Selasa, 13 Oktober 2026

Serial Tasawuf-20: "Syariat dan Hakikat, Dua Sayap Tak Terpisahkan"


Pendahuluan: Tahun 521 Hijriah. Kota Baghdad. Pusat peradaban dunia. Tenggelam dalam cahaya lentera yang bergoyang ditiup angin Tigris. Di sebuah madrasah tua di Babul Azaj. Seorang lelaki duduk di atas sajadah yang telah lusuh dimakan usia. Wajahnya teduh. Namun matanya menyimpan kedalaman. Yang membuat siapa pun yang memandangnya merasa sedang berdiri di tepi samudra. Namanya Abdul Qadir al-Jailani. Lelaki yang kelak dijuluki Sulthan al-Auliya. Raja Para Wali.

Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Di hadapannya. Ratusan murid duduk bersila. Mereka datang dari berbagai penjuru. Dari Yaman. Dari Syam. Dari negeri-negeri yang jauh. Ada yang berilmu tinggi. Ada yang buta huruf. Ada yang kaya. Ada yang miskin. Tetapi semua datang dengan satu tujuan yang sama. Mencari jalan menuju Allah.

Malam itu, seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, aku telah mempelajari fiqih selama sepuluh tahun. Aku hafal Al-Qur'an. Aku tahu halal dan haram. Tetapi hatiku terasa kering. Apakah aku harus meninggalkan ilmu syariat untuk menempuh jalan tasawuf?"

Al-Jailani tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah berabad-abad. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara yang dalam. Seperti gemuruh sungai di kejauhan. "Malam ini, aku akan bercerita tentang dua sayap yang tidak boleh terpisah."

Kisah Burung yang Kehilangan Satu Sayap

"Ada seekor burung yang ingin terbang tinggi ke langit. Ia memiliki dua sayap. Sayap kanan dan sayap kiri. Suatu hari, ia berkata kepada dirinya sendiri: 'Sayap kananku terlalu berat. Aku akan memotongnya. Agar aku bisa terbang lebih ringan.'"

"Burung itu memotong sayap kanannya. Ia mencoba terbang. Tetapi ia hanya berputar-putar di tempat. Ia tidak bisa naik. Tidak bisa turun. Tidak bisa ke mana-mana. Ia jatuh ke tanah. Dan ia menangis."

"Seorang bijak datang kepadanya dan bertanya: 'Mengapa engkau menangis?'"

"Burung itu menjawab: 'Aku ingin terbang tinggi. Tetapi aku telah memotong sayapku.'"

"Bijak itu berkata: 'Engkau bodoh. Sayap kanan dan sayap kiri adalah satu kesatuan. Engkau tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap. Engkau harus memiliki keduanya.'"

Al-Jailani memandang para muridnya. "Syariat adalah sayap kanan. Hakikat adalah sayap kiri. Engkau tidak bisa terbang menuju Allah dengan hanya salah satunya. Engkau tidak bisa mengabaikan fiqih dan hanya berdzikir. Dan engkau tidak bisa hanya mempelajari hukum dan mengabaikan hatimu. Keduanya harus berjalan bersama."

Syariat Zahir, Hakikat Batin

Al-Jailani menegaskan bahwa syariat adalah aspek zahir (lahiriah) dari ibadah. Sedangkan tarekat atau hakikat adalah aspek batin-nya. Keduanya tidak boleh dipisahkan. 

Ia sendiri adalah pengikut mazhab Hanbali yang tegas dalam fiqih. Namun juga seorang sufi yang mendalam dalam spiritualitas. Ia menjembatani kesenjangan antara ulama fiqih yang sibuk dengan nash-nash. Dengan para sufi yang kadang melampaui batas dalam aspek rohani.

"Akidah yang benar adalah pondasi pertama," ujar al-Jailani. "Pada masa hidupnya. Beliau selalu mewanti-wanti pentingnya berakidah seperti generasi salaf. Yaitu Ahlussunnah wal Jamaah". 

Caranya adalah dengan bersungguh-sungguh memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan begitu, seseorang akan mendapatkan petunjuk dalam menapaki jalan menuju Allah.

Al-Jailani berkata kepada murid-muridnya: "Lihatlah dirimu dengan penglihatan yang penuh kasih sayang dan cinta. Jadikanlah Al-Qur'an dan Sunnah di depanmu. Lihatlah keduanya lalu kerjakan. Jangan terpedaya dengan perkataan orang."

Beliau juga menegaskan: "Ambilah nasihat dari Al-Qur'an dengan mengamalkannya. Bukan dengan menentangnya."

Tauhid yang Hidup

Menurut al-Jailani, tauhid bukan sekadar doktrin atau spekulasi rasional. Ia adalah bukti eksistensial yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah menjadi sumber inspirasi bagi aktivitas hidup yang dinamis. Sekaligus menanamkan nilai transendental pada setiap tindakan.

"Jika engkau benar-benar bertauhid," ujar al-Jailani, "engkau akan melihat Allah dalam setiap helaan napas. Dalam setiap detak jantung. Dalam setiap langkah kakimu. Engkau tidak akan pernah merasa sendirian. Karena engkau tahu bahwa Allah bersamamu. Engkau tidak akan pernah takut. Karena engkau tahu bahwa Allah melindungimu."

Dua Sayap yang Terbang Bersama

Malam semakin larut. Lampu-lampu minyak di madrasah mulai meredup. Tetapi mata para murid justru semakin bercahaya. Al-Jailani bangkit dari duduknya. Membetulkan serbannya. Dan berkata dengan suara yang menggema di seluruh ruangan:

"Anak-anakku, tasawuf tanpa syariat adalah bangunan tanpa pondasi. Syariat tanpa tasawuf adalah jasad tanpa ruh. Engkau harus memiliki keduanya. Engkau harus mempelajari fiqih. Tetapi engkau juga harus membersihkan hatimu. Engkau harus menjalankan shalat. Tetapi engkau juga harus khusyuk dalam shalatmu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mencapai Allah dengan hanya satu sayap. Engkau harus terbang dengan keduanya. Syariat dan hakikat. Agar engkau bisa naik ke langit yang tinggi. "

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman baru tentang tasawuf. Tetapi dengan kesadaran bahwa jalan menuju Allah adalah jalan yang seimbang. Antara zahir dan batin. Antara ilmu dan amal. Atara syariat dan hakikat.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Bersambung ke Serial-21: Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi.)

Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Kapolri Menjadi Khotib Shalat Jumat: "Pesan Moral Apa yang Ingin Disampaikan kepada Jajarannya?"


Narasi Pemicu: Di tengah badai kritik yang tak henti menghantam institusi Polri. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memilih jalan yang jarang ditempuh pendahulunya. Jumat, 9 Oktober 2026. Ia naik ke mimbar Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri. Bertindak sebagai khatib shalat Jumat. Sejatinya ada pesan moral yang ingin disampaikan Sang Jenderal kepada jajarannya. Pesan moral seperti apa?

Mengapa Momen Ini begitu Berarti

Pesannya sederhana namun menghunjam. Jadilah pribadi yang rendah hati, Jangan sombong, Dan jangan pernah merasa lebih hebat daripada orang lain. Apakah ini sekadar simbolisme religius? Atau benar-benar pertanda harapan baru bagi Polri?

Dalam khotbahnya. Ia menegaskan. Bahwa jabatan. Pangkat. Kedudukan. Dan harta. Bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. 

Kapolri menjadi khatib bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah pernyataan publik. Bahwa nilai-nilai keimanan harus diwujudkan dalam perilaku nyata, Bukan hanya dalam ibadah ritual. 

Kehadiran Suyudi di mimbar Jumat, setidaknya telah menunjukkan sosok religius. Yang ingin menyampaikan pesan moral langsung kepada jajarannya. 

Lebih dari itu. Pesan kerendahan hati yang disampaikan di hadapan anggota Polri memiliki bobot tersendiri. Selama ini, kritik yang paling sering dialamatkan kepada Polri adalah arogansi. Sikap merasa kebal hukum. Dan perilaku yang tidak mencerminkan pelindung masyarakat.

Suyudi sendiri menyadari hal ini. Ia bahkan mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari pangkat. Jabatanta. Au kekayaan. Melainkan dari akhlak. Ketulusan hati. Serta caranya memperlakukan orang lain. 

Itu adalah pengakuan implisit. Bahwa selama ini ada jarak antara citra yang ingin dibangun Polri dan realitas yang dirasakan masyarakat.

Reformasi yang Dijanjikan

Momen khatib ini bukanlah langkah tunggal. Sejak dilantik pada 1 Oktober 2026, Suyudi telah memaparkan agenda reformasi yang cukup komprehensif. Ia mengusung tema "Polisi Bersama Masyarakat". Menggantikan slogan "Presisi" era Listyo Sigit. Arahnya jelas. Polisi hadir untuk mendengar. Melayani. Dan bekerja bersama masyarakat.

Dalam uji kelayakan di Komisi III DPR, Suyudi memaparkan enam program prioritas transformasi. Penguatan kelembagaan. Pembinaan SDM dan rekrutmen. Penguatan pelayanan publik. Penguatan penegakan hukum. Penguatan pengawasan. Dan akuntabilitas anggaran. 

Ia secara eksplisit menyatakan bahwa tidak boleh ada ruang bagi titipan. Transaksi. Dan sponsorship dalam rekrutmen. Ia juga berkomitmen menghapus fenomena no viral no justice. Dimana laporan masyarakat baru ditindaklanjuti setelah ramai di media sosial.

Yang paling fundamental. Suyudi menyatakan bahwa hal paling mendasar dalam reformasi adalah transparansi dan keterbukaan terhadap kritik. Kritik berbasis fakta, katanya, adalah sistem peringatan dini yang harus segera ditindaklanjuti. 

Ini adalah pernyataan yang berani dari seorang Kapolri. Mengingat selama ini kritik terhadap Polri sering kali direspons dengan defensif atau bahkan represif.

Ujian Sesungguhnya Setelah Mimbar

Namun, di sinilah letak persoalannya. Menjadi khatib tidak otomatis membuat seseorang berintegritas sempurna. Fikih membedakan keabsahan khutbah dari penilaian moral terhadap khatib itu sendiri. 

Keteladanan seseorang tetap dinilai dari rekam jejak. Kejujuran. Dan perbuatannya. Mimbar bukan sertifikat otomatis menjadi manusia tanpa cela.

Al-Qur'an sendiri dalam Surah Ash-Shaff ayat 2-3 mengingatkan: "Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" 

Ayat itu cocok dipasang di setiap ruang rapat Polri. Bahkan di depan cermin setiap anggota. Karena itulah, publik patut mengapresiasi pesan Suyudi tanpa buru-buru mengangkatnya menjadi wali berjubah seragam. 

Ujian sesungguhnya ialah membuktikan nasihat tersebut bukan suara merdu yang menguap setelah salam penutup.

Reformasi kultural Polri adalah mandat rakyat yang belum tuntas. Watak pemimpin dan anggotanya harus humanis. Menghormati HAM. Membuang sikap arogan. Pamer harta. Koruptif. Tidak profesional. Dan kekerasan berlebih. 

Itu adalah daftar panjang persoalan. Yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu khotbah Jumat.

Anggota Komisi III DPR Benny K Harman menitipkan pesan yang sangat spesifik. Perkuat profesionalitas dan transparansi. Terapkan scientific crime investigation. Bentuk peradilan pidana independen untuk anggota Polri. Hentikan penggunaan UU ITE untuk membungkam kritik. 

Yang tidak kurang urgennya. Hapus jual beli jabatan Kapolres/Kapolda. Polri, adalah lembaga dengan anggaran Rp 120 triliun lebih. Publik berhak tahu bagaimana lelang jabatan di Polri berjalan secara transparan.

Harapan yang Harus Dibuktikan

Apakah ada harapan baru? Tentu ada. Kapolri yang mau turun dari podium konferensi pers ke mimbar masjid. Yang berbicara tentang kerendahan hati dan amanah di hadapan jajarannya sendiri. Adalah pemandangan yang menyegarkan.

Wajar jika Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas berharap. Masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat dapat ditanggulangi dengan lebih humanis dan berkeadilan. Sehingga Polri benar-benar dipercaya dan dicintai rakyat.

Namun, harapan itu tidak boleh berhenti pada kekaguman. Spanduk boleh baru. Desain boleh kinclong. Tetapi kalau pelayanan tidak berubah. Maka itu identik dengan renovasi kalimat. Bukan renovasi karakter. 

Bayangkan jika polisi benar-benar rendah hati, jujur, dan adil. Maka pengaduan masyarakat didengar. Korban memperoleh keadilan. Kritik yang tajam dan menghunjam tidak lagi dianggap serangan pribadi. Dan hukum tidak mendadak masuk angin ketika berhadapan dengan orang vokal dan berpengaruh.

Kapolri Suyudi telah menanam benih di mimbar Jumat. Tugasnya sekarang adalah memastikan benih itu tumbuh di setiap Polsek. Setiap Polda. Dan setiap anggota yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. 

Reformasi Polri bukan proyek seratus hari atau satu periode kepemimpinan. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi. Keberanian. Dan yang paling penting, keteladanan dari puncak komando. 

Khotbah Jumat kemarin, barulah sebagai pembuka. Babak sesungguhnya baru saja dimulai. Apakah khotbah Tuan Jenderal Suyudi di Shalat Jumat yang lalu, memiliki efek dahsyat terhadap perilaku dan moral jajarannya? Let's wait and see...!!

Serial Tasawuf-19: "Ridha, Buah-Buah Ketenangan dalam Kehidupan Sehari-hari"


Pengantar: Musim kemarau telah benar-benar berlalu. Sumur kembali penuh. Tanah kembali hijau. Para salik kembali menjalani kehidupan mereka di luar zawiyah. Namun suatu hari, Mursyid mengumpulkan mereka dengan pesan yang tidak biasa.

Malam Ketika Zawiyah (Surau) Berpindah ke Kota

"Anak-anakku," ujarnya. "Malam ini kita tidak akan berkumpul di zawiyah. Kita akan turun ke kota."

Para salik saling memandang. Zaid mengangkat tangan. "Ke kota, Wahai Mursyid? Untuk apa?"

Mursyid tersenyum. "Untuk melihat buah-buah ridha. Selama ini kita membicarakannya di dalam ruangan. Di bawah lindungan dinding dan atap. 

Malam ini kita akan melihatnya di pasar. Di jalan. Di tengah manusia yang sibuk dengan urusan mereka. Karena ridha bukanlah buah yang hanya tumbuh di zawiyah. Ia harus tumbuh di mana pun engkau berada."

Buah Pertama: Hati yang Tidak Gelisah

Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai meski malam telah larut. Di depan sebuah toko yang mulai tutup. Seorang pedagang tua tampak membereskan dagangannya dengan wajah muram. Barang dagangannya tidak terjual habis hari itu.

Mursyid berhenti dan menyapa lelaki itu. "Assalamu'alaikum, saudaraku. Mengapa wajahmu muram?"

Pedagang itu menghela napas. "Hari ini daganganku tidak laku. Aku sudah bekerja keras. Tetapi rezekiku sedikit. Aku takut besok lebih buruk lagi."

Mursyid menatap para salik. Lalu kembali kepada pedagang itu. "Saudaraku, apakah engkau telah berusaha?" tanyanya lembut.

"Tentu. Aku bangun sebelum subuh. Aku membuka toko paling awal. Aku melayani pembeli dengan ramah."

"Kalau begitu," ujar Mursyid. "Engkau telah melakukan bagianmu. Sisanya adalah bagian Allah. Apakah engkau percaya bahwa Allah mengetahui kebutuhanmu?"

Pedagang itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ya, aku percaya."

"Maka janganlah engkau gelisah. Rezeki bukan diukur dari berapa yang engkau dapat hari ini. Tetapi dari seberapa tenang hatimu menerimanya. Buah pertama ridha adalah hati yang tidak gelisah. Meski dompet kosong. Hati tetap lapang."

Buah Kedua: Lisan yang Tidak Mengeluh

Mereka melanjutkan perjalanan. Di sudut jalan, seorang perempuan tua duduk di bangku kayu. Mengeluh kepada siapa pun yang lewat tentang anaknya yang tidak pernah menengoknya.

Mursyid duduk di sampingnya tanpa diminta. Ia mendengarkan keluhannya dengan sabar. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Ketika perempuan itu selesai. Mursyid berkata, "Ibu, berapa lama engkau telah menunggu anakmu?"

"Lima tahun," jawabnya lirih.

"Dan selama lima tahun itu. Apakah engkau masih diberi kesehatan? Apakah engkau masih diberi makan? Apakah engkau masih bisa bangun setiap pagi?"

Perempuan itu mengangguk pelan.

"Maka syukurilah apa yang masih ada. Sebelum engkau mengeluhkan apa yang tidak ada. Buah kedua ridha adalah lisan yang tidak mengeluh. Bukan karena hidup ini tanpa luka. Tetapi karena lisan yang ridha memilih untuk menyebut nikmat daripada menuntut takdir."

Air mata perempuan tua itu jatuh. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menggenggam tangan Mursyid erat-erat.

Buah Ketiga: Amal yang Tidak Terhenti

Di depan sebuah masjid kecil. Seorang pemuda duduk termenung. Ia baru saja gagal dalam ujian yang ia impikan bertahun-tahun. Ia merasa hidupnya hancur.

Mursyid duduk di sampingnya. "Apa yang engkau lakukan setelah gagal?"

"Aku berhenti belajar," jawab pemuda itu. "Untuk apa? Usahaku tidak dihargai."

Mursyid menggeleng. "Engkau salah memahami ridha, anakku. Ridha bukan berarti berhenti berusaha. Ridha adalah tetap melangkah meski hasilnya bukan yang engkau inginkan. Orang yang ridha tidak menyerahkan masa depannya kepada keputusasaan. Ia menyerahkannya kepada Allah. Sambil tetap berjalan."

"Buah ketiga ridha adalah amal yang tidak terhenti. Engkau boleh gagal, tetapi jangan berhenti. Engkau boleh kecewa. Tetapi jangan mati. Bangkitlah. Serahkan hasilnya kepada Dzat yang tidak pernah salah menakar."

Buah Keempat: Cinta yang Tidak Bersyarat

Saat fajar mulai menyingsing. Mursyid mengajak para salik duduk di tepi sungai. Air mengalir tenang, dan burung-burung mulai berkicau.

"Buah terakhir ridha" ujar Mursyid. "Adalah cinta yang tidak bersyarat. Engkau mencintai Allah bukan karena Dia memberimu kesehatan. Bukan karena Dia memberimu rezeki. Bukan karena Dia memberimu kebahagiaan. Engkau mencintai-Nya karena Dia adalah Allah. 

Dan ketika engkau mencintai-Nya tanpa syarat. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia berikan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena cinta itu lebih besar dari sakit itu sendiri."

Zaid menunduk. "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai itu?"

Mursyid tersenyum, lalu berdiri. "Engkau tidak akan mencapainya hari ini. Atau besok. Atau tahun depan. Tetapi setiap kali engkau memilih untuk tidak mengeluh. 

Setiap kali engkau memilih untuk tetap beramal. Setiap kali engkau memilih untuk mencintai Allah meski hatimu menangis. Engkau sedang menanam benih ridha. Dan suatu hari. Benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang. Tempat orang-orang berlindung dari panasnya dunia."

Ridha adalah Rumah

Matahari mulai terbit. Para salik kembali ke zawiyah. Di perjalanan pulang. Tidak ada yang berbicara. Mereka masing-masing merenungkan apa yang baru saja mereka lihat. Pedagang yang tidak gelisah. Perempuan tua yang berhenti mengeluh. Pemuda yang bangkit. Dan cinta yang tidak bersyarat.

Sesampainya di zawiyah, Mursyid berkata untuk terakhir kalinya dalam majelis panjang ini:

"Anak-anakku, engkau telah menempuh tujuh maqam. Taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, makrifat, dan ridha. 

Ketahuilah, ridha bukanlah maqam terakhir. Ia adalah rumah tempat semua maqam itu bertemu. Di dalam ridha. Taubat menjadi manis. Sabar menjadi ringan. Zuhud menjadi indah. Tawakal menjadi tenang. Mahabbah menjadi sempurna. Dan makrifat menjadi cahaya."

"Ingatlah pesan terakhir ini. Orang yang ridha tidak pernah kehilangan. Karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah. Dan ia hanya menitipkannya. Ketika Allah mengambilnya. Ia tidak berduka. Karena ia tahu bahwa yang mengambil adalah Dzat yang lebih mencintainya daripada ia mencintai dirinya sendiri. "

Mursyid mengangkat tangan, dan para salik mengaminkan doa penutup:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang ridha. Ridha dengan takdir-Mu. Ridha dengan ketentuan-Mu. Ridha dengan segala yang Engkau berikan dan Engkau ambil. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang Engkau ridhai. Di tempat yang tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi keluhan. Dan tidak ada lagi perpisahan. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Matahari telah naik sepenuhnya. Dan para salik pulang dengan hati yang—untuk pertama kalinya—merasa seperti rumah yang telah lama mereka cari.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan serial Tasawuf-20, Wejangan Sheikh Abdul Qodir Al Jaelani)

Minggu, 11 Oktober 2026

Wawancara Imajiner-3, dengan Presiden Donald J. Trump: "Tentang Korupsi Indonesia"


Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu seperti air mata yang tidak diminta. Trump sudah duduk sebelum seorang Jurnalis Indonesia, KGM (Ki Gempur Mudharat) masuk. Kali ini tidak ada TV menyala. Tidak ada dokumen tebal di meja. Hanya ada selembar kliping koran Indonesia. Terjemahan bahasa Inggris. Dengan judul besar yang dicetak tebal.

"Daftar Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia (Berdasarkan Nilai Kerugian Negara)."


Trump: (menunjuk kliping saat aku duduk) Baca ini..!

KGM: Saya sudah membacanya, Mr. Presiden.

Trump: Baca lagi. (mendorong kliping itu ke arahku) Aku ingin kau tahu apa yang aku tahu.

(Aku membaca. Angka-angka itu. Ada triliunan rupiah, Ratusan nama. Puluhan tahun. Foto koruptor. Sebuah sistem yang tidak dibangun dalam semalam. Tetapi bertahan selama puluhan tahun.)

Trump: (bersandar) Kau tahu apa yang paling menggangguku? (berhenti) Bukan angkanya. Angka itu...(mengibaskan tangan)...angka itu tidak begitu berarti apa-apa bagiku. Yang menggangguku lihat wajah-wajahnya. (mengetuk kliping) Lihat, mereka semua tersenyum. Di foto-foto itu. Semua tersenyum dan ada yang melambaikan tangan ke wartawan. (menggeleng) Aku tahu senyuman dan lambaian tangan itu. Aku pernah melihatnya di New York. Di Atlantic City. Orang-orang yang mengambil uang orang lain. Lalu berfoto seolah-olah mereka pahlawan.

KGM: Anda menyebut korupsi sebagai masalah. Tapi banyak yang mengatakan perjanjian ART justru membuka celah baru untuk korupsi. Karena perusahaan AS bisa masuk tanpa divestasi. Tanpa transparansi penuh.

(Catatan: Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 menandai babak baru hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Perjanjian ini menekankan kedaulatan ekonomi, kemakmuran, serta ketangguhan rantai pasok.red.)

Trump: (mata menyipit) Transparansi. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa yang bicara tentang "transparansi"? Orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau orang yang ingin kau percaya bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. (berhenti) Dengar. Aku tidak datang ke Indonesia untuk memberantas korupsi kalian. Itu bukan tugasku. Itu tugas kalian. (mengetuk meja) Tapi aku tidak akan menambah masalah itu. Perjanjian kami punya klausul anti-suap. Punya klausul audit. Punya klausul pemutusan kalau ada pelanggaran.

KGM: Tapi klausul itu hanya berlaku untuk perusahaan Amerika. Bukan untuk pejabat Indonesia yang menerima suap.

Trump: (tertawa, tanpa humor) Oh, jadi sekarang aku yang harus mengawasi pejabat kalian? (menggeleng) Aku sudah mengawasi negaraku sendiri. Kau tahu berapa banyak orang yang kupecat karena korupsi? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan kau tahu apa yang terjadi? (berhenti) Mereka menulis buku. Mereka muncul di CNN. Mereka bilang aku "otoriter". (mengangkat tangan) Jadi maafkan aku kalau aku tidak terlalu bersemangat membersihkan rumah orang lain. Ketika rumahku sendiri masih penuh tikus.

KGM: Tapi Anda sendiri pernah mengatakan Indonesia adalah mitra strategis. Bukankah mitra seharusnya saling membantu?

Trump: (diam lama..untuk pertama kalinya dan terlihat benar-benar berpikir): Kau tahu apa arti "mitra" bagiku? (menatapku) Mitra berarti kau tidak menipuku. Kalau kau menipuku, kau bukan mitra. Kau musuh. (berhenti) Dan aku sudah melihat cukup banyak negara yang bilang "mitra" sambil menggelapkan uang bantuan. (menggeleng) Indonesia? Memang Aku belum melihat itu. Tapi aku juga belum mempercayai sepenuhnya.

KGM: Jadi Anda tidak percaya pada Indonesia?

Trump: Aku percaya pada Prabowo. (menunjuk) Dia datang ke sini. Dia menatap mataku. Dia bilang apa yang dia mau. Dan dia bilang apa yang dia tidak mau. (berhenti) Itu jarang. Sangat jarang. (diam) Tapi Prabowo bukan Indonesia. Prabowo adalah satu orang. Dan satu orang...(mengangkat bahu)...satu orang tidak bisa mengubah sistem yang sudah berkarat selama puluhan tahun.

(Hujan di luar semakin deras. Trump berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota Washington yang basah.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kusesalkan? (diam) Bukan perjanjian. Bukan tarif. (menoleh, matanya tajam) Aku menyesal tidak memasukkan klausul yang lebih keras. Klausul yang bilang: "Kalau kalian korupsi, kalian bayar." (berhenti) Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku lakukan itu, mereka tidak akan tanda tangan. (tertawa pahit) Itulah politik. Itulah dunia.

KGM: Jadi Anda tahu ada korupsi, Dan Anda tetap tanda tangan?

Trump: (kembali ke kursinya, duduk, menatapku langsung) Aku tanda tangan karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Kalau aku tidak tanda tangan, China yang akan tanda tangan. Dan China tidak peduli soal korupsi. China menggunakan korupsi. (mengetuk meja) Aku memilih kalah kecil daripada kalah besar. Itu namanya strategi.

KGM: Beberapa pihak menyebut itu "membiarkan".

Trump: (mengangkat alis) Membiarkan? (tertawa) Aku tidak membiarkan apa pun. Aku memilih. Itu berbeda. (mencondongkan tubuh) Dan kau tahu apa bedanya? Orang yang "membiarkan" tidak peduli. Tapi Aku peduli. Aku peduli karena kalau Indonesia runtuh karena korupsi, Amerika rugi. (menunjuk dirinya) Dan aku tidak suka rugi.

KGM: Satu pertanyaan terakhir. Jika Anda bisa berbicara langsung kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang yang setiap hari membayar harga dari korupsi. Apa yang akan Anda katakan?

(Trump menatap lama. Hujan berhenti di luar. Sinar matahari pertama menembus jendela, jatuh di meja, tepat di kliping itu.)

Trump: Aku akan bilang ini. (suaranya lebih pelan) Korupsi bukan masalah Amerika. Bukan masalah Trump. (berhenti) Itu masalah kalian. Dan hanya kalian yang bisa menghentikannya. (diam) Aku bisa menandatangani perjanjian. Aku bisa mengirim investasi. Aku bisa menekan Prabowo untuk membersihkan rumahnya. (menggeleng) Tapi aku tidak bisa memaksa kalian untuk memilih pemimpin yang jujur. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk berhenti menerima amplop. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk marah. (menatapku) Itu... itu pekerjaan kalian.

Trump: Kau tanya soal korupsi. Sudah Aku jawab. Tapi kau tidak tanya apa yang harus dilakukan Prabowo. (menaikkan alis) Itu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan sejak awal.

KGM: Baik. Jadi apa yang harus dilakukan Prabowo?

Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Pertama, berhenti berpura-pura. (mengetuk meja) Aku sudah melihat banyak pemimpin. Yang berhasil adalah yang bilang, "Ya, negara saya korup. Saya akan hadapi." Yang gagal adalah yang bilang, "Tidak, itu fitnah." (menggeleng) Prabowo bukan orang bodoh. Dia tahu. Tapi tahu saja tidak cukup. Dia harus mengatakannya. Di depan rakyatnya. Di depan dunia. (berhenti) Pemimpin yang tidak mengakui masalahnya. Tidak akan pernah menyelesaikannya.

KGM: Dan yang kedua?

Trump: Kedua, jangan lindungi kawan. (matanya tajam) Kau tahu kenapa korupsi bertahan di mana pun? Bukan karena orang jahat. Karena orang baik melindungi orang jahat. (mengetuk meja) "Dia teman saya." "Dia membantu saya waktu kampanye." "Dia dari partai saya." (menggeleng) Itu... itu kanker. Prabowo harus siap kehilangan koalisi. Kehilangan kursi. Kehilangan suara. Kalau dia tidak siap. Ia bukan pemimpin. Dia pedagang.

KGM: Itu berat secara politik.

Trump: (tertawa kering) Politik? (mencondongkan tubuh) Aku pernah kehilangan segalanya. Tiga kali bangkrut. Kau tahu apa yang kupelajari? Kalau kau takut kehilangan. Kau akan kehilangan segalanya. Prabowo harus berani. Bukan berani mati. Berani kehilangan.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, beri KPK gigi. (menunjuk) Bukan taring. Bukan cakar. Gigi. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada lembaga anti-korupsi yang lemah? Mereka jadi monumen. Bagus untuk foto. Tidak berguna untuk penjara. (menggeleng) Prabowo harus memastikan KPK punya anggaran. Punya perlindungan. Punya kebebasan. Kalau tidak. Dia sama saja dengan pendahulunya.

KGM: Sekarang KPK. Apa yang harus dilakukan lembaga anti-rasuah itu?

(Trump diam lama. Untuk pertama kalinya sejak wawancara ini dimulai, ia terlihat tidak nyaman.)

Trump: KPK. (mengulang kata itu dengan pelan) Kau tahu apa yang kupikirkan tentang KPK?

KGM: Apa?

Trump: Mereka berani. (mengangguk) Aku sudah baca. Mereka menangkap menteri. Menangkap gubernur. Menangkap hakim. (berhenti) Di negara mana pun, itu...itu bunuh diri politik. Dan mereka melakukannya. (diam) Aku menghormati itu. Aku tidak suka mereka. Karena mereka pernah menyelidiki hal-hal yang...(mengibaskan tangan)...tidak penting. Tapi aku menghormati mereka.

KGM: Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Trump: Pertama. Berhenti mengejar tikus kecil. (mengetuk meja) Aku dengar KPK menangkap pejabat desa. Pejabat kecamatan. (menggeleng) Itu bukan korupsi. Itu kelaparan. (berhenti) Kejar yang besar. Yang menandatangani kontrak triliunan. Yang punya rekening di Singapura. Yang anaknya kuliah di London. (menunjuk) Itu...Itu target yang sebenarnya.

KGM: Kedua?

Trump: Kedua, jangan main politik. (matanya tajam) KPK harus netral. Bukan alat pemerintah. Bukan alat oposisi. (berhenti) Kalau KPK menangkap orang karena dia oposisi — itu bukan penegakan hukum. Itu balas dendam. Dan rakyat tahu. (menggeleng) Rakyat selalu tahu.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, bekerja dengan kami. (mencondongkan tubuh) Amerika punya FBI. Punya CIA. Punya Treasury. Kami punya data. Kami punya jejak uang. (mengetuk meja) Kalau KPK mau, kami bisa membantu. Tapi KPK harus meminta. Jangan sombong. Jangan merasa bisa sendiri. (berhenti) Korupsi itu lintas negara. Uangnya lari ke Singapura, ke Swiss, ke Amerika. Kalau KPK tidak bekerja dengan kami. Mereka hanya menangkap bayangan.

KGM: Tapi ada kritik bahwa Amerika sendiri tidak serius memberantas korupsi. Bahwa Anda justru menerima uang dari oligarki.

Trump: (mata menyipit) Oligarki. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa oligarki? Orang yang punya uang. Dan orang yang punya uang... (mengangkat tangan) ...biasanya pintar. (tersenyum tipis) Aku tidak menerima uang dari oligarki. Aku menerima investasi. Itu berbeda. (berhenti) Dan kau tahu apa bedanya dengan korupsi Indonesia? Di sini, itu legal. (mengetuk meja) Kalau kalian mau uang kami. Kalian harus membuatnya legal. Bukan dengan amplop. Tapi dengan kontrak.

KGM: Itu terdengar seperti pembenaran.

Trump: (tertawa) Pembenaran? (menggeleng) Kau tahu apa itu pembenaran? Pembenaran adalah ketika kau bilang, "Semua orang melakukannya." (menunjuk dirinya) Aku tidak bilang begitu. Aku bilang, "Aku melakukannya. Dan itu legal." (berhenti) Kalau kalian tidak suka. Ubah hukumnya. Jangan salahkan aku.

(Hari mulai sore. Trump berdiri, berjalan ke jendela. Kali ini ia tidak menatap kota. Ia menatap langit.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kuharapkan dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Aku berharap...suatu hari nanti. Aku membaca berita dari Jakarta. Bukan tentang korupsi. Bukan tentang skandal. (berhenti) Tapi tentang seorang jenderal yang menolak amplop. Atau seorang menteri yang mengundurkan diri karena tidak mau berbohong. (menoleh, matanya aneh, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang lama hilang) Sesuatu seperti itu. Sesuatu yang...jujur.

KGM: Anda optimis?

Trump: (diam lama) Aku realistis. (kembali ke kursinya) Optimis adalah ketika kau berharap tanpa alasan. Realistis adalah ketika kau melihat data. (mengetuk meja) Dan datanya bilang. Indonesia punya semua yang dibutuhkan. Pemimpin yang berani. Lembaga yang bertaring. Rakyat yang...(berhenti)...Ah, rakyat. Rakyat yang selalu jadi korban. (menggeleng) Itu yang harus berubah.

(Ia mengambil pena. Menulis sesuatu di kliping itu. Lalu mendorongnya ke arahku.)

Aku membaca. Tulisannya besar. Tebal. Seperti perintah:

"PRABOWO: BERANI. KPK: NETRAL. RAKYAT: MARAH. — DJT"

Trump: Itu resepnya. (bersandar) Kau bisa mengutip aku. Kau bisa membenciku. Tapi kau tidak bisa bilang aku tidak peduli.

KGM: Apakah Anda peduli?

Trump: (menatapku lama. Untuk pertama kalinya. Ada sesuatu di matanya. Bukan kehangatan. Tapi sesuatu yang lebih tua): Aku peduli karena korupsi membuat negara lemah. Dan negara lemah...(berhenti)...negara lemah tidak bisa menjadi mitra. Negara lemah hanya bisa menjadi beban. (mengetuk meja) Dan aku tidak suka beban. Aku suka mitra.

(Ia berdiri. Mengulurkan tangan. Jabatan kali ini. Tidak kuat, tidak lemah. Hanya jujur.)

Trump: Sampaikan ini ke Prabowo. Dari aku. (berhenti) "Jangan jadi pemimpin yang dikenang karena apa yang dia ambil. Jadilah pemimpin yang dikenang karena apa yang dia tolak."

(Ia melepas tangan. Berjalan ke meja. Sudah kembali ke pekerjaannya. Telepon. Layar. Dunia yang tidak pernah tidur.)

(Tapi sebelum aku keluar. Ia sempat berucap. Tanpa menoleh. Hampir seperti bisikan):

Trump: Hey. Kalau kau bertemu orang KPK...bilang aku bilang "terima kasih". (berhenti) Mereka bertarung sendirian. Itu...itu berat.

Pintu menutup.

Di luar, matahari mulai tenggelam di atas Washington. Tetapi di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, di sebuah kantor di Jakarta, seseorang sedang membaca berkas — dan tidak tahu bahwa di Ruang Oval, seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja memberikan satu-satunya pujian tulus yang pernah ia berikan kepada lembaga asing.

(Aku sudah berdiri. Sudah memegang tas. Sudah setengah jalan menuju pintu. Trump menghentikanku.)

(Ia hanya berkata. Pelan, hampir ke udara:)

Trump: Tunggu dulu. Sepertinya kau belum tanya soal mereka.

KGM: Mereka?

Trump: (menoleh dari kursinya) Para koruptor. (berhenti) Kau tanya aku soal Prabowo. Soal KPK. Soal Amerika. (mengetuk meja) Tapi kau tidak tanya apa yang harus mereka lakukan. Para Koruptor. Padahal itu...Itu bagian yang paling penting.

(Aku meletakkan tas. Duduk kembali.)

KGM: Baik. Ada saran untuk para koruptor Indonesia?

Trump: (bersandar. Tersenyum tipis. Tapi matanya tidak): Saran? (tertawa pelan) Aku bukan pendeta. Aku bukan hakim. Aku tidak akan bilang, "Bertobatlah." (menggeleng) Itu omong kosong. Orang seperti mereka...Mereka tidak bertobat karena nasihat. Mereka bertobat karena takut.

KGM: Jadi saran Anda adalah ancaman?

Trump: Bukan ancaman. Kenyataan. (condong ke depan) Dengarkan aku. Aku sudah melihat ratusan orang seperti mereka. Di New York. Di Atlantic City. Di Washington. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada mereka semua pada akhirnya? (tidak menunggu jawaban) Tiga hal. Penjara. Kebangkrutan. Atau kematian yang menyedihkan. Tidak ada yang keempat.

KGM Itu terdengar seperti vonis.

Trump: Itu pengalaman. (mengetuk meja) Aku pernah bekerja dengan orang yang mengambil uang klien. Dia bilang, "Aku hanya pinjam." (menggeleng) Dia mati sendirian di apartemen sewaan. Aku pernah kenal seorang politisi yang korup. Dia pikir dia pintar. (berhenti) Sekarang dia di penjara. Dan anaknya tidak mau mengunjunginya. (menatapku) Itu...itu harga. Dan harganya selalu lebih mahal dari yang mereka kira.

KGM: Jadi saran pertama Anda untuk koruptor?

Trump: Berhenti sekarang. (mengangkat satu jari) Bukan besok. Bukan setelah pemilu. Sekarang. (berhenti) Kau tahu kenapa? Karena setiap hari kau terus. Kau menambah utang. Bukan utang uang. Utang nyawa. (mengetuk meja) Setiap amplop yang kau terima. Ada anak yang tidak dapat sekolah. Ada ibu yang tidak dapat obat. Ada jalan yang tidak dibangun. (diam) Kau tidak mencuri dari pemerintah. Kau mencuri dari orang-orang yang tidak bisa melawan.

KGM: Kedua?

Trump: Kembalikan. (mengangkat dua jari) Aku tahu. Aku tahu. Kau tidak akan mengembalikan semuanya. Tidak ada yang mengembalikan semuanya. (menggeleng) Tapi kembalikan sebagian. Diam-diam. Lewat perantara. Lewat yayasan. (berhenti) Aku tidak bilang itu cukup. Aku bilang itu lebih baik dari tidak sama sekali. Dan kadang...Kadang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan.

KGM: Itu terdengar seperti kompromi dengan kejahatan.

Trump: (tajam) Kompromi? (tertawa) Kau jurnalis tahu apa itu kompromi? Kompromi adalah ketika kau duduk dengan orang yang kau benci. Dan kau membuat kesepakatan yang tidak kau sukai. Karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Aku melakukannya setiap hari. Setiap. Hari. (menunjuk) Aku tidak bangga. Tapi aku realistis.

KGM Baik. Saran ketiga untuk koruptor?

(Trump diam lama. Kali ini, ia menatap keluar jendela. Ke kota Washington yang mulai gelap. Ke lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh.)

Trump: Ketiga, jangan ajari anakmu. (suaranya lebih pelan) Ini yang paling penting. (menoleh) Kau boleh korup. Kau boleh mengambil. Kau boleh berbohong. (berhenti) Tapi jangan wariskan itu. Jangan ajari anakmu bahwa itu normal. Jangan biarkan dia tumbuh berpikir bahwa mengambil uang rakyat adalah...cara hidup.

KGM: Mengapa itu yang paling penting?

Trump: Karena itu satu-satunya hal yang bisa mengubah Indonesia. (mengetuk meja) Bukan KPK. Bukan Prabowo. Bukan Amerika. (menggeleng) Anak-anak kalian. Kalau mereka tumbuh jujur. Dalam dua puluh tahun Indonesia akan berbeda. Kalau mereka tumbuh seperti kalian...(berhenti)...Dalam dua puluh tahun, Indonesia akan sama. Atau lebih buruk.

(Hening. Lampu ruangan berkedip sekali.)

KGM: Anda bilang Anda bukan pendeta. Tapi itu terdengar seperti khotbah.

Trump: (tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lain di matanya): Mungkin. (bersandar) Tapi kau tahu apa bedanya aku dengan pendeta? (berhenti) Pendeta bilang, "Tuhan akan mengampuni." (menggeleng) Aku bilang, "Aku tidak akan."

KGM: Tapi Anda kan bukan hakim.

Trump: Memang Aku bukan hakim. (mengangguk) Tapi aku presiden. Dan presiden...Presiden punya ingatan. (mengetuk meja) Kalau kau korup. Dan kau datang ke Amerika untuk berbisnis. Untuk menaruh uang. Untuk mengirim anakmu ke sekolah. (berhenti) Aku akan tahu. Dan aku tidak akan lupa.

KGM: Itu ancaman?

Trump: Itu informasi. (mengangkat bahu) Kau bisa mengabaikannya. Banyak orang mengabaikan. (diam) Mereka semua menyesal.

(Ia berdiri. Berjalan ke pintu. Membukanya sendiri. Sesuatu yang jarang ia lakukan.)

Trump: (berdiri di ambang pintu): Kau tahu apa yang paling kusuka dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Rakyatnya. (berhenti) Mereka sabar. Mereka tabah. Terlalu sabar dan tabah. (menggeleng) Mereka bisa memaafkan. Mereka bisa lupa. (menatapku) Itu kekuatan kalian. Tapi juga kelemahan kalian. (diam) Karena orang yang terlalu sabar...Akan selalu dimanfaatkan.

(Ia mengulurkan tangan. Jabatan terakhir. Kuat, singkat, seperti segel.)

Trump: Sampaikan ini ke mereka. Dari aku. Langsung. (berhenti) "Aku tidak akan mengejar kalian. Aku tidak akan menghukum kalian. Aku tidak akan mengirim FBI ke Jakarta." (menatap mataku) "Tapi ingat. Dunia mengecil. Dan pada akhirnya. Kalian akan bertemu seseorang yang tidak sabar."

(Ia melepas tangan. Masuk kembali. Pintu mulai menutup.)

(Tapi sebelum tertutup sepenuhnya. Suaranya masih terdengar. Dan, hampir seperti doa yang tidak ia akui:)

Trump: Semoga kalian tidak bertemu orang itu. Karena kalau kalian bertemu... (berhenti)...dia tidak akan sebaik aku.

(Pintu menutup.)

(Di luar, malam sudah penuh. Washington menyala seperti kota yang tidak pernah tidur dan tidak pernah jujur. Dan di suatu tempat. Ribuan kilometer jauhnya. Di sebuah rumah besar berpagar tinggi. Seseorang sedang menghitung uang dan emas batangan. Dan mereka tidak tahu bahwa di Ruang Oval. Seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja menulis wasiat untuk jiwanya.)

(Yang tersisa di mejanya. Tertinggal di bawah kliping koran:)

"BERHENTI. KEMBALIKAN. JANGAN WARISKAN. — DJT"

(Wawancara imajiner ini adalah karya fiksi sastra. Semua dialog adalah imajinasi. Tidak ada klaim faktual atas pernyataan Donald Trump atau Prabowo atau maupun pihak mana pun. Isu korupsi yang disebutkan berdasarkan laporan publik dan tidak menunjuk individu tertentu. )

== T A M A T ==
(Nantikan Wawancara Imajiner Berikutnya)


Lakon Greenpeace di Bundaran Hotel Indonesia

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-65) Alkisah, pada suatu pagi yang hening di penghujung Oktober, tatkala embun masih menggantung di dedaunan d...