Sabtu, 30 Juli 2022

Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah tahun ini jatuh pada Sabtu, 30 Juli 2022. Pada tahun baru ini pula terdapat ragam makna spesial bagi umat Muslim.

Bulan Muharram termasuk dalah satu dari empat bulan paling dimuliakan oleh Allah SWT atau disebut sebagai 'bulan haram' (al asyhurul harum) dalam Islam.

Hal ini bahkan tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 36 yang artinya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."


Allah SWT memberikan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada berupa keistimewaan dan kemuliaan. Perbuatan baik, seperti memperbanyak salat sunah, berzikir, bersedekah, dan lain sebagainya, yang dikerjakan pada empat bulan haram tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT.

Tahun baru Islam atau Hijriah memiliki makna tersendiri bagi umat Muslim. Bergantinya tahun baru Islam diperingati pada 1 Muharram, dan berbeda dengan penanggalan masehi.

Islam memang mengajarkan kepada kita bahwa sebagai umat Muslim, kita harus menyambut tahun baru memakai sistem penanggalan Hijriah dan memperingatinya dengan doa serta berzikir bersama.

Ada peristiwa penting yang terjadi sehingga muncul penanggalan hijriah, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Madinah ke Makkah.

Peristiwa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah bagi umat Muslim karena semenjak itu agama Islam berkembang pesat di sebagian besar daerah Jazirah Arab.

Penanggalan Hijriah yang diawali pada 1 Muharram digagas oleh sahabat nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, sebagai tanda hijrah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalam menyambut dan memperingati tahun baru Islam, umat Muslim diharapkan memaknainya dengan membuka lembaran baru serta mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan.

Lantas, sebenarnya apa saja makna tahun baru Islam yang perlu kita pahami? Berikut makna tahun baru Islam bagi umat muslim:

1. Momentum Pergantian Tahun

Makna tahun baru 1 Muharram bagi umat Muslim yang pertama adalah sebuah momentum adanya pergantian tahun. Tentu ini menandakan akan perubahan tahun Hijriyah dari tahun sebelumnya ke tahun yang baru.

Momen pergantian tahun baru Islam bagi beberapa umat sering dirayakan dengan berbagai aktivitas berbeda, seperti sembari membaca Al-Qur'an dan berzikir muji nama Allah SWT.

2. Memperingati Nabi Muhammad SAW Hijrah

Tahun baru Islam memiliki arti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju ke Madinah dan menjadi peristiwa penting lahirnya Islam sebagai agama yang berjaya.

Dari hijrah tersebut, Islam mulai mengalami perkembangan yang pesat dan makin luas sampai ke Makkaah dan beberapa daerah di sekitarnya.

Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah bukan tanpa alasan, namun karena memperoleh wahyu dan juga sebuah respons untuk menanggapi masyarakat Arab yang tidak terlalu berkenan dengan ajaran Islam.

Dengan hijrahnya Nabi Muhammad tersebut, Islam mulai mengalami peningkatan dalam menunjukkan diri dan menjadi negara Islam [Daulah Islamiyah] terbentuk. Daulah Islamiyah di zaman Nabi Muhammad sangat menjunjung tinggi toleransi yang termaktub dalam Piagam Madinah.

3. Semangat Perjuangan Tanpa Putus Asa

Makna tahun baru Islam yang berikutnya dapat diartikan sebagai semangat perjuangan tanpa mengenal rasa putus asa serta optimisme yang tinggi, yakni semangat hijrah dari hal buruk menuju hal yang lebih baik.

Rasulullah SAW serta para sahabatnya melawan rasa sedih dan takut saat hijrah, di mana mereka harus meninggalkan tanah kelahiran, saudara dan harta benda yang mereka miliki.

4. Bukti Betapa Maha Adilnya Allah SWT

Tidak seperti tahun Masehi di mana permulaan hari atau pergantian hari terjadi di jam 00:01, tahun baru Islam dimulai saat matahari terbenam atau munculnya bulan.

Inilah yang menyebabkan Tahun Masehi dari Isa Al Masih dalam Islam dinamakan Tahun Syamsyiah (matahari), sementara untuk tahun Hijriah atau tahun Islam dinamakan tahun Qimariah (bulan).

Bukti dari Maha Adil Allah SWT akan terlihat pada daerah dekat ekuator atau khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara Arab yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar, fluktuasi lamanya berpuasa untuk setiap tahun hampir tidak banyak memiliki perbedaan.

Hal ini tidak terjadi di beberapa belahan bumi lain di mana waktu berpuasa bisa lebih singkat atau lebih lama.

5. Momen Muhasabah atau Intropeksi Diri

Makna tahun baru Islam yang berikutnya adalah sebagai momen introspeksi diri atau muhasabah. Dengan memasuki tahun baru Islam atau Hijriah, kita akan memasuki 1 Muharram yang berarti sudah meninggalkan tahun yang sudah berlalu dan memasuki tahun yang baru.

Dalam menyambut tahun baru Islam, kita bisa merenungkan perbuatan kita di tahun-tahun sebelumnya dan merencanakan tujuan di tahun yang baru ini dengan resolusi-resolusi yang Anda tetapkan sendiri.

Tentunya resolusi ini merupakan resolusi yang baik dan harus diiringi oleh usaha yang tekun dan berdoa yang tanpa henti, berharap kepada Allah ta'ala.

6. Momen Menuju Kebaikan

Makna tahun baru Islam memiliki makna bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang.

Hal ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 218)

7. Pengingat akan Pentingnya Berakhlak Mulia

Makna tahun baru Islam yang selanjutnya adalah dapat menjadi pengingat dari pentingnya akhlak mulia. Tentu sering kita dengar bahwa berilmu saja tidak berguna jika Anda tidak berakhlak.

Akhlak mulia akan menjadi pendorong Anda untuk dapat terus berbuat baik dan menebar kebaikan kepada banyak orang, yang kemudian hasil kebaikan itu akan Andai tuai kembali di kemudian hari.

8. Menghindari Kultus Individu

Penentuan tahun baru Islam tidak didasari dengan kelahiran, namun pada peristiwa. Hal ini memperlihatkan Islam merupakan agama yang progresif, bergerak terus maju, tidak stagnan, dan bergerak dari satu peristiwa menuju ke peristiwa yang lainnya sesuai perkembangan zaman, kebutuhan tempat dan kebutuhan manusia yang hidup pada saat tersebut.
(Sumber: DalamIslam//dkmalmuhajirin/ankid/nas)

Rabu, 15 Juni 2022

Qurban dan Kedekatan dengan Allah

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

Diceritakan, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang panglima yang digelari “asadullah” (singa Allah), tubuhnya bergemuruh setiap mendengar genderang perang ditabuh. Badannya selalu terkoneksi dengan sinyal-sinyal ilahiah, atau yang dalam dunia tasawuf disebut “muraqabah”.

Sahabat, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi SAW ini adalah contoh manusia yang “Allah lebih dekat dari urat lehernya.” Seluruh molekul tubuh sosok yang berdua bersama Ali bin Abi Thalib pernah sukses memimpin perang Badar pada tahun 2 Hijriah ini, sudah terisi cahaya Allah. Hatinya (dalam dimensi batiniah disebut qalbu) senantiasa bergetar manakala mendengar Kalimah-Kalimah Suci.

Untuk orang-orang seperti ini Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal: 2).

Hamzah syahid dalam perang Uhud pada tahun 3 Hijriah. Ia bersama Muhammad menjadi target utama pembunuhan. Sebelumnya dalam perang Badar, ia pernah menghabisi ayah dari Hindun. Begitu dendamnya perempuan ini. Lalu ia mengupah dan melatih budaknya, Wahsyi bin Harb, untuk membunuh Hamzah.

Hamzah diintai. Dalam kegentingan perang yang amburadul karena pasukan muslim mengabaikan perintah Nabi, Hamzah berhasil ditombak dari belakang. Ia rubuh. Tubuhnya dicincang. Hatinya dirobek-robek dan dimakan Hindun. Paska perang, kaum muslim menelusuri mayat demi mayat untuk mencari Hamzah. Tak dikenali lagi, karena fisiknya sudah dirusak.

Secara heroik diriwayatkan. Untuk mengetahui kepingan tubuh Hamzah, kaum muslimin menabuh kembali genderang perang. Jika ada potongan jasad yang bergerak-gerak, itulah daging Hamzah. Tubuhnya masih mengalami muraqabah bahkan ketika sudah mati sekalipun. Spirit mujahadahnya tinggi sekali.

Cerita serupa kita temukan pada kisah-kisah sufi yang mati dibunuh. Siti Jenar, Hamzah Fansuri, dan ahli muraqabah lainnya. Katanya, begitu dipancung, darah mereka mengalir membentuk Kalimah Allah.

Bagi sebagian kita, ini terkesan mistis. Sulit dicerna. Tidak masuk akal. Saya pun demikian. Setidaknya kita dapat memahaminya dalam pengertian berbeda. Bahwa secara hakikat, orang-orang beriman itu senantiasa “hidup”. Tidak pernah mati. Kalimah Allah sudah menyatu dalam darah dan daging mereka.

Dikemudian hari juga ditemukan adanya jasad para syuhada yang tubuhnya masih utuh. Darahnya masih segar. Padahal sudah ratusan, bahkan ribuan tahun meninggal. Celah-celah dinding dan lantai kuburan imam Husain, misalnya, diketahui masih sering mengeluarkan bercak merah darah. Pun demikian dengan banyak makam syuhada, para pemimpin dan orang-orang shaleh lainnya. Bumi terkesan enggan menghancurkan tubuh-tubuh yang Nur Allah sudah bersemayam dalam diri mereka.

***

Salah satu tugas Nabi adalah mengisi Kalimah Allah ke dalam jiwa pengikutnya. Kalimah yang diisi haruslah Kalimah yang asli. Sebab, kalau sekedar membaca ayat suci, iblis juga bisa. Tapi masalahnya, kalimat itu tidak berasal dari dimensi yang tinggi. Sehingga pengaruhnya tidak ada.

Seorang arifbillah di Dayah Sufimuda Aceh, pernah mengilustrasikan ini dengan sebuah surat yang berisi kalimat-kalimat dari presiden, katakanlah Jokowi. Setiap orang bisa meniru surat itu. Namun, jika surat tersebut palsu, tetap tidak punya efek apapun. Sebab, sebuah surat dan kalimat yang asli, turun dari lembaran negara. Surat dan kalimat-kalimat inilah yang punya efek luar biasa, bisa menaikkan atau menurunkan harga BBM. Sementara surat-surat palsu tidak memiliki power semacam itu, walaupun kop dan tandatangannya persis sama.

Itulah mengapa resonansi bacaan kita terhadap kalimat-kalimat Tuhan lemah. Meskipun diayun-ayun dengan 1001 irama, ditambah fasahah yang sempurna, getaran ilahiah tetap tidak ada. Karena yang membaca itu dimensi “aku”, bukan “Dia.” Bukan unsur Tuhan yang membacanya. Tapi nafsu.

Kalau bacaannya berasal dari lembaran jiwa yang suci, pasti mampu mengobati berbagai penyakit, mengalahkan musuh-musuh, mengusir unsur-unsur setan, menjadi petunjuk dan menenangkan jiwa. Oleh sebab itu, kesucian jiwa menjadi prasyarat untuk berfungsinya semua Kalimah itu. Metodologi penyucian jiwa disebut tarekat (sufisme praktis). Tentu dengan bimbingan seorang mursyid yang memiliki kompetensi kewalian (waliyammursyida, QS. Alkahfi: 17).

***

Idul Adha dikenal dengan “Idul Qurban.” Makna dari “kurban” adalah kedekatan dengan Allah. Proses berkurban sejatinya membawa kita semakin dekat dengan Allah. Salah satu indikasi “dekat” dengan Allah adalah seperti disebutkan dalam QS. Al-Anfal ayat 2 di atas: “bergetar qalbunya kalau mengingat Allah.”

Apa hubungan penyembelihan hewan kurban dengan kedekatan kepada Allah?

Pertama, seperti sudah umum dijelaskan oleh banyak ulama tasawuf, penyembelihan hewan adalah simbol penyembelihan “diri” (ego, keakuan atau sifat-sifat kebinatangan). Ketika kita sudah bersedia mengorbankan segala yang paling kita cintai di jalan Tuhan, maka saat itulah Allah akan bersedia menghampiri kita. Syarat diterimanya kurban tentu ikhlas. 

Kedua, sesungguhnya, daging kurban itu sendiri jika dimakan akan mengantarkan kita semakin dekat dengan Allah. Sebuah sembelihan yang diawali dengan Kalimah Suci akan mentransfer cahaya ilahi ke dalam darah dan dagingnya. Masaru Emoto (2003) dari Hado Institute Tokyo telah menguji ini terhadap segelas air yang dibacakan kalimat-kalimat positif. Kristal air berubah menjadi baik. Tidak sekedar halal, jenis air yang baik seperti ini yang seharusnya sering kita minum.

Oleh sebab itu, air Zamzam menjadi berkah bukan karena sekedar unsurnya yang baik. Kristalnya juga terbentuk dari doa para nabi dan orang-orang shaleh. Dalam tasawuf, ini dikenal dengan “air tawajuh”. Air yang dizikirkan dengan Kalimah-Kalimah Suci. Konon lagi jika ditalqin oleh sosok nabi dan para imam/wali. Pun daging kurban yang dipotong dengan azan dan Kalimah-Kalimah Suci menjadi daging yang baik. Memakan daging yang mengandung unsur-unsur ilahiah ini akan membawa kita semakin kuat beribadah dan merasakan kehadiran Allah (muraqabah).

Menariknya, Kalimah-Kalimah Suci ini tidak hanya kita bacakan saat menyembelih sapi dan kambing. Selama empat hari tanpa henti; takbir, tahmid, tasbih dan tahlil terus dikumandangkan. Seharusnya, gema ini (jika Kalimahnya asli) mampu mentransfer energi positif ke relung jiwa kaum muslimin. Namun, semakin hari kalimat-kalimat suci yang kita alunkan terkesan semakin bermasalah. Suara azan sekalipun yang seharusnya ketika didengar bisa melembutkan qalbu-qalbu etnis Cina, justru semakin dimusuhi. Ada apa ini?

Pun wuquf di Arafah. Yang seharusnya hadir adalah Allah, kini yang datang justru angin ribut.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

 powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Jumat, 20 Mei 2022

Mengenal Tiga Jenis Tasawuf

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, kata Nabi SAW. Misi irfan atau sufismenya kental sekali: penyempurnaan atau kekeramatan akhlak (makarimal akhlak). Sementara tauhid (akidah) dan syariat (fikih) hanya untuk membentuk dasar-dasarnya saja (dengan cara meyakinkan manusia untuk percaya kepada adanya Allah, lalu memaksa mereka melakukan berbagai ritual fisik untuk menyembah-Nya, walau Allah sendiri tidak pernah bisa dirasakan kehadiran-Nya). Tasawuflah yang mengantarkan itu semua pada bentuk yang sempurna.

Terkait dengan pembentukan akhlak, tasawuf itu terbagi tiga. Mulai dari tasawuf falsafi (tasawuf teoritis), tasawuf akhlaki (adab tasawuf) sampai kepada tasawuf irfani (suluk atau makrifatullah).

Pertama, “Tasawuf Falsafi” (Tasawuf Tauhid/Ontologi Tasawuf/Ilmu Tasawuf)

Ini jenis tasawuf yang sifatnya teoritis. Mirip dengan filsafat tauhid (kalam/teologi), aktifitasnya mengkaji dan memahami hakikat dari eksistensi dengan cara yang unik. Jika filsafat teologi berusaha memahami Tuhan secara rasional, tasawuf falsafi mencoba menemukan bahasa akal untuk menjelaskan berbagai pengalaman mistis. Sehingga lahir konsep-konsep semacam ittihad, wahdatul wujud, gradasi wujud (isyraqiyyah), insan kamil, nur muhammad, tajalli, musyahadah, mukasyafah, fana, baqa, serta terma-terma ilahiah dan kondisi-kondisi batiniah lainnya.

Tasawuf ini fokus pada kemampuan ‘aqliyah (berfikir), termasuk kajian dan baca-baca kitab. Pekerjaan para murid mendengar tausiah bahkan diskusi. Yang disasar adalah kesadaran kognitif (otak). Diharapkan, dengan banyak membaca dan mendengar, para murid memahami ruang lingkup tasawuf.

Tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada Allah. Tasawuf ini hanya membawa murid sampai pada level “mengetahui” berbagai filosofi tentang dirinya, Tuhannya, dan alam semesta; serta relasi antara ketiganya.

Kata para arif: “1000 gelas anggur tidak akan memabukkan, sampai engkau meminumnya. Pun 1000 kitab yang kau baca tidak akan membawamu kepada Tuhan, sampai engkau bersedia menempuh jalan.” Oleh sebab itu, bertasawuf harus melampaui kajian dan ceramah.

Kedua, “Tasawuf Akhlaki” (Tasawuf Syar’i/Fikih Tasawuf/Adab Berguru/Etika)

Tasawuf ini berfokus pada birokrasi atau aturan-aturan formal untuk membentuk sikap dan perilaku murid. Targetnya adalah perbaikan langsung moral dan etika. Tasawuf ini menekankan pada adab lahiriah dan batiniah (ada yang menyebutnya dengan “hadap”) dalam berguru. Sehingga terkenal aturan: “dahulukan adab daripada ilmu”. Kalau sekedar berilmu, iblis lebih alim. Semua kitab sudah dibacanya. Tetapi ia angkuh, merasa paling benar. Kepatuhannya kepada Allah tidak ada.

Jadi, tasawuf akhlaki ini sudah bernilai praktis. Batin seseorang ikut dibentuk dengan berbagai aturan dan kebijakan. Sehingga ia memiliki sifat jujur, adil, ikhlas, murah hati, rajin, patuh, selalu dalam keadaan bersuci, dan lain sebagainya. Pola ketat pendidikan akhlak ini ditemukan dalam jamaah sufi, atau disebut “tarekat”. Mereka membentuk ahlus shuffah, kelompok-kelompok sosial dengan berbagai aturan dan bentuk-bentuk kedisiplinan.

Untuk mencapai ini, sering ditemukan bentuk-bentuk ketaatan kepada ulil amri (guru spiritual). Semua yang ingin menemui Allah diwajibkan ‘sujud’ kepada Adam (sebuah objek wasilah atau kiblat material yang dalam dirinya terdapat entitas maksum nurullah). Disinilah dalam tasawuf atau irfan dipercayai adanya nabi, imam-imam, walimursyid, atau pembimbing ruhani.

Namun lagi-lagi, tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada penyaksian atau merasakan langsung akan keberadaan Allah (musyahadah). Mereka hanya diajari menjadi baik, merasakan seolah-olah Allah melihat mereka. Namun terbentuknya dasar-dasar akhlak (hilangnya ego/keakuan) melalui adab dan ‘ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah) dalam kelompok sosial, menjadi prasyarat untuk sampai kepada Wajah Allah yang hakiki.

Ketiga, “Tasawuf Irfani” (Tarekatullah/Makrifatullah)

Inilah puncak atau jenis tasawuf yang dapat mengubah, mengembalikan manusia kepada jati diri yang fitrah.

Antara hamba dengan Allah ada “jarak” yang memisahkan (hijab). Tasawuf ini merintis jalan untuk kembali kepada Allah, ke asal yang suci. Ini yang disebut “mati sebelum mati” (hadis). Sejak hidup di dunia harus ada usaha untuk sampai, terhubung dan kembali menyaksikan-Nya. Sebab, jika di dunia kita buta, di akhirat juga begitu (QS. Al-Isra: 72). Itulah pendakian ruhani atau disebut sayr (perjalanan) wa suluk (bepergian). Disini ada yang namanya titik keberangkatan, tempat tujuan, stasiun-stasiun (makam) serta kondisi-kondisi yang akan dialami (fenomena-fenomena spiritual) selama perjalanan pulang.

Dalam tasawuf, roh manusia dipandang sebagai organisme hidup. Dari tahap lahir hingga dewasanya, ia harus terus diberi “gizi” agar mengenal Allah. Perjalanan ruhani adalah sebuah proses pendewasaan wadah spiritual ini, yang dimulai dari ritual taubat sampai kepada berbagai bentuk dan jenjang meditasi (dzikir). Praktik tasawuf ini terpusat pada aspek pensucian jiwa sehingga memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan (mikraj) dari satu langit ke langit lainnya (ke berbagai maqam para nabi), sampai kepada yang tertinggi. Pada praktik tasawuf inilah mulut harus terkunci, akal dan logika juga diharuskan mati. Karena yang dihadapi adalah alam yang sama sekali berbeda.

Dalam Alquran banyak suri tauladan yang sejak di dunia disebut-sebut sudah liqa Allah (bertemu Allah), memperoleh wahyu atau ilham, dan berbicara dengan malaikat. Termasuk pengalaman wisata ruhani Muhammad SAW ke “Sidratul Muntaha” (makam musyahadah, fana dan baqa dalam pengetahuan laduni).

Tasawuf ini bersifat amali dan mesti dibimbing oleh seorang “khidir” atau “jibril” yang sudah bolak balik ke alam ketuhanan. Mursyid harus seorang master yang sempurna, dapat membaca persoalan, isi hati dan kebutuhan muridnya (kasyaf). Jika tidak, muridnya bisa tersesat. Kalau tidak dibimbing oleh orang-orang seperti ini, bisa-bisa di alam sana setanlah yang akan menyambut ruhani kita.

Anda harus berdoa untuk menemukan ‘urafa, guru-guru irfani atau para wali pewaris nabi. Mereka sangat langka dan cenderung tersembunyi. Biasanya spiritualitas mereka tinggi sekali, punya qudrah spiritual semacam mukjizat yang disebut “karamah”. Kemampuan aneh mereka ini berada di luar nalar awam. Dalam kondisi tertentu, mereka tidak terikat dengan hukum alam. Karena ruh mereka sudah berada di alam ketuhanan, tidak terjebak lagi dengan materi, ruang dan waktu. Karena itulah jiwa para murid dapat mereka bimbing dari alam material (jabarut) menuju alam malaikat (malakut), sampai ke alam ketuhanan (rabbani).

Bukan cuma terletak pada guru yang mumpuni. Suksesnya perjalanan ini juga tergantung pada kesungguhan si murid sendiri dalam melakukan olah ruhani (riyadhah). Yang malas-malas tidak akan sampai kemana-mana. Akhlaknya juga akan begitu-begitu saja. Sebab, inti dari tarekatullah adalah sungguh-sungguh (mujahadah). Jika ditekuni, jiwa si murid akan sampai kepada sang Khalik, sehingga terbentuk akhlak yang paripurna (kamil). Itulah gambaran kepribadian Muhammad SAW, sosok sempurna, manifestasi (tajalli) dari keagungan Allah. Rahmatallil’alamin terbentuk pada saat seseorang telah mengalami penyatuan dengan-Nya.

Nabi Muhammad diutus Allah untuk membawa kita kepada tarekat, atau jalan perbaikan akhlak yang pernah ia tempuh. Beliau sangat menginginkan kita untuk mereproduksi pengalaman mistisnya. Alquran sendiri sebenarnya adalah kompilasi pengalaman dan pengetahuan mistis Nabi. Sehingga banyak isinya yang mutasyabihat, sulit dipahami, bahkan harus ditafsir-tafsir.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Perang Houthi Arab Saudi: "Ketika Dua Narasi Suci Berbenturan"

Leaderline : Perang antara gerakan Houthi (Ansar Allah) dan Arab Saudi bukan sekadar perang geopolitik atau perang proksi. Di balik rudal, d...