Catatan Pembuka: Setelah sesi pertama tersiar. Publik terbelah. Ada yang melihat Febrie sebagai martir sistem. Ada yang melihatnya sebagai aktor yang sedang memainkan narasi terakhir. Sesi kedua ini berlangsung di ruang berbeda. Bukan di koridor. Melainkan di ruang tamu Rutan KPK yang pengap. Pukul 21.47 WIB. Kali ini, tidak ada kamera. Hanya ada pena. Perekam. Dan seorang pria yang tampak kehilangan berat badan 5 kilogram. Hanya dalam dua minggu. Nada suaranya lebih rendah. Tapi matanya lebih tajam.
Bagian Keenam: "Kalau Saya Bersalah, Tunjukkan Lembarannya"
Ki Gempur: Malam ini saya tidak akan sopan. Anda bilang Pengawasan kosong 33 tahun. Tapi justru itu yang membuat publik curiga. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu bersih di atas kertas. Tapi punya 74 kilogram emas di rumah? Bukankah itu bukti bahwa sistem Pengawasan Anda sendiri yang lumpuh?
FA: (Diam tujuh detik. Menatap lurus) Justru itu pertanyaan yang saya ingin dilempar balik ke mereka. Kalau Pengawasan saya lumpuh selama 33 tahun, itu bukan kesalahan saya. Itu kesalahan institusi yang membiarkan saya naik tanpa satu pun catatan. Anda mau bilang saya memanfaatkan sistem yang lumpuh? Mungkin. Tapi kalau sistem itu lumpuh. Kenapa baru diungkap sekarang. Ketika saya sedang menyidik perkara yang menyentuh orang-orang besar?
Saya tantang. Tunjukkan satu lembar. Satu saja. Berita acara pemeriksaan saya di Pengawasan. Tunjukkan satu laporan kekayaan yang tidak saya serahkan. Tunjukkan satu rekening yang tidak saya laporkan. Kalau tidak ada. Maka tuduhan pemerasan itu bukan hasil investigasi. Itu hasil rekayasa.
Ki Gempur: Tapi emas itu nyata. 74 kilogram. Itu bukan rekayasa.
FA: Emas itu nyata. Kepemilikannya yang jadi soal. Ada perbedaan besar antara ditemukan di rumah saya dan milik saya. Saya sudah bilang berkali-kali. Kalau penyidik punya bukti kepemilikan. Bawa ke pengadilan. Jangan main di media. Saya ini jaksa. Saya tahu persis permainan trial by media itu. Dulu saya juga pakai. Sekarang saya di sisi lain. Dan saya baru sadar betapa kotornya.
Bagian Ketujuh: "Saya Bukan Malaikat, Tapi Saya Bukan Pencuri"
Ki Gempur: Mari kita bicara jujur. Anda tidak mungkin sebersih yang Anda klaim. Tidak ada jaksa yang menyidik perkara ratusan triliun tanpa biaya operasional dari suatu tempat. Akui saja. Ada uang yang mengalir. Entah untuk Tim 9. Entah untuk Anda. Itu rahasia umum di Kejaksaan.
FA: (Tersenyum tipis, getir) Anda benar. Saya bukan malaikat. Saya tidak munafik. Tim 9 memeang butuh uang untuk operasional. Untuk transport. Untuk penginapan saat investigasi lapangan. Itu fakta. Tapi ada perbedaan mendasar antara biaya operasional resmi dan pemerasan. Yang pertama ada suratnya. Ada pertanggungjawabannya. Ada mekanismenya. Yang kedua, yang mereka tuduhkan ke saya, itu fitnah.
Rahasia umum? Ya, saya tahu. Di Kejaksaan ada budaya uang lelah. Saya tidak bilang saya suci dari budaya itu. Tapi kalau Anda mau menuduh saya memeras Rp4 miliar dari seorang pengusaha. Tunjukkan korban yang mengaku diperas. Jangan tiba-tiba korban muncul setelah saya ditangkap. Dengan cerita yang persis sama dengan yang ada di surat dakwaan. Itu bukan korban. Itu saksi pesanan.
Ki Gempur: Anda menyebut saksi pesanan. Itu tuduhan berat. Anda punya bukti?
FA: Saya punya logika. Saya punya kronologi. Saya punya nama-nama yang saya simpan. Belum saatnya saya buka. Kalau saya buka sekarang, saya mati di dalam. Saya masih ingin hidup untuk melihat persidangan.
Bagian Kedelapan: "Yang Digergaji Bukan Saya — Tapi Kejaksaan Itu Sendiri"
Ki Gempur: Anda terus bicara seolah Anda korban. Tapi ada yang bilang. Anda adalah bagian dari masalah. Anda membangun kerajaan kekuasaan di Jampidsus. Anda memilih siapa yang boleh disidik dan siapa yang tidak. Anda jadi raja kecil yang akhirnya melawan raja besar. Bukankah ini sekadar perang antar faksi?
FA: (Menghela napas panjang) Anda ini kritis. Saya suka. Ya, saya akui. Jampidsus di tangan saya memang kuat. Mungkin terlalu kuat. Saya memilih perkara. Saya memilih waktu. Saya memilih siapa yang saya kejar dan siapa yang saya simpan. Itu kekuasaan. Dan kekuasaan selalu punya harga.
Tapi ada perbedaan antara menggunakan kekuasaan untuk menegakkan hukum. Dan menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Yang pertama, saya lakukan. Yang kedua, saya tantang siapa pun untuk membuktikannya.
Dan soal perang faksi. Ya, mungkin ini perang faksi. Tapi kalau benar ini perang faksi. Yang sebenarnya digergaji bukan saya. Yang digergaji adalah Kejaksaan itu sendiri. Mereka memotong satu kepala untuk menakuti seribu jaksa yang masih punya nyali. Saya jadi contoh: Lihat Febrie. Dia terlalu berani. Sekarang dia di dalam. Barangkali itu pesan yang mereka kirim.
Ki Gempur: Dan menurut Anda, pesan itu berhasil?
FA: (Tertawa pahit) Anda lihat sendiri. Dua minggu setelah saya ditangkap. Sudah ada berapa jaksa yang menolak menangani perkara besar? Sudah ada berapa Tim 9 yang bubar? Sudah ada berapa berkas yang diistirahatkan? Pesan itu berhasil. Dan itu artinya Kejaksaan sudah kalah.
Bagian Kesembilan: "Presiden Tidak Salah — Tapi Dibohongi"
Ki Gempur: Anda menyebut presiden menerima informasi yang salah. Ini klaim yang sangat berbahaya. Anda sadar bahwa ini bisa ditafsirkan sebagai tuduhan? Bahwa ada orang di lingkaran presiden yang menjatuhkan Anda?
FA: Saya tidak menuduh siapa-siapa. Saya hanya bilang. Presiden tidak mungkin tahu detail 74 kilogram emas. Rp846 miliar. Dan Rp4 miliar pemerasan dalam satu laporan singkat. Kalau laporan itu disusun oleh orang yang punya kepentingan. Maka presiden dibohongi. Bukan salah presiden. Salah orang yang menyusun laporan.
Ki Gempur: Kalau presiden membaca wawancara ini. Apa yang Anda ingin dia lakukan?
FA: (Diam. Suaranya berubah pelan) Saya ingin dia bertanya satu hal: Kalau Febrie benar-benar memeras Rp4 miliar. Kenapa selama 33 tahun tidak ada satu pun catatan buruk tentang dia?" Kalau pertanyaan itu diajukan. Saya percaya ada yang akan gemetar. Bukan saya. Tapi orang-orang yang menyusun laporan itu.
Bagian Kesepuluh: "Saya Bukan Pahlawan. Saya Cermin."
Ki Gempur: Pertanyaan terakhir. Kalau Anda keluar dari sini. Entah bebas. Entah setelah menjalani hukuman. Anda ingin dikenang sebagai apa?
FA: (Tersenyum. Kali ini senyum yang berbeda. Lebih tenang. Nyaris seperti pasrah) Saya tidak ingin dikenang sebagai pahlawan. Pahlawan itu mati muda. Atau setidaknya mati terhormat. Saya mungkin tidak akan dapat keduanya.
Saya ingin dikenang sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa di negeri ini. Orang yang menegakkan hukum dengan benar. Bisa dihancurkan oleh sistem yang dia bela. Cermin yang menunjukkan bahwa bersih saja tidak cukup. Anda juga harus punya perlindungan politik. Cermin yang menunjukkan bahwa Kejaksaan. Yang seharusnya jadi ujung tombak keadilan. Bisa jadi alat pembalasan.
Kalau orang melihat cermin itu dan merasa tidak nyaman. Berarti wawancara ini berhasil. Karena ketidaknyamanan adalah awal dari kesadaran.
Dan kalau saya harus digergaji sampai putus. Biarlah. Tapi saya berjanji satu hal. Saya tidak akan menangis di depan gergaji itu. Saya akan menatap orang yang menariknya. Dan saya akan bilang. Teruskan! Tapi ingat. Gergaji ini nanti juga akan dipakai untukmu.
Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 23.12 WIB. Febrie Adriansyah berdiri. Menyalami Ki Gempur dengan tangan yang dingin. Lalu berjalan kembali ke selnya tanpa menoleh. Di luar, hujan pertama di musim penghujan turun deras. Seorang petugas Rutan berbisik: "Dia tidak tidur sebelum subuh. Katanya dia menulis. Setiap malam."
Apa yang ditulisnya? Tidak ada yang tahu. Tapi kalau benar apa yang dia bilang. Bahwa ada basis data di kepalanya. Maka mungkin, di suatu tempat, di bawah lampu neon yang redup. Seorang pria yang digergaji sedang menyiapkan gergaji balasan. Dan Jakarta, seperti biasa. Pura-pura tidak tahu. Nantikan keseruan Wawancara Imajiner Sesi-3.
