Kau datang dengan topi bulu dan senapan di pundak,
hitam seperti malam yang tak mau enyah,
Hitammu bukan lah hitam kodrati
tapi hitammu adalah hitam yang diganjar.
Hitam yang disewa untuk menggebuk yang lain.
Aku melihatmu di jalanan Batavia,
sepatu kulitmu acapkali menghentak kepala ibu-ibu,
bajonetmu menoreh perut para kuli dan petani.
Kau disebut Londo Ireng
tapi kau bukan hitam apalagi putih,
Kau adalah warna antara,
warna pengkhianat yang tahu persis
ia berdiri di atas siapa.
Wahai, Belanda Hitam...!
Di mana kampungmu? Afrika? Amerika? Atau Indonesia?
Di mana rumput hijau tempat kau kecil berguling?
Lalu mengapa kakimu menginjak tanah Jawa
padahal kau lahir bagai dari rahim mesiu?
Di mana rumput hijau tempat kau kecil berguling?
Lalu mengapa kakimu menginjak tanah Jawa
padahal kau lahir bagai dari rahim mesiu?
Aku tahu
kau dibayar dengan kain belacu dan botol arak.
Kau dibayar untuk melupakan wajah ibumu.
Kau dibayar agar bisu
saat tuan putih mencambuk punggungmu juga.
Kau adalah budak yang menggonggong budak lain,
anjing yang menggigit tangan sesama kuli.
Lihat!
Lumpur sawah kita bercampur darah,
dan darah itu merah sama merahnya.
Tapi kau memilih merah yang dijahit seragam,
bukan merah yang mengalir di nadi Batavia.
Hai, Londo Ireng!
Kau pikir kulit hitammu membuatmu bersaudara dengan kami?
Kau pikir derit gerobakmu sama dengan derit tangis kami?
Kau keliru!
Hitammu adalah hitam komoditas,
hitam yang dijual seharga tembakau dan kopi.
Sedang hitam kami
hitam yang tumbuh dari rahim ibu pertiwi,
hitam yang memeluk bara perlawanan.
Maka sekarang,
ketika kau mati di pinggir kali,
seragammu basah, senapanmu patah,
tak ada yang meratapi
karena kau mati sebagai bayangan,
bukan sebagai manusia.
Namun aku tak mau membencimu.
Aku hanya ingin kau tahu:
di atas semua hitam dan putih,
ada merah yang menyala
merah kemerdekaan yang tak pernah bisa kau beli,
merah yang akan terus mengalir
meski kau dan tuanmu berganti-ganti topi.
Maka pergilah, Londo Ireng.
Bawa pulang tulang-tulangmu ke negeri yang kau lupa.
Dan biarkan kami di sini
menjemur hitam kami menjadi fajar