan yang mendalam dengan menuju keridhaan Alloh. Salah satu tokoh yang dikenal akan konsep tasawufnya yaitu Jalaludin Rumi. Jalaludin Rumi adalah tokoh sufi yang mendalami konsep tasawuf dengan banyak membuat syair dan lantunan puisi. Ia juga seorang yang memperkenalkan sebuah tarekat dengan nama Mawlawiyah, di dalam tarekat tersebut ia juga memperkenalkan sebuah tarian sufi. 

Selain itu, beliau juga memiliki banyak karya yang sampai sekarang masih banyak yang mempelajari. Keunikan dari karya beliau yaitu pada penulisannya, beliau melakukan metode pendektean yang di tulis muridnya dan kemudian tulisan tersebut beliau periksa kembali.

Di Indonesia sendiri konsep tasawuf Jalaludin Rumi memiliki perkembangan yang cukup pesat serta banyak peminatnya, selain itu banyak konsep beliau yang memiliki kekhasan tersendiri.
(Kompasiana//Fahma Waq)

Jumat, 08 Januari 2021

Gerakan Tasawuf Kebangsaan

Gerakan tasawuf tak hanya tentang ibadah. Di Nusantara, gerakan ini juga menginspirasi perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

"Jika kau melakukan ibadah dengan motivasi agar dilihat manusia, itu namanya syirik. Sebaliknya, jika kau meninggalkan sebuah ibadah juga karena manusia, maka itulah yang disebut riya,” ujar seorang sufi menasihati murid-muridnya.

Tidak ada yang paham apa yang dimaksud oleh guru itu. Para murid terdiam dan kebingungan.

“Mudahnya begini: kalau kau pergi ke Masjid untuk salat Jumat di awal waktu, dan berada di saf depan dengan motivasi agar nampak alim dan mendapat pahala berupa onta, itu namanya syirik. Sebab kau beribadah dengan motivasi selain Allah. Sebaliknya, jika kau sengaja mengakhirkan datang ke Masjid untuk salat Jumat agar berada di saf belakang dan supaya tidak tampak alim di mata manusia lain, maka itu namanya riya,” imbuh sang guru.

“Berarti kita tidak usah datang ke Masjid, Maulana?” tanya seorang murid.

Guru itu tersenyum. “Bukan itu maksudku. Kalian harus sadar bahwa menata niat untuk ibadah sangat sulit,” terangnya.

Demikian para sufi memberikan pelajaran. Mereka tidak main-main dengan kualitas ibadah kepada Allah. Mereka selalu menjaga hati agar tetap bersih dan suci sehingga tidak kehilangan koneksi dengan Allah.


Kaidah di atas merupakan aplikasi dari adagium yang dicetuskan oleh Abu Hasyim yang di kemudian hari membuat Sufyan Ats-Tsauri bergidik, dan menggelengkan kepala merasa seluruh amalnya habis dilahap satu kaidah itu.

Ia mengatakan bahwa “adaul amali laijlin naasi syirkun, wa tarkuhu liajlinnasi riyaun". Keduanya, terutama syirik, adalah dosanya dosa. Namun, kadang kita dengan mudah dan lumrah melakukannya tanpa disadari.

Ibnu Atholillah As-Sakandary, seorang sufi dari Alexandria penyusun kitab Syarah Hikam mengatakan, ketika seorang hamba merasa dirinya tidak sombong, maka saat itulah justru puncak kesombongan telah dilakukannya. Perasaan tidak sombong merupakan kesombongan itu sendiri.

Menurut Said Aqil Siroj, tasawuf adalah sebuah disiplin keilmuan sekaligus praktik spiritual yang dilengkapi dengan leksikon-leksikon teknis, termasuk wacana dan teori di dalamnya. Tasawuf utamanya menyasar dimensi relasi spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.

Pandapat Said Aqil Siroj itu jauh lebih komprehensif dan modern dibandingkan dengan beberapa definisi yang diungkapkan oleh ulama-ulama klasik, seperti Ma’ruf Al-Karkhi yang menyatakan “tasawuf adalah sebuah usaha untuk meraih hakikat dan meninggalkan segala hal yang berada di tangan Makhluk Allah”.

Atau seperti diungkapkan oleh Junaid Al-Baghdadi dalam Risalah Qusayriyyah Vol. 2 (1985) yang menyatakan “tasawuf adalah ibadah kepada Allah dan hanya karena Allah semata, bukan karena mengharap pahala atau menghindari siksa".

Sebagai sebuah disiplin keilmuan yang mapan dan mandiri, kemunculan tasawuf tergolong lambat, yakni baru dikenal sekitar abad kedua hijriah. Kendati demikian, bukan berarti sebelum itu tidak dikenal nilai-nilai ketasawufan. Banyak kajian dan hasil studi mendalam menyebutkan bahwa nilai-nilai dan praktik tasawuf sudah diajarkan sejak zaman Rasulullah.

Salah satu ulama yang berpendapat seperti itu adalah Abu Nashr As-Sarraj dalam Al-Luma. Argumentasi yang diajukan olehnya adalah pernyataan Hasal-Al-Bahsri sebagai bagian dari golongan generasi Sahabat yang berkata:

“Pada suatu hari aku melihat seseorang sedang tawaf. Aku mencoba memberikan sesuatu kepadanya, tapi ia menolak pemberianku."

Perkataan Hasan Al-Bashri tersebut dipandang sebagai indikasi yang sangat kuat bahwa pada zaman sahabat sudah ada seseorang yang disebut sebagai sufi.

Asal usul Tasawuf dan Perannya dalam Kehidupan Sosial

Ada beberapa pendapat tentang sejarah kemunculan istilah tasawuf. At-Thusi mengatakan istilah tasawuf dinisbatkan kepada komunitas sahabat dari golongan Muhajirin yang memiliki sifat khas seperti zuhud, itsar (mendahulukan orang lain dalam kepentingan sosial), suka menyepi, dan lain sebagainya. Komunitas itu disebut dengan komunitas ahlus suffah. Mereka menjalani hidup sehari-hari dengan manghabiskan waktu beriktikaf di sisi kiri serambi Masjid Madinah.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata ash-shuf yang memiliki arti "kain wol yang kasar". Pendapat ini disandarkan pada kenyataan bahwa orang-orang yang disebut dengan sufi selalu memakai pakaian berbahan kain wol kasar.

Ada pula yang mengatakan bahwa akar kata tasawuf berasal dari as-Shaff yang berarti barisan atau saf, seperti diungkapkan oleh Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiah (1998). Pendapat ini berdasarkan argumen filosofis bahwa kaum sufi adalah mereka yang berada di garda depan pejuang yang manjaga kemurnian hati untuk menjalankan segala perintah Allah.

Tasawuf belakangan sudah berkembang dan bahkan dilembagakan. Gerakan-gerakan perlawanan kepada penjajahan di Nusantara, misalnya, tercatat sering diinisiasi oleh penganut tasawuf yang mengorganisasi gerakannya melalui tarekat tempat mereka berserikat. Gerak langkahnya bukan hanya urusan ubudiyah, tapi juga urusan lain seperti gerakan sosial dan kemanusiaan.

(tirto.id/Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM).

Jumat, 18 Desember 2020

Benarkah Imam Asy-Syafi’i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Di kalangan para penganut Faham Salafi Wahabi, selalu ngoceh di mana-mana. Di radio, majalah, dan internet, bahwa menurut mereka, Imam As-Syafi’i mencela sufi dan tasawuf (Ilmu tasawuf). Benarkan Imam Syafi’i berbuat demikian? Atau itu cuma sekedar salah paham akibat belajar ilmu dari sumber yang salah? Atau mungkin bahkan hal itu sengaja dilontarkan untuk memfitnah sufi dan ilmu tasawuf? Wallohu a’lam.

Di sini akan disajikan fakta-fakta mengenai permasalahan ini. Semoga dengan FAKTA ini, tidak ada lagi yang salah faham mengenai maksud Imam As-Syafi’i yang tercatat dalam kitab Manaqib Al Imam as-Syafi’i karya Imam Baihaqi. Dari buku ini jelas-jelas terbukti bahwa beliau mencela itu ditujukan hanya kepada oknum sufi dan bukan sufi yang sesungguhnya. Justru Imam As-Syafi’i juga terbukti memuji kepada para sufi dan tasawuf. Begitlah fakta yang sebenarnya.

Memang di beberapa tempat, Imam As-Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi dan tasawuf. Dan yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al-Imam As-Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As-Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
Imam A- Syafi’i juga menyatakan: ”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas (istimewa).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian. Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada sufi dan tasawuf. Namun tidak benar-benar menjalankan ajaran ilmu tasawwuf tersebut.
Penjelasan Imam Al-Baihaqi Apa yang Dimaksud Imam As-Syafi’i Terkait Sufi dan Tasawuf

Dalam hal ini, Imam Al-Baihaqi menjelaskan, ”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya. Dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim. Ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka. Dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/208)

Jelas, dari penjelasan Imam Al-Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan (sufi gadungan). Yaitu mereka yang tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As-Syafi’i juga menyatakan: ”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut. ”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam A- Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As-Syafi’i pernah mengatakan, ”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun. Aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu”. (maksudnya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi. Maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas dalam bukunya tersebut, Imam Al-Baihaqi memahami bahwa Imam As-Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As-Syafi’i mengeluarkan pernyataan (yang bernada mencela) di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi. Namun Imam As-Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As-Syafi’i yang menyebutkan bahwa beliau mengambil dari para Sufi dua hal. Atau tiga hal dalam periwayatan yang lain. Sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum Sufi. ”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian Imam As-Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)
Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi dan Tasawuf

Bahkan di satu kesempatan, Imam As-Syafi’i memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan, ”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As-Syafi’i disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al-Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya sebatas sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As-Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.
Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As-Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan fakta sejarah biografinya, juga tidak sesuai dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As-Syafi’i.

Rujukan:
1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.
2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.
3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.

Source: ISLAM-Institute

Jumat, 06 November 2020

Perbedaan Wahabi, Syiah dan Sufi (Sunni)

Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. 

Agama ini termasuk agama Samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. 

Dengan sekitar dua milyar  orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.

Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. 

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Adapun terdapat Mazhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. 

Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah. Penulis disini hanya mengulas 3 Mazhab yaitu:

Sunni: Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni. Ahlussunah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.

Syi’ah: Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه)Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama, sebagaimana  juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi'ah. 

Bentuk tunggal dari Syi'ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait  dan Imam Ali. 

Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah. Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. 

Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Sufi: Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (Bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. 

Tasawuf (pelakunya disebut Sufi) pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syi'ah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Apapun Mazhab Islam yang kita percayai janganlah membawa arah pada permusuhan terhadap sesama Muslim lebih-lebih menimbulkan peperangan antara sesama kaum Muslimin. Islam tidak mengajarkan kita akan permusuhan akan tetapi Islam mengajarkan kepada kita bahwa Islam adalah Rahmatanlilallamin. 

Penulis hanya membantu bagi yang ingin mengetahui tentang Mazhab Islam yang didapatkan oleh penulis dari (http://id.wikipedia.org). Apapun aliran Islam kita tetap harus bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah,SWT. dan kita juga harus bersaksi bahwa Nabi Muhammad, SAW. adalah Rasulullah, "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah". (Oleh:Fachrul Reza Adung)

Perbedaan signifikan
Wahabi mencintai sahabat, namun membenci Ahli Bait. Syiah mencintai Ahli Bait, tetapi membenci sahabat. Sedangkan Sufi mencintai keduanya, Ahli Bait dan juga sahabat.

Perbedaan signifikan tiga kelompok di atas disebabkan perbedaan penafsiran atas teks (al-nash), baik Alquran maupun hadis.

Wahabi menafsirkan teks Alquran dan hadis melalui penafsiran kulit luar (al-tafsir al-dhahiriy). Syiah menafsirkan teks secara substantif (al-tafsir al-batiniy). Sufi menjelaskan bahwa substansi teks diperoleh melalui komunikasi manusia dengan Tuhan.

Tak dipungkiri, sikap ekstrim wahabi tidak muncul dengan sendirinya. Sikap ini berangkat dari pemahaman ayat-ayat siksa (al-‘azab), bentuk turunan (derivatif), dan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan siksa.

Sikap longgar kaum fundamentalis juga berawal dari pemahaman ayat-ayat yang menerangkan rahmat, dermawan, ampunan, taubat, dan sebagainya.

Kesalahan wahabi adalah memutlakkan pemahaman ayat-ayat tentang siksa. Kesalahan fundamentalis adalah memutlakkan ayat-ayat tentang rahmat, dermawan, ampunan, taubat, dan lain-lain.

Pemutlakan tersebut mustahil dilakukan dengan dua argumen.

Pertama, tidak mungkin selamanya menyematkan sifat Allah sebagai pembalas dendam (al-muntaqim), tanpa mengakui Dia sebagai Pemberi ampunan dan rahmat.

Kedua, tidak mungkin bicara ampunan dan rahmat, lalu melupakan sifat-Nya sebagai pembalas dendam dan pemaksa (al-Jabbar).

Penyematan satu sifat Allah dan melupakan sifat yang lain itu menandakan bahwa Allah memiliki sifat kurang, tidak sempurna. Mustahil Allah memiliki kekurangan.

Wahabi dan Syi'ah sama-sama mengambil satu sisi dalam Islam dan melupakan sisi-sisi yang lain.

Islam memiliki dua sisi tersebut agar berjalan seirama. Inilah yang disebut wasathiyyah. Tidak miring ke kiri. Tidak condong ke kanan.

Dengan demikian, pemutlakan sifat taubat dapat menghilangkan rasa takut (al-khauf) atas skenario Allah (al-makr).

Pemutlakan sifat Allah sebagai pemberi siksa yang pedih dapat memupus harapan seseorang untuk memperoleh rahmat.

Karenanya, perlu ada keseimbangan. Tidak boleh hanya mengingat rahmat, lalu mengabaikan aspek yang lain. Dilarang merasakan kekerasan dan menafikan kelembutan.

Jangan sampai rasa takut yang berlebihan memupus harapan. Jangan sampai keluasan rahmat melenyapkan skenario Tuhan.


Fenomena Baru

Kemunculan fenomena-fenomena baru pada peringatan Hari Besar Islam, seperti Maulid, Isra’ Mikraj, dan sebagainya, bagaikan kemunculan lalat yang mengerumuni daging dan anjing yang berebut tulang di tempat pemotongan hewan.

Keberadaan lalat dan anjing di tempat pemotongan hewan itu sangat menjijikkan dan tidak sedap dipandang. Namun kemunculannya tidak serta-merta membuat daging menjadi haram dimakan. Hal ini memerlukan ketenangan berpikir dan kecerdasan berlogika.

Faktanya, wahabi telah melahirkan beberapa organisasi baru yang berbeda dengan asalnya. Begitu pula syiah memunculkan ajaran dan gerakan baru dengan sempalan-sempalan syiah lainnya. Sementara kaum sufi, meski organisasi dan gerakannya berbeda, namun tujuannya sama, yaitu menggapai Cinta Illahi.

Jelasnya, ketika Allah mewajibkan salat. Nabi Muhammad SAW mengajarkan tata cara shalat. Maka selanjutnya terdapat perbedaan tata cara salat. Perbedaan ringan dan tidak signifikan.

Beda halnya dengan puasa dan haji, Allah langsung memberitahukan tata cara puasa dan haji. Maka tidak ada perbedaan dalam pelaksanaannya.

Berikutnya, Allah mewajibkan zikir dan tidak mengajarkan tata cara zikir secara langsung.

Tidak adanya pengajaran langsung terkait tata cara pelaksanaan zikir, tidak menunjukkan kealpaan dan keterbatasan Allah dan Rasul-Nya. Namun hal ini bertujuan supaya pelaku zikir dapat memilih tata cara dan jalan zikir yang cocok. Tak seorangpun dapat membatasi cara, bentuk, dan waktu berzikir.

Zikir diumpamakan tukang pedaging. Ada yang spesialis pemotong daging. Ada yang ahli membersihkan babat dan usus. Ada juga yang khusus menyelesaikan kepala. Ujungnya, daging, babat, usus, dan kepala hukumnya halal dimakan. (Oleh: H. Muhammad Rofiq Mualimin, Alumni Universitas Al-Azhar Mesir dan pengasuh PP Nur Hikmah, Bantul, Yogyakarta)

Serial Tasawuf-22 al-Jailani: "Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Cermin Hati dari Debu Dunia"

Leaderline: Tahun 545 Hijriah. Usia Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menginjak senja. Jenggotnya memutih. Punggungnya mulai membungkuk. Te...