(Secangkir Anggur Merah, Edisi-33)
Pengantar: Ribuan mahasiswa membanjiri jalanan Jakarta setelah peringatan HUT ke-81 RI. Mereka tidak sekadar membawa spanduk dan meneriakkan slogan. Mereka membawa beban ontologis. Ada sejumlah pertanyaan tentang makna kemerdekaan yang terus menguap. Tentang janji negara yang tak pernah sampai. Tentang bisunya wakil rakyat. Tentang eksistensi rakyat yang semakin terkikis di hadapan kuasa yang semakin rakus. Tentang mencuatnya delapan tuntutan yang disembur water cannon. Tentang terjadinya dilema moral penguasa. Tentang melihat padahal buta. Tentang mendengar padahal tuli.
Mencuatnya delapan tuntutan
Ada delapan tuntutan yang mereka lontarkan. 1. Menghentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri; 2. Memberantas KKN; 3. Mewujudkan reforma agraria sejati; 4. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM; 5. Mengevaluasi total Proyek Strategis Nasional serta menghentikan program MBG dan KDMP; 6. Mengembalikan otonomi daerah; 7. Menetapkan status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores; 8. Menghentikan represifitas TNI-Polri di ruang sipil.
Delapan tuntutan ini bukanlah isu baru. Ini adalah jeritan panjang yang terus terabaikan. Rakyat ingin tahu, apakah negara masih berpihak pada kebenaran? Ataukah kebenaran kini tunduk pada kekuasaan?
Di sinilah dilema moral menggema. Pemerintah merespons dengan pernyataan "kami mendengar". Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menyebut Indonesia adalah negara demokrasi. Lalu mengulang-ulang frasa yang sama. Frasa yang sudah asam dan basi.
Wakil Ketua DPR Saan Mustopa bahkan dengan ringannya menyebut demo sebagai hal yang biasa saja. Dalam bahasa filsafat, "mendengar" tanpa "tindakan" adalah bentuk pengingkaran terhadap hakikat pernyataan. Melihat padahal buta. Mendengar padahal tuli.
Logos yang tak berlanjut menjadi praksis hanyalah gema kosong. Seperti gema di dalam gua yang tak pernah mengubah bentuk gua itu sendiri.
Pertanyaan kritis yang menggugat: Apakah mendengar di sini berarti memahami? Ataukah hanya sebuah strategi pembelian waktu? Ketika tuntutan penghentian program MBG dijawab "itu adalah janji kampanye". Sesungguhnya negara sedang mempertaruhkan logika politik di atas logika keadilan.
Janji kampanye yang merugikan rakyat justru dipertahankan dengan mengatasnamakan konsistensi. Ironi ini membuat demokrasi berubah menjadi monolog kekuasaan.
Dimana Suara Rakyat?
Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, mengungkapkan sebuah kebenaran sosiologis yang mengerikan. Negara semakin kuat, namun rakyat justru melemah. Rusaknya sistem checks and balances akibat dominasi koalisi di parlemen membuat DPR kehilangan fungsi dialektisnya. Bahkan kehilangan daya kritisnya. Apalagi daya juangnya membela rakyat.
Dimana Suara Rakyat?
Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, mengungkapkan sebuah kebenaran sosiologis yang mengerikan. Negara semakin kuat, namun rakyat justru melemah. Rusaknya sistem checks and balances akibat dominasi koalisi di parlemen membuat DPR kehilangan fungsi dialektisnya. Bahkan kehilangan daya kritisnya. Apalagi daya juangnya membela rakyat.
Dalam pemikiran Hegel, setiap institusi negara seharusnya menjadi ruang bagi pertemuan tesis dan antitesis demi lahirnya sintesis yang lebih adil.
Namun ketika seluruh fraksi menjadi satu blok, DPR berubah dari forum deliberasi menjadi panggung orkestra yang hanya memainkan satu nada. Tak lain, sebuah nada kepatuhan. sebuah nyanyian dalam koor siulan sambil berongkang kaki menyuarakan lagu "Padamu Negeri..."
Mahasiswa, dengan demikian, tidak memiliki pilihan selain menjadikan jalanan sebagai agora (tempat berkumpul). Ruang publik terakhir di mana kebenaran masih bisa dipertaruhkan. Dimana keadilan masih bisa diteriakan.
Namun ironis, ruang itu pun disempitkan. Ratusan mahasiswa UI diblokade dan dipaksa berdemo 700 meter dari titik tujuan. Lebih sembilan ribu personel dikerahkan. Water cannon disemburkan ke tubuh-tubuh muda yang hanya membawa poster dan spanduk. Tubuh-tubuh mereka basah kuyup di dalam dada yang panas membakar.
Di sinilah negara menunjukkan wajah ambigue. Di satu sisi mengaku mendukung demokratis. Di sisi lain merawat mekanisme represif yang mencabik-cabik hak berserikat.
Berjuang Melawan Penindasan
Berjuang Melawan Penindasan
Dalam kerangka pemikiran Paulo Freire, kemerdekaan bukanlah kondisi statis yang diraih sekali dan untuk selamanya. Ia adalah proses pembebasan yang terus-menerus. Sebuah perjuangan melawan penindasan yang selalu menjelma dalam bentuk-bentuk baru. Kini dalam rupa ketimpangan ekonomi, korupsi sistemik, dan birokrasi yang mencekik.
Ketika mahasiswa turun ke jalan menuntut penurunan harga pangan dan pemberantasan korupsi, mereka sedang bertanya: Apa artinya merdeka jika perut masih lapar? Apa artinya merdeka jika keadilan hanya untuk yang berkuasa? Apa artinya merdeka ketika jiwa-jiwa penguasa masih dibalut keserakahan dan hedonisme?
Kemerdekaan yang tidak mampu menjawab persoalan-persoalan paling dasar ini adalah kemerdekaan yang kehilangan substansi. Ia hanya tinggal kulit luar tanpa isi. Ia hanyalah sekadar omon-omon bagai pepesan kosong.
Catatan untuk Pengunjuk Rasa
Namun di tengah pekatnya kabut ketidakadilan dan kebisingan kuasa, ada bahaya yang lebih halus dan lebih dekat. Pengkhianatan yang datang dari dalam diri mahasiswa itu sendiri.
Catatan untuk Pengunjuk Rasa
Namun di tengah pekatnya kabut ketidakadilan dan kebisingan kuasa, ada bahaya yang lebih halus dan lebih dekat. Pengkhianatan yang datang dari dalam diri mahasiswa itu sendiri.
Sejarah mencatat betapa banyak aktivis jalanan yang setelah duduk di kursi kekuasaan berubah menjadi batu yang paling bisu. Menjadi predator yang lebih rakus. Dan menjadi juru bicara status quo yang paling lihai. Suara-suara yang dulu menggelegar bersama kepalan tangan meninju angkasa, kini bagai kena stroke akut mirip macan ompong yang kekenyangan.
Fenomena ini bukanlah sekadar kegagalan individu. Ia adalah kegagalan kesadaran kritis yang tidak pernah membangun habitus perlawanan terhadap godaan kekuasaan.
Dalam bahasa Platonis, jiwa yang tidak terlatih dalam filsafat akan mudah terhipnotis oleh bayang-bayang di dinding gua. Di mana jabatan, gaji, dan fasilitas mewah adalah bayang-bayang yang membuatnya lupa akan cahaya keadilan dan kebenaran.
Kepada mahasiswa yang hari ini berdiri di garis depan, ujian sejati bukanlah ketika kalian menghadapi water cannon atau blokade polisi. Ujian sejati adalah ketika kalian kelak menjadi pejabat, menjadi birokrat, atau menjadi anggota dewan.
Kepada mahasiswa yang hari ini berdiri di garis depan, ujian sejati bukanlah ketika kalian menghadapi water cannon atau blokade polisi. Ujian sejati adalah ketika kalian kelak menjadi pejabat, menjadi birokrat, atau menjadi anggota dewan.
Di sanalah godaan tidak datang dengan teriakan kasar, melainkan dengan bisikan lembut: "Nikmati saja fasilitas ini, ini hakmu. Lupakan idealisme dan cita-cita masa lalu."
Pada titik itu, hanya mereka yang memiliki tameng ideologis yang kokohlah yang akan selamat. Yang dibangun dari kontemplasi terus-menerus tentang makna keadilan dan tanggung jawab. Jangan biarkan kemerdekaan yang kalian tuntut di jalanan menjadi sia-sia karena tangan kalian sendiri kelak mengkhianatinya.
Jika hari ini kalian mengecam KKN, maka kelak jangan pernah menerima suap, sekecil apa pun. Jika hari ini kalian menyoroti represi negara, maka kelak jangan pernah menggunakan aparatur untuk membungkam kritik. Meskipun kritik itu menyakitkan.
Jika hari ini kalian mengecam KKN, maka kelak jangan pernah menerima suap, sekecil apa pun. Jika hari ini kalian menyoroti represi negara, maka kelak jangan pernah menggunakan aparatur untuk membungkam kritik. Meskipun kritik itu menyakitkan.
Jika hari ini kalian menuntut keadilan sosial, maka kelak jangan pernah menikmati kekayaan negara sementara rakyat kelaparan. Karena musuh terbesar perjuangan bukanlah penguasa yang duduk di istana, melainkan diri sendiri yang lupa akan asal-usul.
Para pendiri bangsa tidak berjuang untuk menjadi pejabat. Mereka berjuang untuk membangun negeri yang berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat. Maka peganglah selalu pertanyaan sokratis dalam setiap langkah politik kalian: "Apakah keputusanku hari ini membawa rakyat semakin sejahtera atau semakin melarat?"
Idealisme bukanlah sekadar orasi menggema di panggung. Ia adalah konsistensi dalam tindakan, bahkan ketika tidak ada yang melihat, bahkan ketika dunia menawarkan kemudahan.
Idealisme bukanlah sekadar orasi menggema di panggung. Ia adalah konsistensi dalam tindakan, bahkan ketika tidak ada yang melihat, bahkan ketika dunia menawarkan kemudahan.
Bangsa ini kehabisan orang-orang jujur. Kehabisan jiwa-jiwa yang tidak tunduk pada jabatan. Maka jangan biarkan jalanan yang kini kalian injak dengan penuh keberanian menjadi saksi bisu pengkhianatan kalian di masa depan.
Merdekalah dalam suara, merdekalah dalam tindakan. Dan yang terpenting, merdekalah dari hasrat menjilat kekuasaan. Sebab kemerdekaan sejati, dalam makna yang paling dalam, adalah ketika idealisme tidak pernah tunduk pada jabatan. Dan ketika jiwa selalu setia pada kebenaran. Meskipun kebenaran itu pahit dan sepi. Camkan itu, Wahai Mahasiswa para Pengunjuk Rasa...!!
Kalian bisa bersaksi pada para pentolan pengunjuk rasa tahun 1998 yang kini sudah memiliki kuasa jabatan. Apakah mereka konsisten terhadap perjuanggannya dulu. Atau telah terjadi degradasi moral idealismenya menjadi pribadi-peribadi pengecut, munafik, bahkan penjilat...!!
Akhir kata, jalanan akan terus bergema selama suara-suara dibiarkan menghitam di atas kertas. Namun kalian, mahasiswa, adalah penjaga api yang tidak boleh padam. Karena ketika api itu padam, maka kegelapan total akan menyelimuti negeri ini. Bukan kegelapan dari luar, melainkan kegelapan dari dalam diri kita sendiri.
Akhir kata, jalanan akan terus bergema selama suara-suara dibiarkan menghitam di atas kertas. Namun kalian, mahasiswa, adalah penjaga api yang tidak boleh padam. Karena ketika api itu padam, maka kegelapan total akan menyelimuti negeri ini. Bukan kegelapan dari luar, melainkan kegelapan dari dalam diri kita sendiri.
Tetaplah nyalakan obor idealisme dan kibarkan bendera perjuangan. Masa depan ada di tangan kalian. Jangan disia-siakan...!!! Sekali lagi jangan disia-siakan...!!!
