Jumat, 17 November 2023

Qohwah (Kopi) Minuman para Sufi

Kopi merupakan minuman yang sangat nikmat disajikan di segala kondisi. Kopi juga memiliki cita rasa yang khas yang sangat melekat di lidah penikmatnya. Kopi juga terbukti mengandung unsur kimia yang bisa menolak rasa kantuk dan ini sangat berfaedah sekali bagi orang yang ingin bergadang atau memiliki aktifitas malam hari.

Namun taukah Anda bahwa kopi adalah minuman para sufi? Dan taukah Anda bahwa para Ulama yang berkomentar tentang kopi? 

Di antara ulama yang saya temukan komentarnya dalam kajian saya seperti yang dikutip oleh Al Allamah Abdul Qodir Bin Muhammad Al Jaziry Dalam kitabnya Umdatus Shofwah fi Hukmil Qohwah, banyak ulama yang berfatwa mengenai hukum kebolehan meminum kopi seperti Syidi Syeh Zakariya Al anshori, Syidi Syeh Abdurrohman Bin Ziyad , Syidi Syeh Zarruq Al Maliki Al Maghribi, Syidi Syeh Abu Bakr bin Salim Attarimi, dan Syidi Syeh Abdulloh Al Haddad. 

Nama-nama yang telah disebut di atas merupakan tokoh tokoh besar sufi. Tidak hanya berfatwa bahkan banyak juga ulama yang telah mengarang kitab yang isinya membahas Khusus mengenai hukum kopi dan faidah Meminum kopi, diantaranya Sayyid Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad Al Aidrus dalam Risalah Inusi as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah, juga Al Imam Al Faqih Syeh Bamakhromah mengarang syair tentang kopi yang Syairnya di komentari oleh banyak ulama. 

Lalu dari Indonesia juga ada Al-Allamah Syeh Ikhsan Jampes Kediri dalam kitabnya Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Addukhon, juga Syeh abdul Qodir Bin Syekh dalam kitab Shofwatu As Shofwah fi Bayan hukmil Qohwah. Juga dijelaskan dalam kitab Tarikh Ibnu Toyyib mengenai keutamaan Kopi dan banyak lagi ulama yang menjelaskan tentang kopi. 

Pasti kita penasaran kenapa para ulama bahkan para sufi mengistimewakan kopi? 

Coba kita lihat komentar Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami ; ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل 

"Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan. Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya, namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari Qoidah 'bagi perantara menjadi hukum tujuannya' maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya.

"Begitu juga hasil penelitian saya juga selama di Yaman Khususnya yang saya lihat sendiri di daerah Mukalla, Tarim, Sihr dan Seiyun ketika saya menghadiri Majlis-Majlis Ilmu, ba'da tarawih ataupun Majlis Sholawat dan Hadroh saya mendapati semuanya menghidangkan kopi sambil membaca Qosidah. 

Memang jelas sekali bahwa Ulama Sufi ketika menikmati kopi tiada lain adalah agar supaya bisa menolak rasa ngantuk jika akan beribadah dan menjadikan tubuh bersemangat untuk berdzikir kepada Allah SWT. ad Dalam Diwan Syekh Bamakhromah beliau berkata ; "Dalam gelas kerinduan itu membuat orang yang meminumnya berada dalam tingkatan para perindu dan memakaikannya pakaian ahli pecinta dalam kedekatan kepada Allah. 

Bahkan jika seandainya diminum oleh seorang Yahudi maka niscaya hatinya akan mendapatkan tarikan hidayah dan inayah Tuhan." Dan Al Habib Abdurrohman Shofi Assegaf mengatakan; "...bahwa kopi yang disiapkan oleh para Sufi ini Esensinya untuk menarik Hati kepada Allah SWT maka pahamilah isyarah dan bedakan antara setiap argumentasi" . Imam Ahmad Assubki juga berkata ; قال احمد بن علي السبكى ; واما منافعها يعني القهوه تقريبا ... فالنشاط للعبادة والأشغال المهمة وهضم الطعام وتحليل الرياح والقولنج والبلغم كثيرا 

"Kopi manfaatnya yaitu kira-kira untuk membuat semangat ibadah dan pekerjaan penting juga menghancurkan makanan, agar tidak masuk angin dan menghilangkan dahak yang banyak." Ada juga yang menganggap kopi (qohwah) mirip dengan nama khomer, maka ulama memberikan jawaban dalam kitab inasus Shofwah sebagai berikut. 

"Penamaan qohwah bagi sebagian orang dianggap menyerupai nama khomer, tentu tuduhan ini tidak mendasar karena tidak harus kesamaan nama juga menunjukkan sama maknanya, bahkan para sholihin dan shadat membuktikan bahwa kopi digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

"Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan: يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد 

"Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari ilmu. Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah didalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah diantara manusia. Kopi diharamkan bagi orang bodoh dan mengatakan keharamannya dengan keras kepala." 

Kesimpulannya, kopi merupakan minuman para sufi yang digunakan untuk taqarrub, mendektkan diri kepada Allah SWT yang mana memiliki banyak faidah baik secara rohani ataupun medis. 

Tarim, 21 Dzulqo'dah 1436 H
(Sumber: qohwah minuman para sufi/nu.or/Moh Nasirul Haq/Mahasiswa Imam Shafie College Mukalla Yaman)

Kamis, 16 November 2023

Kota Pekalongan Jadi Tuan Rumah Perhelatan Sufi Dunia

Presiden Joko Widodo dan para ulama sufi dari 60 negara menghadiri Multaqo Sufi Al-Alamy atau Muktamar Sufi Internasional di Kota Pekalongan pada 29–31 Agustus 2023.

Kehadiran Presiden Jokowi beserta puluhan ulama sufi dari berbagai negara di Pekalongan untuk memenuhi undangan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya selaku Pimpinan atau Ketua World Sufi Assembly (WSA), sekaligus Rais Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahluth Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN).

Multaqo Sufi Al Alamy tahun 2023 merupakan penyelenggaraan yang ke dua kalinya. Pertama kali Multaqo Sufi Al Alamy digelar pada tahun 2019 silam. Salah satu hasilnya adalah menetapkan Habib Luthfi bin Yahya sebagai Ketua Forum Sufi Dunia, atau yang kini berubah nama menjadi Majelis Sufi Dunia atau World Sufi Assembly.

Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mendampingi Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dan Tim Jatman menghadap ke Istana Negara bertemu dengan Presiden Jokowi. "Menjadi sebuah kehormatan, Kota Pekalongan menjadi tempat penyelenggaraan Multaqo Sufi Al-Alamy atau Muktamar Sufi Internasional," tutur Wali Kota Aaf saat dikonfirmasi di Kota Pekalongan, Kamis (10/8/2023).

Menurut Aaf alhamdulillah perhelatan sufi dunia telah berjalan dengan lancar, sukses dan membawa keberkahan. "Sebelumnya memang kami sowan ke RI satu sekaligus mengundang Pak Jokowi untuk hadir. Pengalaman ini tentu menjadi sangat luar biasa untuk Kota Pekalongan," tutup Aaf.

Senin, 13 November 2023

Apakah Semua Umat Manusia Ditanya Malaikat di Alam Kubur?

Munkar dan Nakir adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah untuk menguji keimanan setiap individu di dalam kubur. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan mencakup keyakinan seseorang terhadap Allah, Nabi, dan agama.

Pertanyaan Munkar dan Nakir tidak hanya sekadar menilai pengetahuan, tetapi juga menguji kedalaman keyakinan dan amal perbuatan yang dilakukan selama hidup.

Lantas, apakah seluruh umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir di Alam Kubur? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini!

Apakah Seluruh Umat Manusia Ditanyai oleh Munkar dan Nakir di Alam Kubur?
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apakah seluruh umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir di alam kubur.

Ada yang berpendapat pertanyaan tersebut hanya ditujukan untuk umat Islam saja, ada pula yang berpendapat sejatinya semua manusia ditanyai termasuk orang kafir. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan berikut.

Pendapat Bahwa Hanya Umat Islam yang Ditanyai di Alam Kubur

Menurut Abu Abdullah At-Tirmidzi dikutip dari buku Perjalanan Ruh, "Pertanyaan pada mayit hanya berlaku pada umat ini saja. Sebab umat-umat sebelum kita setiap kali mereka mengabaikan rasul-rasul yang datang membawa risalah kepada mereka, mereka pun segera diazab setelah rasul-rasul mereka diungsikan terlebih dahulu."

Di samping itu, menurut Abu Umar Bin Abdil Bar dalam kitabnya At-Tamhid, "Berbagai atsar menunjukkan bahwa ujian atau pertanyaan di dalam kubur hanya ditujukan kepada orang mukmin atau munafik, yaitu orang-orang terkait dengan ahli kitab dan Islam yang mengucapkan syahadat.

Adapun orang kafir yang membangkang dan menentang, tidak termasuk mereka yang mendapat pertanyaan tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Pertanyaan semacam ini hanya ditujukan kepada orang Islam. Allah meneguhkan orang-orang beriman dan orang-orang ingkar akan gemetar."

Penjelasan tersebut menyiratkan bahwa pertanyaan oleh Munkar dan Nakir hanya akan ditanyakan kepada umat muslim saja.

Pendapat bahwa Orang Kafir dan Munafik juga Ditanyai di Alam Kubur

Berbeda dengan pendapat sebelumnya, ada pula pendapat ulama yang mengatakan bahwa semua umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir.

Dikutip dari buku Hakekat Ruh, di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Anas bin Malik, Nabi bersabda, "Sesungguhnya, jika hamba diletakkan di liang lahat dan keluarganya sudah meninggalkannya, ia bisa mendengar suara sandal mereka."

Lalu, Al-Bukhari menambahkan, "Sedangkan orang munafik dan orang kafir maka ditanyakan kepadanya: 'Apa yang kamu katakan tentang orang ini?' Ia menjawab 'Aku tidak tahu. Aku mengatakan seperti yang dikatakan orang-orang.'

Maka dikatakan kepadanya: 'Kamu memang tidak tahu dan kamu tidak pernah membaca.' Lalu, ia dipukul dengan palu besi hingga ia menjerit kesakitan yang didengar oleh makhluk yang ada di sekitarnya, kecuali manusia dan jin'."

Selain itu, masih dikutip dari buku yang sama, Abu Sa'id Al-Khudri menghimpun dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Amir Al-Aqdi, berkata, "Kami diberitahu Ibad bin Rasyid, dari Dawud bin Abu Hindun, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa'id, ia berkata"

'Kami menghadiri jenazah bersama Rasulullah, lalu ia menyebutkan hadisnya hingga beliau bersabda: 'Jika ia orang kafir atau munafik maka malaikat bertanya kepadanya: 'Apa yang engkau katakan tentang orang ini?' Ia menjawab: 'Aku tidak tahu'."

Penjelasan tersebut berarti jelas sekali bahwa pertanyaan di alam kubur juga akan ditanyakan kepada orang kafir dan munafik tidak hanya umat muslim saja.

Pendapat yang Netral

Terdapat ulama yang mengambil posisi netral seperti Abu Umar bin Abdul-Barr dikutip dari buku Roh yang menyatakan bahwa dalam hadits Zaid bin Tsabit disebutkan dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, "Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya."

Ada golongan yang menganggap hadits di atas tidak menunjukkan kekhususan bagi umat ini semata, tanpa umat yang lain. Umat yang dimaksudkan bisa umat manusia tetapi juga bisa umat binatang.

Maka kata "diuji" menurut lafaz ini bisa berarti hanya ditujukan kepada umat ini secara khusus. Akan tetapi, masalah ini tidak bisa diputuskan begitu saja.

Para ulama yang mengambil posisi netral memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan mengenai hal ini dan mengembalikannya sebagai rahasia Allah. Hanya Allah SWT yang lebih tahu. Wallahualam.

Siapa yang Tidak Ditanya oleh Munkar dan Nakir?

Terdapat pendapat ulama yang menyatakan bahwa beberapa golongan manusia diberi kemudahan oleh Allah di alam kubur sehingga lolos dari pertanyaan Munkar dan Nakir.

Dilansir dari buku Islam Kafah Bukan Ajaran Penuh Amarah, menurut Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Hidayatul Murid, terdapat tujuh orang yang tidak ditanya Munkar dan Nakir, yakni:

Orang yang beruzlah atau menyendiri di gua untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam jangka waktu tertentu.

Orang yang mati syahid di medan perang untuk mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.

Orang yang mempercayai kebesaran Allah SWT baik zahir maupun batin.
Orang yang membaca surah Al-Mulk secara istiqomah setiap malam.
Orang yang meninggal sebab busung lapar.
Orang yang meninggal pada malam Jumat.
Orang yang meninggal sebab bencana alam.

Demikian penjelasan mengenai pertanyaan mengenai apakah seluruh umat manusia ditanyai oleh Munkar dan Nakir di alam kubur?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Jadi, kembali kepada keyakinan detikers masing-masing. Namun, yang pasti Allah yang lebih tahu. Hal yang paling penting adalah mempersiapkan diri dengan amal ibadah sebelum menghadapi kematian. Wallahu a'lam.
(Fida Afra/Detik Hikmah)

Jumat, 20 Oktober 2023

Tasawuf Rasa Abu Yazid Al-Busthami

Untuk memahami konsep "Al-Ittihad" dalam perjalanan rohani Abu Yazid al-Busthami, kita bisa meneliti konsep-konsep ketuhanannya yang terangkum dalam peristilahan (syatahat) yang sering disampaikannya. 

Misalnya, kata-kata Ana al-Haqq (Akulah Kebenaran). Ketika membawa rombongan haji ke tanah suci, para jamaah harus mengikuti dan menuruti apa yang dilakukan sang mursyid selaku pembimbingnya. Seketika itu, berucaplah Abu Yazid: "Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku". Bahkan, ada beberapa syatahat yang sulit dipahami orang-orang biasa, namun hanya dapat ditangkap oleh pemahaman orang yang kualitas kesufiannya sudah tinggi. 

Ketika Abu Yazid ditanya oleh salah seorang sahabatnya, ia hanya mengatakan: "Bukan aku yang mengucapkan, tetapi Tuhan berbicara melalui lidahku dalam keadaan fana." Jadi, kata-kata yang terucap itu dalam keadaan dirinya mengalami "ittihad" atau penyatuan diri dengan Sang Khalik. 

Tetapi, sebagian ahli fiqih tak bisa menerima pernyataan itu secara hukum syariat, karena diibaratkan orang yang sedang mengkhayal, mengigau atau mabuk. Di sisi lain, Abu Yazid sendiri mengaku dalam keadaan "fana" dan tenggelam dalam diri-Nya. Dalam hubungannya dengan Sang Khalik, Abu Yazid juga memakai istilah al-isyq (rindu berat), bahkan juga as-sakar (dimabuk cinta). 

Menurut Abu Yazid, karena Tuhan itu Maha Suci, maka unsur dari manusia yang dapat berjumpa dengan-Nya haruslah disucikan terlebih dahulu. Untuk itu, ia akan dapat bersatu hanya dalam keadaan suci, setelah menyucikan dirinya. "Ruh manusia harus suci. Karena yang dapat mendekati Yang Maha Suci adalah yang suci pula. Ruh yang memasuki tubuh yang bernafsu, bisa dibuat kotor oleh hawa nafsu. 

Karenanya, ruh harus disucikan dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat pada dirinya," demikian ujar Abu Yazid. Diskursus kesufian Menurut Abu Bakar Atjeh, ada tahapan-tahapan tersendiri untuk memuluskan rohani hingga mencapai derajat kesufian, di antaranya mempelajari pengetahuan dan pendalaman akan ilmu tasawuf, mencari mursyid atau bersahabat dengan teman-teman sependirian, rajin melakukan zikir dan wirid untuk mewujudkan hudlur (kehadiran), mengekang diri dari kecenderungan nafsu duniawi, serta konsisten untuk menjaga diri dari ketersestan. 

Adapun jalan yang ditempuh Abu Yazid adalah pelatihan dan riyadlah selama puluhan tahun hingga mencapai kefanaan dan penyatuan diri dengan Sang Khalik, bahkan merasa diri hancur-lebur (fana) untuk bersatu dengan-Nya. 

Dalam konteks kehilangan akan kesadaran diri, hingga melebur dalam kesadan-Nya, seorang analis sufi William James pernah menulis dalam bukunya The Varieties of Religion Experience sebagai berikut: "Pengalaman mistis Abu Yazid al-Bustami sulit diuraikan dengan kata-kata yang memadai untuk bisa mengisahkannya. 

Kualitas kesufian semacam itu harus dialami secara langsung, karena pengertian cinta dan rindu yang dialaminya sulit terjamah oleh cinta manusia biasa. Jadi, ada semacam perasaan yang sulit diungkap dengan kata-kata, kecuali oleh orang yang mendapatkan wawasan tentang kedalaman hakikat kebenaran. 

Hal tersebut sulit termaknai oleh kemampuan intelektual yang bersifat diskursus. William James memknai proses kefanaan Abu Yazid, dikondisikan oleh faktor kesengajaan dan penuh kesadaran. Datangnya situasi mistik bisa dikondisikan dengan pemusatan pikiran yang fokus dalam konsentrasi tinggi. 

Ia memerlukan gerakan tubuh atau bacaan-bacaan tertentu. Kemudian, saat kesadaran akan penyatuan dirinya muncul, sang mistikus merasa bahwa untuk sementara hasratnya menghilang, dan ia merasa dikuasai oleh Kekuatan Yang Maha Tinggi. Secara teoritis, sebenarnya Abu Yazid sendiri tak pernah menggunakan istilah "al-ittihad" melalui konsep sufistik yang dipraktikkannya. Ia hanya menjalani amalan yang disukainya dalam praktek kesufian, hingga kemudian membentuk ajaran yang dinamakan "al-ittihad". 

Jadi, sulit untuk ditemukan kalimat yang menjelaskan bahwa Abu Yazid adalah pelopor yang menunjukkan jalan "al-ittihad" secara teoritis. Adapun mengenai turunnya wahyu sebagai kalam ilahi, hal tersebut hanya dialami oleh para nabi dan rasul pilihan-Nya. Apabila sampai seseorang berkat karunia Allah pada tingkatan pewahyuan, inilah yang disebut "ittihad" sebagai wahyu Allah yang disampaikan melalui perantaraan hamba yang dicintai-Nya. 

Sedangkan yang diajarkan Abu Yazid kelak akan membentuk thariqoh atau jalan yang dilalui olehnya, untuk dapat mencapai kebenaran-Nya. Jadi, konsep "ittihad" itu dimunculkan oleh para sufi generasi sesudahnya, yang diilhami dari ucapan-ucapan alam bawah sadar (syatahat) yang dialami Abu Yazid sendiri. 

Rasa bertasawuf "Siapa yang tidak mengalaminya secara langsung, maka sulit baginya untuk mengerti," demikian ungkapan sebagian ahli tasawuf mengenai teori dan praktek mistisisme dalam dunia tasawuf. Karena biasanya sang guru (mursyid) hanya akan menunjukkan jalan dan tempatnya, adapun perkara pengalaman yang dirasakannya sulit terbahasakan, kecuali jika dijalani dan dirasakan langsung oleh para muridnya. 

Abdurrahman Siddiq Safat mengungkap jalan yang ditempuh Abu Yazid, konon ia sering merasakan adanya ikat pinggang yang melilit di tubuhnya, hingga ketika tiba saatnya berjumpa dengan Allah, maka ikat pinggang itu terputus dari lilitan tubuhnya. Oleh karena itu, menjelang akhir hayatnya Abu Yazid melaksanakan salat dengan ikat pinggang dan baju wol yang terbalik dikenakan dalam tubuhnya. 

Kemudian, ia bermunajat dan menyampaikan kata-kata terakhirnya: "Ya Allah, aku tidak membanggakan kesalehanku selama ini. Aku tidak membanggakan puasa, tahajud, bahkan seberapa kali aku mengkhatamkan Alquran sepanjang hidupku. Aku tak pernah mengatakan pengalaman spiritualku sebagai unik dan langka yang tak pernah dialami oleh orang lain. Aku tak mau membanggakan doa, munajat dan kedekatanku dengan-Mu. Saat ini, kukatakan pada-Mu bahwa aku malu dengan segala perbuatanku. Semua yang kulakukan itu semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Mu kepadaku sebagai hamba yang hina dina ini. Aku telah menapaki jalan berliku selama 70 tahun sehingga rambut memutih karena kebodohan dan kejahilanku. Di sepanjang padang pasir aku tertatih-tatih dengan ikat pinggang terlilit di tubuhku. Namun, baru saat inilah aku memahami apa yang disebut Islam dan kepasrahan diriku kepada-Mu. Baru sekarang inilah aku dapat mengucapkan syadahat di hadapan-Mu."

Di akhir hayatnya, Abu Yazid al-Busthami mulai menyadari bahwa Allah dapat melakukan dan memutuskan segala perkara tanpa memerlukan sebab apapun. Allah tidak menjadikan kekasih-Nya disebabkan ketaatan dan kepatuhannya. Juga Allah tidak menjauhi hamba lantaran kekufuran dan keingkarannya. Abu Yazid menyadari bahwa segala daya-upaya yang dilakukannya selama ini hanyalah noktah debu belaka. 

"Untuk setiap kelakuan dan kesombonganku selama ini," ujar Abu Yazid, "aku mohon dilimpahkan ampunan-Mu, ya Allah. Basuhlah debu keingkaran di dalam diriku, karena aku pun telah membasuh debu keangkuhan dan kesombongan, lantaran mengaku telah mematuhi segala perintah-Mu, ya Allah, Allah, Allah...." Setelah mengucap lafadz "Allah" tiga kali, Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 261 Hijriyah. 

Makamnya terletak di tengah kota Bustam (Iran) dan menarik banyak pengunjung dari berbagai pelosok negeri. Pada prinsipnya, ia menyadari bahwa kehidupan Rasulullah sebagai pengemban risalah, adalah teladan bagi semua kalangan, baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, bahkan dapat menjadi cermin bagi semua mazhab dan aliran keagamaan, baik yang konservatif, modern, hingga kaum sufistik sekalipun.

(Sumber:nu.or.id/penulis:Hafis Azhari/Penulis buku Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

Membaca Makna Kehadiran Menlu Singapura di Jakarta (Bag-2, Habis)

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-71) Narasi Pemicu : Kehadiran Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, di Jakarta pada 27 Oktober ...