Rabu, 04 Maret 2026

Sorak Sorai Menjijikan Kaum wahabi Sang Khawarij Modern


Pengantar AI: Istilah "Khawarij Modern" merujuk pada kelompok radikal atau ekstremis kontemporer yang mengadopsi ideologi kaum Khawarij klasik (kelompok yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib). Kelompok ini sering dikaitkan dengan aksi terorisme dan ekstremisme karena pola pikir mereka yang menyimpang. Ciri-ciri dan karakteristik Khawarij Modern yang dianggap menyimpang dan berbahaya yakni berlebih-lebihan dalam memvonis kafir sesama kaum Muslimin yang tidak sepaham, bahkan menghalalkan darah mereka. Mereka menghalalkan tumpahnya darah kaum Muslimin yang menyelisihi akidah mereka. Kelompok ini sering melakukan tindakan teror, pembunuhan, dan kerusakan di muka bumi.

​Dunia Islam hari ini sedang mempertontonkan sebuah drama yang memuakkan. Di satu sisi, kita melihat penghormatan bagi mereka yang gugur di garis depan perlawanan. Di sisi lain, kita menyaksikan patologi mental kaum Salafi-Wahabi yang merayakan kematian sesama Muslim dengan pekik kegirangan yang menjijikkan. Inilah wajah asli sebuah ideologi yang mengaku paling "Sunnah". Namun sungguh jiwanya telah lama bertransformasi menjadi Khawarij abad ke-21.

​1. Reinkarnasi Pedang Ibnu Muljam

​Sejarah seolah berulang dalam naskah yang sama. Dahulu, kaum Khawarij bersuka cita ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek tubuh suci Khalifah Ali bin Abi Thalib karramallahu\wajhah. Hari ini, mentalitas itu diwarisi dengan setia oleh kaum Salafi-Wahabi. Saat umat Islam yang waras merundukkan kepala, berduka atas gugurnya sosok seperti Sayyid Ali Khamenei atau para pejuang yang berdiri membela tanah airnya, kaum ini justru berpesta di atas darah.

​Mereka adalah "uswah" dalam merawat benci. Mereka mendoktrin permusuhan seolah memiliki dendam pribadi selama 16 abad, padahal mereka hanyalah pion yang dipaksa membenci demi kepentingan politik yang mereka sendiri tidak pahami.

​2. Standar Ganda yang Menghamba pada Zionis

​Ada ironi yang membakar nalar: Bagaimana mungkin kelompok yang begitu fasih mengafirkan sesama Muslim, tiba-tiba menjadi begitu tumpul dan bungkam terhadap agenda Zionis?

​Ke Iran: Lidah mereka tajam, penuh caci maki, dan vonis sesat.
​Ke Zionis: Mereka mendadak "bijak", bicara soal perdamaian, dan tunduk pada agenda normalisasi "tuan" mereka.

​Ini bukan lagi soal akidah, ini adalah pelacuran intelektual. Mereka sibuk menyisir kesalahan saudara seagama, sementara di belakang layar, mereka secara sukarela menjadi tameng gratis bagi Israel dengan cara memecah belah kekuatan umat melalui sentimen sektarian yang overdosis.

​3. Syahwat Mengkafirkan: Dari NU hingga Muhammadiyah

​Daftar "dosa" dalam catatan mereka sangatlah panjang. Tidak hanya Syiah yang menjadi sasaran; NU dianggap firqah dhallah (golongan sesat), Muhammadiyah disebut menyimpang, dan Jamaah Tabligh di-tahdzir.

​Benar apa yang disindir KH Hasyim Muzadi: jika mereka datang, bukan hanya amaliyah yang hilang, tapi masjidnya pun ikut diklaim. Mereka membangun tembok eksklusivitas, merasa memegang kunci surga sendirian, sementara nubuat Nabi Muhammad SAW tentang kaum yang "bacaan Al-Qur'annya hanya sampai kerongkongan" tampak nyata pada wajah-wajah mereka yang kering dari empati.

​4. Puncak Hilangnya Kemanusiaan

​Gugur di medan tempur adalah kemewahan sejarah yang hanya diberikan pada mereka yang berani melawan penindasan. Sementara itu, mencela dan menyesatkan adalah "sunnah" Khawarij yang diadopsi dengan bangga oleh kaum Salafi.

​Merayakan kematian seorang pemimpin Muslim yang sedang berjuang melawan hegemoni adalah bukti bahwa agama di tangan mereka telah berubah menjadi ideologi kebencian yang gersang. Jika agama tidak lagi menyisakan rasa duka atas hilangnya nyawa pejuang, maka yang tersisa hanyalah cangkang kosong tanpa makna.

​Kesimpulan: Memilih Sisi Sejarah

Dunia Islam sedang berduka, namun kaum yang "merasa paling Sunnah" justru sedang berpesta di ketiak agenda Zionis. Kita harus sadar bahwa mereka hanyalah "rambut yang tercerabut dari tepung"—keluar dari esensi Islam karena kegemaran mengkafirkan sesama. Jangan biarkan warisan kebencian ini menghancurkan rumah besar umat Islam.

Senin, 02 Maret 2026

Ketika Kesabaran Bagai Sebuah Dongeng


Di negeri tempat fajar terbenam,
Kutemukan jejak terbalik pada langkah.

Anak-anak muda menangis, merintih diam...
Sementara yang tua tertawa renyah dalam resah.

Di sini, akal budi dienyahkan,
Yang lantang bersuara, dialah pemegang pedang menjadi pemenang.

Kebenaran telah digadaikan pada kepalsuan,
Dan cinta diam-diam dikhianati dengan penuh kemunafikan.

Waktu berjalan mundur lalu menghunjam masa berlalu,
Kenangan indah bagai sejumput bayangan di masa depan.

Kita pun berlari dengan tubuh sungsang,
Mengejar sesuatu yang telah terkubur masa silam.

Sungguh keadilan di negeri ini bagai fatamorgana,
Dekat di mata, jauh dari hati nurani.

Yang bersalah bebas berlenggang,
Yang benar memikul beban.

Tuhan, adakah ini ujian atau hukuman?
Saat dunia terbalik dalam tafsir makna.

Di mana doa terucap tanpa keimanan,
Dan kesabaran hanya menjadi cerita
Bagai sebuah dongeng.

Namun di sela sungsang yang membingungkan,
Kutemukan butir hikmah yang tersembunyi:
Bahwa dalam kacaunya poros kehidupan,
MencariMu adalah satu-satunya cara tegak berdiri.

Maka biar dunia terus berpaling arah,
Aku akan berjalan dengan kakiku sendiri.
Berpegang padaMu, di tengah kisah
Kehidupan sungsang yang penuh makna.
(kgm/kigempurmudharat/awal maret2026)

Minggu, 01 Maret 2026

Pandangan Kelliru Mengenai Tasawuf


Pengantar: Beberapa pandangan keliru yang sering muncul mengenai tasawuf antara lain:
  • Tasawuf Terlepas dari Syariat: Anggapan bahwa seorang sufi tidak lagi terikat oleh aturan fiqih atau ibadah lahiriah jika sudah mencapai tingkatan spiritual tertentu. Faktanya, ulama seperti Al-Ghazali menekankan bahwa tasawuf adalah pelengkap batiniah bagi syariat.
  • Hanya Fokus pada Akhirat (Pasif Sosial): Pandangan keliru bahwa tasawuf mengajarkan pengasingan diri total (uzlah) dan pengabaian terhadap urusan duniawi serta tanggung jawab sosial.
  • Dianggap Ajaran Bid'ah atau Sesat: Kritik yang menyatakan tasawuf bukan bagian dari ajaran Islam asli atau merusak akidah. Padahal, banyak pakar menyatakan dasar-dasar tasawuf (penyucian jiwa) bersumber langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Identik dengan Hal Mistis atau Klenik: Pemahaman sempit yang hanya mengaitkan tasawuf dengan kesaktian, ramalan, atau fenomena supranatural, alih-alih fokus pada perbaikan akhlak dan kedekatan dengan Allah.
  • Pandangan Orientalis: Beberapa peneliti Barat sering kali mencoba memisahkan tasawuf dari akar Islamnya dan mengaitkannya dengan pengaruh filsafat Yunani atau Neo-Platonisme secara berlebihan.
Korelasi Syariat dan Makrifat

Wacana tentang hubungan antara Syariat dan Makrifat adalah diskusi klasik namun sangat fundamental dalam dunia tasawuf (sufisme) dan pemikiran Islam secara umum.

Jawaban singkatnya adalah: Benar, dalam perspektif Islam yang utuh dan seimbang, Syariat dan Makrifat tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu koin, atau seperti tubuh dan ruh.

Berikut penjelasan lebih mendalam mengenai mengapa keduanya tak terpisahkan:

1. Syariat adalah "Kulit" dan Makrifat adalah "Isi"

Para sufi besar, seperti Imam Al-Ghazali atau Jalaluddin Rumi, sering menggunakan analogi ini.

· Syariat adalah aturan lahiriah, hukum, ibadah formal (seperti shalat, puasa, zakat), dan muamalah yang mengatur kehidupan seorang Muslim. Ini adalah fondasi, kerangka, dan jalan (secara harfiah, syariat berarti jalan menuju sumber air).

· Makrifat adalah pengetahuan mendalam tentang Tuhan yang diperoleh melalui penyucian jiwa, pengalaman spiritual, dan perasaan dekat dengan-Nya. Ini adalah inti, tujuan, dan hakikat dari menjalani jalan tersebut.

Mengapa tak bisa dipisahkan?

Jika hanya fokus pada Syariat tanpa Makrifat, ibadah bisa menjadi kering, formalitas belaka, dan kehilangan ruh atau esensinya. Seseorang bisa shalat tetapi hatinya lalai. Sebaliknya, jika hanya mengklaim Makrifat tanpa menjalankan Syariat, klaim tersebut akan menjadi palsu dan sesat. Tidak mungkin seseorang mencapai makrifat (mengenal Allah) sambil meninggalkan perintah-Nya. Rumi berkata, "Syariat seperti lilin, makrifat adalah cahayanya."

2. Landasan Teologis dan Historis

Pemisahan antara Syariat dan Makrifat seringkali menjadi celah kritik terhadap oknum sufi yang ghuluw (ekstrem). Namun, para sufi otentik selalu menekankan bahwa Makrifat harus berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.

· Peristiwa Isra Mi'raj: Perjalanan Nabi Muhammad SAW sering dijadikan simbol. Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha) adalah puncak makrifat, tetapi itu terjadi setelah Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha), dan Nabi tetap menjalankan syariat setelahnya. Ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tertinggi tidak membuat seseorang lepas dari tuntunan syariat.

· Pernyataan Ulama: Imam Junayd Al-Baghdadi, pemimpin para sufi, berkata, "Semua ma'rifah (pengetahuan tentang Tuhan) yang tidak dikuatkan dengan Al-Qur'an dan Sunnah adalah bid'ah (sesat)."

3. Analogi Tangga Menuju Puncak

Untuk mencapai puncak makrifat, seseorang harus menaiki anak tangga. Anak tangga itu adalah syariat.

· Syariat: Anak tangga. Jika tidak menaikinya, tidak akan pernah sampai ke puncak.
· Tarekat: Proses menaiki tangga. Usaha dan perjalanan spiritual.
· Hakikat: Kondisi di puncak tangga, di mana pemandangan (makrifat) terbuka luas.

Tanpa anak tangga (syariat), mustahil seseorang bisa berdiri di puncak (makrifat). Memaksakan diri untuk "meloncat" langsung ke puncak hanya akan membuatnya jatuh.

4. Peringatan untuk Tidak Memisahkan

Dalam sejarah pemikiran Islam, ada dua kelompok ekstrem yang dikritik:
1. Kaum Formalist: Kelompok yang hanya fokus pada kulit syariat, menghakimi orang lain berdasarkan teks, tetapi hatinya keras, tidak memiliki kelembutan, dan jauh dari esensi ibadah.

2. Kaum Pseudo-Sufi: Kelompok yang mengaku telah mencapai makrifat sehingga merasa bebas dari kewajiban syariat. Mereka berkata, "Aku sudah sampai, sehingga shalat tidak lagi wajib bagiku." Ini adalah kesesatan yang nyata dan ditolak oleh ijma' (konsensus) ulama.

Kesimpulan

Ya, sangat benar bahwa syariat dan makrifat tidak bisa dipisahkan.

· Syariat tanpa makrifat = jasad tanpa ruh. Ibadahnya sah secara hukum, tapi mungkin hampa secara spiritual.

· Makrifat tanpa syariat = ruh tanpa jasad. Klaimnya tinggi, tapi tak terbukti dalam amal nyata, dan bisa jatuh ke dalam kesesatan.

Seorang Muslim yang ideal adalah yang menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya (lahiriahnya bersih) seraya berusaha menghadirkan makrifat dalam setiap ibadahnya (batinnya terhubung dengan Allah). Wallahu a'lam bish-shawab.

Ketika Amal Tak Jadi Sandaran


Ikhlas dalam kacamata sufi bukan sekadar niat baik di awal amal, melainkan sebuah kondisi spiritual yang sangat dalam dan menjadi inti perjalanan menuju Allah. Para sufi memandang ikhlas sebagai pembersihan hati dari segala sesuatu selain Allah ketika beramal.

Berikut adalah penjelasan bagaimana ikhlas menurut kacamata tasawuf:

1. Ikhlas adalah "Tajrid" (Memurnikan) Motif

Dalam pandangan sufi, amal perbuatan ibarat sebuah bejana. Yang dimasukkan ke dalam bejana itu bisa jadi madu (ketaatan), tetapi jika tercampur setetes racun (riya', ujub, atau mengharap pujian makhluk), maka madu itu menjadi rusak.

Imam Al-Qusyairi, seorang ulama sufi besar, mendefinisikan ikhlas sebagai:
"Mengesakan Allah dalam ketaatan dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Artinya, seorang hamba tidak bermaksud dengan ketaatannya untuk mencari penghormatan manusia, atau mencari kedudukan di sisi mereka, atau mencari pujian, atau mencari sesuatu selain Allah."

Jadi, ikhlas adalah memastikan bahwa satu-satunya "penggerak" amal adalah perintah Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya, bukan dorongan duniawi.

2. Tingkatan Ikhlas: Dari Awam ke Khawas

Para sufi membagi ikhlas dalam beberapa tingkatan, yang mencerminkan kedalaman spiritual seseorang:

· Ikhlasnya Orang Awam (Ikhlas Al-'Awam): Beramal karena ingin mendapatkan pahala dan surga, serta takut akan siksa neraka. Ini adalah ikhlas tingkat dasar, tetapi tetap terpuji. Dalam istilah sufi, ini disebut 'ubudiyyah (penghambaan karena imbalan).

· Ikhlasnya Orang Khusus (Ikhlas Al-Khawas): Beramal karena merasa malu kepada Allah dan karena Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak disembah. 
Motivasinya adalah rasa syukur dan cinta. Mereka beribadah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena Allah adalah Tujuan tertinggi. Ini disebut 'ubudah (penghambaan karena kemuliaan Allah).

· Ikhlasnya Orang yang Paling Khusus (Ikhlas Khawas Al-Khawas): Pada tingkatan ini, seorang hamba bahkan tidak lagi "merasa" ikhlas. Jika ia merasa ikhlas, maka itu bisa menjadi "penyakit" baru (al-ihlās bi al-ikhlās). Mereka tenggelam dalam menyaksikan kebesaran Allah, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk memikirkan keikhlasan dirinya sendiri. Semua adalah kehendak dan anugerah Allah semata.

3. Musuh Utama Ikhlas: As-Sirr (Sisi Tersembunyi Hati)

Menurut sufi, musuh ikhlas bukan hanya riya' (pamer) yang jelas, tetapi juga hal-hal halus yang tersembunyi di dalam hati, seperti:

· As-Sirr (Rahasia): Yaitu rasa bangga terhadap amal ibadah sendiri. Ketika seseorang bisa shalat malam, ia merasa hebat. Inilah yang disebut 'ujub (kagum pada diri sendiri). Para sufi sangat waspada terhadap penyakit ini, karena ia membatalkan keikhlasan secara halus.

· Syirik Khafi (Syirik Tersembunyi): Rasulullah menyebutnya lebih samar dari semut hitam di atas batu hitam di malam gelap. Ini adalah kecenderungan hati untuk mencari perhatian makhluk.

4. Metode Mencapai Ikhlas (Mujahadah)

Bagaimana cara mencapai ikhlas versi sufi? Mereka menekankan perlunya mujahadah (kesungguhan) dan riyadhah (latihan spiritual):

· Memperbanyak Diam dan Mengasingkan Hati: Untuk mengurangi ketergantungan pada penilaian manusia.

· Menyembunyikan Amal (Takhfi): Sebagaimana para salaf yang bersedekah hingga tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan tangan kiri, para sufi melatih diri untuk menyembunyikan kebaikan. Jika bisa diam-diam, mengapa harus terang-terangan?

· Muhasabah (Introspeksi): Senantiasa mengoreksi motif di balik setiap tindakan. "Mengapa saya melakukan ini? Untuk siapa?"

5. Ikhlas sebagai Puncak Spiritual

Pada akhirnya, ikhlas dalam tasawuf adalah kondisi di mana seorang hamba (yang disebut mukhlish) telah mencapai tahap tauhid yang murni. Ia menyadari bahwa dirinya dan amalnya adalah ciptaan Allah. Ia tidak punya apa-apa, sehingga tidak pantas untuk dibanggakan. Amal shaleh pun ia pandang sebagai anugerah dari Allah, bukan hasil jerih payahnya.

Dalam kondisi ini, terwujudlah makna firman Allah:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 

Ikhlas menurut kacamata sufi adalah kondisi hati yang terbebas dari "virus" makhluk dan diri sendiri, sehingga hanya Allah yang menjadi satu-satunya tujuan, motivasi, dan pengharapan dalam setiap hembusan napas dan gerak kehidupan.
Wallahu'alam

Wawancara dengan Musuh Abadi: Siapa Manusia Paling Celaka di Mata Iblis

Pengantar: Berikut wawancara imajiner Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan Iblis, yang berlangsung di sebuah ruang hampa di antara alam mimpi dan...